BAB 8: Pertemuan Pertama

1488 Words
Kalau ada orang berkata bahwa kesan pertama menentukan segalanya, berarti orang itu belum pernah bertemu Kayra Aninditha. Karena kesan pertama orang yang bertemu dengan Kayra sering berubah setiap lima menit. Lima menit pertama, orang biasanya melihat Kayra artis cantik yang anggun, ramah, dan selalu tersenyum. Lima menit berikutnya, mereka baru sadar perempuan itu sebenarnya cukup kikuk. Kalau sudah gugup, otaknya sering berjalan lebih lambat daripada mulutnya. Dan kalau mulut lebih cepat daripada otak... Biasanya lahirlah kalimat-kalimat yang membuat seseorang ingin pindah planet. Contohnya sekarang. Kayra berdiri di tengah lorong sambil menatap pria berkemeja putih di depannya. Pria itu juga menatap Kayra. Untung saja hanya beberapa detik. Kalau lebih lama, panitia mungkin mengira mereka sedang adu fokus. Panitia yang berdiri di samping mereka tersenyum lega. "Alhamdulillah, ternyata sudah ketemu." Kayra langsung tersadar. "Oh... eh... Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumussalam." jawab pria itu sambil tersenyum ramah. Senyumnya sederhana. Tidak dibuat-buat. Tidak juga terlalu lebar. Tapi cukup membuat suasana yang tadi canggung terasa sedikit lebih ringan. "Saya Naufal." katanya. Kayra spontan menjawab, "Iya, saya tahu." Begitu kalimat itu keluar, Kayra langsung ingin menepuk dahinya sendiri. Bagus, Kayra. Perkenalan pertama berhasil kamu rusak dalam waktu kurang dari lima detik. Naufal justru tersenyum kecil. "Benar juga." katanya. "Saya lupa kita sama-sama lihat nama di rundown acara." Kayra ikut tertawa. "Maaf." "Tidak apa-apa." Panitia melihat jam tangannya. "Kalau begitu saya tinggal sebentar ya. Ada pembicara lain yang belum datang." "Silakan." jawab Naufal. Panitia itu berlari kecil meninggalkan lorong. Kini tinggal mereka berdua dan beberapa panitia agak jauh dari mereka. Dan suasana mulai diliputi keheningan. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik. Kayra mulai menghitung motif keramik lantai. Kadang manusia melakukan hal-hal aneh ketika gugup. Ada yang menggaruk kepala. Ada yang memainkan jari. Ada yang tiba-tiba merasa lampu di langit-langit sangat menarik. Kayra termasuk kategori terakhir. Untung Naufal lebih dulu membuka percakapan. "Perjalanannya lancar?" "Lancar." "Macet?" "Sedikit." "Semoga tidak terlalu melelahkan." "Nggak juga." Lalu hening lagi. Kayra mulai curiga. Jangan-jangan mereka memang sama-sama tidak pandai berbasa-basi. Untung Naufal tiba-tiba tersenyum. "Sepertinya saya kurang pandai memulai percakapan." Kayra langsung menoleh. "Serius?" "Iya." "Saya kira ustadz itu pasti jago ngomong." Naufal tertawa pelan. "Kalau ceramah memang berbicara." "Kalau begini?" "Kalau begini saya juga sering bingung harus mulai dari mana." Kayra ikut tertawa. Jawaban itu terdengar jujur. Dan entah kenapa membuatnya sedikit lebih santai. Setidaknya sekarang dia tahu. Orang di depannya bukan ustadz yang setiap kalimatnya terdengar seperti khutbah Jumat. "Kalau boleh jujur..." kata Kayra. "Silakan." "Saya sempat deg-degan ketemu Mas." "Oh ya?" "Iya." "Karena apa?" "Saya kira Mas orangnya serius banget." Naufal mengangguk pelan. "Lumayan sering ada yang bilang begitu." "Soalnya di video kelihatannya tenang terus." "Itu karena yang masuk video biasanya hanya beberapa menit." "Hah?" "Sisanya dipotong editor." Kayra tertawa. "Jadi sebenarnya Mas banyak salah ngomong?" "Sering." "Serius?" "Kadang saya lupa kalimat sendiri." Kayra mengangkat alis. "Berarti sama." "Sama?" "Iya." "Saya juga sering begitu." "Bedanya?" "Kalau saya sampai salah ngomong..." Kayra menunjuk dirinya sendiri. "...besok sudah masuk akun gosip." Naufal tersenyum sambil mengangguk. "Itu memang risikonya lebih berat." Percakapan mulai mengalir. Pelan. Tidak dipaksakan. Justru karena sederhana, suasananya terasa nyaman. Kayra diam-diam memperhatikan pria di depannya. Berkemeja putih. Celana kain hitam. Jam tangan sederhana. Sepatu yang bersih. Tidak ada barang mewah yang sengaja dipamerkan. Kalau bukan karena wajahnya sering muncul di FYP, Kayra mungkin tidak akan menyangka pria ini sedang viral. Sementara itu, Naufal juga memperhatikan lawan bicaranya. Gamis krem yang sederhana namun elegan. Hijab senada. Riasan tipis. Jauh lebih sederhana dibanding foto-foto yang sering beredar di internet. Dalam hati Naufal mengakui satu hal. Perempuan ini juga berbeda dari bayangannya. "Kalau boleh jujur..." kata Naufal. "Hm?" "Saya juga sempat punya prasangka." Kayra langsung tertarik. "Prasangka apa?" "Saya kira Mbak Kayra akan lebih pendiam." "Hah?" "Iya." "Kok bisa?" "Saya melihat beberapa konten hijrah Mbak." Kayra hampir tersedak napasnya sendiri. "Oh..." hanya itu yang berhasil keluar dari mulutnya. Naufal tampak heran. "Ada yang salah?" "Nggak... cuma..." "Cuma?" Kayra tertawa kecil. "Konten itu memang agak... berbeda." "Berbeda bagaimana?" "Saya juga bingung menjelaskannya." Naufal tidak memaksa. Dia hanya mengangguk pelan. "Yang penting sekarang saya bisa mengenal orangnya langsung." Kalimat itu membuat Kayra sedikit lega. Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada kesan menyelidiki. Hanya kalimat sederhana. Tapi cukup membuat kecanggungan mereka perlahan mencair. Di kejauhan terdengar suara panitia memanggil nama beberapa pembicara. Suasana backstage mulai semakin ramai. Orang-orang lalu-lalang membawa map, mikrofon, dan botol minum. Kayra melirik ke arah keramaian itu. Lalu kembali menatap Naufal. Entah kenapa... Pertemuan yang tadi dia bayangkan akan terasa kaku justru berjalan jauh lebih santai daripada dugaannya. Beberapa detik mereka sama-sama diam. Bukan karena kehabisan bahan obrolan. Lebih karena keduanya sedang menikmati suasana yang ternyata tidak secanggung dugaan. Kayra sendiri mulai merasa aneh. Sejak berangkat tadi pagi dia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan. Kalau ustadznya galak bagaimana? Kalau ternyata tidak suka artis bagaimana? Kalau setiap kalimat harus dijawab dengan dalil bagaimana? Ternyata... Tidak ada satu pun yang terjadi. Naufal justru lebih santai daripada bayangannya. Pria itu bahkan beberapa kali menertawakan dirinya sendiri. Bagi Kayra, itu nilai tambah. Karena orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri biasanya tidak terlalu sibuk menjaga gengsi. "Mas sering ikut acara begini?" tanya Kayra. "Cukup sering." "Bosen nggak?" "Kadang." "Nah." "Apa?" "Akhirnya ada jawaban yang manusiawi." Naufal tertawa pelan. "Saya memang manusia." "Kalau di komentar netizen, ustadz itu kadang dianggap malaikat." "Itu berbahaya." "Kenapa?" "Karena kalau manusia dianggap malaikat, nanti sekali berbuat salah langsung dianggap iblis." Kayra mengangguk pelan. Kalimat itu masuk akal. Dan entah kenapa membuatnya teringat pada dirinya sendiri. Menjadi artis juga tidak jauh berbeda. Sekali salah bicara. Sekali salah berpakaian. Sekali salah mengunggah sesuatu. Besoknya semua orang mendadak menjadi hakim. "Kalau Mbak Kayra?" tanya Naufal. "Ikut acara begini sering juga?" "Iya." "Masih deg-degan?" "Masih." "Saya kira sudah terbiasa." Kayra menggeleng. "Yang terbiasa itu badanku." "Maksudnya?" "Jantungku belum." Naufal tersenyum. "Itu jawaban yang menarik." "Serius." Kayra tertawa kecil. "Kalau sebelum tampil aku biasanya ke toilet tiga kali." "Padahal belum tentu ingin ke toilet." "Nah." "Itu cuma ritual orang panik." "Kalau saya biasanya mengecek mikrofon berkali-kali." kata Naufal. "Padahal sudah dicek panitia." "Berarti Mas juga punya ritual." "Mungkin." Kayra mengangguk puas. Akhirnya. Ada juga kebiasaan aneh yang dimiliki pria setenang ini. Setidaknya sekarang dunia terasa sedikit lebih adil. Di luar lorong terdengar suara seseorang memanggil nama seorang pembicara. Disusul tepuk tangan dari ruang utama. Acara tampaknya sudah mulai dipenuhi peserta. Kayra melongok sedikit ke arah pintu. "Wah." "Ada apa?" "Ramai." Naufal ikut melihat sekilas. "Lumayan." "Lumayan?" Kayra menoleh. "Mas, definisi lumayan kita beda." "Kenapa?" "Itu pesertanya banyak." Naufal tersenyum. "Alhamdulillah." Kayra spontan bertanya, "Mas nggak gugup?" "Gugup." "Hah?" "Iya." "Kelihatannya biasa saja." "Itu cuma wajah." Kayra tertawa. "Berarti kita sama." "Bedanya...." sambung Keyra. "Kalau aku gugup..." Kayra menarik napas. "...aku jadi banyak ngomong." "Kalau saya..." Naufal tersenyum tipis. "...malah jadi sedikit." "Berarti kalau digabung pas." "Kenapa?" "Rata-rata jadi normal." Keduanya tertawa bersamaan. Suasana yang tadinya canggung kini berubah menjadi ringan. Bahkan Kayra mulai lupa kalau mereka baru saling mengenal beberapa menit. Di sela obrolan, seorang panitia perempuan datang menghampiri. "Wah, ternyata sudah kenalan." katanya lega. "Alhamdulillah." jawab Naufal. Panitia itu tersenyum. "Jujur kami tadi sempat khawatir." "Khawatir apa?" tanya Kayra. "Takut suasananya canggung." Kayra dan Naufal saling berpandangan. Lalu sama-sama tertawa kecil. "Memang tadi sempat canggung." aku Kayra. "Sedikit." tambah Naufal. Panitia ikut tertawa. "Yang penting sekarang sudah cair." "Iya." kata Kayra. Panitia membuka map yang dibawanya. Lalu memeriksa daftar nama. "Oke." "Sebentar lagi semua pembicara diminta masuk ke ruang utama." "Baik." jawab Naufal. "Gladi sebentar ya?" tanya Kayra. "Bukan." jawab panitia. "Hanya pengarahan singkat." "Syukurlah." kata Kayra. "Saya tadi belum sempat sarapan banyak." Panitia terlihat bingung. "Apa hubungannya?" "Kalau gladi lama, saya lapar." Panitia tertawa. "Saya kira Kak Kayra mau bilang gugup." "Itu juga." Mereka bertiga berjalan menuju ruang utama. Di sepanjang lorong beberapa peserta yang mengenali Kayra melambaikan tangan. Kayra membalas dengan senyum. Beberapa peserta lain tampak menyapa Naufal. Pria itu juga membalas dengan ramah. Kayra diam-diam memperhatikan. Tidak ada yang berebut. Tidak ada yang berteriak. Orang-orang hanya menyapa dengan sopan. Entah kenapa suasananya terasa berbeda. "Mas." panggil Kayra pelan. "Iya?" "Orang-orang sopan banget sama Mas." Naufal tersenyum. "Mungkin karena tempatnya." "Hah?" "Kalau ketemu di acara otomotif mungkin beda." Kayra tertawa. "Bisa juga." Begitu mereka memasuki ruang utama, beberapa fotografer sudah berdiri di depan panggung. Lampu-lampu kamera mulai dinyalakan. Panitia mengumpulkan seluruh pembicara. "Oke semuanya." kata seorang panitia melalui pengeras suara. "Kita ambil foto bersama dulu sebelum acara dimulai." Semua pembicara mulai mencari posisi. Ada yang berdiri. Ada yang mengobrol. Ada yang masih sibuk merapikan pakaian. Panitia yang tadi mendampingi Kayra kembali melihat daftar di tangannya. Lalu mengangkat kepala. "Mbak Kayra." "Iya?" "Ustadz Naufal." "Iya." Panitia menunjuk dua kursi di baris depan. "Kalian berdua duduk di sini ya." Kayra dan Naufal berjalan mendekat. Baru saja Kayra hendak duduk, panitia kembali berkata, "Sebentar." Mereka berdua berhenti. Panitia tersenyum sambil menunjuk dua kursi yang letaknya berdampingan. "Mbak Kayra..." Ia lalu menoleh kepada Naufal. "...Ustadz Naufal..." "Boleh duduk berdampingan untuk sesi foto?" Naufal dan Kayra tidak pernah menyangka bahwa sesi foto ini adalah awal dari kekacuan besar...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD