14. Sakit yang Sama

1392 Words
Pagi di rumah Hito. Sisca bangun lebih pagi dari biasanya. Dia turun dari tempat tidur dengan perlahan. Dia sangat tidak ingin anaknya terbangun karena gerakan yang dia lakukan. Dia mengambil ponselnya. Mengeceka pakah ada kabar dari suaminya. ternyata tetap saja nihil. Telepon malam itu adalah hubungan terakhir yang bisa mereka lakukan. Untuk saat ini, Sisca tidak tahu lagi harus berbohng apa lagi pada sang buah hati. Tentang tugas ayahnya yang bahkan tidak tahu kapan akan kembali pulang. Dia menyalakan televisi dengan suara yang begitu pelan. berharap ada kabar dari kemiliteran tentang tugas yang sedang dilakukan oleh para prajurit. Sayangnya, tak ada satu pun stasiun televisi yang menyiarkan hal itu. Tidak ada laporan apa pun. Sisca menggigiti bibir bawahnya, merasa resah dengan kondisi suaminya. “Bagaimana keadaanmu saat ini, Sayang?” ucapnya pelan. Dia menghela napas panjang. memejamkan matanya sekejap. Rasa resah itu terus menjalari hatinya. Terlalu mendebarkan hingga membuatnya tidak bisa tenang. “Ibu ....” teriakan dari Tino membuatnya tersadar. Dia mematikan televisi dan segera menuju kamar. Ternyata Tino telah berjallan keluar kamar dan mencari dirnya. “Ada apa sayang?” ucapnya dengan penuh kasih sayang. Suara lembutnya bisa membuat Tino tenang dalam sekejap. Anak laki-laki berumur sembilan tahun itu merenggangkan kedua tangannya. memberikan kode pada Ibunya untuk memberikan pelukan pada dirinya. Sisca meletakkan lututnya di lantai. Kini, tubuh mereka sejajar. Sehingga memudahkan mereka untuk berpelukan. “Ibu ... aku bermimpi ....” Tino berhenti sekejap. Tangan lembut Sisca membelat kepalanya. “Mimpi apa sayang?” tanya Ibunya. Kali ini, dia mencoba merenggangkan pelukannya. Tapi, Tino tidak mau melakukannya. Dia memoererat pelukan pada Ibunya. Semakin kencang, hingga terdengar suara isakannya yang menggemaskan. “Kenapa kamu menangis, apa yang sudah terjadi? Kamu bermimpi tentang apa? Ada apa sayang?” Sisca mulai cemas dengan kondisi anaknya. Bagaimana pun, dia pasti akan bertanya tentang Ayahnya. “Aku bermimpi ... Ayah ....” lagi, Tino terdiam. Dia mengambil napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. “Apakah Ayah sedang berperang?” tanyanya dengan nada polos. Sisca melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah anaknya dengan resah. “Sayang, apa yang sedang kamu bicarakan? Ayah sedang bertugas seperti biasanya, tidak ada perang, Sayang,” ucapnya dengan lembut. Jemarinya membelai kepala anak laki-lakinya itu. Dengan lembut dia terus mencoba menenangkan sang anak dari mimpi yang baru saja dia rasakan di tidurnya. “tapi, aku bermimpi Ayah sedang berperang Ibu!” rengek Tino. Matanya berkaca-kaca. Terlihat jelas air mata itu akan segera mentes dengan derasnya. “Sayang, itu hanya mimpi. Tenanglah, ada Ibu di sini. Nanti, kita akan telepon Ayah. Sedang ada di mana dia saat ini,” ucap Sisca. Walau pun itu adalah sebuah kebohongan yang mungkin akan membuat dia kesulitan nantinya. Dia tetap mengucapkannya pada sang anak. Agar Tino merasa tenang. Dia kembali memeluknya dengan hangat. Walau dalam hati, dia sendiri merasa ketakutan. Entah apa yang akan dilewati oleh sang suami. Dan bagaimana dengan dirinya sendiri. Menjalani hari tanpa kepastian kabar dari sang suami. “Ibu ... maafkan aku, seharusnya aku menajga Ibu!” ucap Tino. Kali ini suaranya terdengar lebih tenang. Juga bersemangat. Dia menyungginggkan senyum kepada Ibunya. “Tak apa, Sayang. Kita sarapan dulu, yuk! Kamu mau membantu Ibu memasak sarapan?” awar Sisca padanya. dia tersenyum riang dan mengangguk setuju dengan usulan yang diberikan oleh Ibunya. Keduanya mulai mengambil beberapa bahan yang akan mereka masak untuk sarapan. Beberapa potong roti, sayuran, telur dan juga ham. Saus tomat dan mayones juga tidak ketinggalan. Mereka sibuk mempersiapkan sarapan mereka. Mengaduk ssu dengan air hangat dengan perlahan agar tidak tumpah dari gelasnya. Tino begitu perhatian pada Ibunya. Didikan untuk selalu menjaga sang Ibu oleh Ayahnya selalu dia ingat. Sebagai seorang laki-laki itu harus kuat dan berani. Harus bisa menjaga Ibunya setiap kali Ayahnya tidak sedang di rumah. Sarapan telah siap di atas meja. Harum roti isi dengan berbagai macam toping membuat perut bergemeruyuk. Suara perut Tino membuat Sisca terkekeh. Kemudian keduanya tertawa bersama-sama. “Selamat makan, Sayang. Semoga Tuhan memberikan kita keberkahan dalam hidup. Amin.” Sisca mengawali makannya dengan doa. Tino mengaminkannya. Kemudian keduanya mlai menggigit roti isi yang sudah mereka siapkan sedari tadi. “Wah, masakanmu sangat lezat!” puji Sisca padanya. dia mengacungkan jempolnya ke arah Tino. “Ti-no!” ucapnya dengan bangga. Biibirnya belepotan oleh saus dan mayones roti isi miliknya. Sisca dengan penuh perhatian mengusap dan membersihkan bekasnya dengan tisu. “Ayo makan, habiskan ya!” Roti isi itu telah dilahap habis oleh keduanya. Mereka merasa kenyang setelah meneguk segelas s**u hangat setelah roti isi telah masuk di dalam perut mereka. “Ibu, aku akan mencuci piringnya, lalu mandi dan bersiap sekolah! Ibu beristirahatlah,” ucapnya dengan sangat polos. Senyum di wajahnya begitu tulus. Walau Sisca bisa melihat kesedihan di kedua netranya. Kesedihan tentang rasa rindu kepada sang Ayah yang bekerja jauh dari mereka berdua. “Baiklah jagoan! Ibu akan bersiap mengantarkan kamu menunggu bus jemputan!” jawab Sisca. Dia memberikan kesempatan pada Tino untuk belajar mencuci piringnya sendiri. Setidaknya, dengan begitu dia teralihkan dari segala pertanyaan tentang Ayahnya.   Beberapa waktu berlalu. Suara klakson dari bus jemputan Tino telah terdengar. “Sayang, bus sudah datang. Apakah kamu sudah siap?” ucap Sisca dengan penuh perhatian. Dia mengintip ke kamar anaknya. Dia telah siap. Mengambil tas dan memakainya di belakang. “Aku siap!” ucap Tino. “Ayo!” Keduanya berjalan beriringan. Menuju pintu keluar rumah mereka. Bus telah menunggu tepat di depan sana. “Hati-hati ya, belajar dengan baik di sekolah. Nanti sore, kita akan mampir ke rumah Nenek,” bisik Sisca padanya. Tino mengangguk dengan senyum di wajahnya. Dia dalah sosok anak yang mirip dengan sang Ayah. Melihat wajahnya, selalu membuat Sisca teringat dengan sang suami.  Kemudian dia pun masuk ke dalam bus. Menyapa beberapa temannya sebelum akhirnya dia duduk di tempatnya. Dia melambaikan tangan ke arah Ibunya yang sedang memperhatikan dirinya. Sisca membalas lambaian tangan itu. Senyumnya merekah sempurna. Hari ini, dia harus bisa mengalihkan perhatian sang anak dari Ayahnya. Dia tidak ingin membuat putranya merasa kecewa laggi dan lagi. Dia sangat berharap, kepergian mereka menuju rumah neneknya nanti akan membuat Tino lebih tenang. Setelah bus itu tak lagi terlihat oleh netranya. Sisca segera masuk ke dalam rumah. dia duduk sendiri. Merenungkan diri dan nasibnya. Seandainya hari itu aku bisa membuat dia berubah pikiran. Seandainya hari itu aku bsia mengajaknya untuk segera berhenti dari pekerjaan dan pindah dari sini sejauh mungkin. Semua ini pasti tidak akan terjadi. Aku tidak akan perlu berbohoong setiap hari pada Tino. Oh Tuhan, ujian maccam apa yang sedang Engkau berikan apda keluargaku? Dia menangis tersedu. Emmandangi foto sang suami yangada di figura. Dia membelai wajah sang suami di foto tersebut. Air matanya mentes dengan derasnya. Suara isakannya terdengar begitu pilu dan menyakitkan. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat. Mimpi yang diceritakan oleh Tino terlintas dalam pikirannya. Mungkin, memang itu yang sedang terjadi pada sumainya. Mungkin, memang itu yang sedang dihadapi oleh suaminya. Berada di medan perang. Berlumuran darah. Bahkan nyawanya pun terancam. Memikirkan hal itu, membuat Sisca kian keras menangisi takdirnya. Sesaat kemudian dia dikejutkan dengan dering ponselnya yang cukup nyaring. Dia bergegas mengeceknya. Berharap dengan sepenuh hati itu adalah telepon dari sang suami. Sayangnya, senyum di wajahnya kian memudar. Saat dia menyadari yang tertera di layar ponselnya bukanlah nama sang suami. Melainkan nomor dari sahabatnya sendiri. “Iya Mel, ada apa?” tanya Sisca. Dia mengucapkannya dengan nada setenang mungkin. Dia tidak ingin suara isak tangisnya terdengar oleh sang sahabat. “Sis, apakah Hito sedang bertugas? Tugas macam apa yang memnbuat mereka tidak dapat menghubungi  kita saat ini?” ucapnya dengan sangat cepat. Dari nada bicaranya. Sisca bisa menebak apa yang terjadi pada dirinya juga sedang dialami oleh sahabatnya. “Apakah suamimu juga melakukan tugas yang sama dengan Hito?” tanya Sisca padanya. Bukannya mendapatkan jwaban dari pertanyaan yang dia ajukan. Dia malah mendengar isak tangis yang tiba-tiba saja pecah. Suara isakan tangis Mela membuatnya merasa teringat dengan dirinya beberapa saat yang lalu. Menangisi takdir yang terasa begitu kejam. Entah apa rencana yang telah dituliskan Tuhan untuk mereka. Tapi, kenyataan tidak dapat menghubungi sang suami itu tidak akan mampu diterima oleh para istri, dari prajurit yang menjalankan sebuah tugas dari pimpinan mereka. Pada akhirnya, Sisca merasa tidak perlu mendapatkan jawaban dari Mela. Apa yang dia dengar saat ini telah menjelaskan semuanya. Tugas yang sedang dilakukan oleh suaminya dan suami sahabatnya kemungkinan besar sama. Mereka mendapatkan rasa sakit yang sama. Rasa rindu dan juga rasa resah yang sama. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD