“A-apa yang membuatmu berubah pikiran, Al?” tanya Coach Akmal gelagapan. Sementara itu, masih kupandangi bunga krisan ungu di meja sebelah. “Sepertinya aku masih butuh waktu untuk sendiri, Coach,” sahutku tanpa memandangnya. “Aku yakin bukan itu alasanmu, Al. Apa kamu takut jika menikah dalam waktu dekat lantas aku akan mengambil banyak waktumu bersama anak-anak?” Aku kini menunduk. Tak sanggup menatap wajah Coach Akmal. Dari suaranya saja terdengar ada amarah dan kecewa. “Eh … masih ngobrol saja. Ayo dimakan dulu ini! Nanti keburu dingin enggak enak loh.” Dini memang sangat tanggap mencairkan ketegangan. Kuambil sepiring gado-gado yang sudah kupesan. Bukan karena aku lapar. Hanya untuk mengalihkan pembicaraan dengan Coach Akmal. Aku tahu dia bukan laki-laki bodoh. Jelas dia paham ap

