Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Yara memilih menginap di hotel daripada harus kembali ke rumahnya. Sebab ia sangat tahu bila Reiner pasti sedang berada di sana menunggunya. “Seharusnya lo jangan lari dari masalah, Ra. Harus lo hadapi, maunya kayak gimana. Jangan malah bikin masalah jadi makin runyam.” Dhita menemui Yara sebab hotel di mana perempuan itu sewa, merupakan hotel milik suami dari Dhita. Yara kemudian menghela napasnya. “Gue nggak lari. Lagi sembunyi aja. Sebenarnya gue nggak mau juga harus nyerah karena Friska. Tapi, karena Reiner sendiri yang kayaknya bodo amat, apanya yang mau gue pertahankan?” “Bukan gitu, Ra. Lo harus tahu posisi Reiner sekarang kayak gimana. Dia baru mau satu bulan jadi dirut. Nggak gampang lho, jadi dirut itu. Dan kebetulan Friska itu pengal

