“Aaa … aaaakh, Maaas, sakit.” Ajeng merintih, matanya terpejam kuat. Kedua tangannya meremas pinggiran kolam Jacuzi, sambil menggigit bibir bawahnya. Baru kepala junior Abi yang melesak masuk, Ajeng telah merasakan ngilu luar biasa. “Mas, bisa cabut dulu nggak bentar?” Kali ini, Abimanyu tak bisa menuruti permintaan Ajeng. Ia sudah terlalu berhasrat, tak sanggup membendung apa pun lagi. Bukannya menarik keluar miliknya, Abimanyu malah menusuk makin kuat. Ajeng terpekik dan tersentak. Tusukan kuat yang ketiga semakin menyengatkan rasa sakit dan menyesakkan, sebab separuh batang Abimanyu berhasil menginvasi celah surgawi Ajeng. Baru kali ini kewanitaan Ajeng dipaksa menelan sesuatu yang cukup besar. Sesuatu yang tadi melilit dan menggelitik seolah tertelan rasa ngilu yang membuat

