Kabut tebal melingkari perkarangan taman, menyembunyikan setiap sudut dengan bayangan samar. Namun, Cantika tetap berdiri di pojok yang teduh, tidak mau pergi sebelum adiknya tiba. Ia sudah susah payah keluar dari rumah secara diam-diam, melewati pintu samping ketika semua orang tidur. Maka, pertemuan ini tidak boleh gagal. Ia menoleh terus-menerus, melirik kesana-kemari dengan hati yang berdebar kencang, takut Orion tiba tiba muncul dari mana saja. Apalagi, pria itu belum pulang dari semalam; keberadaannya selalu menjadi kegelisahan yang menyakitkan. “Kakak …!” Suara yang begitu familiar terdengar dari kejauhan. Cantika menoleh cepat, senyumnya langsung merekah lebar. Ia bersyukur begitu dalam, adiknya benar-benar datang. “Kamu kenapa lama banget sih? Kakak sudah hampir lima belas men

