Niat Kelonan

1029 Words
"Lama banget sih, udah seret ni," ucap Gita kesal dan meraih segelas air di tangan Diko. Diko hanya manggut-manggut saja, dia tahu kalau istrinya tak boleh dibantah dan dia tak boleh membela diri. Diko ikut duduk disebelah Mita, sesekali dia memandang wajah judes istrinya. Mita menoleh, memperhatikan balik suaminya, lalu permukaan meja Diko. Dahinya mengernyit, seolah bertanya. Diko menelan saliva, "Kenapa sayang?" tanya Diko lembut. "Katanya buat kopi?" Tanya Gita kembali memperhatikan monitor laptopnya. Dito menelan ludah, dia jadi gagap dengan sendirinya. "Hmm, i.. iya, Gadis yang buatin," jawab Diko sambil garuk-garuk kepala. "Oh!" Jawab Gita dengan nada cuek, dia kembali fokus dengan pekerjaannya yang masih menumpuk. Tak lama berselang seseorang memecah keheningan, aroma khas harum dari biji kopi tercium, membuat Diko dan Mita kompak menoleh. Sementara Gladis dia jadi ikut salting. "Hmm, ini kak, kopi mas Diko," Gladis menyerahkan gelas ke Gita. Tapi Gita malah asyik bergelut dengan keyboard laptop nya, dia minta adiknya taruh saja gelas kopi di meja. "Taruh sana aja, awas kena kerjaan ku," Gita menarik lembaran kertas, takut banget kalau kena kopi suaminya. Dito hanya menggeleng sesekali, "terimakasih ya Dis, maaf udah ngerepotin," ucap Diko terus terang. Gladis mengangguk, "Iya sama-sama kak," dia berjalan mundur meninggalkan sepasang suami istri. Belum begitu jauh,Gita menoleh ke Dito yang akan menyeruput kopi, "Eh itu kopi s**u?" tanya Gita. Untung Dito tak tersedak, dia menghentikan pada tegukan kedua, dan menelan sisa kopi di mulutnya. "Iya ka, Gladis kasih s**u sedikit, gula sedikit," jawab Gladis sedikit berteriak di pangkal pintu dapur. Gita memicingkan matanya, dahinya mengernyit, "astaga, udah pake s**u pake pula gula, bisa diabet kakak ipar mu nanti," senggah Gita kesal sambil geleng-geleng. Dito menjilati sekitar bibirnya juga mengecap-ngecap, 'Duh, rasa kopinya enak banget, manisnya pas, susunya berasa dan aroma kopinya kok wangi banget, wah Gladis pinter banget ternyata, kayaknya ini kopi terenak yang pernah aku minum,' batin Diko. Tak sadar Diko malah hampir menghabiskan gelas kopinya, dan mengabaikan kekhawatiran Gita. Sementara Gladis sudah menghilang dan kembali ke kamarnya, habis di semprot Gita. Gita juga sudah kasih tahu kalau besok-besok buatin kopi untuk suaminya cukup pakai sedikit gula, atau sedikit sendok, jangan double. Mita memijat dahinya, "Kamu habisin kopinya mas?" Tanya Gita. Diko terhenyak,dan mengangguk tak mengelak. Gita kembali geleng-geleng, "minum aja, habisin kalau udah diabet baru tahu rasa kami," dia terlihat kesal sendiri. "Lagian kenapa gak buat sendiri, biasanya juga buat sendiri," celotehnya berlanjut. Kalau istrinya sedang ngomel, Diko hanya memilih diam, dia tak sekalipun menyanggah ucapan Gita. "Ya dek, besok mas olahraga ya, temenin ya," pinta Diko setengah menggoda. Sudah lama mereka tak berolahraga bareng, itung-itung mengingat momen pengantin baru beberapa tahun lalu. Bukannya menjawab iya, Gita malah menghela nafas panjang, "huh, kerjaan aku tuh banyak banget mas, kamu gak liat? Ini aja gak kelar-kelar, ini juga belum, dan ini," Gita menepuk dahinya sesekali, lalu menghabiskan minumnya. "Isiin minum ku kek, kalau gak bisa bantuin kerjaan," sindir Gita dengan raut wajah jutek andalannya. Bukan gak bisa bantu, Gita itu orangnya perfeksionis, dan apa-apa bisa sendiri, mana mau pekerjaannya di utak atik oleh orang lain, lagian pegangan orang pasti selalu kurang dan salah di mata Gita. Dito beranjak, mengambil segelas air minum untuk Gita. Dan segera memberikannya pada Gita. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Dito sudah dihinggapi rasa kantuknya. "Mmm, masih lama?" Gita mengangguk "Belum ngantuk?" Gita menggeleng "Gak bisa dilanjut besok?" Gita kembali menggeleng "Jangan capek-capek, nanti kamu sakit," "Alah, ini tuh makanan sehari-hari buat aku, aku tuh gak biasa leyeh-leyeh, malas-malasan, kayak gini jauh lebih bermanfaat waktuku, lagian aku gak bisa tidur kalau pekerjaanku belum kelar," sungguh Gita kesal. "Ya sudah, semangat, mas udah ngantuk banget dek," "Ya tidur sana," seru Gita mengentengkan Segala ucapan ku Diko. Niat hati pengen bermanjaan, pengen kelonan,tapi kenyataannya malah di judesin istri, nasib-nasib dapet bini ketus kayak Gitu, tapi walau begitu Gita itu istri mandiri, dan pandai mengatur uang. Tanpa Diko saja, dia bisa hidup sangat layak, malah dia bisa menguliahkan adiknya Gladis dengan uang penghasilan pribadinya. Bukan hanya itu saja Gita juga memiliki banyak usaha sampingan, dia sudah memiliki banyak kost-kostan di daerah pinggiran Jakarta. Diko kembali ke lantai atas meninggalkan Gita yang masih bergelut dengan berkas-berkasnya. Dia meraih knop Pintu memutarnya pelan dan masuk, lalu merebahkan punggungnya. Habis minum kopi s**u buatan Gladis kok Dito merasa berbeda dengan Indra mengecapnya. Dia merasa lidahnya dimanjakan dengan suguhan minuman yang adik iparnya buat. Dito kembali mengingat ingat rasa segelas kopi s**u tadi. "Takarannya pas, aromanya harum sekali, kok buatan Gita gak ada wangi-wangi nya ya?" Diko membandingkan secara spontan. Diko kembali mengingat ingat bagaimana kejadian di dapur tadi, saat Gladis mengambil sendok yang jatuh di lantai, b0kongnya yang berisi dan besar, juga baju bagian belakangnya yang sedikit terangkat. Kulit mulus, pinggang ramping dengan wajah ramah, dan rambut tergerai panjang yang membuat Gladis makin feminim dibandingkan Gita yang jauh dari kata feminim. Yah, secara fisik Gita putih, tapi dari wajah Gita sangat beda, Gita itu lebih terlihat berkarakter keras, ketus, egois dan matanya itu kalau sudah membuat bulu kuduk Dito berdesir. "Kenapa sih mereka beda banget,kenapa adiknya lebih manis, bisa masak, lebih sopan dan lama-lama kok jadi menarik, hushh apa-apaan sih aku? Tapi itu kan kenyataannya," Dito meraih guling di tengah kasur dan menjepitnya. Ini sudah genap seminggu, Dito belum dapat jatah dari istrinya, niat hati mau sweet, nemenin istri kerja dan nanti tidur bareng kelonan eh malah disemprot. Gito terpaksa menunda keinginannya dulu. Padahal dia cuma minta seminggu dua kali apalagi Dito kan gak selalu dirumah, mumpung dirumah malah ini seharusnya dijadikan kesempatan agar hubungan suami istri makin mesra dan lengket. Tapi itu tak berlaku untuk rumah tangga Dito dan Gita. Mau Dito cuti seminggu kek sebulan kek, Gita hanya akan melayaninya seminggu sekali. Sebenarnya Dito memiliki stamina bagus, di awal pernikahan mereka bisa berhubungan suami istri hampir tiap hari, tapi tidak dengan sekarang, seminggu sekali saja sudah syukur. Ditambah lagi Gita yang semakin banyak pekerjaan, tak ada waktu untuk Dito, buktinya sekedar buat kopi saja Dito buat sendiri. Tapi kalau lagi pengen mana bisa tidur nyenyak, "Agh!" Gito menggerutu. Sambil mengelus-elus jagoan kecilnya. "Sabar ya, semoga besok pagi Gita mau mengerti dan memberikan jatah," Dito berusaha berkompromi dengan sahabatnya itu, Gito menjepit gulingnya kian erat dan erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD