Hingga aku merasakan jemari tangan lelaki itu berhenti barulah aku sadar jika saat itu aku sudah terbuai dengan apa yang ia lakukan pada tubuhku. "Ada apa?" Bodohnya kenapa aku malah bertanya pada lelaki itu kenapa ia menghentikan aktivitas jemari tangannya itu. Hingga senyum tersungging menawan dari bibir lelaki itu yang tidak kalah memabukkannya untukku. "Tenang sayang... kita masih memiliki waktu yang cukup jika hanya untuk bersenang-senang. Sekarang yang terpenting, obati dulu lukamu," rupanya lelaki itu menghentikan gerakan jemari tangannya karena ia melihat luka yang ada di lutut ku, ia tidak tahu jika luka itu ada karena ulahnya tadi. Rafandra beranjak dari tempatnya Dan membimbingku menuju ke sofa ia kemudian pergi beberapa saat meninggalkanku sendiri di sana lalu kembali lag

