LFU 22

1405 Words

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kondisi Rere. Dia hanya mengalami beberapa lecet di tubuhnya, sementara kakinya memar dan dokter bilang akan sembuh dalam beberapa hari. Rere mengerjab, lalu memejamkan mata sejenak untuk mengingat apa yang terjadi hingga kini terbaring di tempat asing ini. Mata lentik itu terbuka saat mendengar suara pintu yang terbuka. Wajah Mahesa lah yang muncul dari sana. "Udah lebih baik?" Rere tidak menjawab, ia sedang berpikir kenapa laki-laki ini bisa berada di sini. Gadis itu ingat, tadi sebelum pingsan ia sempat mendengar suara Mahesa. Ia pikir hanya berhalusinasi, tapi ternyata semuanya nyata. "Dokter bilang tidak ada yang parah dari kondisi kamu. Tadi kamu pingsan karena hanya terlalu syok. Dan kaki kamu hanya memar." Mahesa terlihat menghela napas,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD