Pertemuan

1147 Words
Pagi ini Rayne bangun awal karena harus siap-siap pergi interview kerja di sebuah perusahaan retail kosmetik ternama di kotanya. “Bu, malam nanti kalau Rayne belum pulang, ibu pergi duluan aja. Takutnya Rayne pulang telat,” ucap Rayne buru-buru sambil mengenakan sepatu pantofelnya. Ibunya yang tengah memasak di dapur sedikit terkejut melihat putrinya tergesa-gesa padahal jam dinding masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. “Astaga, Rayne, ini baru pukul berapa? Buru-buru amat. Ini makan sarapan dulu, nanti kamu pingsan gimana?” Ibu Rayne meletakkan sayur sop dan nasi dalam piring di meja. Siap pakai sepatu, Rayne duduk di meja makan, dan bersiap makan dengan cepat. “Takut ketinggalan angkot, bu. Hari ini kan hari senin, pasti ramai orang,” jawab Rayne sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. Tak sampai 5 menit, Rayne selesai makan. Dia membawa piring bekasnya ke washtafel untuk dia cuci sebelum dia berangkat. “Bu, Rayne berangkat,” Rayne mencium tangan ibunya lalu berlari keluar rumah. Suasana jalan kampung Rayne masih belum ramai orang. Hanya beberapa orang menyapu halaman dan terlihat seorang tukang sayur dengan gerobaknya. Ada beberapa orang mengendarai motor untuk berangkat kerja. Suara ayam berkokok yang membuat kampung terasa ramai dan hidup di pagi buta. Rayne menunggu angkot di ujung gangnya. Tepat di tepi jalan. Dia baru sempat membuka handphone nya dan mendapati nama Chan meneleponnya sampai tiga kali pukul 4 pagi tadi. “Rajin banget dia, jam empat udah bangun, tumben,” katanya dalam hati. Rayne mengirim pesan pada Chan, “maaf, sayang, aku gak denger kamu telepon. Tumben udah bangun?” Ting … tak lama kemudian, ada balasan pesan masuk handphone Rayne. “Kan, sayang ada interview hari ini. Jadi, aku bangunin sayang, eh, sayang gak bangun2.” Rayne tersenyum geli. Lalu, dia membuka fitur kamera, dan memotret dirinya. “Aku lagi nunggu angkot, nih.” tulisnya, di bawah gambar selfie-nya. Ciiiitttt! Suara rem angkot yang berdecit nyaring berhenti tepat di depan Rayne. Rayne segera memasukkan handphone-nya ke dalam tas dan dia masuk ke dalam angkot. Jam di tangan Rayne masih menunjukkan pukul 06.00, namun angkot yang dia tumpangi kali ini sudah hampir penuh dengan orang yang hendak pergi ke pasar, berangkat kerja, bahkan ada anak smp yang sudah duduk di dalam angkot. Suasana seperti ini memang sudah menjadi kegiatan sehari-hari bagi Rayne. Dari dia SMA, dia sudah menggunakan angkot untuk pergi kemana-mana. Berbeda dengan Chan yang sudah memegang mobil ferrari keluaran terbaru dari dia duduk di bangku SMA dan akan terus berganti seri mengikuti seri keluaran terbaru. Pukul 06.33, Rayne sudah turun di halte dekat perusahaan retail tempatnya melakukan interview. “Masih ada waktu setengah jam lagi,” batin Rayne lalu dia melangkah mendekati pos sekuriti. “Selamat pagi, pak. Hari ini saya ada undangan interview pukul tujuh pagi,” ucap Rayne sopan pada laki-laki yang tengah menghisap rokok di ujung pos. Laki-laki itu nampak menyepetkan matanya, sebelum membuang putung rokok yang terlihat tinggal seperempat batang di tangannya. “Selamat pagi, neng. Oh, sebentar saya cek dulu,” sahut bapak itu, kemudian masuk ke dalam pos. Bapak itu terihat mencari file dalam sebuah rak kumpulan file-file di tepi mejanya. ‘Daftar Peserta Interview Gel. 1’ Begitu tulisan yang tertera jelas di sampul sebuah map berwarna hijau terang, file yang bapak itu cari. “Nama siapa, neng?” tanyanya memecah keheningan. “Eh, Rayne Doreen, pak,” jawab Rayne tergagap. Bapak itu mengernyitkan keningnya sambil terus mencari nama Rayne dalam daftar itu. “Berkasnya sudah kamu bawa?” tanyanya. “Sudah, pak,” sahut Rayne cepat, “Hanya ikut list yang kemarin di-w******p itu kan, pak?” Bapak itu mengangguk tegas. Rayne mengeluarkan map kertas berwarna coklat dari tasnya. “Silakan tunggu di ruang tunggu di dalam ya, neng. Masuk sana aja langsung,” bapak itu menunjuk pintu masuk perusahaan yang letaknya tak jauh dari pos sekuriti. Rayne mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam pintu itu. ——— Malamnya, “Pa, Chan gak bisa ikut. Chan ada kelas lagi ini. Kalau sempat, Chan datang. Nanti share location aja.” Chan mengirimkan pesan w******p pada papanya. Petang tadi Chan ada bimbingan dengan dosennya dan malamnya sambung ikut kelas malam. Chan memang terlalu rajin mengikuti bimbingan skripsi dan juga masih ambil kelas lain untuk persiapan S2-nya. Tidak seperti Rayne yang memutuskan bekerja setelah lulus SMA, padahal Rayne termasuk siswi terpintar di sekolahnya dulu. Itu semua karena Rayne ingin membantu ibunya. Ting … Sebuah pesan masuk ke handphone milik Chan. Tulisan nama Rayne dengan emoji love warna merah itu memenuhi notifikasi handphone-nya. “Sayang, hari ini aku capek banget. Masa baru satu hari interview udah disuruh kerja.” “Dan ternyata senior2 disana galak2 bgt anjir.” “Sumpah yang, aku takut kena mental.” “Btw ini aku otw ke restoran, ibuku ngajak makan malam bareng.” Begitu banyaknya gelembung chat dari Rayne. Chan membacanya sambil tersenyum simpul, sebelum akhirnya menekan tombol bergambar telepon. “Halo, sayang!” sapa Chan dengan riang. “Halo! Aku lagi di jalan, yang, kamu udah balik dari kampus belum?” “Belum, sayang, aku masih ada kelas lagi. Nanti aku jemput, mau?” “Gak usah, nanti ibu lihat. Nanti apa-apa aku kabarin aja.” “Iyalah kalau gitu, sayang hati-hati, yaa, apa-apa jangan lupa kabarin.” “Iya, sayang, aku tutup ya, bye!” “Okay, bye, sayang.” Tut. Telepon terputus. Chan menghela nafas sebentar, lalu kembali membuka roomchat-nya dengan Rayne. “Jalani dulu aja, sayang, nanti kalau sayang gak kuat, resign aja, gak usah kerja. Biar aku nafkahin,” itu balasan Chan pada chat Rayne. ——— “Maaf, bu, Rayne telat,” ucap Rayne sambil mencium tangan ibunya, Alice Roland, yang tengah duduk di sebuah restoran mewah berkonsep klasik di tengah Kota Jakarta. Beliau tidak duduk sendiri. Terlihat seorang laki-laki paruh baya, berumur sekitar 50-an tahun, duduk di seberang Alice. Laki-laki dengan potongan rambut klimis rapi, mengenakan setelan jas warna biru navy itu terlihat masih muda dan gagah, masih tampan, begitu fikir Reyna. “Oh, iya, ini kenalin, mas, Reyna Doreen, anak sulungku,” ucap Alice memperkenalkan anak gadisnya, “Dia berumur 22 tahun, agaknya seumuran dengan anakmu.” Rayne tersenyum canggung lalu menjabat tangan laki-laki yang menurutnya akan segera menjadi ayah angkatnya itu, “Rayne, om,” ucapnya. “Saya Eric,” ucap laki-laki itu sambil tersenyum hangat, “Salam kenal, Rayne, terimakasih karena bisa menyempatkan waktu bertemu dengan om.” Rayne tersenyum, “Maaf, saya telat dikit,” Rayne mengangkat tangannya menunjukkan isyarat tangan mencubit kecil ‘🤏’. Eric tertawa kecil, “Tidak masalah, belum telat banget.” Alice tersenyum melihat interaksi mereka. Alice berpikir, mungkin mereka akan cepat akrab kalau sering bertemu. “Sudah, ayo kita makan, sambil ngobrol, gimana?” Alice memotong interaksi dua orang yang baru kenal itu. Rayne mengangguk antusias, “Kebetulan sudah lapar banget, bu,” Rayne tersenyum lebar menunjukkan giginya yang berderet putih rapi. ——
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD