-Hidden Truth-
♥Happy-Reading♥
.
.
.
Proposal Permohonan Hari Libur
Latar Belakang
Dalam rangka menghapuskan Hari Kejepit Nasional yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri kemahasiswaan
Tujuan
Memberi kebebasan bagi mahasiswa untuk mencegah depresi berkepanjangan akibat tugas dan urusan-urusan yang hanya bersifat duniawi
Waktu Pelaksanaan
Tanggal X bulan Y tahun Z *variabel sewaktu-waktu dapat berubah
Penutup
Demikian proposal ini diajukan sebagai bahan pemikiran yang diharapkan akan berguna bagi agama, nusa dan bangsa
Arya tersenyum geli membaca ulang email yang dikirimkan Rama kemarin. Adiknya itu memang punya seribu satu cara untuk mengusilinya, dan bila boleh berkata jujur, Arya sangat menikmati itu.
Arya meyampirkan punggungnya di sandaran kursi. Pikirannya jenuh disesaki sedemikian banyak tumpukan berkas yang harus ditelaahnya satu per satu. Ia butuh sedikit hiburan. Satu-satunya manusia yang berani mengusik kehidupannya sebagai petinggi di fakultas itu adalah mahasiswa bernama Ramayana Krissandy, adik kesayangannya sendiri.
Arya memejam. Di mana anak nakal itu?
Sejak hubungan persaudaraan mereka terbuka di hadapan umum, setiap jam istirahat Rama akan berkunjung ke ruangannya dengan berbagai alasan yang membuat Arya sakit kepala. Mulai dari menumpang ngadem, minum teh, sampai sekedar ingin menyumbang sekian mililiter karbon dioksida di ruangan dekan tersebut.
Sebenarnya Arya merasa sangat terbantu dengan kehadiran Rama. Setidaknya segala bentuk ocehan adiknya itu bisa membuatnya sedikit lebih rileks. Bahkan Arya terkadang mencari-cari alasan untuk membuat Rama tinggal lebih lama. Salah satunya adalah membuat program belajar privat dengan meminta Vian sebagai tutor.
Arya mulai gelisah menunggu. Bila bukan jam makan siang, saat istirahat praktikum pasti Rama akan menampakkan diri. Tapi sekarang bahkan sudah hampir waktu pulang.
Arya membuka ruang obrolan di ponselnya. Tidak ada pesan terbaru dari Rama. Padahal kemarin-kemarin bila Rama tidak menjumpai keberadaan Arya di ruangannya karena sedang ada urusan di luar, adiknya itu akan mengiriminya pesan beruntun untuk sekedar bertanya ke mana dirinya pergi.
Saat pintu ruangannya terbuka dan Rama masuk tanpa permisi, Arya spontan berdiri.
"Rama!"
Rama yang langsung menghempaskan dirinya di sofa membuang napas setengah kesal. "Iya, iya! Jangan marah begitu. Cuma lupa bilang salam juga." Rama mengambil posisi duduk. "Assalamu'alaikum, permisi, selamat sore, good evening, guten Abend."
"Wa'alaikumussalam." Arya langsung bangkit menghampiri Rama. "Kamu dari mana saja, hah?"
"Dari mana?" Rama mengulangi. "Kamu tidak berpikir aku kelayapan di luar kampus kan, Kak? Kalau bolos paling juga aku di kantin."
"Tidak. Bukan begitu."
"Lalu?"
"Lalu apanya?"
"Tadi kamu tanya, aku dari mana. Sejak pagi aku di fakultas ini, kok!" Rama memberengut.
"Ini sudah hampir jam pulang. Kenapa baru datang sekarang?" Arya berdeham keras. "Maksudku, untuk apa lagi kamu kemari?"
"Aku mau minum teh hangat." Rama menatap Arya penuh pengharapan.
"Kamu bisa pesan sendiri kantin."
"Di kantin harus antri dulu."
Arya mendecakkan lidah kemudian menghubungi resepsionisnya.
"Kak ...," rengek Rama pada Arya yang masih sementara menelepon.
Arya mendelik. "Apa lagi?"
"Aku mau teh hangat dengan campuran lemon dan madu."
Arya baru ingin memarahi Rama saat tiba-tiba Rama bersin dan terbatuk-batuk.
"Kamu flu?" Arya meletakkan gagang telponnya kemudian bersegera mematikan pendingin ruangan.
Rama mengangguk sembari menggosok hidungnya.
Arya beralih kembali pada telponnya yang masih terhubung. "Tolong buatkan teh hangat dengan lemon dan madu. Sekarang."
Rama tersenyum begitu Arya menutup pembicaraan yang diperantai sinyal listrik tersebut.
"Kamu harus jaga kesehatan. Masa bisa sampai flu begini!"
"Ini semua gara-gara kamu juga, tahu!"
"Kenapa aku?"
"Kamu tidak ingin meliburkan fakultas hari ini, sih! Kemarin aku harus begadang habis-habisan untuk menulis laporan. Badanku sakit semua. Aku jadi terserang flu dan pilek tiada henti-hentinya!"
Arya menghela napas. "Meliburkan fakultas tidak semudah itu, Rama. Sini, berbaliklah."
Rama masih belum paham sepenuhnya maksud Arya sampai kakaknya itu memijat pundaknya.
"Aku menyuruhmu belajar, tapi perhatikan kesehatanmu juga."
Rama mencibir. "Di jurusan ini yang namanya belajar dengan menjaga kesehatan itu berbanding terbalik."
"Rean dan Edward bisa."
"Terus saja bandingkan aku."
"Bukan begitu. Kamu benar, orang-orang dengan IPK tinggi itu belum tentu sukses di masa depan. Tapi itu cukup untuk membuktikan bahwa mereka menempuh pendidikannya dengan sungguh-sungguh. Tidak menyia-nyiakan pengorbanan besar orang tua mereka yang setengah mati membanting tulang untuk mencari biaya."
"Aku tidak punya orang tua, masalahnya. Kakek sama sekali tidak kerepotan membiayai pendidikanku. Aku bahkan bingung bagaimana cara menghabiskan uang darinya."
"Rama ... "
Rama berbalik kemudian terkekeh. "Aku bercanda, Kak! Astaga, kamu menanggapinya dengan serius? Jangan menekuk wajah begitu, nanti kamu cepat tua."
Arya tersenyum kecut. Ia tahu, Rama tertawa hanya untuk menutupi perasaannya yang sesungguhnya.
Pintu kemudian diketuk pelan. Setelah Arya mempersilahkan masuk, seorang pramusaji muncul dengan nampan berisi secangkir teh hangat. Arya tanpa sadar tersenyum lembut saat Rama menyeruput tehnya dengan khidmat.
Rama mengerling pada Arya yang terus menatapnya. "Kamu mau, Kak? Pesan satu lagi saja. Bukannya aku nggak mau berbagi, tapi nanti kamu tertular flu dariku. Apalagi gen kita identik, transimi virus bisa lebih cepat." Rama menengggak sekali kemudian kembali bersuara. "Maksudku identik dari gen ibu."
Arya mengusap kepala Rama, adiknya itu memang selalu pengertian sedari dulu. "Besok, jadi kan?"
"Jadi apa?"
"Kamu lupa percakapan kita kemarin?"
"Yang mana?" Rama pura-pura amnesia. "Maaf tapi di kepalaku tidak tersedia opsi pencadangan obrolan.
"Menginap di rumahku."
"Oh, itu." Rama berpikir sejenak. "Di sekitar rumahmu tidak ada pohon besar, kan? Terutama pohon mangga."
"Tidak, yang ada cuma beringin raksasa."
"Buset itu sih satu perumahan namanya!"
"Perumahan apa?
"Perumahan dedemit."
Arya berusaha menahan geli. "Intinya besok kamu harus datang. Kamu tidak akan menyesal datang ke rumahku."
"Jaminannya apa?"
"Kamu bisa meminta apapun kalau aku berbohong."
"Serius?"
"Serius."
"Bahkan bila aku memintamu meliburkan fakultas ini selama 365 hari?"
Arya mengangguk tegas. "Ya."
Rama menatap Arya dalam-dalam, tidak terdeteksi kebohongan dari sorot matanya. Dalam hati ia bertekad untuk tidak tampak senang di rumah Arya besok agar bisa libur setahun penuh.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Benar kata Rama, Rean adalah seorang ninja. Buktinya, ia bisa melewati kerumuman para OB yang ribut di depan koridor gudang tanpa ketahuan. Dari desas-desus yang sempat ditangkap telinga Rean, para karyawan tersebut gelisah akan mendapat teguran karena kelalaian mereka merawat tanaman hias yang harganya terbilang cukup mahal itu.
Rean menyusuri lorong, bola matanya aktif bergerak, menelaah tiap sudut, berusaha menemukan informasi baru. Sejak kemarin pikirannya tidak tenang. Rean tahu ada yang tidak beres dan berinisiatif akan mengecek segera, namun fakultas sedang ditutup karena libur. Pagi tadi akibat begadang mereka satu rumah bangun kesiangan. Jam pertama di mulai tepat saat mereka tiba, dan praktikum baru berakhir beberapa menit yang lalu.
Rean berhenti tepat di depan sebuah pot kecil yang letaknya paling dekat dengan pintu gudang. Ada yang aneh. Selain daun, batang tanaman tersebut ikut mengkerut. Tidak seperti tanaman di bagian depan.
Rean terkesiap. Bagaimana mungkin dirinya baru sadar sekarang? Ia lekas berlari-lari kecil menuju hilir koridor yang berbatasan dengan pintu laboratorium dan tangga. Kerumuman OB telah bubar sehingga ia bisa leluasa bergerak tanpa dicurigai.
Sebelumnya berkat celoteh Rama, Rean berhasil menemukan sebuah petunjuk. Tentang serangga yang mati dalam posisi terbalik.
Kelas Insecta dari filum Arthropoda memang diciptakan dengan sistem saraf yang lemah, beberapa diantara spesiesnya bahkan hanya bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Maka dari itu insektisida diformulasikan khusus untuk menyerang sistem saraf mereka sehingga dapat mematikan dalam kurung waktu sepersekian detik.
Kelumpuhan sistem saraf itulah yang membuat serangga tidak mampu menahan berat tubuhnya dan mati dalam posisi terbalik. Inilah wujud Dementor asli yang dimaksudkan Rean. Senyawa kimia yang bisa menembus sawar darah otak dan menyerang sel saraf pusat. Bila demikian adanya, maka senyawa kimia tersebut harusnya bersifat non-polar yang larut lemak.
Rean mengamati satu per satu tanaman dari ujung ke ujung. Semakin mengarah ke pojok, semakin mengering pula tanaman tersebut. Tidak ada ruang lain di pojok selain gudang. Sejurus kemudian Rean mempercepat langkah. Tangannya hampir menjangkau gagang pintu gudang saat ponselnya berdering.
Panggilan dari Erva.
Hanya ada dua kemungkinan. Erva sedang berurusan dengan dosen, atau sudah memecah peralatan laboratorium lagi.
Tapi sesuatu di dunia memang tidak ada yang mutlak. Sebab sesuatu yang Rean dengar selanjutnya ternyata lebih tidak menyenangkan lagi.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Jam habis praktikum adalah salah satu waktu terbaik bagi Cassy. Terkecuali untuk hari ini saat gosip tentang ibunya yang melakukan operasi plastik tersebar di angkatannya. Mungkin beberapa menit kemudian seluruh fakultas pun akan tahu.
Cindy, ketua geng sosialita sekaligus ratu gosip mengirim beberapa foto lawas Cassy dan ibunya di grup angkatan yang disertai berbagai pesan-pesan ambigu penuh kontroversi. Cassy pun langsung diserbu dengan berbagai pertanyaan yang menusuk hati.
Cassy duduk diapit Chelia di sisi kirinya dan Naya juga Erva di sisi yang satu. Bisik-bisik masih terdengar dari mereka yang kebetulan melintas sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Jangan dengarkan mereka, Cassy." Chelia memasangkan earphone di kedua telinga Cassy. Cassy hanya menggigit bibir begitu menyadari song list yang dipilihkan Chelia merupakan lagu-lagu dari band Korea kesukaannya.
Cassy mengerjap, menghalau rasa perih di matanya yang berair. Ia benar-benar merasa terharu. Rahasia tentang ibunya itu tidak seorang yang tahu, teman-teman dekatnya sekalipun. Namun mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak nyaman dan tidak terima. Bahkan tidak seorang pun dari mereka yang meminta penjelasan darinya.
"Dasar orang-orang kelas rendah! Biasanya cuma membicarakan orang!" Naya mendengus.
Cassy tersenyum kecil mendengarnya. Dalam hati ia bersyukur memiliki teman-teman yang bersedia menemani dan mendukungnya dalam senang maupun susah. Namun saat perasaannya mulai membaik, Cindy dan sekawanan gengnya justru datang menghampiri.
"Hai, Cassy," sapa Cindy yang membuat Cassy muak.
Naya berdiri. "Untuk apa kalian kemari?"
"Aku tidak menyapamu." Cindy tertawa mengejek.
"Aku juga tidak membalas sapaanmu."
Cindy menatap Naya geram, lalu kembali pada Cassy. "Jadi berita itu benar? Ibumu yang cantik itu sudah melakukan operasi plastik?!"
Chelia membulatkan mata begitu Cindy berujar dengan suara keras yang cukup menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Jelas sekali Cindy ingin mempermalukan Cassy di depan orang-orang.
"Kalau iya, kenapa?!"
Cindy memutar bola matanya saat lagi-lagi Naya yang menjawab.
"Oh, jadi itu benar?!"
"Benar!" Cassy ikut berdiri menantang Cindy.
Kerumunan geng Cindy menjadi riuh rendah. Menyadari suasana yang makin memanas, Chelia memberi isyarat pada Erva untuk menghubungi Rama, Rean, dan Edward.
"Wajah hasil operasi plastik itu tidak diturunkan, bukan? Apa jangan-jangan wajahmu bisa cantik begini karena operasi plastik juga?" Cindy menyeringai tajam.
Chelia bangkit dan memeluk pundak Cassy. "Jangan pedulikan dia, Cassy. Lihat? Dia mengakui kamu cantik."
"Apa?!"
"Barusan kamu bilang Cassy cantik, bukan?" Chelia tersenyum begitu berhasil membuat Cindy tidak bersuara lagi. Chelia tahu Cindy adalah tipikal orang yang tidak ingin diungguli perihal kepopuleran dan kecantikan.
Cindy yang gusar langsung mendorong bahu Chelia hingga tersungkur menabrak kursi.
"Chelly! Kamu nggak apa-apa? Astaga! Lenganmu!"
Chelia menelusuri arah pandang Cassy. Rasa perih menjalari lengannya begitu melihat luka goresan di sana.
"Sweetheart!" Chelia menoleh, mendapati Rama, Erva, dan Erward yang bersegera membantunya berdiri.
"Kurang ajar!" Rama menatap Cindy gusar, namun ia lekas menguasai diri. Bila Cindy bukan perempuan, sudah tentu ia akan membalas perlakuannya pada Chelia.
Cassy yang sudah gelap mata balas mendorong Cindy. Pergulatan keduanya pun tak terelakkan. Edward berusaha melerai keduanya, mengorbankan kemejanya yang menjadi ajang tarik menarik dua perempuan yang sama-sama dilanda emosi itu. Ditambah lagi konco-konco Cindy ikut ambil bagian. Beruntung Rafa dan Rafi yang kebetulan lewat langsung turun tangan membantu.
"Berhenti!" Rean yang baru tiba langsung mengambil posisi di tengah-tengah, menghalangi pukulan Cindy yang berakhir menghantam punggungnya.
Rean menunduk dan menghela napas gusar. "Aku bilang berhenti!"
Serempak, segala pergerakan saat itu terhenti. Hanya debaran jantung dan suara napas mereka yang terdengar.
"Apa yang ada di pikiran kalian?! Kalian bukan anak kecil lagi sampai bertengkar begini!"
Rafa dan Rafi saling berpandangan dan mengangkat kedua tangannya ke atas. "Kami melerai, Bray. Bukan bertengkar," celetuk salah seorang di antara mereka.
"Dia yang mulai duluan!" Naya menunjuk Cindy yang langsung mengerutkan wajahnya.
"Kami cuma bicara fakta! Fakta kalau ibu Cassy itu melakukan operasi plas--"
"Lalu apa masalahnya?" Rama maju selangkah, menyela omongan Cindy. "Apa masalahnya kalau ibu Cassy melakukan operasi plastik? Apa itu menyusahkanmu?! Apa itu menggunakan biaya darimu?!"
Cassy menoleh pada Rama yang tampak berang. Baru kali ini Cassy mendengar Rama bersuara tinggi.
Cindy merungus. "Tentu saja itu masalah! Dia!" Cindy menunjuk Cassy tepat di depan wajahnya yang langsung ditepis Edward.
"Dia dan keluarganya adalah penipu! Dia menipu kita semua! Mereka memakai topeng untuk mengelabuhi orang-orang!"
Cassy baru akan menampar Cindy begitu terdengar seruan di balik orang-orang yang berkumpul.
"Menipu? Hah, yang benar saja!"
Kerumunan orang-orang lantas terbelah dengan sendirinya, memberi ruang pada sosok misterius yang berhasil menyita seluruh atensi mereka.
"Setidaknya mereka menampilkan apa yang benar-benar mereka miliki sekarang. Tidak seperti kamu yang masih berani memasang wajah sombong begitu setelah ayahmu diturunkan dari jabatannya karena menggelapkan uang rakyat! Kalian bahkan menyuap media massa agar kasus ini tidak disebar ke publik, kan?"
Gio keluar dari kerumunan. Sekilas ia mengedipkan sebelah mata pada Rama dan kawan-kawannya.
Cindy membeliak sambil menggigit bibir. Wajahnya mendadak pucat pasi.
Gio tersenyum penuh kemenangan. Selama kurang lebih tiga tahun menjadi informan Notix, baru kali ini Gio merasa menggunakan informasi yang diperolehnya dengan benar.
☕☕☕
TBC