I'm So Tired Of Being Here

1147 Words
“Enyahlah dari hidupku!” sergah Lucas tiba-tiba berbalik menghadap Rafael “dan jangan pernah menyebut aku kakakmu!” tambahnya dengan mata menyala kemudian berbalik melangkah menuju motornya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah besar keluarga Orlando. Dada Rafael tiba-tiba terasa sesak dan jantungnya berdegup sangat kencang. Sakit sekali. Tapi ini sakit yang lain. Sakit yang bukan karena penyakitnya. Melainkan sakit karena tertusuk kata-kata Lucas. Tampak sekali pria itu sangat membencinya. Seorang pria sukses yang membenci pria pecundang sepertinya. Yang membencinya karena Nathan yang selalu memandang kesuksesan Lucas dengan sebelah mata. Rafael berpikir Nathan tidak percaya kepadanya. Ia selalu sakit-sakitan. Mengurus diri sendiri saja tidak bisa bagaimana mau mengurus kerajaan bisnis keluarga yang masyur itu. Itu sebabnya ia ingin Lucas yang mengambil alih kuasa karena Lucas jauh lebih sehat. Nara berdiri di belakang Rafael. Menatap punggung putra bungsunya yang terbungkuk dengan kepala merunduk. Malang sekali. Ia tahu apa yang dirasakan Rafael, pun Lucas, ia sangat memahaminya. Tetapi melawan Nathan yang penuh kekuasaan itu tidaklah mudah. Ia sangat mengenal bagaimana kerasnya Nathan. Tetapi sebenarnya Nathan tidak bermaksud pilih kasih. Pria yang sudah memutih rambutnya itu selalu memasang wajah sedih di malam hari menyesali setiap kegaduhan yang terjadi di rumahnya. Ia hanya ingin putra-putranya saling membantu dan bekerja sama karena usianya yang tak lagi muda. Nara melihat Rafael yang memegangi dadanya tampak mulai kesakitan. Ia cepat-cepat menghambur ke arahnya, “Nak, kau baik-baik saja? Sakit?” tanyanya sambil memegangi Rafael. “Tak apa, mama, aku baik-baik saja,” jawab Rafael menenangkan. “Kau sudah minum obatmu?” Rafael menggeleng “belum.” “Ayo, cepat minum obatmu,” suruh Nara. Rafael bergeming sejenak, ia mengatur napas dan berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak kencang “aku lelah, ma,” gumamnya. “Apa maksudmu?” Nara menatap wajah Rafael yang kini lebih tinggi darinya. Rafael menatap wajah Nara dengan mata sendu “kenapa aku tidak ada gunanya?” Mata Nara berkaca-kaca “siapa yang bilang kau tidak berguna?” “Kenapa aku harus lahir ke dunia ini, bukankah selama ini aku hanya menjadi beban?” Air mata menetes di wajah Nara “tidak, jangan bilang begitu,” Nara memeluk Rafael erat-erat “kelahiranmu itu anugerah, mama bahagia atas kelahiranmu.” “Begitukah? Coba sebutkan apa yang sudah kulakukan setidaknya untuk keluarga ini?” Hati Nara seperti tercubit. Apa yang sudah Rafael lakukan, ia sendiri bahkan bingung menjawabnya. “Jawabannya tidak ada, karena aku hanya bergantung saja,” kata Rafael. “Tidak,” Nara menyentuh wajah Rafael “salahkanlah mama yang tidak bisa menjagamu sehingga kau lahir prematur, harusnya mama yang menanggung penderitaanmu, tolong maafkan mama, maafkan mama,” ucap Nara tersedu-sedu. Mereka saling berpelukan, menumpahkan air mata yang membanjir dalam d**a. Kesedihan yang entah kapan akhirnya. Dari jauh Nathan menyaksikan keduanya yang berpelukan dalam tangis. Dadanya jadi terasa sesak melihat pemandangan memilukan itu. Beginikah nasib keluarganya? Di saat ia mampu memimpin kerajaan bisnis keluarganya tetapi di sisi lain ia adalah ayah yang gagal. *** Lucas sampai di rumahnya. Ia menjatuhkan diri di sofa seolah amat merasa lelah. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor yang sudah di luar kepala. “Halo?” “Bisa kau ke sini sekarang? Sepertinya aku membutuhkanmu.” “Baiklah, beberapa menit lagi aku sampai.” Telepon ditutup. Lucas mengeluarkan piala dalam tasnya. Cukup lama ia memandangi piala yang berkilauan itu. Tetapi kemudian ia melempar piala itu hingga terhempas ke lantai dan patah menjadi beberapa bagian. Tak berapa lama Aleah sampai di rumah Lucas. Matanya mendelik begitu memasuki rumah dan yang ia lihat pertama kali adalah sebuah piala berlapis emas yang tak lagi berbentuk. Di sisinya tampak Lucas dengan raut wajah yang entah bagaimana mengutarakannya. Ia tampak memprihatinkan. Aleah duduk di samping Lucas “apa yang terjadi?” tanyanya lembut. Lucas diam tanpa sepatah kata pun. Aleah beranjak dari tempat duduknya berniat memungut patahan-patahan piala malang yang teronggok di lantai. “Biarkan saja,” seru Lucas membuat Aleah seketika berhenti “jika kau ingin mengambilnya, ambil saja dan buang benda itu jauh-jauh dariku,” lanjutnya. “Kau ingin membuangnya? Kau serius?” Aleah mengerutkan dahi. “Buang benda itu!” teriak Lucas dengan matanya yang menyala. Aleah terkejut melihat Lucas yang tampak sangat marah. Telah terjadi sesuatu pada pria itu dan dia tidak baik-baik saja. Aleah mendekat dengan lembut “kemarilah, Lucas,” ia memeluk tubuh kekar itu dengan hangat, mengusap punggungnya berusaha memberikan ketenangan. Lucas yang begitu tegang perlahan melembut. Ia menghela napas panjang-panjang lalu memeluk Aleah erat-erat. Perempuan itu pengertian sekali. Memang ini yang ia butuhkan sekarang. Tanpa ia sadari setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya dan mendarat di punggung Aleah. Ia lalu berniat menyeka air mata itu tetapi Aleah mencegahnya. “Jangan,” kata Aleah “menangis saja jika itu bisa meringankan bebanmu, menangislah, aku tidak akan menertawakanmu,” lanjutnya. Ternyata Aleah merasakan air mata yang hanya setetes itu membasahi punggungnya. Lucas pun menangis dan semakin mengeratkan pelukannya membuat Aleah tenggelam dalam dekapannya. Cukup lama mereka berpelukan. Sampai akhirnya Lucas merasa tenang dan lebih baik. Cepat-cepat ia menghapus air mata di pipinya dan memperbaiki wajahnya yang berantakan. Aleah tersenyum geli “apa menangis itu memalukan bagimu?” “Ya, dengan otot sebesar ini dan aku merengek di depan wanita kecil sepertimu?” “Lalu apa? Kau takut aku akan memberitahukannya pada semua orang?” “Kau akan melakukannya?” Aleah terkekeh “sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi?” Lucas terdiam lagi sejenak “aku baru saja menerima sebuah penolakan, dan penolakan itu sepertinya langsung menyerang organ paling krusial di dadaku,” papar Lucas dengan gayanya pura-pura kuat. Aleah mengerutkan dahi “maksudmu?” Lucas menghela napas “alasan kenapa keluargaku tidak ada di Mugello adalah karena papaku tidak pernah setuju aku turun ke arena balap,” jelasnya. Aleah makin mengerutkan dahi “kenapa, bukankah kau sangat berbakat?” “Dia ingin aku menjadi penerusnya dan menjalankan bisnis keluarga seperti generasi sebelumnya.” “Apakah itu harus? Memangnya kau anak satu-satunya?” Lucas enggan mengucapkan bahwa ia punya seorang adik terlebih jika ia harus mengatakan bahwa adiknya sakit-sakitan, “entahlah,” gumamnya sambil memalingkan muka “lupakan saja, aku tidak ingin membahasnya,” tambahnya. Aleah diam, pertanyaan selanjutnya yang akan ia lontarkan hanya tergantung pada pita suaranya. Nada bicara Lucas seperti sebuah perintah jadi ia tidak akan bertanya apa-apa lagi mengenai keluarga Lucas. Lucas berbalik dan menatap Aleah lagi “boleh aku minta sesuatu?” “Apa itu?” Aleah penasaran. “Menginaplah di sini, untuk malam ini saja,” pinta Lucas. Aleah mendelik “kenapa aku harus menginap?” “Apa kau tidak mau menemani kekasihmu yang sedang sedih ini?” Aleah yang ingin menolak jadi tercekat suaranya. Rasanya seperti ia benar-benar perempuan yang hanya menginginkan uang saja. Bukankah selama ini Lucas sudah membiayai pengobatan Rachel. Lagi pula ia punya waktu 60 hari untuk belajar mencintai Lucas. “Aku mau tapi ayahku yang memutuskan.” “Kalau begitu beritahu dia,” suruh Lucas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD