Manusia itu bagian dari Tuhan.
Manusia itu bagian dari Tuhan.
Manusia itu bagian dari Tuhan.
"Mau sampe kapan sandiwara ini harus saya jalani? Hah! Mau sampe kapan saya harus bertahan di pernikahan ini? Mau sampe kapan saya harus hidup dan tinggal satu atap sama kamu? Saya tidak mencintai kamu! Saya sudah mencintai perempuan lain. Asal kamu tau saja, saya ini... selingkuh! Saya mengakui ini di hadapan kamu. Tadinya saya gak mau bilang. Saya cuma mau kita bercerai saja tapi kamu gak mau. Memaksa saya untuk tidak menceraikan kamu. Saya ini gak mau menyakiti kamu karena kejujuran saya. Tapi, saya rasa kamu yang memaksa saya untuk mengatakan ini semua," pungkas papa. Jadi, saya katakan semua ini. Saya menduakan kamu selama ini."
"Gimana? Kamu seneng gak sekarang udah punya adik? Jagoan semua. Kembar lagi," tanya papa kepada aku. Aku belum memandang papa justru aku masih terfokus pada dua bayi yang kembar. Mata ku berbinar-binar memerhatikan kedua adik aku ini. Setelah puas, aku pun beralih menatap papa untuk menjawab pertanyaan nya tadi.
"Aku bahagia banget sekarang Papa, aku udah punya adik. Lucu-lucu lagi."
"Mama khawatir sekali kalo Mama gak bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak Mama. Mama gak bisa begini terus."
"Stop kamu sebut papa! Papa! Papa! Gak ada guna nya juga kamu omongin dia! Gak bakal ada ngaruh, gak bakal pulang dia itu. Udah pergi dia dan gak bakalan nemuin kita lagi. Masih aja kamu ngarep-ngarepin dia. Mau seribu kali kamu panggil-panggil dia, gak bakalan dia pulang. Udah punya keluarga baru dia itu kalo kamu mau tau. Bermimpi lah kamu kalo gak gila ntar, masih aja kamu berharap-harap papa bakal seperti dulu lagi."
Kilas balik semua itu seperti mimpi buruk selama aku terpejam. Kepala aku geleng ke kanan dan ke kiri hingga keringat bercucuran ke mana-mana. Bibir aku yang mengering bergemetar. Bahkan tubuh aku pun juga ikut bergetar.
Kata mama aku kalo orang tua nya berpisah itu berarti anak itu anak broken home. Soal nya orang tuanya udah pisah. Udah bukan keluarga lagi," seru Tami. Aku tahu soal broken home tapi gak seharusnya bukan di jelaskan di hadapan aku?
"Yah, jadi kamu udah gak punya papa, ya Lara?"
"Iyaaa, Lara udah gak punya papa, lah. Kan, sekarang papa nya udah pergi. Udah gak tinggal satu rumah lagi sama Lara," seru Yuris.
"Berarti Lara udah di tinggalin sama papa nya, ya? Yah, kasian banget kamu Lara, udah gak punya papa lagi sekarang," ucap yang lain nya.
"Berarti papa kamu gak sayang sama kamu dong, Ra!!!"
"Yah, Lara udah gak di sayang sama papa nyaaaa!!!"
Tapi buktinya orang tua kamu pisah. Terus papa kamu ninggalin kamu, kan? Ninggalin keluarga kamu juga, kan? Kalo emang papa kamu masih sayang sama kamu, terus di mana papa kamu sekarang? Kenapa papa kamu udah gak pernah keliatan lagi sekarang? Kenapa papa kamu juga udah gak tinggal satu rumah lagi sama kamu dan keluarga kamu? Hayoooo! Jawab!!!!"
"Papa masih sayang sama aku ....,"
Dalam tidur aku saja, aku masih merasakan ketakutan-ketakutan itu semua. Bahkan diri aku masih terbayang-bayang bagaimana mereka meledek diri aku dengan nyanyian-nyanyian mereka tentang aku dan papa aku. "Lara udah gak punya papa! Lara udah gak di sayang papa nya ... Lara udah gak punya papa! Lara udah gak disayang papa nya!!"
Aku sangat takut sekali. Takut. Benar-benar takut. Takut menghadapi teman-teman aku yang akan membully aku nanti nya. Takut di bilang sudah tidak punya papa lagi. Takut harus di tertawa kan oleh teman-teman satu kelas. Dan takut ketika bagaimana mama aku malah memarahi aku yang sebelum nya mama tidak pernah sekalipun membentak aku seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Dengar Lara, untuk sebaiknya, kamu jangan mengungkit-ungkit apa yang udah gak ada sama kita. Dan apa yang kamu alami sekarang kamu hadapilah sendiri. Kamu tau, semakin kamu mempertanyakan hal-hal tentang papa kamu, semakin membuat Mama pusing! Beban Mama sudah banyak sekali. Seharusnya kamu itu ngertiin kondisi Mama sekarang itu gimana, ngertiin gimana kondisi kita sekarang ini!!!! Jangan bicarakan tentang papa ... Papa ... Dan papa kamu!"
Mama menunjuk wajah aku. Itu untuk kali pertama nya mama bersikap seperti itu kepada aku. Mata nya itu menyala-nyala bagai kobaran api yang siap membakar diri aku. Dia membentak aku padahal mama selama ini selalu bicara dengan lembut dan penuh kasih sayang kepada ku. Jangan bicarakan tentang papa lagi. Kata nya begitu. Abang pun sama sebelumnya. Mengatakan hal yang sama. Jangan membahas tentang papa. Lupakan saja papa dan jangan banyak berharap soal papa akan kembali. Itu mustahil. Buat Abang itu sangat mustahil.
Dan ketika di mana yang aku harapkan telah datang. Ada dia di hadapan aku namun segala sesuatu yang aku pertahankan di buat hancur. Hancur. Sehancur-hancur nya.
"Saya susah payah menutupi semua itu dari Lara. Lara sangat menyayangi kamu. Saya gak mau Lara kecewa sama kamu karena kelakuan b***t kamu itu!!!!"
Begitu mendengar suara mama yang tidak terlalu jauh seperti nya itu membuat aku terbangun. Mata aku langsung terbuka.
"Kamu itu gak pernah puas jadi laki-laki, ya, Nj*ng! Udah banyak duit aja kamu bertingkah. Pas susah-susah nya kamu itu mama saya lah yang nemenin kamu! Tau diri kamu itu! Kalo bukan harta semua itu dari mama saya, gak bakal kamu itu bisa buka usaha showroom. Melarat kamu itu kalo gak ada mama saya! Ngerti kamu itu!"
Apakah aku harus membenci papa juga? Aku sangat menyayangi papa. Lebih dari siapapun, aku sangat menyayangi papa. Bahkan lebih dari diri aku sendiri. Jika papa yang berbuat setega ini hingga membuat keluarga hancur berantakan. Aku ingin mengembalikan papa seperti dulu lagi. Aku ... Aku sebetulnya tidak membenci mama, tidak membenci Abang juga. Aku ... Aku memang kesal sama mereka tapi aku mau berusaha untuk tidak memiliki kebencian pada orang-orang yang pernah ada di hidup aku. Tapi, yang aku benci adalah keadaan di mana membuat aku harus berada di posisi sekarang ini. Takdir dari Tuhan. Jika memang manusia adalah bagian dari Tuhan, Tuhan yang memegang kendali hati seseorang, dan papa begini karena hati nya yang berubah, apakah boleh, jika aku menyalahkan Tuhan untuk segala hal yang telah terjadi? Apa jawaban nya? Boleh atau tidak?
Ah, perkara boleh atau tidak nya, aku rasa aku punya hak untuk menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak ada di ketika aku membutuhkan Dia.
Dan sebenarnya, tidak mau aku membenci orang yang aku sayangi tapi apakah boleh jika aku membenci Tuhan? Tuhan, kan, yang membuat keluarga aku jadi harus terpecah belah. Dan seharusnya Tuhan juga yang bisa mengembalikkan keadaan keluarga aku seperti semula. Menyatukan sebuah keluarga yang tadinya sudah berpisah.
*
Pertengkaran-pertengkaran di luar itu, entah sampai kapan bakalan berakhir. Aku masih berusaha untuk mencerna semua yang telah terjadi, yang begitu cepat. Semua yang ada di depan mata aku. Diam terbaring seorang diri di dalam ruangan yang seluruh nya bercat putih dan banyak alat-alat kedokteran yang tidak aku ketahui apa nama-nama nya tapi aku sudah tahu jika aku ada di dalam rumah sakit.
Tiba-tiba saja pintu ruangan yang aku tempati terbuka. Mama yang masuk lebih dulu dan aku menoleh ke arah pintu tersebut. Terkejut lah mama ketika tahu aku sudah bangun. Dia sempat terpaku di tempat nya. Untuk menghapus air mata ia dalam beberapa detik saja. Lalu, mama mendekati aku. Mama membantu aku untuk bangun dari tiduran aku. "Ayo, sayang bangun. Kamu udah sadar, kan? Kita mesti cepat-cepat pulang," ucap mama dengan tergesa-gesa yang bahkan mama membantu aku itu tidak dengan cara yang lembut. Mama meminta aku untuk segera turun dari brankar dengan cepat-cepat.
"Mah ... Pelan-pelan, kepala aku masih pusing. Masih sakit," lirih aku mengadu kesakitan.
"Kita udah gak punya waktu sayang. Kita mesti cepet. Kamu harus belajar kuat, belajar buat nahan sakit," seru mama dengan suara yang bergetar hebat. Aku mendongak untuk menatap mama. Mama langsung membuang muka, menghapus kembali air mata nya yang keluar deras membasahi wajah ia hingga air mata nya itu terus menetes ke bawah.
"Aku udah berusaha," jawab aku pelan.
"Sudah, ayo, kita mesti buru-buru pulang," kata mama lagi. Baru beberapa langkah saja aku tiba-tiba menghentikan langkah aku.
"Aku mau ketemu sama papa," kata aku.
"Papa kamu udah pergi lagi." Mendengar jawaban mama itu membuat tubuh aku kembali terkulai lemas. "Sekarang Abang lagi cari jemputan buat kita. Kita tunggu di depan, ya," sambung mama.
Padahal aku belum saja sempat untuk berbicara empat mata sama papa. Belum sempat untuk memeluk papa dan bilang aku merindukan papa dan sekarang papa begitu saja pergi meninggalkan aku. Apa papa beneran sudah tidak sayang pada anak perempuan satu-satunya ini? Apa papa sudah melupakan aku secepat ia yang tiba-tiba pergi tanpa mau menemui aku seperti sekarang ini? Apa papa sudah tidak ada rasa sayang yang bahkan untuk merindukan aku, apa papa tidak merasakan semua itu kepada anak perempuan nya yang mengharap-harap papa nya akan pulang dan kembali pada keluarga nya yang dulu.
Jika memang Tuhan tidak bisa atau bahkan tidak mau membuat keluarga aku bersatu lagi seperti dulu, biarkan aku yang berusaha untuk membuat papa kembali pada keluarga ini. Biarkan aku yang berusaha untuk membuat papa sadar jika kita semua tengah menanti kepulangan papa. Biarkan aku yang berjuang untuk membuat papa kembali pulang secara utuh bersama dengan hati beliau. Aku tidak mau keadaan nya seperti ini. Aku gak mau hidup tanpa sosok papa. Aku tidak bisa menghadapi omongan-omongan teman-teman aku yang terus membully aku. Mengatakan jika papa sudah tidak sayang pada aku. Mengatakan jika aku sudah tidak punya lagi seorang papa. Mengatakan papa sudah pergi meninggalkan aku dan hidup dengan keadaan yang susah. Aku malu harus di gituin. Aku malu. Benar-benar sangat malu.
Aku, mama dan abang itu naik mobil milik teman abang. Abang duduk lah itu paling depan, sebelahan sama teman dia. Mama ada di samping aku. Menyandarkan kepala ia di tumpuan tangan nya yang sikut nya menempel pada sisi jendela. Satu tangan nya menghapus air mata nya lagi. Mama tidak henti-hentinya menangis sejak kita berangkat dari rumah sakit. Aku cuma memerhatikan saja orang-orang yang ada di dalam mobil ini. Kepala aku sebenarnya masih sakit dan aku mulai mau mabuk, maksud aku mau muntah. Tapi aku tahan sampai rumah. Perut aku juga mulai berbunyi. Ah, aku belum makan dari pagi. Hanya terisi satu roti saja yang aku beli di kantin sekolah. Berat sekali kepala aku ini tapi ya aku bisa apa. Aku takut merepotkan kembali Abang sama mama.
"Rafa sama Dafa mama titipin sama tetangga, kan, tadi?" seru Abang tiba-tiba. Mama berdeham. Mama cuma mengangguk saja ketika Abang menoleh ke belakang. Abang sempat melihat diri aku yang tiba-tiba saja aku merasa tidak bisa bergerak ketika di tatap Abang, padahal Abang melihat aku dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Kemudian Abang menghela napas, terdengar. Masih terdengar di telinga aku sebelum akhirnya ia kembali duduk dengan pandangan ke depan.
Sesampai di depan rumah kami. Ada banyak tetangga-tetangga yang pada memerhatikan kita semua. Terlebih ketika mama mau mengambil Rafa dan Dafa yang di titipkan kepada tetangga di sebelah rumah. Ibu-ibu itu terutama pada ngumpul di satu tempat. Di rumah yang di mana mama menitipkan adik-adik aku di sana padahal selama aku tinggal di sini, ya, jarang ibu-ibu itu ngumpul di rumah sebelah rumah aku itu. Biasa-biasa paling di tempat lain. Tapi, ini tumben-tumbenan.
Waktu mama datang, orang-orang pada memerhatikan mama. Aku menengok pada Abang yang tengah berbincang dengan teman dia lalu kedua nya berjalan masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu tadi nya, apa yang sedang mereka bicarakan. Kembali fokus pada mama, mama tidak terlalu banyak basa-basi saat tetangga aku yang bernama ibu Nelly memberikan kedua adik-adik aku pada mama dan mama cuma tersenyum singkat dan bicara sedikit lalu mama dengan tanpa ekspresi pergi dari sana. Aku melihat mama itu keliatan kuat sekali. Jiwa mama itu jiwa yang kuat. Mama tanpa malu tidak menyembunyikan mata sembabnya. Apakah mama tidak berpikir jika mereka pasti sedang membicarakan diri mama atau tentang keluarga kita atau lebih-lebih lagi tentang pertengkaran papa dan mama tadi? Belum lagi juga papa datang bersama dengan wanita lain yang pakaian nya sangat harus di perhatikan lagi sebab aku tahu, tetangga di sini itu banyak yang memerhatikan dan pasti membicarakan siapa wanita yang di bawa sama papa ke rumah.
"Lara, ayo masuk. Ngapain kamu diem di situ?" ucap mama tiba-tiba. Membuyarkan lamunan ku seketika. Aku mengangguk sekilas dan mama masuk duluan. Sebelum aku masuk, aku sempat melihat Yuris tengah melihat ke arah aku. Rumah aku dengan dia itu depan-depanan dan hanya terpisahkan oleh jalanan aspal. Dia lagi duduk sama orang-orang rumah dia di teras rumah nya. Dia sempat memasang ekspresi yang menyebalkan sekali. Berjoget-joget di depan mata aku dengan sambil memeletkan lidah dia. Aku tahu dia sedang meledek aku dan aku yakin sekali jika besok dia bakalan menyebarkan berita-berita tentang hari ini ke sekolah dan lagi-lagi aku yakini, pasti aku bakalan menjadi sasaran empuk untuk di bully habis-habisan sama teman-teman sekolah aku. Aku bakal di kata-katain yang entah apa. Ya Tuhan, bagaimana aku harus menghadapi ini semua sekarang!? Mama tidak bisa untuk menjadi pendengar aku. Abang juga. Aku harus meminta perlindungan dari siapa lagi? Harus ke siapa aku untuk ku mintai bantuan? Aku tidak bisa menghadapi ini semua ya Tuhan. Aku takut. Benar-benar sangat takut.
[]