30. Climacter☕

1860 Words
-Life and Death- Karena persahabatan kita menembus batas dimensi ruang dan waktu -Nadella Adannaya- . . . ~♥Happy-Reading♥~ Pada kenyataannya, garis kehidupan bukan berupa baret lurus monoton. Tuhan mengukirnya dalam bentuk kurva, kontinu nan fluktuatif. Adakalanya menanjak setengah mati lalu menukik turun tanpa aba-aba, kadang pula melesat ke atas begitu saja dan menurun perlahan. Tak terkira maupun terprediksi. Arya sangat fasih mengerjakan integral persamaan kurva dalam berbagai fungsi, namun sekali pun tidak pernah bisa menjabarkan bagaimana sang pencipta merumuskan kurva takdirnya. Titik di mana terjadi perubahan signifikan pada gradien kurva kehidupan itu disebut Arya sebagai waktu kritis. Masa transisi di mana berlangsung sebuah peristiwa yang berdampak besar pada keseimbangan takdir seseorang, baik yang memiliki implementasi positif, maupun yang membawa implementasi negatif. Arya telah melalui beberapa periode masa transisi dalam hidupnya. Saat Rama lahir dan mewujudkan mimpinya untuk menjadi seorang kakak, ketika keluarganya diguncang masalah yang berakhir dengan perpisahan kedua orang tuanya, juga waktu di mana ia ditinggal sang ibu yang telah berpulang ke haribaan Tuhan. Arya pikir masa-masa kritisnya sudah berakhir begitu kurva kehidupannya kembali menemukan jalan menuju puncak. Menjadi ketua Senat Fakultas, mendirikan Notix, menjadi lulusan terbaik universitas dengan masa studi kurang dari tiga tahun dan mendapatkan beasiswa berprestasi untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Sayang, titik balik itu kembali hadir, entah dirinya memang tidak ditakdirkan untuk hidup bahagia, atau ditakdirkan untuk hidup dengan tidak menikmati kebahagiaan. Sebuah luka dalam kembali tertoreh di hatinya sekitar 6 tahun silam. Saat Arya yang telah hampir 1 tahun menempuh kerasnya pendidikan di negeri orang kembali menapakkan kaki di tanah kelahirannya. Arya masih ingat jelas betapa menakjubkan perubahan kotanya kala itu. Namun sebuah pemberitahuan via telepon dari Riva berhasil membuatnya bergegas menuju rumah sakit tanpa sempat menaruh rasa kagum pada metamorfosis besar tersebut. Akses layanan video call saat itu belum semudah sekarang, namun Riva yang terisak di seberang sana cukup meyakinkan Arya bahwa kabar yang diberitahukan sahabatnya itu bukan hoax semata, atau semacam trap sebagai sambutan untuk kedatangannya. Setiba di rumah sakit, Arya berlari sekuat tenaga menuju ruang Intensive Care Unit. Degup jantung, deru napas, dan derap langkahnya menyatu, saling beradu dan menggema di sepanjang koridor. Kecelakaan kerja di laboratorium. Nadella kritis. Rumah sakit ayah Vian. Arya terus berlari. Pikiran dan perasaannya sangat kacau. Lorong rumah sakit mendadak terlihat menyempit dan memanjang. Arya bisa melihat bulir-bulir kristal air matanya berhamburan lalu menghilang menjadi kepingan berkilauan saat bertubrukan dengan udara. Langkahnya pun tertahan. Arus waktu disekitarnya seolah melambat, memaksanya untuk menikmati rasa sakit yang mendera detik demi detik. "Arya!" Afri menyambut Arya dan memapahnya hingga sampai di pintu utama ruang ICU. Beberapa teman jurusan Della telah menunggu di sana. "Bagaimana Della?" Arya berujar parau. Afri dan teman-temannya saling melempar pandangan. Arya mengguncang bahu Afri yang membungkam. "Bagaimana keadaan Della?! Aku bertanya!" "Untuk sekarang ...," Afri mengulur waktu, mencoba menemukan kalimat yang tepat, "kita hanya bisa mendoakan keselamatannya." Deg! Hati Arya teramat perih mendengar penuturan Afri. Tanpa menunggu lagi ia memaksa masuk, menerobos perawat yang berjaga di balik pintu. "Biarkan dia masuk." Seorang pria yang mengenakan jas putih, berbadan tegap, dan penuh wibawa menarik Arya dari dua perawat laki-laki yang mencekalnya. Dia adalah ayah Vian, dokter kepala di rumah sakit tersebut. Arya hanya membungkukkan badan sebagai tanda terima kasih kemudian berjalan dengan kaki gemetar ke salah satu bilik yang dibatasi dinding kaca. "Della ...." Arya terpaku, air matanya tumpah ruah begitu melihat Nadella terbaring lemah dibantu serangkaian alat ventilator. Matanya terpejam erat sedang bibir mungilnya yang senantiasa tersenyum kini mengatup rapat dan membiru, seperti detak jantungnya terlalu lemah untuk mengaliran darah sampai ke sana. Di sebelah Nadella, Riva sesunggukan sambil menggenggam tangannya. Adapun Vian terduduk di lantai dengan tatapan kosong, matanya sembab dan penampilannya berantakan. Baru kali ini Arya mendapati kedua sahabatnya itu dalam kondisi sedemikian kacau. Arya menyeret kakinya untuk mendekat. Riva yang baru menyadari keberadaanya lekas berdiri dan menyambutnya. "Welcome home ...." Riva berusaha tersenyum dengan bibir bergetar. "Maaf tidak menjemputmu. Della ...." Arya memeluk Riva yang tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Isakan Riva membuat air matanya turut mengalir deras. Arya bisa melihat Vian yang menunduk dengan bahu berguncang. Sebenarnya ia pun ingin menghampirinya, namun dokter koas itu masih terlihat syok. Arya paham betapa terpukulnya mereka berdua yang setahun belakangan ini masih terus bersama Nadella. Riva melonggarkan pelukannya, memberi ruang bagi Arya untuk menghampiri Nadella. "Del ... ini aku, Arya. Aku pulang Del ...," bisik Arya di telinga Nadella sambil menyapu rambut di dahinya yang begitu dingin. Sebelah tangan Arya menggenggam tangan Nadella, meletakkannya di dadanya. Berharap denyut jantungnya bisa merambat, membagi frekuensi untuk gelombang EKG Nadella yang begitu lemah. Tidak ada jawaban maupun pergerakan. Hanya irama rekam jantung di layar bedside monitor yang menegaskan bahwa Nadella masih berada di tengah-tengah mereka. "Del ... bangun." Arya menggenggram erat tangan Nadella. "Bukankah kamu ingin menyusulku ke Oxford bersama Riva dan Vian? Kita akan bermain salju dan keliling Eropa sama-sama, kan?" Mendengar Arya bermonolog sendiri membuat Riva makin tersedu. "Aku membawakanmu banyak oleh-oleh, Del. Aku juga membawa simplisia daun mapple seperti yang kamu minta. Kamu akan membuat ekstraknya, kan? Kamu akan menemukan senyawa baru anti-resistensi itu, kan?" Arya memeluk Nadella. "Kumohon, bangunlah Della ...," Vian tersenyum kecut. Ia pernah menertawai mimpi Nadella itu, bahkan menyebutnya tidak mungkin terjadi. Sekarang ia termakan kata-katanya sendiri. Melihat Nadella dengan harapan hidup sangat rendah membuatnya hatinya hancur berkeping-keping. Sesaat setelah kembali menunduk, Vian seketika menengadahkan kepala lagi. Memastikan apa yang dilihatnya barusan tidak salah. Jari tangan Nadella bergerak. "Della sadar!" terdengar Riva berseru. "Della membuka mata!" Vian langsung bangkit, memberanikan diri menghadapi Nadella yang tampak kepayahan menyesuaikan pernapasaannya. Arya menghapus jejak-jejak air matanya dan membantu Nadella menggerakkan tangannya yang begitu lemas. "Jangan dilepas, Della ...," tutur Arya lembut, berusaha menghalangi Nadella yang ingin melepas sirkuit napasnya. Namun Nadella bersikeras, terlihat ia ingin mengatakan sesuatu. Seorang perawat bergerak untuk mengambil tindakan, namun ayah Vian menahannya. "Tapi, Dokter ...." Ayah Vian menunjuk monitor pasien dengan isyarat mata. Perawat tersebut memandang sedih parameter-parameter di sana yang jauh dari standar kehidupan. "Red flag," lirik Ayah Vian. Beberapa dokter yang berada di sana berbalik spontan. Red flag adalah kode untuk pesan jangan mencoba resuitasi. Perintah agar tidak melakukan upaya penyelamatan dalam bentuk apapun. "Dengan mempertimbangkan keadaan pasien." Ayah Vian menutup mata dan menelan ludahnya dengan berat. "Melakukan itu hanya akan membuatnya makin tersiksa." Seorang dokter muda wanita, teman sejawat Vian yang mengenal Nadella menutup mulutnya dan mundur perlahan. Dengan tanda-tanda vital yang demikian, memang mustahil bagi Nadella untuk bangun dengan upayanya sendiri. Mungkin karena Nadella adalah orang yang sangat baik hati, Tuhan memberinya kekuatan untuk bangkit di saat-saat terakhirnya. Nadella yang sudah sepenuhnya membuka mata memandang Arya, Riva, dan Vian lekat-lekat. Air mata mengalir melalui kedua sudut matanya. "Arya ... pulang ...," ujarnya serak sambil tersenyum. "Iya, Del! Aku pulang!" Arya mengecup tangan Nadella yang digenggamnya. "Jangan dipaksa Della, pelan-pelan saja," kata Riva lembut, merapikan rambut panjang Nadella. "Sa-sakitkah, Del?" tanya Vian yang kembali memulai tangisnya. Nadella kembali tersenyum. "Tidak sakit. Aku ... hanya ... mengantuk saja," balasnya pelan. Arya mengatupkan bibir, menahan rasa sesak yang menghujam batinnya. Firasatnya mengatakan bahwa masa-masa kritis ini sebentar lagi akan berlalu dengan membawa serta Nadella mereka. "Bintang ...." Riva buru-buru mendekatkan telinganya pada Nadella yang kini terdengar bergumam. "Aku ... ingin ... melihat ... bintang ...." Mengerti dengan maksud Nadella, Arya, Riva dan Vian bergerak tanpa dikomando. Arya menarik pin berbentuk bintang pemberian Nadella yang setia dipasang di ranselnya. Riva melakukan hal yang sama pada tas jinjing laptop yang selalu dibawanya tiap saat. Vian pun membuka pin serupa dari Snellinya. Nadella tersenyum, senyum yang sangat manis. Bahkan senyum termanis dari semua senyuman yang selalu ia tunjukkan. Jemarinya menyentuh ketiga pin yang disodorkan Arya, Riva, dan Vian. Mereka benar-benar menjaga pemberian yang sebentar lagi akan menjadi wasiat darinya itu. Tiga pin berbentuk bintang bertuliskan nama beserta gelar yang Nadella harapkan akan diraih ketiganya. Dr. Vian, untuk Vian yang kuliah kedokteran. Prof. Arya dan Prof. Riva, untuk Arya dan Riva yang berkonsentrasi di bidang Sains. Nadella merengkuh tangan Arya, Vian, dan Riva. Matanya ikut berkaca. "Arya ... Vian ... Riva ...," panggilnya hampir tidak kentara. "Jadilah ... bintang-bintang." "Aye-aye capten!" Arya mengangkat tangannya, memberi gestur hormat seperti candaan mereka dahulu. Air matanya terus berlinang. "Permintaan dikonfirmasi!" Riva ikut menirukan gaya khas Nadella saat berbicara yang kemudian secara tidak sengaja menjadi ikonik bagi mereka berempat. Nadella tertawa tanpa suara, ia kemudian memutar kepala menghadap Vian yang masih tergemap. "Vian ...?" "Jangan katakan apapun!" "Jadilah dokter yang hebat." Vian memalingkan wajahnya, sungguh menyakitkan mendengar permintaan Nadella itu. Tak berselang lama, monitor saturasi oksigen di samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi. Nadella menarik napas pendek berkali-kali. Genggamannya pada tangan Arya, Riva, dan Vian yang menyatu semakin kuat. "Arya ... Vian ... Riva ... aku sangat ... menyayangi ... kalian." Nadella berujar rendah bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya. "Tidak! Della, tunggu! Jangan pergi!" Riva meremas tangan Nadella yang sudah terkulai lemah. Arya langsung memeluk erat tubuh Nadella yang sudah tidak menyatu dengan rohnya lagi. "Umumkan waktu kematian pasien," perintah ayah Vian pada salah satu dokter senior. Vian yang masih tidak percaya terbeliak. "Apa maksud ayah?!" pekiknya. "Della masih hidup!" Riva dan Arya semakin tak kuasa melihat reaksi Vian. "Kenapa ayah diam saja?!" Vian berbalik pada satuan tim medis yang hanya menatapnya nanar. "Kenapa kalian semua diam saja?! Ambilkan defiblator! Lakukan pacu jantung!" Ayah Vian segera menenangkan anak semata wayangnya. Ia paham, Vian dokter muda yang belum memiliki banyak jam terbang. Melihat roh yang berpisah dari tubuhnya memanglah sesuatu menyakitkan. Apalagi pasien pertama selama masa koas yang meninggal dunia dengan disaksikan mata kepala Vian sendiri adalah Nadella, sahabat sekaligus cinta pertamanya. "Perintahkan intubasi, Ayah!" Vian berlutut pada ayahnya. "Kumohon padamu, perintahkan intubasi ...!" Ayah Vian menarik tubuh putranya dan menepuk kedua pundaknya. "Kamu paham aturannya, Nak. Tegarkan dirimu." Vian menggeleng, ia belum menyerah. Vian melepaskan tangan ayahnya lalu naik ke atas bed dan melakukan kompresi. Menekan d**a Nadella dengan kedua telapak tangan yang diletakkan saling tumpang tindih. "Della, bangun! Jangan berpura-pura begini!" Vian mengerahkan seluruh energinya, menumpukan berat tubuh bagian atasnya untuk terus menekan. Peluh dan air matanya bercampur menjadi satu. "Ayo berdetaklah jantung! Berdetak! Berdetaklah! Tuhan, aku mohon kembalikan detak jantung ini!" "Hentikan, Vian! Tidak ada gunanya!" Riva menarik Vian. "Berhenti?! Berhenti, katamu?!" Vian menoleh dengan tatapan mata menyalang pada Riva yang kantung matanya membengkak. "Ini Della!" "Aku tahu itu Della, maka berhentilah!" Suara Riva ikut meninggi. "Kamu pikir aku tidak tahu kalau selama ini kamu juga menyukai, Della? Bagaimana mungkin kamu menyuruhku untuk berhenti!" Riva menatap Vian dengan sendu. "Berhentilah! Berhentilah ... karena itu akan semakin menyakiti Della ...," ujarnya kemudian tersedu lagi. Arya bersicepat meraih Vian yang langsung meringsut ke lantai. "Kendalikan dirimu, Vian. Kita semua terluka." Arya merangkul Vian. Riva mengambil tempat di sisi Vian yang satunya. Vian menoleh pada Riva. "Maaf ...," "Permintaan maaf dikonfirmasi." Riva ikut mendekap Vian dan Arya. Vian berusaha menyabarkan hatinya, menerima kenyataan bahwa Nadella telah pergi untuk selamanya. Dengan dibantu Arya dan Riva ia pun berdiri di sisi Nadella, meraih tangannya untuk terakhir kali dan mengumumkan waktu kematiannya dengan tersedan-sedan. Vian menengadah menatap setiap sudut ruang ICU, pandangannya mulai menggelap. Dalam hati ia berjanji, Nadella Adannaya akan menjadi pasien pertama sekaligus terakhir yang ia umumkan waktu kematiannya. ☕☕☕ TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD