Bagai butiran debu di antara banyaknya berlian. Ya, ini yang Surman rasakan saat dia berada di antara keluarganya Ajeng. Groginya bukan main, sempat takut salah bicara dan takut dalam bertindak berakhir tidak disukai pula. “Bapak kenapa?” tanya Abi saat ayahnya malah duduk termenung di ruang tamu, tidak pergi ganti baju dan mandi, tak cuci kaki atau tangan sama sekali. Surman hanya duduk sambil memandang jauh tak berkedip sama sekali. Abi sendiri sudah selesai mandi dan membersihkan diri. “Bapak takut mereka berubah pikiran.” Wajar jika dia takut Abi gagal menikah, wong mereka kaya dan yang melamar orang miskin. Yakin pasti salah satu dari keluarga Ajeng takut jika Ajeng bakal hidup sengsara. Seberapa kuat mereka berusaha dan seberapa memikatnya Abi di mata Ajeng, bisa beda lagi di mata

