"Kamu mau berangkat kerja nggak? Kenapa sarapannya nggak dimakan?" Raka merasa heran saja dengan sang istri yang sejak tadi sama sekali belum menyentuh menu sarapannya.
Bukan tanpa sebab Ririn menjadi tak nafsu makan. Wanita itu sejak tadi tak henti memikirkan kabar adiknya. Sampai sepagi ini Windy belum juga pulang. Pun mendadak nomor ponsel Diana menjadi tidak aktif ketika dihubungi. Ririn makin khawatir saja. Ia sangat yakin kalau Windy ada bersama Diana saat ini.
"Gimana aku bisa makan, orang Windy aja belum pulang jam segini. Aku tuh khawatir sama dia, Mas. Takut dia kenapa-kenapa di luar sana atau dijahatin orang."
Raka mengembuskan napas berat. Ia juga heran sendiri kenapa Windy sampai sekarang belum pulang. Apa mungkin gadis itu belum sadar dari pengaruh obat bius? Mendadak Raka jadi kepikiran dengan atasannya. Apa yang sedang terjadi antara Gery dan Windy saat ini?
Raka diam-diam meraih ponselnya dan diam-diam mengetik pesan untuk bosnya itu. Namun, baru dapat dua kata saja, ia lantas mendengar ada yang membuka pintu depan.
"Nah, itu pasti Windy pulang." Ririn yang tadinya lesu dan seperti putus asa menunggu kabar dari adiknya, seketika menjadi semangat saat ada yang membuka pintu rumahnya. Ia menduga kalau itu Windy yang pulang. Ririn pun berlari kecil menuju ruang tamu guna menyambut kedatangan sang adik.
"Windy? Kamu dari mana aja, Dek? Bikin khawatir Mba aja deh." Yang Ririn dapati di ruang tamu memang Windy. Namun, ada yang berbeda dari wajah Windy saat ini. Windy yang selalu ceria, kini terlihat murung dan tampak pucat.
"Win, kamu kenapa? Sakit?" Ririn kembali mencemaskan adiknya.
Windy ingin sekali menceritakan apa yang terjadi dengannya semalam. Namun, ia merasa tak memiliki nyali saja. Windy merasa malu, dan ia juga tidak ingin sang kakak makin mengkhawatirkan dirinya.
"Akh, a-aku nggak apa-apa kok, Mba. Maaf, semalam aku nggak pulang. A-aku ... aku nginep di rumah Diana. Dia lagi nggak enak badan."
"Ya, Mba paham. Tapi harusnya kamu ya kasih kabar gitu loh ke Mba. Mba tuh dari semalam pusing mikirin kamu. Takut kamu kenapa-kenapa, Win."
Mendengar sang kakak begitu khawatir padanya, hal ini membuat Windy jadi makin takut untuk berterus terang kalau semalam ia telah diperkosa oleh seorang pria tak kenal. Windy sangat yakin, jika Ririn tahu akan hal itu, sudah dipastikan wanita itu akan sangat syok dan tentunya sangat terpukul.
"Maaf, Mba, semalam aku lupa kabarin Mba. Kebetulan hpku sama hp-nya Diana sama-sama mati. Kami ketiduran karena sama-sama lagi nggak enak badan. Akhirnya kami lupa buat isi baterai semalam." Lagi-lagi Windy berbohong. Dan untuk saat ini dan seterusnya tampaknya Windy akan rajin berbohong pada sang kakak demi kebaikan bersama.
"Yo wes, untuk kali ini Mba maafin kamu. Tapi awas ya, kalau besok-besok kayak gitu lagi. Mba kasih hukuman nanti."
Windy berusaha tersenyum menanggapi gurauan kakaknya.
"Iya, Mba. Aku janji nggak akan buat Mba khawatir lagi."
"Dah yuk, sarapan bareng sama Mba. Kamu berangkat ke florist kan hari ini?"
Hari ini Windy tidak ada semangat sama sekali untuk pergi bekerja di toko bunga milik Diana. Seharian ini ia ingin sekali menghabiskan waktu dengan tidur atau berdiam diri di kamar. Windy merasa belum siap untuk bertemu dengan orang-orang terkasihnya setelah kejadian memilukan semalam.
"Aku sarapannya nanti aja, Mba. Dan kebetulan hari ini aku libur nggak ke florist dulu. Aku pamit ke kamar dulu, Mba." Windy pamitan menuju kamar dan berusaha cuek dengan tatapan heran kakaknya.
Gadis itu tak sengaja melewati meja makan, dan di sini ia mendapati Raka yang baru saja sadar akan kehadirannya.
Mereka berdua hanya saling tatap. Lantas Windy menyunggingkan senyum tipis kemudian melanjutkan langkahnya kembali menuju kamar.
Raka membuang napas lega. Ia sangat yakin, Windy sama sekali tidak mencurigainya. Ia pun batalkan niat untuk mengirim pesan pada Gery karena Windy sudah berada di rumah.
***
"Win." Ririn membuka pintu kamar adiknya. Ia lantas mendapati Windy tengah duduk melamun di pinggiran tempat tidur.
"Kamu mau ke dokter, apa? Pucat gitu wajahnya. Ikut Mba sama Mas Raka ya? Nanti Mba minta tolong Mas Raka buat nganterin kamu dulu ke dokter."
Windy menggeleng lemah. Ia sama sekali tidak ingin pergi ke dokter. Yang Windy inginkan hanyalah ia ingin menghabiskan waktu hari ini dengan menangis dan menangis.
"Nggak, Mba. Aku cuma mau istirahat aja." Gadis itu memilih merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya. Ia hanya tak mau membuat sang kakak mencurigainya.
"Yo wes, kalau nggak mau pergi ke dokter. Mba sama Mas Raka berangkat kerja dulu ya? Kalau mau sarapan, tuh rotinya tinggal diolesin selai aja. s**u buat sendiri ya?" Ririn bergerak menghampiri Windy. Wanita itu lalu membungkuk, memberi kecupan sayang pada kening adiknya.
Pada saat itu, Windy ingin sekali menjerit. Ia benar-benar tidak sanggup kalau harus jujur pada Ririn soal kejadian memilukan tadi malam.
Setelah Ririn dan Raka berangkat bekerja, Windy memutuskan untuk mandi agar tubuhnya terasa segar tak lesu seperti sekarang ini. Selesai membersihkan diri, Windy keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Ia bergerak menuju ranjangnya kembali. Tiba-tiba ponsel kesayangan berdering nyaring, pertanda ada panggilan masuk.
Windy memilih duduk di tepian tempat tidur lalu meraih ponselnya. Rupanya ada telepon dari Diana.
"Iya, Di?" Windy menerima telepon tersebut dengan suara lemahnya.
"Lemes amat, Neng? Belum makan?"
Windy memilih diam. Ia sedang tak ada mood untuk menanggapi ledekan sahabatnya.
"Ada apa, Di? Hari ini gue izin nggak masuk dulu ya?"
"Loh, kenapa? Baru aja gue mau bilang kalau hari ini lo buka florist duluan. Gue mau nemenin Mama check up ke dokter."
"Sori, gue lagi nggak enak badan. Gue nggak bisa kerja hari ini."
"Ya udah, nanti gue agak siangan bukanya. Lo baik-baik ya. Jangan lupa minum obat."
Windy merasa sangat terharu dengan perhatian yang diberikan Diana.
"Thanks, Di."
Gadis berusia dua puluh enam tahun itu memutuskan untuk mengakhiri perbincangan lewat telepon dengan Diana. Windy mulai merasa perutnya lapar. Ia pun bergerak menuju ruang makan untuk membuat sarapan.
Windy duduk di kursi meja makan kemudian meraih dua lembar roti tawar yang sudah tersedia di atas meja. Mengolesi roti tersebut dengan selai Nutella kesukaan. Lalu memanggangnya menggunakan pop-up toaster. Sambil menunggu rotinya jadi, Windy bergerak menuju dapur untuk membuat lemon tea hangat.
Windy kembali duduk setelah rotinya matang dan tersaji di atas piring. Ia mulai meniup-niup roti yang masih agak panas itu. Saat akan memakannya, d**a Windy tiba-tiba terasa sesak. Ia lagi-lagi teringat dengan masalahnya.
Bagaimana mungkin ia bisa leluasa makan di saat situasi hidupnya sudah kacau? Siapakah pria yang sudah tega merenggut kesuciannya? Windy lagi-lagi pusing memikirkan jawabannya.
Ia mencoba memaksakan diri untuk memakan roti tersebut. Windy mengunyah sambil menangis. Ia bingung, ia frustrasi. Kenapa di antara banyak orang di sekeliling yang begitu mencintainya, nyatanya ada satu orang licik yang tega merusak hidupnya? Apakah salah Windy pada orang tersebut? Windy tak dapat menemukan jawabannya.
Ia kembali menyantap roti selai Nutella favoritnya dengan perasaan yang benar-benar kacau. Belum sempat menghabiskan rotinya, Windy merasa sudah tak tahan lagi untuk menahan amarahnya. Tanpa sadar ia membuang piring yang berisi roti tawar beserta gelas berisi lemon tea yang belum sama sekali ia minum. Gelas dan piring itu jatuh pecah berserakan di lantai. Windy mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia lalu menangis sejadi-jadinya. Tak ada seorang pun wanita yang ingin direnggut kesuciannya secara paksa. Apalagi Windy sama sekali tidak tahu menahu siapa pelakunya. Windy merasa hidupnya sudah tak ada artinya lagi sekarang.
Jika suatu saat Windy menikah, apa yang akan ia katakan pada sang calon suami? Windy sudah beranggapan kalau dirinya pasti akan dicampakkan. Mana ada laki-laki yang sudi menerima gadis yang telah ternoda sepertinya. Windy merasa masa depannya memang telah hancur dan tak ada harapan untuk memperbaiki dirinya lagi.
"Kenapa ... kenapa harus begini ...? Aku salah apa, hah?!" Emosinya sudah memuncak. Windy pun berdiri dan menyingkirkan apa pun yang ada di atas meja. Ia lalu terduduk lemas di lantai. Menangis lagi, sampai tatapannya tertuju pada pisau dapur yang tergeletak sembarang di depannya. Pisau itu tadi pagi Ririn gunakan untuk mengupas buah pear. Ririn kelupaan menaruh pisau tersebut di meja makan saja. Kini nyatanya benda itu menjadi sangat menarik di mata Windy.
Dengan tangan bergetar, Windy bergerak meraih benda tajam tersebut.
Tbc ...