Malam mulai merayap. Jarum jam hampir menunjuk angka dua belas. Namun gadis yang masih mengenakan kaos dan celana jeans selutut itu masih betah duduk di depan kanvasnya. Selalu ada rasa tenang setiap kali jarinya menyapukan warna di atas benda putih itu. Rere menghela napas, merapikan semua alat lukis ke dalam tempatnya saat dirasa tubuhnya mulai penat. Ia meregangkan tubuhnya sebentar sebelum keluar dari studio lukisnya, lalu masuk ke dalam kamar. Baru saja ia membaringkan tubuh, ponselnya mengalunkan satu lagu. Membuat bibir mungil itu berdecak lirih. Kening Rere berkerut saat melihat nomor yang terpampang tak dikenal. Ia mendiamkan ponselnya, namun saat benda itu kembali mengalunkan lagu Rere tidak lagi bisa mengabaikannya. "Lihat jendela, Re! Aku punya kejutan," kata suara di seber

