5. Perbincangan Anak Sekolahan

1483 Words
**** Seperti biasa, Anandeya Permana berangkat ke sekolahnya setelah memastikan keadaan sang nenek baik-baik saja. Setelah mengetahui kondisi neneknya yang baru saja selesai operasi jantung, atas saran perawat Allina, Deya berangkat sekolah seperti biasanya. Gadis berambut pendek menyeret langkah kaki menuju ke gedung tua bercat warna krem yang telah menemaninya selama nyaris tiga tahun dalam menimba ilmu. Setibanya di gerbang sekolah tiba-tiba perutnya berbunyi. Deya menghentikan langkah, mengusap perutnya yang lapar karena menagih sarapan. Deya mengingat-ingat sesuatu. Ya, di saku bajunya hanya tinggal beberapa recehan yang bisa ia gunakan bertahan hidup selama beberapa hari saja. Deya mendengkus, terlalu berat beban hidup yang ia sandang. Selama neneknya sakit, ia harus serba mengirit. Bahkan ia sering melewatkan sarapan pagi dan memakan jatah satu bungkus roti untuk makan siang. Deya tak ingin mengeluh tentang kondisinya, ia hanya ingin neneknya pulih. Dengan demikian Deya akan merasa tenang karena satu-satunya orang terdekat kembali berada di sampingnya. Suara perut kembali terdengar, sungguh suasana ini begitu memalukan. Mungkin beberapa recehan yang ia punya bisa ia korbankan untuk membeli satu bungkus roti lagi dan mengganjal perutnya. Dengan langkah sedikit cepat, Deya membelokkan arah langkahnya yang semula ingin ke kelas menjadi ke arah kantin. Ya, ia akan bertahan apapun kondisinya meskipun hanya dengan segelas air putih atau sepotong roti bungkus. Setibanya di kantin Deya mengedarkan pandang, mencari tempat yang masih kosong untuk bisa ia duduki dan menikmati sarapan. Gadis itu tersenyum ketika melihat sosok Rheina, Dipa, dan Wulan melambaikan ke arahnya. Tanpa pikir panjang Deya menghampiri dan turut bergabung dengan ketiga temannya. "Hai, Sayang, baru berangkat? Lihatlah kau terlihat lelah akhir-akhir ini. Apakah magangmu baik-baik saja?" tanya Wulan dengan nada cemas ketika Deya berhasil duduk di sampingnya dan melepas tas gendong yang melekat di punggungnya. Deya tersenyum manis, "Ya, aku baik-baik saja." Wulan tersenyum, ia mengamati wajah Deya dengan seksama. Hanya wanita berambut keriting itu saja yang selalu memastikan kabar teman-temannya dan juga turut memberi semangat pada siapa saja yang ia rasa memiliki wajah layu macam Deya kali ini. "Wul, Deya mungkin tertekan dengan bos magangnya. Dia terlihat lesu, mungkin bosnya sangat galak. Benar begitu, De?" sahut Dipa, si cerewet yang selalu riang dan heboh ketika tengah bergosip ria. Pandangan Dipa tertuju pada Deya begitupun dengan si pendiam Rheina. Deya menatap satu per satu temannya, ia tersenyum lebar karena merasa sungkan dengan tatapan teman-temannya. "Ah, tidak. Bos magangku sangat baik, aku bahkan diijinkan untuk mengikuti jam tambahan." Semua temannya mengangguk lalu tersenyum, mereka lantas sibuk dengan menu makanan masing-masing. Deya terdiam, ia justru terbayang dengan sikap Dhante yang sewenang-wenang terhadapnya. Jujur saja, ia begitu menyesal karena tidak cepat menghindar ketika pria posesif itu menyerang bibirnya dengan begitu kasar. Ah, harusnya ia menampar saja pria itu. Lamunan Deya tersadar ketika Wulan dengan refleks menarik kerah Dipa, gadis itu berteriak sedikit kencang. "Tunggu! Apa itu yang ada di lehermu?" Dipa memekik, ia mengibaskan tangan Wulan dengan cepat. Wajah gadis manis dengan rambut panjang sepunggung itu memerah padam lalu tertunduk malu. "Itu-itu adalah—" "Tunggu! Apa kau benar-benar jadian dengan Evan?" tebak Wulan mendadak mulai heboh. Dipa tersenyum malu lalu mengangguk pelan. Wulan berbinar, ia terkekeh sambil memukul meja pelan. "Biar aku tebak, itu pasti cupang cinta dari Pangeran Evan. Benar 'kan?" timpal Wulan tak kalah heboh. "Apaan sih?!" Dipa merapikan kerah seragamnya, tertunduk dengan wajah merah seraya menggigit roti panggang yang ia pesan dari kantin sekolah. Wulan bertepuk tangan, ia merasa paling pintar dalam melacak perubahan yang terjadi pada teman-temannya. "Sudah kuduga, berpacaran dengan pria dewasa itu merepotkan. Lihatlah, dia memberikan tanda merah itu di lehermu dan itu terlihat jelas di mataku. Kau tahu, pria dewasa sangat licik. Mereka akan memberikan tanda merah itu dimanapun mereka mau termasuk dia sela-sela buah dadamu atau justru di—ah, pikir saja sendiri. Lagipula pria seperti Evan, dia bisa meremas apa saja yang kau punya dan kau akan tergila-gila padanya." Deya dan Rheina saling berpandangan, sesama gadis polos mereka bahkan tidak mengerti kemana arah bicara Dipa dan Wulan selanjutnya. Mereka berdua hanya menyimak tanpa berani berkomentar. "Evan tidak seperti itu. Ia bukan tipe pria yang suka meremas segalanya atau sembarang memberi cupang tapi—" "Berani bertaruh denganku? Lihat saja, seminggu kalian pacaran, kau akan merasakan sabuk yang ia pakai." Wulan tampak menggebu-gebu. Deya dan Rheina kembali saling pandang, kali ini mereka tanpa sadar menaikkan alis ketika Wulan bercerita mengenai sabuk segala. "Tidak seperti itu. Evan bukan pria kasar yang akan mencambukiku, dia begitu penyayang dan—" "Yakin? Bagaimana jika ia melakukannya? Atau justru kau malah ketagihan?" goda Wulan lantas cekikikan. Wajah Dipa memerah ketika membayangkan adegan yang sama seperti yang diceritakan Wulan di film-film dewasa. "Kalian ngomong apa sih? Kami sama sekali tidak mengerti," celetuk Rheina lalu kembali menekuni nasi goreng yang ia pesan. Dipa dan Wulan berpandangan, menyusul tawa dari keduanya. "Kalian sangat polos, aku harap kalian tetap polos sampai lulus nanti." Wulan kembali tertawa membuat Rheina hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu mengenyahkannya. Perhatian mereka kembali pecah tatkala sang pelayan di kantin datang membawakan nasi goreng spesial lengkap dengan omellete daging di atasnya untuk Deya. Pria paruh baya itu tersenyum ketika melihat ekspresi Deya yang begitu langka. "Pak, saya tidak memesan apapun." Deya menatap bapak pelayan dengan wajah bingung. "Ya, kau tidak memesan apapun tapi pria kaya tempo hari yang datang menemuimu memintaku untuk membuatkan nasi goreng spesial ketika kau datang ke kantin. Pria itulah yang sudah membayarnya jadi kau hanya tinggal duduk dan menikmati," jelas Bapak pelayan seraya menaruh nasi goreng itu di hadapan Deya. Semua terbengong, sang pelayan kembali melayangkan senyum pada Deya lalu bergegas pergi. "Ciee .... Pria kaya? Siapa-siapa? Deya, kau tidak ingin bercerita mengenai pria kaya itu?" desak Dipa kali ini lebih heboh ketimbang Wulan. Deya belum menjawab, ia menatap nasi goreng itu dengan bingung. Hidungnya yang mencium aroma nasi goreng yang menggoda membuat perutnya berbunyi sekali lagi. "Deya, jangan sembunyikan apapun dari kami!" Wulan gantian menuntut, membuat Deya harus memasang wajah bingung sekali lagi. Suara dering pesan tiba-tiba berbunyi di ponsel jadul milik Deya, gadis itu merogoh saku seragam dan membuka pesan yang terkirim kepadanya. Namun belum sempat Deya membaca, Dipa segera merampas ponsel itu dan membacanya sedikit keras. "Selamat pagi dan cepat sarapan," baca Dipa sambil tersenyum lalu melirik ke arah Deya. Mata Deya membulat, firasatnya berbunyi jika Dhante-lah orang yang mengirim pesan tersebut. Bergegas merampas ponselnya, Deya hanya menangkap angin ketika Dipa dengan cekatan menghindar dari tangan Deya. "Jangan lupa janji kita sepulang sekolah. Tidak sabar untuk melihatmu, tanda love. Ah, ciee.... Deya-ku diam-diam sudah berpacaran. Siapa dia? Ah, Serigala jahat? Apa? Kau menamainya serigala jahat? Sejahat apakah dia? Apakah dia telah merobek-robek hatimu?" goda Dipa lalu terkekeh, disusul tawa lucu dari si Wulan. "Bu-bukan, dia bukan pacarku. Dia—" Deya tertahan, lagi-lagi ia teringat akan ciuman itu. Sialan! "Ah, akui saja jika pria kaya yang mentraktirmu nasi goreng setiap hari adalah pacarmu. Sang serigala jahat rupanya tak selamanya jahat. Lihatlah, ia bahkan mengirimu tanda cinta warna merah," ucap Dipa seraya menunjukkan emoticon love di ponsel pada Deya. Deya terbungkam, wajahnya terlihat memerah sesaat setelah teman-temannya kompak telah mengira ia telah berpacaran. Ah, kenapa pria itu harus mengirimi pesan segala? Apa ia takut jika Deya lupa? "Ah, sayang, katakan saja jika kau berpacaran dengan si serigala jahat. Kami mendukungmu, terlebih lihatlah ia bahkan meminta sang pelayan kantin khusus membuatkanmu sarapan tiap pagi. Bukankah dia pria yang romantis?" goda Wulan mulai menggila. Deya merasa kesal, ia mulai frustrasi dengan apa yang dikatakan teman-temannya. Beranjak berdiri, Deya memakai tas gendongnya lalu berlari pergi tanpa pamit dengan teman-temannya. Teriakan mereka sama sekali tidak digubris, Deya telanjur kesal pada semuanya termasuk Dhante. Suara ponsel kembali berdering, menghentikan langkah Deya menuju ke kelas. Sang serigala jahat membuat panggilan terhadapnya. Emosi Deya memuncak, ia menerima panggilan tersebut. "Apa sih? Tidak bisakah kau membuatku merasa tenang sebentar saja? Aku kesal, kenapa kau bersikap begitu baik padaku? Aku tidak butuh kebaikanmu tapi kenapa kau justru membuat masalah dan—" "Sayang, semangat belajar ya. Jangan uring-uringan atau kau tidak akan mendapat nilai bagus kali ini. Ingat, satu cangkir kopi satu kali gaji." Dhante memutus telepon seenaknya membuat Deya semakin uring-uringan. Sedangkan Dhante, pria itu tersenyum manis di atas ranjangnya dan berselimut tebal. Rasa malas masih menggelayuti tubuhnya, ia melempar ponsel lalu kembali menutup tubuhnya dengan selimut. Dering ponsel kembali menggema, membuat Dhante membuka selimut dan mencari keberadaan ponselnya. Dhante termenung sejenak ketika Eros, salah satu tangan kanannya menelpon sepagi ini. Karena rasa penasaran, ia mengangkatnya tanpa banyak bicara. "Bos, saya sudah mendapat kabar terbaru mengenai Davia. Apakah bos berminat untuk mendengar kabarnya? Saya rasa kita perlu segera bertemu dan membahasnya." **** Pembaca yang baik, yang belum tap love bisa tap love terlebih dahulu ya. Saya doakan semoga sehat selalu. Semakin banyak tap love, semakin cepet updatenya. Setuju? Sambil nunggu update, bisa mampir ke word saya yang lain. Masih free kok. Terima kasih banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD