“Astaghfirullahal ‘adzim …” pekikku. Aku seketika berdiri melihat ibu mertua tak bisa bicara karena mulutnya yang mencong. “Tolong … ! Tolong … !” Aku teriak. Sebab takut salah memberi penanganan. Sepertinya ibu mertuaku terserang stroke. Sambil menunggu bantuan datang, kutopang tubuh ibu mertua yang hampir jatuh ke lantai. Tangannya masih menggenggam erat lengan Nely. Wanita itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Dia sama paniknya sepertiku. “Ada apa, Mbak Alya? Ada apa?” Lek Titik datang bersama beberapa orang. Begitu melihat kondisi ibu mertua, tanpa kujelaskan apa pun, mereka sudah paham. “Astaghfirullah … Mbak Yu. Ayo dibaringkan ke kasur!” Lek Titik histeris. Kemudian dua orang lelaki yang menyertai Lek Titik membopong tubuh ibu mertua ke kamar. “Tolong ambilkan air putih!” Lek Tit

