Dukun Bisa Bertindak!

1136 Words
“Gak tau juga sih, tapi semoga aja bisa dengan bermodalkan pesona Abi.” Sepercaya diri itu Abi, bila perlu dia ambil jalan pintas agar Ajeng bertekuk lutut di bawah pesonanya. “Cih, sok ganteng kamu.” Bapaknya saja sampai ilfil ke anak sendiri gara-gara terlalu percaya diri. Dasar Abi, tingkat PD nya terlalu tinggi. “Kalau Abi buru-buru ajak dia nikah aja gimana?” Kalau sudah jadi suami kan tidak perlu jaminan untuk meminta pinjaman dari istri atau keluarga istrinya. Masa iya ke suami sendiri pelit. Lalu keluarganya masa iya ke keluarga baru sendiri pelit. “Aduh …. Jadi pusing kepala bapak.” Surman duduk sambil menyangga satu kepalanya dengan satu tangan lalu pelipisnya dia tekan-tekan. “Kan kalau pacar segan mau minjem duit, kalau ke istri sendiri gak segan, Pak.” Memang benar apa yang dikatakan Abi, tapi dia terlalu percaya diri jika lamarannya nanti bakal diterima secepat itu, apa lagi hubungan percintaan mereka baru dimulai. “Terserah kamu aja deh.” Surman menghembuskan napas kasar, pokoknya anaknya ini susah kalau di bilangin, mending cuek saja, terserah apa yang akan Abi lakukan, masa bodoh, daripada Surman yang makin pusing tujuh keliling. Banyak omong juga pasti masuk ke telinga kanan dan langsung keluar ke telinga kiri. “Bapak mau kan kalau dalam waktu dekat Abi ajak datang ke rumahnya?” tawar Abi dan demi apapun, Surman jelas merasa kurang percaya diri, tapi edisi kepepet, jadi mau tak mau kudu bisa siap. “Iya. Ini demi bisa bayar hutang ya, biar pak Budi gak nagih-nagih lagi.” Akhirnya jawaban dari Surman bisa membuat hati Abi lega, setidaknya dia merasa didukung penuh kalau bapaknya menurut. “Iya, Pak.” Abi mengangguk semangat. “Kamu baik-baikkin deh si Ajengnya, awas nanti ke tikung cowok lain.” Yang Surman khawatirkan itu adalah adanya pria lain yang dijodohkan oleh keluarga Ajeng pada wanita itu, kan orang kaya pasti ingin dapat yang kaya juga, takutnya keluarga Ajeng tidak setuju lantas tak menerima lamaran dari Abi, nanti ke sana dapat malunya doang bukan dapat hasil yang memuaskan hati. “Gak akan, Pak. Abi yakin.” Lagi-lagi Abi hanya bermodalkan keyakinan saja, padahal belum tentu kan apa yang dia prediksikan ini berjalan dengan mulus. Nyatanya apapun jalan yang kita tuju pasti akan berliku-liku dan banyak rintangannya. “Jangan sepede itu kamu, dia orang kaya, bisa aja kan dijodohkan dengan orang kaya lagi.” Akhirnya Surman buka suara. “Mereka dari keluarga terpandang dan kita keluarga ecek-ecek, beda kasta banget sama mereka, Bi. Kamu butuh banyak perjuangan buat bisa dapetin restu dari keluarganya.” Abi tidak mau menyerah, pokoknya dia harus mendapatkan Ajeng, jika tidak mau ke perempuan mana lagi. Wanita yang paling kaya yang menjadi pacar Abi sejauh ini hanya Ajeng, yang lain kurang kaya. “Kita ke dukun aja yuk, Pak. Biar dia kelepek-kelepek dan gak bisa lepas dari Abi.” Mulut Surman ternganga, dia tak habis pikir dengan pemikiran anaknya ini, segala cara dihalalkan demi dapat tujuan. “Hah … ke dukun?” “Iya dukun, dipelet biar gak sama cowok lain.” Abi kebetulan dengar ada dukun terkenal di dekat tempat mereka tinggal dari teman-temannya. Cuman nyali Abi belum besar untuk coba-coba pasang pelet, nyoba santet atau hal yang lain, nanti dia takut peletnya jatuh ke tangan orang yang kurang tepat, jatohnya nanggung. Pokoknya kalau dalam keadaan kepepet jalan pintas dukun bakal dia ambil, dari pada hidupnya berakhir di tangan pak Budi. “Aduh musyrik.” Surman makin merasa pusing, kepalanya langsung terasa berat, mau berdiri dan menjauh dari Abi saja sulit. “Demi bisa dapat cewek kaya, Pak. Ayo, Pak!” ajak Abi sambil memohon ke ayahnya. “Mau musrik, mau apa kek, pokoknya demi kaya. Ingat ya Pak, demi hidup kaya dan sejahtera!” “Kalau ujung-ujungnya ke dukun mending dari dulu ikut pesugihan, Abi.” Benar apa kata Surman, daripada melet orang, kan kasihan Ajeng. “Itu berat, Pak. Harus punya tumbal, kan kita gak ada.” Pesugihan tumbalnya bisa nyawa janin, keluarga atau hal yang lain. *** Di tempat lain Asih berteriak memanggil putrinya. “Ajeng … Ajeng ….” Ajeng yang mendengar teriakannya pun menjawab. “Iya, Mbah.” “Ayo jangan lama-lama dandannya, kan kamu mau ketemu sama calon kamu.” Rencana hari ini Asih ingin mempertemukan Ajeng dengan seorang pria kenalan anak pertamanya, katanya orang sukses tapi sayangnya duda anak tiga, tak apa lah, daripada ke brondong yang kelihatannya tak punya apa-apa. Entah kenapa Asih seperti punya firasat buruk saat melihat Abi, dia takut putri kesayangannya mahal hidup susah karena bersama dengan pria yang tidak tepat. “Duh males banget.” Di kamar Ajeng mendesah pasrah. “Iya, Mbah!” teriaknya menjawab Asih. Asih di lantai satu sedang meminum tehnya sambil menunggu Ajeng yang tak kunjung turun. Seperti orang jawa lain, keluarga mereka gemar minum teh di pagi atau siang hari. “Masih di atas, Mbah?” tanya Andin, pemilik rumah ini yang suaminya amat sangat kaya. “Iya tuh. Sana susul biar cepet.” Titah Asih agar tidak ada drama yang membuat Ajeng tidak menemui pria yang mereka ingin kenalkan, kemarin-kemarin Ajeng alasan sakit perut, alasan lagi ada telepon mendesak dari salon dan masih banyak alasan lain agar tidak jadi ketemu. “Baik, Mbah.” Andin langsung menyusul ke kamar sang adik. “Lagi apa, Dek?” tanya Andin setelah sampai di kamar sang adik kesayangannya, Ajeng jadi adik kesayangan lantaran dewasa dan banyak membantu adik-adik serta keluarga mereka. Ana cenderung cengeng dan manja menurut Andin. “Ngelamun, Mba.” Ajeng menjawab jujur di depan kaca, dia masih belum berdandan lantaran berat tak mau ketemu dengan kang mas duda. “Eh awas kesambet setan loh.” Andin merangkul sang adik sambil melihat wajahnya dari kaca. “Ya abis gimana ya.” Ajeng lagi-lagi jujur disertai ekspresi tak sukanya pada rencana ini. “Kenapa? Kamu gak mau ketemu temen suaminya mba?” tanya Andin hati-hati. Padahal tebakannya memang benar sih. “Sejujurnya iya, tapi kan mbah yang nyuruh.” Ajeng sungguh tak berniat bertemu dengan pria manapun, kan dia sekarang sudah punya pacar, tinggal lebih mengenal Abi dan saling memahami lalu berlanjut ke jenjang pernikahan saja kalau berjodoh. “Nurut aja sih, siapa tau cocok. Yuk semangat yuk!” Andin hanya bisa menyemangati, jujur dia juga lebih sreg pada duda ini dari pada pria lain yang sama sekali tidak dia kenal. “Hmmm ….” Ajeng masih terlihat lesu. “Gini Jeng, ini yang terakhir kali deh. Kalau kamu ngerasa gak cocok lagi, kami kasih pilihan buat kamu cari jodoh sendiri.” Ini biar Ajeng jadi semangat. “Ajeng udah punya pacar, Mba.” Ajeng pun baru cerita ke kakaknya ini. Dia lupa kalau belum mengenalkan Abi. “Wah, kapan jadian? Tumben banget pacaran.” “Baru sehari sih.” “Jadi karena cowok itu kamu jadi gak mau ketemu duda ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD