Waktu semakin cepat berlalu. Zara sudah melahirkan seorang bayi laki laki yang tampan dan sehat. Semua keluarga menyambut kehadiran si mungil dengan sangat bahagia. Tapi raut wajah Zara tidak tampak ceria. Sudah terbayang kesibukannya mengurusi bayi dan akan mengalami kurang istirahat. Di pikiran Zara hanya karier dan karier. Ambisi untuk meraih posisi tertinggi di kantornya seakan membuat Zara lupa dengan posisinya sekarang, yaitu ibu. Tentu seorang ibu harus siap mengurus bayinya tapi Zara tidak menikmati kehadirannya. Hal ini membuat Zara sering mengalami baby blues. Dia sering menangis di pagi hari karena sedih bayinya menangis terus.
Sejak ada Alif, bayi mungil itu, Zara sering terlambat masuk kantor. Menghadiri rapat penting pun terlambat. Dia juga sering merasa pusing dan kantuk yang tak tertahankan sehingga ketika rapat, sering tidak fokus dan berakhir dengan tertidur di meja kerja. Kondisi ini membuat klien geleng-geleng kepala.Zara dengan segera bangkit dari tidur dan meminta maaf izin ke toilet seraya menahan rasa malu.
Zara hanya bisa menangis dan memukuli kepalanya berkali-kali dengan tangan. Ada rasa sesal kenapa secepat itu memiliki bayi. Setiap hari dia selalu membawa bayi dan ditidurkan di ruang kerjanya. Zara sudah meminta izin ke Bos untuk membawa Alif ke kantor. Akhirnya, sepulang dari kantor, Zara utarakan keinginannya pada Hans untuk mencari pengasuh bayi. Tapi Hans kurang setuju karena khawatir baby sitter itu malah akan mencelakakan bayi kesayangannya. Dia pun takut nanti Alif akan lebih dekat dengan baby sitter dibandingkan ke ibunya sendiri. Zara merasa kecewa Hans tidak menyetujui usulannya. Akhirnya dia hanya bisa merenggut dan tidak berkata apa-apa pada Hans.
Pagi ini seperti biasa Zara dan Hans sibuk dengan pekerjaan masing-masing di kantor nya. Hans sudah berada di ruang kerjanya. Ada suara ketukan pintu dan terlihat sekretaris pribadinya masuk ke ruangan.
“Maaf Pak … sesuai schedule, hari ini ada interview untuk calon karyawan untuk posisi accounting manager. Orangnya sudah datang. Apa bisa sekarang untuk ketemu dengan Bapak?” tanya sangat sekretaris dengan gaya santun.
“Oke, bisa … tolong suruh masuk ke ruangan saya!” jawab Hans.
Singkat cerita karyawan baru itu diterima di kantor Hans. Karyawan baru itu bernama Catherine dan semua orang sangat terpesona dengan penampilannya yang cantik dan seksi. Catherine sering memakai pakaian rok mini dan blazer. Hans sering mengingatkan Catherine untuk tidak berpakaian seksi. Dia menjalankan perintah bosnya tetapi tetap memakai rok mini dan menutup bagian kakinya dengan stocking. Sehingga bagian kaki tidak terlihat menantang.
Kehadiran Catherine yang cantik membuat Zara terbakar cemburu. Ketakutan jika suaminya tergoda pada Catherine. Berulang kali Zara selalu mengingatkan untuk tidak mengkhianati cintanya. Hans pun berulang kali mengatakan pada Zarabahwa dia cinta mati padanya.
Sebenarnya Catherine merasa terpikat pada Hans yang tampan. Mulai menyiapkan strategi untuk melancarkan aksi untuk mendekati Hans. Catherine sering membawa makanan ke ruang kantor. Akhirnya untuk menghindari fitnah atau kemungkinan terburuk, Hans meminta bawahannya, Boy untuk pindah ke ruangannya. Catherine kesal karena sangat sulit untuk menarik perhatian Hans.
Dering Hp Zara berbunyi. Malam itu bayi Zara baru selesai diberi ASI. Alif sudah tertidur pulas. Zara mulai bersuara di HP nya
“Appppaaaa!! Monik bunuh diri!!! Ga mungkiinnnn … gaaaak?!” Zara berteriak. Bayi Zara kaget dan menangis mendengar suara jeritan Zara.
“Sayaaang … kenapa kamu berteriak-teriak? Alif sampe bangun tuh. Duhh jadi nangis.” Hans mendekati Alif dan menggendongnya.
“Mas, Monik, sahabat SMP ku meninggal. Dia bunuh diri.” Isak Zara sambil memeluk Hans erat.
“Innanillahi Wa’innaillaihi Ro’jiuun … kok bisa sih sebodoh itu bunuh diri?” tanya Hans sambil bergidik.
“Ya Mas, suaminya sudah lama nganggur. Sedangkan, anak Monik 4 masih kecil-kecil. Dia sendiri kerja tapi gajinya tidak cukup untuk membiayai rumah tangganya,” ujar Zara lirih.
“Sayaaang … sudah jangan sedih ya! Kita harus bersyukur dengan kehidupan kita. Doakan saja supaya Monik diberi tempat terbaik oleh Alloh.” hibur Hans.
“Aku tahu permasalahan Monik dari tantenya. Kalau saja Monik cerita pasti aku bantu untuk kasih biaya untuk anak-anaknya,” ujar Zara.
“Tapi dia kan punya suami. Ya … suaminya lah yang harus memberikan nafkah, Sayaang,” ujar Hans.
“Ya … Mas. Aku hanya ingin membantu sedikit untuk meringankan bebannya Monik,” ujar Zara kembali terisak.
“Sekarang kita doakan saja Monik, agar dia mendapatkan tempat yang terbaik, Ya Sayaang,” kata Hans lembut. Hans merasa ikut prihatin dengan kondisi Monik dan berencana mengajak Zara untuk melayat ke rumahnya.
“Sayaang … nanti Mas antar ya ke rumah Monik? Kita takziah bersama.”
“Ya Mas, Terima kasih,” ujar Zara sambil mengusap air matanya.
Tiga hari kemudian Zara terlihat berperilaku aneh. Dia sering tersenyum sendiri di kamar sambil memakai pakaian seksi. Zara lakukan itu setelah memberi ASI untuk bayinya. Dia juga memakai lipstik dan make up tebal. Zara menari-nari, tertawa dan menangis sambil melompat-lompat di atas kasur. Terkadang dia bicara sendiri dengan logat yang berbeda-beda di depan cermin diiringi tawa yang keras. Bayinya disimpan di kamar tamu supaya tidak terganggu dengan tingkah Zara yang aneh.
Hans belum mengetahui tingkah Zara yang seperti ini. Bayangan Catherine di mata Zara membuat api cemburunya semakin berkobar di hati. Rasa iri karena Catherine lebih cantik dan seksi. Zara ingin terlihat seperti Catherine yang menjadi pusat perhatian. Zara juga lakukan hal aneh pada saat liburan kantor, setiap hari Sabtu tepatnya. Hans masih sering ke kantor pada hari Sabtu. Itu pun hanya setengah hari, siang harinya Hans sudah berada di rumah.
Hari Senin tiba, saatnya Zara membawa bayinya ke Kantor. Dia berharap untuk kali ini dan seterusnya pekerjaannya berjalan lancar tanpa ada kendala. ntungnya tadi malam bayi Zara, Alif tidak rewel. Bisa tidur cepat dan terbangun di jam subuh dengan kondisi ini. Tentu ini membuat Zara bisa tidur nyaman tanpa ada gangguan. Hans juga sering membantu mengganti popok Alif. Allhamdulillah Zara beruntung memiliki suami sabar dan mau membantunya tiap malam jika Alif rewel. Hans dengan sigap meggendong Alif juga meninabobokan hingga tertidur.
Hans tiap pagi merasakan kantuk yang luar biasa. Solusinya, dia hanya minta waktu 1 jam di kantor untuk bisa beristirahat dari jam 8 sampai jam 9. Hans tidak ingin ada meeting di jam 8. Kesehatan menjadi prioritanya dari mulai pola makan yang teratur, makanan sehat, olahraga dan istirahat cukup.
Sementara Zara berbeda dengan Hans. Dia sering telat makan, jarang berolahraga, makan yang mengandung lemak, dan kurang istirahat. Hans sering mengingatkan Zara untuk lakukan pola hidup sehat demi kesehatannya dan Alif