23. Praecursor ☕

2073 Words
-The Pioneer- ~♥Happy-Reading♥~ . . . Riva menghampiri Chelia yang tersenyum-senyum sambil menatap layar ponselnya. "Itu lagi chat sama siapa, Chelly?" Riva meletakkan s**u hangat dan roti bakar di atas meja. "Chat di grup, Kak Riva." Riva tersenyum kecil. "Bahas apa? Kok mesem-mesem begitu?" Chelia terkekeh kemudian menunjukkan foto di ponselnya. Dalam hitungan detik setelahnya Riva ikut terbahak. Foto Arya yang sedang tidur dengan mulut setengah terbuka terpampang di sana. Pipinya dipenuhi guntingan sticky notes membentuk kumis kucing. Sudah pasti kerjaan Rama lagi. "Rama bilang kalau kak Arya tidak mau mengubah kurikulum, foto ini akan dikirim ke Notix untuk diviralkan." Riva makin tergelak, membayangkan bagaimana reaksi Arya nanti. Riva sejujurnya sangat iri melihat percekcokan antara Arya dan Rama. Bukan tidak bersyukur memiliki Chelia sangat penurut dan tidak pernah membantah, Riva hanya senang melihat tingkah jahil Rama. Berbeda dengan Arya yang begitu membanggakan Rean, Riva lebih kagum pada Rama. Meski gemar membuat huru-hara, di mata Riva, Rama adalah sosok yang sangat peduli dan rendah hati. Saat Chelia sakit, Rama satu-satunya yang menjaga adiknya itu tiap hari disaat yang teman-temannya lain mengambil izin bergantian. Rama juga bersedia meluangkan waktunya untuk menemani Chelia bila Riva sibuk bekerja, sekalipun harus menonton serial film Disney kesukaan Chelia berulang kali. Tidak hanya itu, Riva juga sudah beberapa kali mendapati Rama membantu orang-orang yang kurang beruntung. Di kompleks perumahannya saja, tidak ada satu pun satpam dan tukang bentor yang mangkal di depan gerbang yang tidak mengenal Rama. Rama pernah disangka penyusup karena memainkan sistem keamanan rumahnya dan digiring ke pos keamanan. Riva yang baru pulang sehabis menemani Chelia belanja bulanan saat itu dilanda panik, khawatir Rama dan teman-temannya yang lain diamuk massa. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Rama menghidupkan suasana di pangkalan itu dengan melakukan adu tanding main catur antara Rean melawan para satpam dan tukang bentor di sana. Meski akhirnya Rean menang telak, sebagai ucapan terima kasih Rama tetap memberi derma kepada mereka yang ikut berpartisipasi. Chelia juga sering bercerita tentang kebiasaan Rama membeli dagangan penjual-penjual kecil di kampus dan membagikannya kepada anak jalanan. "Ah, tapi sepertinya Notix tidak berani menyebarkan berita-berita negatif tentang Arya." Riva berceletuk sendiri. Chelia yang tengah menguyah roti bakar buatan Riva menoleh. Raut wajahnya yang semula kebingungan berganti menjadi senyuman maklum. "Karena Kak Riva akan meretas dan menghancurkan akun mereka lebih dulu, kan?" Riva tertawa ringan kemudian beranjak. "Untuk apa menghancurkan situs yang dibuat sendiri," bisiknya pelan. Chelia merenung sejenak. Jauh sebelum fakultasnya terbentuk, jurusan farmasi memang berada di bawah naungan Fakultas Sains--fakultas Riva dan Arya dahulu. Notix tak tanggung-tanggung mengkritik dosen dan pejabat fakultas, namun sama sekali tidak pernah mengecam kepemimpinan Arya. Riva yang notabenenya seorang programmer pro juga tampak enteng tiap kali Chelia menceritakan akun hantu tersebut. Apa benar yang didengarnya barusan? Riva berbalik pada Chelia yang melongo di tempatnya. Ada rasa khawatir bercampur geli melihat adiknya itu dengan susah-payah menelan buntalan roti yang belum sempat dikunyahnya. "Habis ini langsung tidur, Chelly. Jangan begadang. Ingat cuci muka dan berwudhu dulu sebelum tidur." "Tadi Kak Riva bilang apa?" Chelia ikut bangkit setelah melumasi kerongkongannya dengan seteguk s**u. "Habis ini langsung tidur." "Bukan yang itu." "Jangan begadang." "Bukan itu juga." "Oh ...." Riva pura-pura mematut. "Ingat cuci muka dan berwudhu." "Bukan! Kak Riva ini lama-lama jadi mirip Rama!" Chelia geregetan sendiri. Jelas-jelas tadi Riva mengatakan sesuatu tentang Notix. Riva terkikik kemudian setengah berlari menyusuri tangga. "Selamat malam, Chelly sayang. Tidur yang nyenyak." "Kak Riva!" Chelia dengan gemas mengejar Riva yang sesekali berbalik untuk memastikan adiknya tersebut tidak tergelincir. Ya, bila Chelia bukanlah Rama yang sering mengusili Arya, maka ganti Riva yang akan mengusili adiknya itu. ⚛️⚛️⚛️⚛️⚛️ "APA?! Jadi kak Riva, kak Vian, dan pak Arya itu pendiri Notix?!" Bletak! Sebuah getokan mendarat mulus di kepala Edward diiringi seruan tertahan dari teman-temannya yang kompak memberi isyarat agar ia memelankan suara. "Bule muatan lokal ini berisik banget! Sekali teriak pakai toa mushollah sana, biar bisa satu fakultas bisa dengar!" "Sorry." Edward menyengir dan beralih pada Chelia lalu berbisik, "Kamu serius, Chelly? Bagaimana bisa?" Chelia menarik napas panjang. Karena Edward dan Erva baru tiba beberapa menit lalu, ia harus mengulang kembali seluruh rangkaian ceritanya dari awal sampai akhir. "Biar aku saja yang cerita." Rama berdiri. "Pada zaman dahulu—ups!" Rama merasakan tangannya yang mengayunkan membentuk lengkungan semu di udara mengenai wajah seseorang. "Aduh!" Arya yang melintas di sebelah Rama meringis saat mendapat sambaran dari tangan milik adiknya tersebut. "Kak Arya tidak apa-apa? Ah, maksudku Pak Arya." Chelia yang spontan berdiri celingak-celinguk, memastikan tidak ada yang mendengar kata-katanya barusan. Dalam lingkungan kampus mereka harus berbicara formal, terlebih karena kedudukan Arya. Arya tersenyum tipis mendengar Chelia meralat ucapannya. "Tidak apa-apa, Chelia." "Matamu nggak kecolok kan, Kak? Semoga nggak deh, kamu belum menikah masalahnya." Rama bergegas menghampiri Arya dan memeriksa keadaan kakaknya. "Tidak apa-apa! Aku oke." Arya menepis kedua tangan Rama yang terulur ke wajahnya. Sekilas ia melirik jam digital di pergelangan tangan kirinya kemudian melemparkan tatapan gamang pada ketujuh  mahasiswa yang masih duduk-duduk santai di pelataran fakultas itu. "Sebentar lagi jam pelajaran dimulai. Kenapa kalian masih di sini?" "Masih jam 7, kok!" Arya memeriksa kembali angka yang tertera di arlojinya, memastikan lobus oksipitalis sebagai pusat penglihatan di otaknya tidak keliru menerjemahkan transmisi sinyal yang dikirim sang retina. Jam 7 dari mana! Jelas-jelas ini hampir pukul 8!  Arya melirik Rama dengan kening berkerut. Atau jangan-jangan adiknya itu mengerjainya lagi dengan mereset waktu jam tangannya? Seolah mengerti ke arah mana pikiran Arya, Rama kembali bersuara. "Jam 7 waktu Indonesia bagian barat, maksudku." "Masalahnya ini Indonesia bagian tengah, Rama!" Rama mengangkat bahu, "Ini memang Indonesia Tengah. Terus letak masalahnya di mana? Nggak mungkin kan, pulau terbesar kesebelas di dunia ini di geser sedikit biar jadi Indonesia Barat?" "Siapa juga yang ingin melakukan hal mustahil begitu!" "Makanya tidak usah mempermasalahkan letak geografis pulau kita!" "Siapa yang mempermasalahkannya!" "Yang barusan bilang masalahnya ini Indonesia bagian tengah, siapa?" Arya mengapit tubuh Rama menggunakan sebelah lengannya dengan gemas. Semakin Rama meronta, semakin kuat pula Arya menggencetnya. Rean dan yang lainnya hanya bisa mesem-mesem melihat kedua kakak-beradik yang kini "akur" itu. "Bergegas ke kelas sekarang, nanti kalian terlambat!" "Bagus, dong! Kalau terlambat aku nggak akan diizinkan masuk dan bisa main ke ruang kerjamu." "Tidak akan!" Arya menyentil dahi Rama dengan tangan yang satunya lalu menggiring adiknya itu menuju ruang kelas. "Kalian juga ikut." Serempak, Rean, Edward, Chelia, Cassy, Naya, dan Erva mengangguk patuh dan mengikuti. "Arya?" Arya menoleh pada pria berkacamata dengan usia sepantaran dengannya. Afriawan, seorang dosen farmasi, teman satu fakultasnya dahulu. Rama menyangka Arya akan melepaskan cekalannya dan mendorongnya jauh-jauh, namun kakaknya itu hanya melonggarkan tekanan yang ia berikan dengan lengan masih mengunci tubuhnya. "Ah, selamat pagi, Pak," sapa Afri pada Arya dengan membungkukkan badan. Arya tertawa ringan. "Pagi, Afri. Jangan formal begitu." "Duh, pak Afri datangnya pagi banget. PPT kelompok kita belum kelar!" bisik Cassy pada Naya. "PPT kelompokmu belum selesai Cassy?" Cassy dan Naya melotot bersamaan saat Rama sengaja membesarkan suaranya. Afri terkekeh. "Selesaikan saja. Bapak tidak masuk. Hari ini ada rapat." "Bapak tidak masuk?! Yes! Aku nggak perlu epilepsi!" "Epilepsi?!" "Maksudnya presentasi, Pak! Salah ucap ehehe ...." Arya kembali menyentil dahi Rama lalu melepaskan lengannya. "Sana, selesaikan tugasmu," perintahnya kemudian bersama Afri meninggalkan gedung perkuliahan. "Pak Arya sama pak Afri akrab, ya?" Naya berceletuk. "Mereka memang dulunya satu fakultas. Jurusan kita juga awal berdiri masuk di Fakultas Sains." terang Rean. "Ah, pantas pak Afri kenal kak Riva juga." Chelia melenggut maklum. "Wajar sih, Kak Riva kan, dulunya ketua BEM fakultas." Edward menambahkan dengan bangga. Edward memang sangat mengagumi kepiawaian Riva dalam memimpin. Tak jarang pula ia meminta petuah Riva dalam menjalankan perannya sebagai pengurus HMJ. "Kak Arya juga dulunya pimpinan SM, lho!" balas Chelia tak kalah kagum. "SM? SM entertainment?" Cassy tertawa hambar. "Duh, plis Cassy." Naya memutar bola matanya. "Sorry, aku cuma paham hal-hal yang berbau Korea saja." "Kalau begitu coba jawab, berapa ukuran sepatu presiden Korea yang sekarang?" "Ma-mana aku tahu!" "Kalau warna favoritnya?" "Aku nggak tahu, Rama!" Cassy mencebik kesal. "Katanya paham masalah Korea!" Chelia hanya tertawa geli melihat Cassy yang cemberut dan menyandarkan dagu di pundaknya. "SM itu singkatan dari senat mahasiswa, dewan legislatif yang sejajaran dengan BEM." "Kalau diibaratkan lembaga pemerintahan, SM itu DPR sedangkan BEM itu MPR," imbuh Edward. "Tapi serius Kak Arya itu ketua Senat?" Chelia mengangguk. "Dan dari situlah Notix bermula." Chelia lalu menceritakan kembali bagaimana Riva yang mengambil konsentrasi di jurusan Teknologi Informasi dan Arya yang fokus pada bidang Matematika Sains menduduki jabatan prinsipil tingkat fakultas dan membentuk Notix. Dahulu, sistem pemerintahan fakultas benar-benar kacau. Para pemimpin tidak jujur. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme pun merajalela. Mahasiswa yang tidak memiliki "orang dalam" sebagai pegangan akan disisihkan dan diperlakukan tidak adil. Namun berkat prestasinya, Riva dan Arya dapat bersaing untuk menduduk jabatan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Untuk menghindari anggota-anggota yang tergolong kaum nepotis, Arya, Riva dan satu orang temannya dari jurusan farmasi kemudian membentuk suatu kelompok rahasia yang diberi nama Notix. Tujuan Notix hanya satu, menghapuskan kesenjangan sosial dan menciptakan peluang yang merata untuk semua kalangan mahasiswa dalam belajar dan berorganisasi. Riva yang sudah melek teknologi membuat situs Notix untuk pertama kali. Meretas pusat data, menemukan bukti-bukti kasus penyuapan dan penggelapan dana lalu menyebarluaskannya melalui media sosial, yang paling populer saat itu adalah f*******: dan Friendster. Seiring berjalannya waktu, menyadari banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan,  Notix kemudian merekrut orang-orang "berbakat" dan terpercaya sebagai anggota baru melalui berbagai pertimbangan dan peninjauan latar belakang. Karena peran Notix dalam membongkar kasus-kasus besar cukup banyak, Arya tidak ingin membahayakan keselamatan mereka yang telah bergabung sebelumnya karena salah memilih anggota. Setelah kurang lebih tiga tahun beroperasi, Notix berhasil mensterilkan fakultas dari para pemimpin kotor. Riva yang sudah hampir lulus kemudian meminta persetujuan dari Arya yang sedang melanjutkan pendidikannya di luar negeri untuk membubarkan perkumpulan tersebut. Arya menolak dan meminta Notix dijalankan dibawah kepemimpinan yang baru, sambil terus mengawasinya dari jauh. Mengikuti ketua barunya, Notix kemudian terpusat di jurusan farmasi yang pada akhirnya memisahkan diri menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Kesehatan. Kendali Arya dan Riva terhadap Notix pun semakin melemah seiring dengan kesibukan yang mereka jalani. Bahkan saat ketua Notix terbaru meminta izin untuk mengubah SOP menjadi akun populer untuk membantu anggota-anggotanya yang kekurangan biaya pendidikan, Riva dan Arya tidak keberatan. Keputusan Arya untuk mempertahankan Notix ternyata tidak salah, sebab beberapa tahun setelahnya, Arya yang kembali mengabdikan diri di kampus berhasil menguak politik praktis yang dilakukan pejabat rektorat dengan bantuan Notix dan ditunjuk menjadi pemimpin di Fakultas Ilmu Kesehatan sampai sekarang ini. "Jadi selama ini Kak Arya tahu tentang Notix?" Edward bertanya setengah tidak percaya. Chelia mengangguk. "Ya, tapi Notix tidak tahu tentangnya. Kak Arya hanya berhubungan dengan ketua Notix dan meminta identitasnya dirahasiakan." "Bagaimana dengan kak Riva?" "Kak Riva juga tidak mempermasalahkan itu. Selama Notix tidak menyimpang dari tujuan awal dan tidak memberikan informasi palsu, baginya Notix bisa tetap berjalan. Kak Riva bahkan masih memegang kunci utama Notix dan bisa meleyapkannya dalam sekejap." "Apa kak Vian juga tahu tentang ini?" Rean ikut bersuara. "Ya. Meski berbeda fakultas, Kak Vian juga terlibat dalam Notix meski bukan anggota resmi." "Kenapa mereka tidak pernah cerita, sih!" Rama mendengus tidak terima. Setelah ini akan diwawancarai habis-habisan kakaknya itu. "Karena mereka tidak ingin membahayakan kita, Rama. Mereka ingin kita belajar dengan baik dan tenang." Chelia memberi waktu untuk pertukangan udara dalam paru-parunya berlangsung beberapa saat. "Hidup dengan menyimpan banyak rahasia itu tidak mudah. Begitu kata kak Riva." Rama terhenyak kemudian mengangguk terpatah. Bila yang berkata demikian adalah Riva, Rama tidak akan membantah. Rama tahu selama ini Riva menanggung beban berat untuk sebuah rahasia. "Ayo masuk, kata Rumy presentasinya dibatalkan. Tugas PPT dikirim via classroom." Naya membaca pesan yang masuk di grup chat angkatannya. Rama baru ingin bersorak, namun Erva tiba-tiba berjongkok dan menangis tersedu-sedu. "Huhuhu ...." Erva menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa, Va?" Chelia ikut berjongkok dan merangkul bahu Erva yang sesunggukan. "Sakit maagmu kambuh lagi?" tanya Rama tak kalah khawatir. Biasanya kalau sudah tanggal tua begini, anak kosan seperti Erva akan menyantap rendang, soto, dan kari dalam bentuk mi instan sebagai makan malam. Tak lupa pula tablet chewable promag sebagai hidangan pembuka. Erva menggeleng. "Aku ... aku kecewa!" "Apa?! Siapa yang berani-berani buat kamu kecewa?!" Rama, Edward, dan Rean kompak berseru. "Siapa, Sweetie? Bilang saja. Nanti Rean yang hajar. Biaya perawatannya aku yang tanggung. Masalah hukumnya ayah Edward yang atur." "Aku kecewa sama Kak Riva dan Pak Arya!" "Hah?!" Erva menarik napas pendek beberapa kali. "Ternyata ...." "Ternyata?" "Ternyata mereka pendiri perkumpulan hantu itu!" "HAH?!" ☕☕☕ TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD