“Semua mama serahkan sama Kamu, Nak. Karena kamu yang jalanin.” Mama Coach Akmal memandang kami bergantian. Kalimat terakhirnya itu menunjukkan bahwa beliau tidak otoriter. Jika mau, bisa saja Coach Akmal dipaksa menuruti keinginannya. Pada detik ini, aku seperti –bahkan menggambarkan dengan kata-kata pun aku tak mampu. Bagaimana aku harus mengungkapkannya. Saat kita berhadapan dengan seorang pria, kemudian ada dua wanita yang harus dipilihnya. Salah satu dari wanita itu adalah aku. Siapa pun yang tak terpilih nanti pasti malu. Ditolak secara personal saja sudah sakit, apalagi jika di depan orang lain. Aku jadi mengasihani diriku sendiri dan Jasmin. Mengapa kami terjebak pada situasi ini? Jika bukan aku yang dipilih, efeknya mungkin tak seberapa. Sebab tak ada hubungan apapun sebelumnya

