-The goddess of Memory-
♥Happy Reading♥
.
.
.
Chelia terus memacu langkah kakinya dengan napas terengah. Kontraksi-relaksasi otot antar-tulang rusuk dan diafragmanya terus berkesinambungan menyuplai oksigen yang langsung diubah menjadi energi untuk tungkai bagian bawah tubuhnya agar terus berlari. Tujuannya hanya satu, laboratorium Farmakologi.
Bunyi berdecit beserta panorama khas laboratorium yang ditata sedemikian apik sesuai standar operasional Badan Akreditasi Nasional menyapa segenap panca indranya begitu pintu besi sebagai media akses ruangan itu terbuka. Chelia melangkah masuk, menjadi satu-satunya penghuni di sana. Sekarang jam istirahat, kurang lebih satu setengah jam lagi laboratorium tersebut difungsikan. Ruang alat, ruang bahan, dan ruang asisten masih terkunci. Papan tulis yang biasanya penuh coretan skema kerja pun belum terjamah. Alat peraga beserta patung-patung torso juga masih tertutup kain putih.
Chelia memposisikan dirinya di tengah laboratorium, tepat berhadapan dengan papan tulis. Memiliki sebuah sindrom langka, Chelia memiliki daya retensi atau kemampuan menyimpan informasi yang tidak terbatas, serta dapat melakukan retrieval--pemanggilan kembali terhadap stimulus-stimulus yang telah tersimpan tersebut dengan sempurna.
Sebelum pelajaran kedua dimulai beberapa waktu yang lalu, Chelia tidak sengaja membaca sebuah artikel tim jurnalistik kampus yang dikirim Rumy di grup chat angkatannya.
Korban--mahasiswi yang tewas bunuh diri tersebut belakangan ini ternyata mengalami gangguan kecemasan yang fluktuatif, obat yang digunakan untuk memutus nyawanya itu adalah obat yang diresepkan dokter namun diminum menyalahi aturan dosis.
Chelia membenarkan informasi tersebut, obat hipnotik untuk mengurangi waktu jatuh tidur memang tidak dijual bebas karena rentang terapinya yang sempit. Sedikit saja menyalahi dosis bisa berbahaya, namun foto kemasan obat yang ikut diunggah dalam artikel itu membuatnya syok, sebab kemasan tersebut telah terekam jelas diingatannya sebagai kemasan obat kedaluarsa yang dilihatnya sewaktu membantu Edward menyusun obat.
Chelia akan melakukan pembuktian dengan sebuah teknik yang disebutnya sebagai retrospeksi, suatu cara untuk membangun ulang memorinya secara empat dimensi dengan menampilkan seluruh impuls yang diterima organ sensori--baik berupa gambar, pergerakan, suara, sentuhan, maupun suasana di sekelilingnya untuk terekonstruksi kembali secara keseluruhan.
Chelia mengambil tempat di samping patung torso, salah satu titik di mana ia berdiri di hari itu kemudian melakukan scanning terhadap seluruh penjuru laboratorium untuk memperoleh templete posisi dan lokasi.
Detik berikutnya Chelia mulai memejamkan mata seraya memfokuskan pikiran, melakukan recalling process hingga kilas balik beberapa memori kini terproyeksikan di benaknya, ibarat sebuah potongan scene film yang terpampang dalam ruang kosong dan muncul silih berganti--sebagian besar didominasi oleh kenangan bersama Riva dan teman-temannya, juga aktivitasnya sehari-hari sebagai mahasiswi farmasi yang sibuk kuliah dan praktikum.
Chelia memusatkan ingatannya lebih dalam lagi, berusaha memperkecil ruang lingkup kepingan memorinya untuk menemukan rangkaian peristiwa seminggu belakangan.
Ketemu!
Chelia membuka sebuah layar memori dan memilih momen tiga hari yang lalu tepat waktu pulang praktikum. Di hadapannya kini terpampang gambar imajiner dari setiap frame yang terekam utuh di ingatannya pada momen tersebut.
Chelia melihat ada bayangan Rama di sebelahnya yang sibuk mengutak-atik organ di patung torso, di bagian lemari obat ada Rean dan Edward yang saling berbincang, Naya sibuk menulis laporan, Erva mengurus Mustafa--si mencit dan Cassy duduk di meja sambil menonton drama. Chelia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan lalu memasuki dunia ilusi tersebut, menarik dirinya kembali ke masa itu.
Chelia bisa merasakan udara dingin yang berhembus dari jendela yang kemudian ditutup Rean setelah terlebih dahulu menegur Rama karena membiarkannya terbuka sedang AC dalam keadaan hidup. Chelia menoleh pada pendingin ruangan tersebut, deru mesinnya pun terdengar nyata. Selanjutnya Chelia merasakan dirinya bergerak ketika ditarik Rama untuk berfoto bersama dengan menggunakan organ-organ patung torso sebagai properti.
"Pegang ini Chelly." Rama menyerahkan organ jantung padanya.
"Kenapa jantung?" Chelia mendengar dirinya bertanya.
"Karena kamu sweet-heart, Chelly." Rama tampak berpikir lalu memutar kepalanya menghadap Edward. "Eddy! 'Heart' itu jantung atau hati, sih? Heart attack artinya serangan jantung, tapi broken heart berarti patah hati. Otakku jadi puyeng, nih!"
Edward mendengus. "Makanya jangan banyak gaya kalau nggak tahu!"
"Dih, penyelundup asing ini pelit banget bagi ilmu!"
"Secara anatomi heart artinya jantung, kalau hati itu liver," jelas Edward pada akhirnya.
Rama mengangguk-angguk, di belakangnya Chelia melihat Erva berjalan mendekat, meninggalkan Mustafa yang asyik makan jagung di luar kandang. "Kalau Chelly jantung, aku apa, Rama?"
Rama mengusap dagunya. "Kalau kamu bagusnya sih usus buntu, Sweetie."
"Usus buntu?!" Cassy melotot pada Rama.
"Jangan negatif dulu, Dear. Usus buntu memang kecil dan nggak banyak fungsinya, tapi kalau meradang bisa menyebabkan kematian dan harus ditangani segera. Benar, kan Chelly?"
Chelia mendapati dirinya mengangguk, namun bukan mengiyakan analogi antara Erva dan usus buntu. Organ yang disebut apendiks tersebut hanya berupa selang kecil tipis yang bahkan tidak tampak di patung torso dan memiliki fungsi yang belum jelas, meski beberapa penelitian telah menyebutkan peranannya dalam sistem kekebalan tubuh.
Erva langsung semangat. "Benarkah? Ya sudah, aku mau jadi usus buntu saja!" serunya.
Di sudut ruangan Naya bersungut sambil mengedarkan bola matanya seratus delapan puluh derajat.
"Kenapa Naya, Cutie? Kamu mau foto bareng aku juga? Ayo! kalau kamu cocoknya pakai ini." Rama mengangkat sebuah organ kecil berbentuk buah pir yang tak lain adalah kantung empedu.
Naya menatap Rama tajam kemudian melemparinya dengan sandal lab yang meleset menghantam menekin tengkorak yang sengaja disembunyikan Rama di dekat jendela. Tulang belulang artifisial itu pun berhamburan di lantai. Rama yang terkejut dengan kepala tengkorak yang bergelinding di dekat kakinya refleks menyepak tempurung kepala berbahan fiber itu hingga keluar dari laboratorium dan berguling menuruni tangga, menyebabkan kehebohan mahasiswi jurusan kebidanan di lantai bawah.
Percekcokan antara Rama dan Naya perihal tanggungjawab menyusun kembali rangkaian axial dan appendicular skleton yang bercerai-berai itu pun tak terelakkan. Setelah proses mediasi rumit dengan Rean sebagai pihak ketiga, sengketa kewajiban tersebut berakhir damai, dengan kosekuensi bagi keduanya untuk merakit kembali kerangka itu.
"Dari tulang rusuknya, aku bisa tebak tengkorak ini berjenis kelamin perempuan." Rama berujar penuh keyakinan begitu mengangkat segmen tulang rusuk.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Rama menyengir. "Habis tulang rusuknya genap, Sweetheart. Kalau laki-laki kan kurang satu."
Chelia mendengar dirinya tertawa. "Memang tulang rusuk kamu kurang satu?"
Rama mengangguk mantap. "Iya, Sweetheart, kan satunya dipakai untuk menciptakan kamu."
Rean mengetuk kepala Rama dengan gulungan kertas. "Sembarangan! Memangnya kamu itu Nabi Adam!"
"Lho, jadi tulang rusuk kita nggak kurang satu, ya?" Rama bertanya pada Rean sambil meraba-raba bagian d**a dan perutnya yang rata, mencoba menghitung tulang rusuk di sana.
"Kamu benar-benar percaya ungkapan itu?!" Rean menghela napas frustrasi. "Tulang rusuk manusia itu jumlahnya dua belas pasang, baik laki-laki maupun perempuan!"
"Makanya jangan tidur kalau kuliah!" cela Naya.
Rama hanya meringis lalu kembali berusaha menghitung rusuknya, namun nihil karena terhalang oleh otot abdomen perutnya yang terbentuk.
"Kira-kira Kak Vian masih ada di Poliklinik nggak, ya?"
Rean yang mulai mengatur sediian semisolid menoleh, Alvian atau kerap disapa dokter Al itu adalah kakak sepupunya. Meski jam kantor hanya sebatas pukul 4 sore, dokter muda kebanggan keluarganya itu biasanya menunggu kampus ditutup sampai semua mahasiswa pulang.
"Mungkin. Kak Vian biasanya pulang sehabis sholat magrib berjamaah di mushollah, kenapa?"
"Aku mau coba rontgen tulang rusuk, nanti beneran kurang satu!"
"Demi Tuhan, Rama!"
Chelia menikmati alur perbincangan tersebut sambil sesekali cekikikan. Setelah meletakkan tulang pergelangan tangan terakhir, Chelia merasakan dirinya berjalan menuju kardus berisi obat kedaluwarsa yang dipisahkan Edward dan Rean dari lemari. Chelia mengamati obat yang terbuang sia-sia itu.
Ini adalah momen yang Chelia tunggu, saat tangannya bergerak mengambil sebuah kotak obat penenang berisi berisi dua strip tablet. Chelia menilik kotak berwarna putih dengan bis kuning tersebut. Ia bisa melihat bekas segel yang sedikit merusak kemasan, persis seperti gambar di foto tadi.
Chelia membalikkan kemasan tersebut, terdapat nomor registrasi beserta barcode dua dimensi berisi informasi nomor batch, tanggal kedaluarsa, dan nomor produk. Meski tidak bisa menerjemahkan infromasi di dalamnya, Chelia bisa merekam sempurna pola dari titik dan persegi QR kode tersebut. Mulai dari kemasan, nomor registrasi, sampai matriks dalam barcode, semua menunjukkan kesamaan dengan obat di artikel tadi.
Chelia membuka mata dengan napas memburu. Untuk memperkuat praduganya, Chelia membuka lemari arsip, berniat menemukan catatan stok obat. Sayangnya berdasarkan keterangan Naya, obat kedaluwarsa tidak dimasukkan dalam pencatatan lagi.
Chelia kemudian menuju laboratorium kimia dan mengeluarkan satu per satu obat dari kardus. Semua ada, kecuali kemasan dengan bis kuning tersebut. Chelia membuka daftar bahan yang telah digunakan, namun obat hipnotik tersebut pun tidak ada dalam list. Tidak salah lagi, obat yang dikatakan Edward hilang kemarin adalah obat yang diminum korban.
Chelia merasakan sesak di rongga dadanya, bukan karena jantungnya yang memukul-mukul keras, ataupun karena teman-temannya yang menghujaninya dengan beribu pertanyaan. Faktanya, mustahil obat tersebut berada di tangan korban tanpa pihak perantara. Ada penghubung misterius yang apapun tujuannya--entah karena tindak jual-beli obat ilegal atau karena maksud tertentu, sudah menyalahi aturan laboratorium dan mencelakakan orang. Lebih buruknya lagi, mata rantai yang hilang itu kemungkinan besar masih berkeliaran bebas di sekitar mereka.
⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️
Memori atau ingatan merupakan kumpulan reaksi elektrokimia yang direkam oleh berbagai macam indra dan disimpan serta diaktifkan oleh serangkaian jaringan saraf kompleks di otak. Sejatinya memori melibatkan tiga dimensi waktu berbeda yang memberi kemampuan manusia mengingat masa lalu, mengelola masa sekarang, dan merencanakan masa depan. Namun dalam kasus tertentu yang sangat jarang terjadi, abnormalitas pada beberapa bagian otak yang bertanggungjawab terhadap regulasi memori tersebut menyebabkan terjadinya anomali dalam adaptasi waktu, dan kelainan itulah yang terjadi pada Chelia.
Riva membelai rambut Chelia yang tengah tidur pulas. Dengkuran halus disertai irama napasnya yang pelan dan teratur membuat Riva benar-benar merasa lega. Sudah hampir seminggu Chelia mengalami demam tinggi, bahkan suhu tubuhnya pernah mencapai titik hiperpireksia dengan derajat 42 celsius yang sedikit lagi bisa menyebabkan koma. Beruntung Vian segera menanganinya dengan antipiuretik injeksi.
Riva yang baru pulang kantor petang tadi hampir bersujud syukur ketika mendapati Chelia mulai tertawa saat bermain Ludo King dengan teman-temannya. Permainan yang sangat kurang menantang bagi Riva, namun entah mengapa dimainkan dengan sangat heboh oleh ketujuh mahasiswa tersebut. Meski pada akhirnya Riva pun ikut hanyut dalam euforia tidak jelas itu karena termakan provokasi Rama. Suaranya sampai menjadi serak akibat berteriak saat pion miliknya yang selangkah lagi menuju home di tengah papan ditendang masuk kembali ke base.
Riva merasa banyak berhutang budi. Selain pada Vian, juga kepada teman-teman Chelia yang tiap hari izin bergantian untuk menemaninya di rumah. Riva merasa malu pada dirinya sendiri, ia pernah membanggakan teknologi yang bisa membuatnya bekerja tanpa perlu keluar rumah. Nyatanya, wujudnya tetap dibutuhkan saat rapat dewan direksi dan pertemuan dengan para stockholder.
Begitu Chelia mengubah posisi tidurnya, Riva dengan sigap membenarkan letak selimut adiknya tersebut. Malam-malam kemarin Chelia sama sekali tidak bisa tidur dan mengeluhkan nyeri kepala hebat, efek samping dari retrospeksi yang dilakukannya tempo hari.
Chelia adalah seorang Mnemonist. Adik kesayangannya itu mengalami gangguan neuropsikologis bawaan lahir yang disebut dengan Hyperthymesia Syndrome atau Highly Superior Autobiographical Memory. Ada yang menyebutnya Eidetic memory atau memori fotografis. Meski keduanya berbeda, belum ada penegakan diagnosa yang jelas. Bahkan fenomena tersebut masih menjadi polemik di kalangan pakar neuroscientist.
Mungkin bagi orang lain, sindrom langka tersebut ibarat sebuah mukjizat. Dengan ingatan yang sempurna dan gen cerdas turunan ibunya--seorang dokter ahli bedah ternama, Chelia memiliki segudang prestasi yang membanggakan sejak kecil. Riva masih ingat betapa iri dirinya saat Chelia kecil dengan mudah melafalkan rumus-rumus trigonometri dan persamaan gerak parabola yang dihapalnya dengan setengah mati.
Sayangnya, seiring waktu berjalan semakin banyak interferensi yang terjadi pada memori Chelia. Chelia menjadi sulit fokus dan kerap kali terganggu oleh emosi dan perasaan bersalah yang tak kunjung hilang. Ia pun selalu dihantui berbagai pengalaman dan kenangan buruk di masa lalu.
Sewaktu berumur 13 tahun, sebuah insiden memilukan yang menimpa keluarga mereka membuat Chelia mengalami tekanan mental luar biasa. Urutan memori tak terhingga dalam lobus ingatannya teracak hingga ia tidak mampu membedakan masa yang telah lalu dengan waktu yang sedang berlangsung. Recall yang terlalu spesifik pun membuatnya sulit membedakan alam mimpi dengan dunia nyata. Saat itu Chelia yakin apa yang dialami keluarganya hanyalah sebuah mimpi, hingga tidak bisa menerimanya sebagai sebuah kebenaran.
Karena alasan itulah Riva selalu mencegah Chelia melakukan retrospeksi. Riva khawatir rekonstruski memori itu bisa membuka kenangan pahit keluarganya di masa lalu dan membuat Chelia kembali depresi.
Riva tidak ingin insiden itu terulang lagi, saat Chelia menghabiskan masa remajanya dengan perawatan intensif dan diisolasi dari dunia luar. Saat Riva harus merelakan adiknya yang disebut-sebut sebagai dewi ingatan itu menjalani hari-hari memilukan sebagai seorang pasien rumah sakit jiwa.
☕☕☕
TBC