Gus Ihsan atau gus Fatah?

1543 Words
  "Ash-Shodaqotu Daf'ul Balaa, bersedekah dapat mencegah kita dari bahaya," tutur Arfan. Sekarang adalah pengajian mingguan, yang selalu dilaksanakan pada Hari Ahad. Semua Santri Putri mengikutinya, dari Asrama A, maupun Asrama B. Begitupun dengan santri Putra. Kegiatan itu yang mengisi Taushiahnya oleh Tim pengajar, dan pengurus Ponpes dan sekarang, Arfanlah yang kebagian untuk memberi Taushiahnya. Arfan meneliti setiap santri di depannya. Sambil tersenyum, dia kembali berucap, "Dahulu kala, ketika di Zaman Nabiyullah Sulaiman 'Alaihi salam. Dikisahkan seekor induk burung yang mengadu pada Nabi Sulaiman 'Alaihi Salaam.” “Induk burung itu berkata, “Wahai, Nabi Alloh, Sulaiman. Sesungguhnya, salah seorang dari umatmu, selalu membawa telur-telurku setiap harinya. Dia selalu memanjat keatas pohon di mana sarang(rumah)ku berada, dan mengambil satu telur calon anakku setiap hari. Maka, aku minta kepadamu, wahai Nabi Allah, agar engkau memberinya pelajaran." “Setelah mendengar pengaduan tersebut, Nabi Sulaiman 'Alaihi Salam memerintahkan Iprit(Jin Kafir) untuk mencelakai orang tersebut. Keesokan harinya, si induk burung datang kembali, dan menceritakan seperti kunjungannya yang pertama. Nabi Sulaiman Alaihi Salam memerintahkan kembali Iprit seperti tugas yang pertama. Begitulah berturut-turut, hingga di hari ketiga induk burung itu kembali menghadap Nabi Sulaiman 'AlaihisSalaam.” "Wahai Nabiyulloh, Sulaiman. Sudahkah Engkau memenuhi permintaanku?" Induk Burung bertanya. "Wahai, Induk Burung. Aku langsung memerintahkan Iprit setelah mendengar pengaduanmu," jawab Nabi Sulaiman 'Alaihi Salam. "Lalu kenapa umatmu masih melakukannya setiap hari?" tanya induk burung tersebut.” “Nabi Sulaiman termenung mendengar berita tersebut. Lalu memanggil Iprit yang telah diberi tugas oleh dirinya itu. "Salam, ya Nabiyallah. Ada apa gerangan engkau memanggilku?" tanya si Iprit. "Aku memerintahkan dirimu untuk memberi pelajaran Umatku yang sudah mengambil telur sang induk burung. Kenapa sampai saat ini, kau belum melaksanakan tugasmu?" "Maafkan saya. Sebenarnya saya sudah melaksakan perintah Engkau, Wahai Nabiyulloh. Namun, ketika saya akan mencelakainya. Bukan dirinya yang celaka, tapi saya sendiri. Dan itu terjadi berturut-turut selama tiga hari ini saya mencobanya," jawab si Iprit. Nabi Sulaiman merasa heran, "Sebenarnya, apa yang selalu dilakukan oleh umatku itu, wahai Iprit?" tanya Nabi Sulaiman sekali lagi. "Dia(umatmu) selalu memberikan shodaqoh kepada Faqir Miskin dan orang-orang tak mampu, ketika dia hendak ketempat di mana ada sarang induk burung dan anaknya itu berada," jawab si Iprit. Setelah mendengar penjelasan si Iprit, Nabi Sulaiman pun berkata pada Induk burung. "Pulanglah! Aku sendiri yang akan memberitahukannya langsung kepadanya, tapi tidak dengan sebuah hukuman. Sesungguhnya dia(umatku) akan terus dijaga dari kejahatan dan bahaya, karna dia(umatku) selalu melakukan Shodaqoh." (Kisah selesai) "Tak hanya itu saja, Shodaqoh juga adalah bentuk kepedulian kita terhadap sesama, bisa mempererat hubungan persaudaraan lewat jalan kita dalam hal saling bantu-membantu," ucap Arfan setelah mengakhiri kisah sang induk burung itu. "Bukankah, tangan di atas lebih baik." Arfan kembali berkata, "daripada tangan di bawah?” lanjutnya. Semua Santri mendengarkan dengan sangat khidmat. Sistem pengajaran Arfan tidak terkesan menggurui. Melainkan terkesan seperti mengajak. Sehingga sangat mudah difahami juga diterima, tanpa ada rasa yang menyinggung. ***   "Sekali lagi, aku minta maaf ya, Mbak Anisa," ucap Putri, salah satu Santriwati dari Asrama A. Anisa tersenyum ramah dan tulus, "Tidak apa-apa, Mbak Putri. Aku senang bisa membantu Mbak Putri," jawab Anisa. "Terimakasih banyak, Mbak Anisa dan Mbak-Mbak semuanya," ucap Putri senang. "Sama-sama, Mbak Putri," ucap mereka serentak. "Huh, Mbak Putri ini selalu saja banyak alasan. Bilang saja, dia gengsi melakukannya." Rohmi berucap setelah Putri tak terlihat lagi tentunya. "Astagfirullah ... Mbak Rohmi, kenapa Mbak bersikap seperti itu?" tanya Anisa sambil menggeleng. "Habis ... aku sebel, Mbak Anisa. Mbak Putri ini selalu saja mencari alasan jika menyangkut soal orang tak mampu," jawab Rohmi cemberut. "Kita tidak bisa menghakimi Mbak Putri tanpa bukti, Mbak Rohmi. Mungkin saja apa yang dia katakan, memang benar adanya. Lagipula, benar atau tidaknya Mbak Putri, itu urusan Mbak Putri sendiri. Jangan karena hal ini pula, kita menjadi orang yang menjalani tanpa sebuah keikhlasan. Bukankah itu lebih merugikan. Capek bekerja, namun tiada arti, kita sudah capek-capek menjalankan, tapi kita tidak dapat memperoleh apa-apa selain rasa capek itu sendiri. Karna hasil kerja kita, sudah lebih dulu habis oleh rasa terpaksa. Apalagi dengan tambahan menggunjingkan saudara kita sendiri," tandas Anisa kepada temannya. Terlebih kata-katanya itu juga sebagai pengingat dirinya sendiri. Tentu saja. Semua yang mendengar, langsung menundukan kepalanya, termasuk Mila. Mila sebenarnya tidak mengerti apa yang dibicarakan temannya itu. Maksudnya dengan cerita yang sedang dibicarakan teman-temannya, karena ini adalah kali pertama Mila mengikuti cooking class tersebut. Ya, banar. Para Santriwati baru saja melakukan acara Cooking Class yang Alhamdulillah acaranya berjalan dengan lancar. Setelah membuat berbagai masakan, juga olahan berbagai cemilan. Biasanya hasilnya akan dibagikan pada para tetangga, guna mempererat tali silaturahim pada lingkungan sekitar. Bu Nyai selalu mengatakan, bahwa kita sebagai manusia harus saling menyapa, dan bisa berbaur pada kehidupan sosial dari berbagai kalangan. Karena hidup kita, pasti membutuhkan orang lain, dan yang lebih penting ... bukankah Silaturahim adalah bentuk kita mencintai saudara kita sesama manusia? Apalagi sesama Umat Islam. "Hiks, maafkan aku, Mbak Nisa. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mohon jangan membenciku!" Rohmi tiba-tiba memeluk Anisa sambil menangis. Anisa tertawa pelan, dan perlahan mengurai pelukan Rohmi, "Mbak Rohmi bicara apa sig? Aku berkata seperti itu, bukan berarti aku membenci Mbak Rohmi. Apa yang aku katakan barusan, bukan semata-mata hanya menegur perkataan Mbak Rohmi saja. Tapi, itu lebih kepada menasihati hati dan diriku sendiri, Mbak Rohmi," ucap Anisa sambil memegang wajah Rohmi. Rohmi tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. Tak hanya Mila juga Rohmi yang tersenyum saat ini. Melainkan teman-teman yang berada di sana semua. Yaitu, teman sekamar Mila. "Jika kalian merasa lelah, maka beristirahatlah! In sya Allah, biar aku yang kerjakan tugas Mbak Putri juga teman-temannya itu," ucap Anisa. "Mbak Nisa, bolehkah aku ikut? Aku rasa, aku belum mengenal penduduk di sini," aju Mila. "Apakah tidak apa-apa, Mbak Mila?" Anisa bertanya meyakinkan. Mila tersenyum, sambil mengangguk dengan semangat, "Benar-benar tidak apa-apa, Mbak." "Ya sudah, setelah salat 'Ashar, kita lanjutkan pekerjaan kita, ya!" "Baik, Mbak." "Yasudah, mari kita kembali ke kamar! Bersiap, sebentar lagi waktu 'Ashar." "Baik, Mbak Nisa,” seru mereka serempak. *** Mila melangkah agak tergesa menuju gerbang Pesantren. Anisa sudah menunggunya di sana. Tadi, ketika hendak pergi, tiba-tiba perutnya sakit dan meminta Anisa untuk menunggunya karena dia ingin ke toilet sebentar. "Mbak Mila, cepat!" Dengan langkah agak berlari, setelah mendengar Anisa memanggilnya dan melambaikan tangannya.  "Kenapa sedikit lama, Mbak Mila?" Anisa bertanya setelah Mila berada di dekatnya. "Maaf, Mbak. Ternyata sakit perutku karena masa menstruasiku datang," jawab Mila. "Apa tidak apa-apa?" tanya Anisa khawatir. "In syaa Allah, Mbak. Aku baik-baik saja," jawab Mila. "Alhamdulillah ... syukurlah," Anisa menghela nafasnya lega, "kalau begitu, ayok!" lanjutnya. Anisa dan Mila berjalan ke arah timur sekitar komplek Ponpes. Karena hanya di sanalah yang belum dikunjunginya. "Hmm, Mbak Anisa," ucap Mila memecahkan kesunyian. "Ya?" tanya Anisa. "Maaf sebelumnya, aku hanya penasaran ... kenapa gus Ihsan selalu dipanggilnya berubah-ubah, ya? Kadang dipanggil gus Ihsan, kadang juga dipanggil gus Fatah," ucap Mila. "Aku juga kurang tahu, Mbak Mila. Karena sebenarnya aku juga di sini baru dua setengah tahun. Tapi, menurut yang aku dengar, itu karena gus Ihsan adalah cucu laki-laki satu-satunya," jawab Anisa. "Nama gus Ihsan adalah panggilan untuk umum, sedangkan nama gus Fatah adalah panggilan bagi keluarga dekat saja. Itu semacam nama kesayangan keluarga, sama seperti ayahnya, Gus Fakhri," lanjut Anisa. Mila mendengarkan, tanpa mau menyela. "Menurut cerita dari ning Mina ...." "Maaf, Mbak. Siapa itu ning Mina?" sela Mila. "Ning Mina adalah putri pertama ning Aisyah, kakaknya ning Dina. Bisa dikatakan, aku berteman baik dengan ning Mina," jawab Anisa, "boleh aku lanjutkan ceritanya?" tanya Anisa. Mila tersenyum, lalu mengangguk. "Menurut cerita yang aku dengar dari ning Mina, keluarga pak Yai susah mendapatkan seorang Putra, keluarga pak Yai ini hampir semuanya perempuan. Bahkan semua cucu pak Yai pun semuanya perempuan, kecuali gus Ihsan." Anisa mulai bercerita. "Meski gus Fakhri menegaskan, jangan ada panggilan special, tapi tak dapat mencegah kebahagiaan mereka. Oleh karena itu seluruh keluarga pak Yai, khususnya para perempuan tetap memanggil gus Ihsan dengan panggilan gus Fatah." Mila menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Lalu, siapakah gus Arfan di keluarga pak Yai?" tanya Mila. "Aciyeee ... udah mulai terhipnotis ya, Mbak Mila?" tanya Anisa menggoda. "Bu-bukan begitu, Mbak Nisa. Aku cuma penasaran saja. Sebab katanya, keluarga pak Yai hanya mempunyai satu putra, yaitu ayahnya gus Ihsan. Lalu siapakah gus Arfan ini?" tanya Mila gelagapan. "Hihihi, maaf, Mbak Mila. Aku bercanda saja," ucap Anisa sambil terkekeh. Mila menghembuskan nafasnya lega. Dia sungguh takut dicurigai seperti itu. "Gus Arfan adalah salah satu dari sebagian putra angkat pak Yai dan bu Nyai." "Salah satu dari sebagian?" tanya Mila. "Benar. Pak Yai mempunyai kalau gak salah empat putra angkat, dan dua putri angkat," jawab Anisa. "Menurut cerita, mereka adalah korban dari bencana alam Tsunami di Aceh tahun lampau. Bu Nyai dan pak Yai mengangkatnya menjadi putra dan putrinya. Bahkan, dua gus menikah dengan cucu pak Kyai, yaitu gus Ridwan, suami ning Zakia, putri kedua ning Fatimah. Sedangkan yang satunya lagi adalah gus Lukman, suaminya ning Mina, putri pertama ning Aisyah," lanjut Anisa. "Lalu tentang putri angkat bu Nyai dan pak Yai, salah satunya adalah ning Salma, ibunda gus Ihsan. Sedangkan yang satunya lagi, aku kurang tahu, soalnya dia sudah merantau ke luar kota Malang untuk melanjutkan studinya." "Memang, Mbak Nisa belum ketemu sama putri angkat bu Nyai yang satunya lagi?" tanya Mila. "Gak tahu, Mbak. Entah sudah, apa belum. Soalnya dia tinggal di Asrama A," jawab Anisa.  Mila mengangguk faham, “Ternyata begitu,” batinnya. Eh, tapi, tunggu! "Mbak, apakah selain keluarga, ada yang memanggil gus Ihsan dengan panggilan gus Fatah?" tanya Mila. "Sejauh yang aku dengar, belum, Mbak. Tidak ada yang berani memanggil gus Fatah jika bukan keluarga mereka." Mila mengernyitkan dahinya, “Kalau tidak ada, lalu kenapa Ihsan ngotot meminta dirinya memanggil Fatah? Diakan bukan siapa-siapa di keluarga Ponpes ini?” pikirnya bingung. "Mbak Mila, mari, kita sudah sampai di komplek penduduk!" ucap Anisa membuyarkan lamunan Mila. Mila mengangguk. “Biarlah gus Ihsan dengan segala keajaibannya.”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD