Menerima Tawaran Bu Narti

2843 Words
"Assalamualaikum, Bu." Panggilanku langsung dijawab oleh bu Narti dan aku segera menyapanya dengan mengucapkan salam. Kini aku sedang menghubunginya di balkon rumah sakit agar perkataanku tidak terdengar oleh orang lain. "Waalaikumsalam, Rin." "Bu, aku terima tawaran Ibu tapi dengan satu syarat!" Ya, aku harus berkata jujur kepada bu Narti dan tidak mau menutupi tentang apa pun yang aku rasakan saat ini agar masalahku secepatnya selesai. "Syarat apa, Rin?" tanyanya dengan nada yang terdengar penasaran. Bukannya aku tidak tahu diri dengan memberikan sebuah syarat. Namun, aku harus melakukan itu agar semua masalahku terselesaikan. "Tolong bantu aku untuk membiayai pengobatan Luna dan menebus sertifikat rumah yang masih di tangan bu Darsih," jawabku walau dengan perasaan tidak enak. "Apa Ibu nggak salah dengar, Rin? Kamu serius mau menerima tawaran dari Ibu?" tanyanya lagi untuk meyakinkan bahwa pendengarannya tidak salah dan aku dapat mendengar dari suara bu Narti jika saat ini beliau terdengar senang penuh rasa lega. "Iya, Bu, setelah diperiksa dokter ternyata benar Luna demam berdarah dan hasilnya trombosit Luna rendah, jadi sekarang Luna harus dirawat dan butuh biaya banyak tentunya, sedangkan uang yang aku pegang sekarang pasti nggak akan cukup untuk biaya berobat dan bayar rumah sakit selama Luna dirawat. Belum lagi aku harus membayar utang ke bu Darsih. Jadi, setelah aku pikir dengan matang lebih baik aku menerima tawaran dari Ibu saja. Jujur saat ini aku sudah benar-benar merasa putus asa dan nggak punya pilihan lain lagi, Bu," jawabku dengan suara lirih karena berada di jalan terakhir yang mau tidak mau harus aku pilih walau tidak tahu ke mana tujuan jalan tersebut akan membawaku pergi. "Ibu senang karena akhirnya kamu mau menerima tawaran itu. Ibu sangat yakin keputusanmu ini sangatlah tepat dan Ibu jamin kamu nggak akan lagi merasakan hidup kekurangan. Ya sudah kalau begitu, Ibu harus kabarin majikan Ibu dulu biar dia tau. Nanti kalau sudah selesai, baru Ibu datang ke rumah sakit untuk bertemu kamu sekalian Ibu mau jenguk Luna." Suara bu Narti kali ini benar-benar terdengar girang di telingaku, membuat kedua sudut bibirku melengkung mendengar perkataan bu Narti yang begitu yakin jika aku akan terbebas dari penderitaan hidup. "Iya, Bu. Aku tunggu kabar selanjutnya dari Ibu ya," jawabku, dan langsung mengakhiri panggilan singkat bersama bu Narti malam itu. Sebenarnya saat ini aku belum benar-benar merasa tenang karena bu Narti tidak menjawab sama sekali tentang syarat apa yang ingin kuajukan. Namun, aku berharap bu Narti mengerti maksudku setelah aku menceritakan kondisiku yang saat ini sangat membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit Luna dan melunasi utangku pada bu Darsih. Setelah sekitar lima belas menit aku berdiri di balkon, aku pun memutuskan untuk kembali masuk ke ruangan Luna. *** Dua jam kemudian bu Narti datang ke ruang rawat Luna dengan wajah yang terlihat bahagia, menandakan ada kabar baik yang akan aku terima. Semoga saja majikannya menyetujui syarat yang aku ajukan. "Airin, majikan Ibu setuju membiayi semua pengobatan Luna dan membayar semua utang-utangmu asalkan kamu berjanji mau menikah dengan majikan Ibu!" ucap bu Narti tanpa basa-basi dengan senyum yang menghiasi kedua sudut bibirnya. "Serius, Bu? Ibu nggak lagi bercanda, kan?" tanyaku yang masih belum percaya sepenuhnya jika majikan bu Narti menyetujui syarat dariku semudah itu. "Serius dong, mana mungkin Ibu bercanda dalam kondisi seperti ini," jawabnya dengan wajah yang kini tampak serius. Tadinya aku berpikir jika majikan bu Narti hanya akan setuju untuk membiayai pengobatan Luna saja. Namun, di luar dugaanku ternyata pria itu setuju dengan semua syarat yang aku minta. Semoga keputusan yang aku ambil ini tidak salah. Bu Narti lalu membuka tasnya dan terlihat sedang mengambil sesuatu, ketika menemukan apa yang dia cari lalu dikeluarkanlah sebuah amplop berwarna coklat tebal lalu diberikannya amplop itu kepadaku. "Apa ini, Bu?" tanyaku dengan bingung karena amplop itu terlihat sangat tebal. "Itu uang dari majikan Ibu," jawabnya dan masih menyodorkan amplop itu di hadapanku. "Uang?" Aku bertanya lagi untuk menyakinkan apakah pendengaranku tidak salah. "Anggaplah ini uang muka untukmu sebagai tanda jika majikan Ibu menyetujui permintaanmu," jawaban bu Narti sontak membuat mataku mulai berkaca-kaca karena terharu akan kebaikannya, di saat aku sangat membutuhkan uang bu Narti dengan sigap mencarikan solusi untukku. "Tapi kan Ibu belum pulang ke kota, bagaimana Ibu bisa mendapatkan uang yang aku butuhkan dalam waktu cepat?" tanyaku dengan polos karena sepengetahuanku bu Narti masih tinggal di kampung sampai beberapa hari kedepan dan belum kembali ke rumah majikannya di kota. "Zaman sekarang semuanya serba mudah, Rin, majikan Ibu tadi langsung transfer uang seratus juta karena majikan ibu tidak mau kalau kamu sampai membatalkan niatmu. Dan ibu juga sudah menceritakan semua tentang kamu, anakmu, dan kesulitanmu membayar utang. Makanya Ibu mau kamu menyelesaikan semuanya dengan cepat. Dan untuk hari ini ibu hanya bisa narik uang sepuluh juta karena ATM Ibu ada batas pengambilannya. Mau ke bank sudah terlalu sore pastinya juga sudah tutup. Jadi, sisanya besok pagi aja ya." Bu Narti menjelaskan semuanya kepadaku. Aku sangat terkejut mendengar penjelasan bu Narti. Uang sebanyak itu tidak mungkin aku simpan di dalam tas. "Kamu pegang dulu uang ini dan sisanya besok pagi Ibu kasih ke kamu semua ya," ucapnya lagi saat aku hanya menatapnya dengan sorot mata penuh keterkejutan. Tanganku gemetar menerima amplop dari bu Narti. "Rin, kamu pegang uang itu untuk memenuhi kebutuhanmu selama anakmu dirawat, sekalian untuk menebus obat dan bayar tagihan rumah sakitnya nanti. Masalah menebus sertifikat rumah biar Ibu yang mengurusnya nanti sama bu Darsih. Kamu fokus aja urus anakmu dan siapkan hatimu untuk menjadi istri majikan Ibu." Bu Narti kini menggenggam tanganku, menjelaskan semuanya, mungkin agar aku tidak terlalu memikirkan hal lainnya. "Jadi, Ibu yang akan membayar utangku ke bu Darsih? Apa nanti nggak merepotkan Ibu?" tanyaku seraya menatap wajahnya. "Merepotkan apanya sih, Rin? Sama sekali nggak merepotkan kok, atau kamu sendiri yang mau bayar ke rentenir itu?" tanya bu Narti yang kemudian tersenyum untuk mengusir rasa tidak enakku padanya. "Sepertinya lebih baik aku aja yang membayarnya, Bu, sekalian aku mau berterima kasih sama bu Darsih karena dulu dia pernah bantu aku kasih pinjaman uang," jawabku karena bukankah yang berhutang itu aku dan setidaknya aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada bu Darsih karena mau bagaimanapun juga bantuannya saat itu mampu meringankan kesulitanku. Jika waktu itu tidak ada pinjaman darinya entah bagaimana aku bisa membiayai berobat mendiang suamiku. "Baiklah kalau itu mau kamu, Rin, besok Ibu ambil uangnya di ATM ya untuk bayar sisa utangmu," jawab bu Narti yang tanpa berpikir panjang langsung menyetujui permintaanku. "Oh iya, Bu, tapi kalau besok aku ke rumah bu Darsih siapa yang akan menjaga Luna di sini?" Aku lupa jika Luna tidak bisa ditinggal sendiri dan harus ada yang menjaganya jika aku pergi meninggalkan rumah sakit ini. "Sudah, kamu tenang aja. Anakmu biar Ibu yang jaga selama kamu pergi," jawabnya sambil menepuk bahuku. Aku lalu langsung memeluknya sambil mengucapkan terima kasih. "Majikan Ibu memberi amanah untuk membawamu ke kota sekaligus supaya Ibu nggak bolak-balik. Jadi, Ibu dikasih cuti sampai anakmu sembuh. Nanti setelah Luna sembuh kita langsung berangkat ke kota ya!" ucapanya memberitahuku masih dengan posisi kami berpelukan, lalu kami mengurai pelukan singkat tersebut. "Majikan Ibu sepertinya baik," ucapku yang langsung berpikiran seperti itu mendengar sedikit demi sedikit cerita yang disampaikan oleh bu Narti. "Majikan Ibu itu memang sangat baik, Rin. Tapi ya begitu, dia lumpuh setelah mengalami kecelakaan. Jadi, kesehariannya hanya duduk di atas kursi roda," jawab bu Narti dengan raut wajah sedih ketika mengingat sang majikan. "Oh, jadi bukan cacat dari lahir ya, Bu?" tanyaku penasaran. "Bukan, Rin, dia lumpuh karena kecelakaan. Pokoknya Ibu jamin kamu pasti akan bahagia menjadi istrinya," jawabnya dengan raut wajah bahagia seolah anaknya lah yang akan menjalani pernikahan itu. "Aku percaya sama Ibu dan aku janji nggak akan mengecewakan Ibu yang sudah kasih aku banyak bantuan, karena hanya Ibu satu-satunya orang yang saat ini peduli sama aku dan Luna." "Makasih kamu sudah yakin sama keputusanmu dan percaya sama Ibu, Rin. Ibu senang bisa bantu kamu." "Maaf ya, Bu, Airin jadi banyak merepotkan Ibu yang baru aja pulang ke kampung." "Sudah ah, kamu jangan mikir nggak enak terus. Ibu sama sekali nggak masalah kok, pokoknya selagi Ibu bisa, Ibu pasti akan bantu kamu, Rin." Aku tersenyum bahagia mendengar jawaban bu Narti, dia benar-benar orang yang sangat baik, sekarang aku yakin Tuhan pasti mengirimkan bu Narti pulang ke kampung, dan bertemu denganku untuk membantuku terbebas dari kesulitan hidup. Aku sangat bersyukur, akhirnya aku bisa terbebas dari masalah yang menjeratku, dan kini aku sangat yakin untuk pergi ke kota setelah anakku sembuh, lalu menikah dengan majikan bu Narti. *** Satu Minggu kemudian, aku mengajak Luna pergi ke kota bersama bu Narti. Ya, kemarin Luna baru saja diizinkan pulang oleh dokter setelah dinyatakan sembuh. Aku sangat bersyukur anakku tidak lagi menanggung rasa sakit dan dia bahagia akan pindah ke kota. Aku pergi dengan membawa sertifikat rumah yang sudah kutebus dari bu Darsih, aku benar-benar bisa pergi dari kampung dengan tenang tanpa meninggalkan masalah dan utang piutang dengan siapa pun. Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 jam, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang terlihat begitu megah dan luas. Aku dan Luna benar-benar kagum saat menatap rumah tersebut dari jarak yang sangat dekat setelah keluar dari mobil, terlebih aku tidak percaya bisa menginjakkan kaki di rumah yang ditempati oleh orang kaya. "Bu, ayo kita masuk!" ajak Luna sambil menarik tanganku, raut wajahnya tampak antusias, seperti tidak sabar ingin segera memasuki rumah mewah tersebut. Bu Narti pun langsung mengajak kami untuk masuk, dia tersenyum melihat reaksi Luna begitu sampai di rumah majikannya. Bu Narti membawaku dan Luna ke sebuah kamar yang akan menjadi kamar kami berdua selama tinggal di rumah ini, bahkan dia mempersilakanku untuk beristirahat karena paham Luna pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Namun, aku menolak untuk beristirahat karena tidak enak jika aku tidak mengerjakan sesuatu di rumah ini, tetapi aku meminta Luna untuk diam di kamar agar anakku yang baru sehat dari sakit kemarin istirahat dengan cukup. Lalu, aku memutuskan untuk keluar dari kamar setelah bu Narti pergi lebih dulu menuju kamarnya karena harus merapikan isi tasnya di dalam lemari. Begitu keluar dari kamar aku dibuat bingung ke mana aku harus melangkah karena rumah ini sangat besar, sementara aku tidak tahu di mana kamar bu Narti. Namun, di tengah kebingunganku tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahuku, membuatku terkejut, dan langsung menoleh ke belakang. "Astaghfirullah, Ibu ngagetin aku deh. Aku pikir siapa sampai aku kaget dan jantungku hampir copot!" protesku dan membuat bu Narti malah tertawa. "Maaf ya, Rin, habisnya ngapain sih kamu bengong di sini? Kamu kan tadi Ibu suruh istirahat!" "Aku nggak bisa tidur, Bu, biar Luna aja yang istirahat. Oh ya, Bu, ada pekerjaan yang harus aku kerjain nggak?" tanyaku karena merasa tidak enak jika harus santai-santai di dalam kamar. "Nggak ada, Rin, semuanya sudah dikerjain sama teman-teman Ibu. Ya udah kalau kamu nggak bisa tidur, mending ikut Ibu yuk ke kamar majikan Ibu!" Tanpa menunggu jawaban dariku, bu Narti langsung meraih pergelangan tanganku dan membawaku pergi menuju sebuah kamar. Setibanya di depan kamar yang dituju, bu Narti langsung mengetuk pintu tersebut. "Nyonya, boleh saya masuk?" tanyanya sebelum membuka pintu. "Masuk saja, Mbok!" jawab seseorang dari balik pintu. Aku terkejut, kenapa suara yang menjawab dari dalam kamar suara seorang perempuan? Bukankah kata bu Narti majikannya itu laki-laki? Bu Narti lalu memutar handle pintu dan mendorongnya. Setelah pintu terbuka terlihat dengan jelas seorang perempuan cantik sedang duduk di sebuah sofa. Dia lalu menyuruh kami masuk dan ikut duduk dengannya. Ketika kami masuk dan duduk, aku mengedarkan pandangan ke setiap penjuru, tapi aku tidak melihat ada laki-laki cacat yang sejak kemarin aku dengar ceritanya dari bu Narti. Kemudian aku berpikir mungkin perempuan berparas cantik ini adalah adik atau kakak dari majikan bu Narti. "Nyonya, perkenalkan ini Airin. Perempuan yang akan menjadi istri kedua tuan," ucap bu Narti memperkenalkanku. Namun, aku benar-benar sangat terkejut bak disambar petir di siang bolong ketika mendengar penuturan bu Narti karena selama berada di kampung dia tidak bercerita sedikitpun tentang calon suamiku jika sudah memiliki seorang istri. Bagaimana bisa bu Narti merahasiakan hal sebesar ini dariku? Tidak ada sedikitpun terpikir dalam benakku untuk menjadi istri kedua. "Apa! Istri kedua, Bu?" tanyaku saat tak mampu menahan keterkejutanku terlalu lama dan aku perlu penjelasan. "Iya, kamu akan menikah dengan suamiku!" jawab perempuan itu santai. "Ta—tapi, Bu …." Perkataanku seketika dipotong oleh perempuan cantik yang duduk di hadapanku. "Panggil aku Nyonya!" titahnya dengan tegas tanpa menampilkan senyuman sedikitpun. "Ta—tapi, Nyonya, bu Narti tidak mengatakan jika calon suamiku sudah memiliki seorang istri." "Aku tidak mau tahu hal itu. Kamu 'kan sudah menerima uang pemberianku. Jadi, mau tidak mau kamu harus menikah dengan suamiku dan ingat, pernikahan ini hanya sebatas pernikahan siri, kamu tidak berhak apa pun atas suamiku. Jika kamu menolak pernikahan yang sudah direncanakan karena keberatan untuk menjadi istri kedua, maka kamu harus mengembalikan semua uang yang kamu terima saat ini juga! Jika tidak, maka aku akan melaporkanmu ke polisi!" ancamnya dengan penuh penekanan di setiap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Aku benar-benar bingung harus bagaimana. Aku tidak mungkin menolak pernikahan yang sudah aku setujui jauh sebelum aku datang ke rumah ini, karena mau bagaimanapun aku tidak mungkin mampu mengembalikan uang yang sudah aku gunakan untuk biaya berobat Luna dan membayar hutang kepada bu Darsih. "Apa tidak ada cara lain untuk saya membayar uang yang terlanjur saya terima dan sudah habis saya gunakan untuk membayar utang di kampung, Nyonya?" Aku memberanikan diri untuk bertanya, sementara bu Narti menatapku sambil mengangguk tipis, memintaku untuk menuruti apa yang dikatakan majikannya tanpa membantah. Tetapi, saat ini pikiranku benar-benar terguncang, aku tidak sanggup jika harus menjadi istri kedua dalam pernikahan orang lain. "Tidak ada, jika kamu menolak kesepakatan ini maka kamu harus ganti rugi dan harus membayar uang seratus juta yang sudah kamu terima satu Minggu lalu, kontan detik ini juga!" jawab perempuan itu sambil mengetuk kukunya di atas meja untuk mempertegas ucapannya. Aku terdiam dan tidak mampu berkata apa-apa lagi. Aku bingung harus melakukan apa karena tidak memiliki pilihan lain untuk menjadi jalan keluar dari kegelisahanku saat ini. "Aku akan membayarmu setiap bulan sebesar sepuluh juta. Tapi, kamu harus ingat bahwa kamu hanya seorang istri yang bertugas merawat suamiku, bukan untuk melayaninya di atas ranjang!" ucap perempuan bernama Laura itu saat aku diam tanpa kata. Sepertinya dia tahu jika aku tidak mungkin mampu mengembalikan uang detik ini juga dan pasti akan pasrah mengikuti perkataannya, lalu menjalani pernikahan sebagai istri kedua. Ya, pada akhirnya aku pasrah dan terpaksa menyetujui kesepakatan darinya. Aku pun mengangguk tanda aku setuju. "Mbok, langsung bawa dia ketemu suamiku!" Kemudian perempuan itu meminta bu Narti untuk membawaku pergi keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan pria yang akan menjadi suamiku. Tak lama setelah aku dan bu Narti keluar dari kamar, ternyata perempuan itu ikut keluar dan melangkah lebih dulu menuju kamar suaminya yang berada tepat di seberang kamarnya. Aku sedikit bingung bagaimana bisa sepasang suami istri tapi tidurnya terpisah? Apakah ini alasannya dia mencarikan istri baru untuk suaminya? Ataukah memang kondisi suaminya sangat parah sehingga mereka tidak bisa tidur satu ranjang? Ya, semua pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku. Begitu tiba di depan kamar calon suamiku, pintu pun dibuka oleh bu Narti yang tidak ikut masuk dan membiarkanku masuk seorang diri, sementara sebelumnya nyonya Laura sudah masuk lebih dulu. Ketika aku melangkah masuk ke dalam kamar terlihat sosok pria sedang duduk di atas kursi roda dan menghadap ke jendela. Jadi, posisinya saat ini sedang membelakangiku. "Mas, ini calon istrimu," ucap nyonya Laura sambil mendekat ke arah suaminya. Dia berbicara begitu lembut dan terkesan manja di hadapan sang suami. Lalu dia mencium pucuk kepala suaminya tanpa merasa risih ada aku di sini. "Terserah kamu saja. Semua kamu yang atur!" jawab pria itu dengan datar. "Setidaknya lihatlah sebentar saja seperti apa calon istri barumu, Mas!" pinta nyonya Laura sambil tersenyum manis. "Kamu buta? Seharusnya dia yang kamu suruh ke hadapanku!" bentak pria itu yang seketika membuatku terkejut. "Kenapa dia begitu kasar pada istrinya?" batinku yang hanya bertanya-tanya dalam hati. "Airin, sini mendekat! Mas Herman ingin melihatmu!" titah nyonya Laura yang langsung aku turuti. Lalu aku berjalan ke arah mereka sambil menunduk. Jantungku berdegup kencang. Aku benar-benar ragu dan takut saat itu. "Bagaimana, Mas?" tanya perempuan itu ketika aku sudah berada di hadapan suaminya. "Bagaimana aku bisa melihatnya jika dia menunduk seperti itu!" "Rin, tatap suamiku dengan kedua matamu!" titahnya lagi, membuatku langsung mengangkat wajahku, dan pandangan kami pun saling beradu. Wajah tuan Herman sangat tampan dan ketika melihatku dia seperti terkejut. Entah apa yang membuatnya terkejut seperti itu. "Bagaimana, Mas? Kamu suka?" tanya nyonya Laura yang begitu penasaran. "Apa kamu sudah pikirkan keputusanmu dengan matang?" Tuan Herman malah balik bertanya pada istrinya. "Mas, kamu tau sendiri kan kalau aku sangat sibuk mengurus perusahaan. Jadi, aku tidak mungkin bisa mengurusmu dengan baik. Aku yakin keputusanku ini sangat tepat." Jawaban nyonya Laura pada suaminya terdengar penuh keyakinan. "Karena kamu sudah sangat yakin dengan keputusanmu itu, jadi kamu saja yang mengatur semuanya." "Ok, Mas, karena lebih cepat lebih baik bagaimana kalau besok kalian menikah? Lagian pernikahan ini hanya secara siri, jadi tidak perlu mewah atau harus ramai-ramai. Bagaimana menurutmu?" "Baiklah, besok aku akan menikahi perempuan pilihanmu!" jawab tuan Herman tanpa menoleh lagi ke arahku. Aku hanya mampu terkejut ketika mendengar bahwa pernikahanku akan dilaksanakan besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD