Dengan mudahnya, papa mengabaikan perkataan aku. Mengabaikan segala rentetan pertanyaan aku. Mengabaikan diri aku yang berharap-harap akan jawaban dari papa yang sangat aku ingin dengarkan sekarang. Kenapa sikap papa kembali berubah jadi dingin lagi tak seperti ketika malam kemarin yang papa begitu sangat mengkhawatirkan aku. Aku pikir, papa kembali seperti semula. Kembali seperti dulu yang tak pernah bersikap dingin kepada aku apalagi mengabaikan sisi aku tapi sekarang, papa menjadi orang lain yang tak bisa aku kenal. Sama halnya nya seperti mama yang ketika ia bersama dengan bapak, mama menjadi orang lain yang sama sekali tak dapat aku kenalin sebenarnya siapa mereka? Pertanyaan aku, apakah mereka benar-benar adalah orang tua kandung aku? Wujud nya memang orang tua kandung aku, sih, tapi dari sikap mereka yang aku lihat bagaimana mereka memperlakukan aku, dan dari sifat juga jiwa mereka yang aku rasakan itu lain daripada yang lain, daripada yang aku kenal selama ini.
"Ayo, kita harus cepat pergi ke Bandara sekarang. Papa sudah beli tiket yang baru barusan," kata papa. Segera mengurusi koper aku. Oh, aku rasa seperti nya papa tadi sedang memesan tiket, mungkin kali, ya? Dia menyuruh orang untuk mengurusi keberangkatan kita ke Yogya. Buat papa itu semua terasa terlihat mudah. Memang begitu, kan, fakta nya jika seseorang memiliki banyak uang. Berbeda kehidupan ketika tinggal bersama mama. Aku harus merasakan pil pahit dengan melihat banyak orang yang merupakan seorang rentenir selalu bergiliran datang ke rumah untuk menagih hutang hingga sampai-sampai mama terkadang mau berurusan dengan pinkol atau pinjaman online. Ah, aku tak bisa membayangkan bagaimana jadi nya hidup berketerusan ngutang terus sama orang. Hidup harus membayar cicilan terus, membayar arisan terus, itu juga uang yang di dapatkan kembali lagi untuk menutupi hutang yang belum bisa kebayar. Ya, tutup lubang gali lubang, prinsip nya begitu. Kalau kata orang, ya. Namun, pada kenyataan yang ada ya memang seperti itu adanya. Minjam uang buat menutupi hutang yang lain dan terus saja begitu siklusnya.
Ya, cuman sekarang aku gak bakalan merasakan penderitaan seperti itu lagi. Aku tidak tahu, ya, bagaimana kehidupan mama setelah tidak adanya aku di rumah itu. Yang aku tahu jika bapak bakalan mengeluarkan uang jika aku tidak tinggal di sana lagi. Entahlah, aku sudah gak mau memikirkan mereka toh aku yakin-yakin saja sama diri aku jika apa yang terjadi di hidup mama, sudah ada bapak yang bertanggung jawab. Tapi garis bawah kalau dia beneran tanggung jawab, sih.
"Lara," tegur papa tiba-tiba. Ku balikkan tubuh aku ke belakang yang ternyata papa sudah ada di luar kamar. Aku gak tau kalau papa sudah ada di sana. Apa aku kelamaan ngelamun, ya. "Ngapain masih berdiri di situ? Sudah cepat, kita mesti cepat pergi," ucap papa kembali. Aku meneguk saliva ku yang mendadak tenggorokan aku ini kerasa kering. Perlahan aku berjalan dengan gontai keluar kamar dan papa sudah beranjak dari tempat ia. Baru saja papa beberapa langkah berjalan dan akhirnya sudah berada di luar kamar. Aku menghentikan langkah papa dengan memberikan pertanyaan kepada papa. "Papa belum jawab pertanyaan aku yang tadi," seru ku membuat papa diam. Tak bergeming sama sekali tubuh papa. Bahkan menoleh ke belakang saja, papa tidak mau. Sebenarnya salah aku apa, sih, sampai papa bersikap dingin seperti ini pada aku?
"Pah, aku butuh penjelasan dari Papa. Ada banyak yang mau aku tanyakan sama Papa," lanjut ku lagi. Namun, yang aku pikir papa bakalan melihat anak nya yang sedang bicara ini tapi lagi-lagi dugaan aku salah.
"Kamu cepat ikut Papa atau mau Papa tinggal di sini. Papa lagi gak punya banyak waktu, kalo gak mau ikut, ya, sudah Papa tinggal kamu," balas papa begitu dan kemudian beliau pergi duluan meninggalkan anak perempuan nya yang lagi-lagi di tinggal sendirian. Bahkan papa sendiri bisa meninggalkan aku sendirian, loh? Ah, tiba-tiba saja aku merasakan perih yang menusuk di dalam d**a. Dan aku gak bisa membendung lagi air mata aku ini.
Ku pikir, sebaik nya aku ikuti papa saja. Walau hati aku menolak sebetulnya. Kalau tahu bakalan begini rasa sakit nya, aku lebih baik pulang saja. Iya, tapi aku cukup sadar diri kalau mama sendiri saja secara tidak halus udah mengusir aku dari rumah dengan meminta aku tinggal bersama papa saja. Sebab apa? Aku itu beban dia. Mama lebih memikirkan anak-anak dia yang lain timbang diri aku sendiri. Jika aku pulang, ragu aku besar bakalan di terima di sana lagi. Tapi, sama papa, ya, begini kejadian nya. Orang yang sangat-sangat aku sayangi ini mengabaikan diri aku yang terus mengharap-harap papa nya itu bakalan kembali seperti dulu yang tidak pernah sama sekalipun mengabaikan anak nya sendiri.
Ini lebih sakit. Sakit sekali karena papa adalah harapan terbesar aku. Meskipun aku tahu, setiap aku bertemu dengan papa, pengabaian adalah hal yang selalu aku terima. Tapi, aku punya rasa ingin terus dekat dengan papa dan ini kesempatan di mana aku bakalan tinggal sama papa lagi. Walau konsekuensinya adalah aku harus berpisah dari mama juga. Hanya saja, harapan itu kenapa menyakiti aku. Ini sangat menyakitkan. Aku punya harapan tapi sayang nya harapan itu malah menyakiti diri aku sendiri terutama pada hati aku ini.
*
Penerbangan yang memakan waktu beberapa jam itu akhir nya sudah selesai juga ku lalui. Ku berada sekarang di dalam mobil tapi ini mobil yang lain. Aku sempat berpikir saat papa menjemput aku dengan mobil mewah itu, mobil tersebut itu adalah milik papa tapi tau nya bukan. Itu mobil yang sengaja papa sewa dan sekarang aku naik taxi yang telah menjemput kami di bandara. Papa sedari tadi sibuk terus memainkan hp dia dengan satu kaki yang di angkat dan menumpu di atas kaki yang satu nya. Sedari tadi juga aku perhatikan kalau papa itu senyam-senyum tidak jelas. Apa-apalah yang sedang papa mainkan di hp nya itu. Karena papa itu serius sekali seperti nya. Juga papa itu ya gak sama sekali mengalihkan perhatian papa dari layar hp dia. Memang nya ada yang lebih menarik ya daripada keberadaan anak kandung nya sendiri?
Daripada aku banyak bertanya sama papa, ada lebih baik aku perhatikan sekeliling Jogyakarta. Tempat-tempat yang aku lewati selama di perjalanan. Ini adalah kali pertama nya aku tinggal di kota pelajar ini yang di sebut-sebut oleh orang-orang. Kota pelajar, tempat yang nanti nya menjadi kota untuk ku menimba ilmu di kemudian hari nanti. Aku bahagia sekali karena akhirnya terwujud sudah keinginan aku untuk pindah sekolah dan gak lagi-lagi, deh, aku sekolah di sekolahan yang kemarin. Bukan sekolahan favorit dan bukan sekolahan yang menjadi paling nomor satu di kota Bandar Lampung tapi aku ingin ketika di kota ini, aku dapat sekolah di sekolahan yang sangat bagus dengan banyak fasilitas yang menunjang proses pembelajaran ku. Inti nya sekolahan yang lebih baik daripada sekolahan yang sebelumnya itu.
Eh, tapi-tapi..... Sebelum membahas sekolah ku, aku kepengen banget yang namanya jalan-jalan di kota istimewa ini. Aku, kan, sudah lama tak jalan-jalan sebab gak punya uang. Mama gak pernah ngajak aku jalan-jalan. Ya, gimana, keadaan aja. Buat makan saja susah. Punya bapak tiri juga gak ada guna nya, kan, sama keluarga sendiri saja dia pelit buat keluarin uang tapi kalau ke orang lain royal nya minta ampun. Sampai ngelus d**a aku sangking miris nya hidup bareng bapak. Susah nya kebangetan. Susah banget hidup enak sama bapak.
Aku menoleh ke pada papa. Aku mengulas senyum lebar bahagia. Senang dan lega juga ketenangan dapat aku rasakan meskipun tidak benar-benar tenang karena masih ada yang mengganjal tapi seenggaknya, melihat papa yang banyak uang itu, kekayaan dan segala materi yang ada, aku yakin tidak bakalan membuat aku hidup dalam keadaan susah dan kesengsaraan. Karena aku tahu jika papa bakalan memberikan yang terbaik untuk anak-anak nya.
"Kenapa kamu ngeliatin Papa kayak gitu?" seru papa tiba-tiba. Aku terperanjat kaget dan langsung menundukkan kepala aku. Ku lirik dari ujung mata aku, papa memasukkan hp dia ke dalam saku celana nya. Masih pandangan papa tetap lurus ke depan gitu.
"Aku ada keinginan, Pah, kalo-kalo aja Papa kabulin keinginan aku," ungkap ku takut-takut juga ragu-ragu. Jelas ada rasa-rasa yang seperti itu mengingat jika sekarang hubungan aku sama papa sudah tidak sama seperti dulu. Sudah tidak dekat pula keadaan nya yang seperti dulu. Jelas saja ini yang buat aku takut karena dari sikap dingin papa juga. Aku ya dulu adalah anak yang sangat di manjakan sama papa. Benar-benar di manjakan sampai segala keinginan aku selalu papa turuti. Tapi sekarang buat meminta satu permintaan saja, rasa nya gini banget. Takut gak bakalan di kabulin juga sama papa.
Ini yang buat aku merasa sedih banget karena hanya ada perubahan sikap papa dan hubungan kami yang tak lagi dekat, mau minta apa-apa seperti dulu saja aku sudah langsung segan duluan. Memang benar, ya, setelah perpisahan mama dan papa aku, kehidupan jadi benar-benar berubah drastis. Tak lagi sama seperti sedia kala. Sakit banget, ya.
"Kamu mau minta apa emang nya?" tanya papa sembari membenarkan arloji yang masih menempel di pergelangan tangan papa. Tangan ia sedikit di angkat. Tidak tahu mau dia apakan jam itu. Mungkin buat mengatur jam nya yang kecepatan atau kelambatan. Ya gak peduli juga aku sebab aku cuma mau mengutarakan apa yang sudah aku pendam saat-saat ini.
"Aku pengen jalan-jalan, boleh, Pah?" tanya aku, berani ku tatap papa seluruh nya kepala aku tertoleh kepada dia. Papa langsung menatap aku. Ketika di tatap lagi, aku pelan-pelan langsung menundukkan kepala aku. "Sekali ini aja, Pah," mohon aku. Tak lagi menoleh pada papa selain hanya menundukkan kepala aku dan juga menyandarkan punggung ku kepada kepala kursi.
"Oke," jawab papa singkat. Meskipun itu singkat tapi aku tak percaya kalau papa langsung mengiyakan permintaan aku yang tak ku sangka-sangka saat aku menoleh jelas kepada papa. Papa cuma tersenyum singkat saja kepada aku tapi yang penting itu papa senyum kepada aku. Ya, Tuhan, ini beneran? Papa jadi baik lagi sama aku. Bukti yang jelas nya adalah papa mengajak aku ke tempat-tempat yang mau papa tuju.
Aku di ajak jalan-jalan sama papa ke Malioboro. Ya, lebih enak nya, sih, jalan-jalan nya itu pas malam hari soal nya lebih ramai lagi tapi ya udahlah. Sudah bagus papa mau mengajak aku jalan-jalan. Itu artinya kan papa mau menyempatkan waktu papa cuma buat aku. Papa masih mau menuruti keinginan aku. Aku mau makan ini dan itu di kabulin terus sama papa. Itu yang buat aku senang. Senang nya bukan karena di kasih makan tapi senang nya adalah karna papa tak pernah menolak apa yang aku mau dari papa. Lalu, setelah lelah berjalan-jalan hanya dengan jalan kaki saja menyusuri Pasar Beringharjo, kita pun duduk kemudian di Taman Pintar. Aku tidak membawa koper soalnya koper nya ada ada di bagasi mobil taksi yang yang menunggu di tempat di mana kita turun.
Aku menikmati cemilan khas Jogja yang tadi aku minta sama papa beli di pasar Beringharjo setelah jalan-jalan di sana dan ya aku menikmati saja waktu-waktu di mana aku bisa duduk berdua sama papa saja. Papa juga tidak memainkan hp-nya melainkan hanya duduk diam saja. Sebenarnya, aku mau bicara lagi tentang hal yang aku tanyakan pada Papa saat di hotel tadi. Tapi lagi dan lagi aku takut bakalan merusak momen antara aku dan papa yaitu momen ketenangan.
Aku pikir-pikir setelah aku menimbang-nimbang di otakku band di hatiku aku sepertinya tahu topik apa yang enak untuk di bicarakan. aku membasahi bibir bawah aku lebih dulu sebelum aku bicara sama papa berdeham sebentar dan akupun kemudian menarik-narik baju di lengan papa. Papa kemudian menoleh kepada ku. "Papa aku mau bertanya sama papa", ucap ku, papa cuma diam saja seperti dia hanya ingin menunggu aku saja untuk melanjutkan pertanyaan yang mau aku tanyakan pada papa. "Papa kenapa milih tinggal di Jogja? Dan sejak kapan juga Papa tinggal di Jogja? Karena setahu aku, waktu itu kita bertemu di Lampung," ujar ku menatap papa dengan sungguh-sungguh. Tidak sama sekali aku alihkan perhatian ku dari wajah papa meskipun hanya terlihat dari samping saja. Aku sangat ingin melihat kejujuran dari papa dari mimik ekspresi wajah papa. Dari tatapan mata papa dan juga aku ingin mendengar dengan sungguh-sungguh tutur kata Papa dari nada bicara papa karena sejujurnya, ketika bersama Papa dahulu hanya itu saja penilaianku dari Papa untuk melihat kejujuran dari dia dan untuk melihat kesungguhan dari dia. Saat dahulu ketika kecil aku bersama beliau Papa tidak pernah sekalipun mengecewakan aku Papa juga tidak pernah sekalipun membohongi aku Papa selalu berkata jujur kepada aku tapi untuk sekarang, keadaan nya yang sudah berbeda, aku tidak ingin berharap apa-apa, aku tidak ingin juga berekspektasi apa-apa. Aku takut hanya kekecewaan saja yang ku dapatkan. mengingat Bagaimana sikap dingin Papa kepada aku walaupun aku tidak tahu apa alasannya, yang aku harapkan sekarang adalah Papa mau menjawab pertanyaan aku untuk itu saja sudah lebih dari cukup buat aku terlepas bagaimana Papa berkata jujur atau tidak kepada aku. Aku hanya tidak ingin diabaikan lagi saja sama Papa. Sudah itu saja.
[]