Bab. 4 [Bag. 6 Kehadiran Orang Baru]

2067 Words
Beberapa detik kemudian, pintu di buka tiba-tiba oleh seseorang. Pak Hilman langsung menjauhkan diri nya. Orang yang menjaga perpustakaan ini sempat berdiri mematung di tempat ia berada. Pak Hilman kemudian berdiri dan wanita yang tubuh nya gendut itu dengan rambut keriting yang memanjang dan sedikit pendek tubuh nya dengan seragam yang agak mengetat di tubuh dia----menatap secara bergantian aku dan pak Hilman dengan pandangan yang terkejut. Kosong tapi fokus pada kita berdua. Aku sudah mulai ketakutan. Aku takut di pikir yang macam-macam oleh dia. "Kalian tadi ngapain?" tanya ia sambil menunjuk rendah kami satu per satu. "Bapak ngapain ini berdua-duaan sama siswi di perpustakaan? Terus kenapa pintu nya itu di tutup gitu? Bukan nya pintu nya mesti nya selalu di buka kalo masih jam-jam sekolah? Terus tadi itu, kalian----" Pak Hilman memberikan isyarat lewat tangan beliau untuk menyetop wanita itu supaya berhenti bertanya dengan lebih banyak lagi. "Lara, kamu pergi lah masuk ke kelas kamu sekarang juga," titah beliau. Aku dengan ragu berdiri dan mengangguk kan kepala aku. Kedus kaki aku masih bergetar hebat. Namun, dengan sisa kekuatan aku. Dengan sisa tenaga yang aku punya, ya, tetap aku paksakan untuk pergi masuk ke dalam kelas meskipun dua kejadian yang barusan terjadi tadi membuat aku shock setengah mati. Aku berpikir, untuk soal ciuman itu adalah hal yang sangat salah tapi aku tidak bisa menolak beliau. Tubuh aku itu menegang dan kaku secara tiba-tiba. Itulah yang terjadi dengan pada tubuh aku sendiri. Aku pun tak memahami secara betulan kenapa bisa begitu. Bahkan otak aku sendiri berhenti secara mendadak dan tak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi tadi. Tak bisa memproses sesuatu hal yang terjadi dengan diri aku tadi karena ini juga adalah pertama kali nya aku di cium oleh seorang laki-laki dan dia adalah guru aku sendiri. Aku yakin sekali ini adalah sebuah kesalahan. Iya, ini salah. Aku memang tidak pernah melihat orang yang berciuman. Hal-hal seperti ini buat aku itu masih asing. Hati aku masih terus meyakinkan diri aku bahwa, kalau pak Hilman memberikan bentuk kasih sayang adalah cara dia yang ingin membuat aku tetap merasa nyaman dan aman. Dia peduli dengan diri aku. Iya, aku selalu mengatakan hal itu kepada diri aku sendiri. Pak Hilman orang yang baik dan dia juga yang tetap akan selalu aku anggap sebagai papa aku. Sosok laki-laki yang kini sudah masuk ke dalam kehidupan aku setelah papa lama pergi dan tak pernah memberi kabar lagi buat aku. Aku gak tau betapa bahagia nya diri aku ketika bertemu dengan pak Hilman. Beliau yang bisa mengobati rasa rindu ku kepada papa aku sendiri. Hati aku sangat yakin jika pak Hilman itu menyayangi aku layak nya seperti anak dia. Dia juga yang mengatakan akan melindungi diri aku. Dia menunjukkan tindakan-tindakan yang bisa mampu membuat aku percaya kepada beliau dan melihat pembuktian beliau dari cara dia. Bagaimana dia menjadi pendengar yang baik untuk aku, support system yang membuat aku bisa termotivasi dan lebih semangat lagi dalam menjalani kehidupan. Belum lagi beliau selalu lembut cara nya dengan dalam memperlakukan aku. Aku begitu luluh kepada beliau. Sehingga aku pun juga ragu menerima pernyataan pada logika aku tentang apa yang pak Hilman lakukan itu adalah tetap sebuah kesalahan yang besar. Tapi, aku bimbang karena hati aku ini meyakini jika pak Hilman berlaku baik untuk seluruh nya kepada aku itu karena pun ia juga telah menganggap aku sebagai anak dia seperti aku yang menganggap dia adalah papa aku sendiri. Aku ingin mengakhiri hari ini dan bisa berlanjut untuk memulai hari esok. Di setiap pergantian hari, aku selalu mengharapkan satu hal. Harapan aku memang besar dan aku tidak meminta siapapun untuk mewujudkan nya. Tuhan tidak mungkin bisa mewujudkan nya juga maka aku tidak berharap pada siapapun apalagi pada manusia. Berharap pada sesuatu dengan aku yang memiliki sebuah harapan yang besar adalah dua hal yang berbeda. Harapan besar ini selalu ada di setiap pergantian hari. Di setiap malam aku tertidur sambil menatap langit-langit kamar aku. Aku ingin, di hari esok yang arti nya hari yang baru, hari yang akan ada di dalam hidup aku, hari yang harus aku lewati menyimpan bahagia yang bisa aku temukan. Harapan aku, di hari yang baru, ada satu hari yang bisa membuat aku benar-benar masalah ini telah berakhir. Masalah yang ada di dalam hidup aku ini. Iya, aku tidak pernah menghapus harapan aku. Karena dalam hidup aku, cuma satu harapan yang aku punya. Itu saja. Aku ingin memiliki hari yang lebih baik dengan menyimpan banyak kebahagiaan yang bisa aku temukan, yang bisa aku dapatkan dan yang terakhir, yang bisa aku rasakan. Apa bisa terwujud ya untuk satu hal itu? Dan jawaban nya apa? Tidak. Atau masih belum? Atau tidak akan pernah terjadi? Atau nanti bisa terjadi? Atau kapan? Tidak. Aku tidak mendapat kepastian apapun. Aku bahkan siapa atau apa, tidak ada yang bisa menjamin harapan itu akan terjadi nyata di hidup ini. Yang jelas saja, aku mendapatkan hari yang lebih buruk dari yang kemarin. Sebuah bencana yang membuat aku tak tahu harus bagaimana lagi dalam menghadapinya. Di sepanjang koridor aku melewati tiap kelas yang di penuhi siswa-siswi yang lagi pada berkumpul itu, mereka tak pernah berhenti-henti nya menatap diri aku dengan pandangan aneh, dengan pandangan yang tetap sama yang ada di dalam kelas aku. Seperti melihat orang gila yang telanjang. Menjijikkan. Dan aku masih tetap saja dengan apa yang ada di dalam pikiran aku. Aku masih belum tahu apa alasan yang membuat mereka menjadi seperti ini. "Ternyata bener, kan, dugaan kita. Emang Lara ini diam-diam, masih kecil udah gatel. Udah kemenelan." Aku mendengar orang yang bicara seperti itu ketika aku baru saja masuk ke dalam kelas. Saat mereka tahu aku baru sampai di kelas, mereka semua langsung pada diam. Mulut ku menganga ketika mereka itu datang menghampiri aku termasuk Nessa dan aku sekarang mulai ketakutan lagi. Aku tahu mereka pasti akan mencecar aku dan membully aku. Aku seperti merasa flash back dengan saat aku masih SD. Aku di bully habis-habisan dan apakah hari ini akan terjadi lagi dengan diri aku? * "Eh, Lara ... Kok bisa-bisanya kamu itu deketin pak Hilman sampe menggoda dia." Aku bahkan di dorong sama salah satu teman yang ada bersama rombongan anak-anak kelas aku ini dengan melabrak aku secara terang-terangan. "Gila kamu ini! Guru aja nekat kamu godain gitu. Bisa-bisa nya yaa. Gak nyangka banget kita semua sama kamu. Diem-diem tapi menghanyutkan ya kelakuan nya. Pantes aja kamu ini suka datang ke ruang BK. Ternyata buat nemuin pak Hilman toh! Tapi ada maksud juga kamu itu!" Aku makin tidak paham dengan yang mereka katakan ini. Apa coba maksud dari mereka semua bisa-bisanya mengatakan aku ini menggoda pak Hilman. Aku tidak merasa menggoda beliau dan buat apa juga aku menggoda beliau? Kapan juga aku menggoda pak Hilman? "Kalian gak tau apa yang aku lakukan ke ruang BK tapi kalian menuduh aku tanpa bukti!" Aku melawan mereka. Aku mencoba untuk membantah ucapan mereka. Memang betul, kan, mereka tidak tahu apa yang aku lakukan tapi mereka berani sekali menuduh aku dan sekarang menyerang aku ramai-ramai. "Halah! Emang iya kok kenyataan nya begitu. Ini video nya ada kok. Jelas ada dan sudah tersebar di f*******:," kata Nessa dengan nyali yang luar biasa. Kemudian Nessa maju satu langkah dan dia mengeluarkan hp dia dari dalam saku seragam nya. Ia pampangkan hp milik dia di hadapan muka aku dan menunjukkan video yang mereka maksud. Mata aku jelas terbuka lebar menyaksikan apa yang ada di dalam isi video tersebut. Itu ketika di ruang BK saat pertama kali nya pak Hilman memeluk aku dari belakang. Yang terlihat hanyalah tubuh bagian belakang pak Hilman. "Kita itu buntutin kamu ke ruang BK karena penasaran apa yang kamu lakuin di dalam sana sampe pintu BK di tutup," jelas Tiara yang memang dia yang paling suka banyak bertanya tentang aku yang selalu datang ke ruang BK karena aku tidak mau teman-teman tahu tentang masalah aku ini. "Dan kita itu heran karena pintu yang sengaja di tutup, otomatis kita ngintipin kamu dari luar jendela yang gak di tutup dan ternyata yang kita dapatkan adalah apa yang kamu lihat di dalam video itu," sambung Tiara makin mempertegas ucapan dia. "Maka nya, ya, aku itu gak mau berteman sama kamu karena aku gak mau dilibatkan dengan masalah yang kamu punya. Yang ada nama aku bisa-bisa jadi jelek karena kamu," ucap dia lagi. Oh, jadi itu alasan dari semua ini. Mereka menjauhi aku karena masalah ini ? "Dan kamu tau, karena masalah ini, pak Hilman jadi kena teguran sama pihak sekolah dan apa kamu tau juga, nama kamu itu lagi rame di bicarain sama anak-anak satu sekolah. Sama anak-anak yang ada di sekolahan lain juga. Karena video ini udah ke sebar, dan nama kamu sekarang ini lagi sedang di pertaruhkan. Kamu pasti gak tau, kan? Kan, kamu gak punya sosial media. Cupu. Gak kayak kita-kita," terang Tiara di akhir kalimat ia malahan juga meremehkan diri aku dengan nada sombong. Dia. Dasar sialan mereka semua ini! * Kemudian sepanjang jam mata pelajaran. Guru yang mengajar selalu menyinggung soal masalah yang pagi tadi baru saja aku ketahui. "Anak-anak, Ibu cuma mau berpesan aja, ya, yang lagi rame-rame sekarang ini, ya, coba toh, jadi siswi itu jangan bertingkah seperti wanita nakal. Kan, masih kecil. Masih remaja. Masih yang nama nya butuh menyerap banyak pelajaran. Jangan membiasakan diri dengan hal-hal yang tidak berguna. Dengan hal-hal yang gak benar dan lebih banyak negatif nya ketimbang positif nya. Rugi di badan, rugi di diri sendiri, loh." Ibu guru tersebut awal nya senyam-senyum sendiri sambil terus memerhatikan aku. Aku seperti di bunuh pelan-pelan dari tatapan mata dia yang mengarah ke diri aku. Tapi, setelah itu nya dia malah mengatakan hal-hal yang seolah-olah diri aku ini jelek. Diri aku ini adalah anak yang nakal. "Kita ini perempuan. Mesti bisa nya jaga diri juga. Jangan malah menawarkan diri kita. Masih kecil. Masih anak-anak. Gak pantes berlakukan seperti itu pada laki-laki dewasa yang umurnya itu saja sudah terlampau jauh," sambung beliau kemudian. Dada aku ini sangat sesak. Berat sekali rasa nya seperti ada beban yang begitu berat menimpa d**a aku dan ingin sekali luapkan. Ingin sekali aku hancurkan. Kenapa diri aku di nilai segitu nya sama mereka padahal aku sama sekali tidak yang nama nya menggoda beliau. Tak pernah sekalipun aku ada niatan seperti itu. Aku saja tidak tahu bagaimana menggoda seorang pria. Aku saja selama hidup tidak pernah yang nama nya suka dengan laki-laki. Aku saja selama ini tak pernah sekalipun nakal dengan siapapun. Nggak pernah. Aku tidak mengerti apa-apa tapi kenapa aku di nilai serendah itu? Apa mereka tak tahu sama sekali yang sebenarnya? Kejadian yang terjadi di antara aku dengan pak Hilman. Padahal mereka sama sekali tak tahu apa-apa. Aku sangat yakin jika mereka hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Mereka cuma melihat bagian di mana pak Hilman memeluk aku saja tapi tidak tahu kenapa bisa sampai terjadi seperti itu. "Permisi, assalamualaikum Ibu Fatma," ucap salah satu guru yang bertugas juga merangkap kerja di ruang tata usaha yaitu kak Satiri nama nya datang ke kelas kami. "Waalaikumsalam, iya ada apa Satiri?" tanya ibu Fatma. Untuk sementara aku merasa tenang dan lega karena beliau tak lagi melanjutkan ucapan dia yang semakin aku rasa dia menyudutkan diri aku. Bukan bermaksud untuk memberikan nasihat. Mungkin saja kalau untuk yang lain di anggap adalah sebuah nasihat dari dia tapi tidak dengan diri aku karena aku tahu maksud dia itu pasti menyindir aku secara halus saja. "Begini Buk, saya datang ke sini mau memanggil Nyimas Lara Swara, ya, ada orang nya gak di kelas ini?" tanya kak Satiri. Aku langsung menegapkan tubuh aku secara spontan dan wajah aku mulai pucat pasi sebab telapak tangan aku saja sudah mulai berkeringat dingin karena ketika datang nya kak Satiri juga tak benar-benar membuat aku merasa lega. Sebab, aku merasa seperti ada hal lain yang mau di sampaikan dan itu menyangkut tentang diri aku karena lagi-lagi, aku ini memiliki masalah di sekolah dan langsung yang nama nya berurusan dengan guru. Pak Hilman. Bagaimana dia sekarang, ya? Di mana pak Hilman? Aku sedang membutuhkan dia. Dia harus mengatakan yang sebenarnya. Cuma dia yang dapat menjelaskan apa yang terjadi karena aku yakin sekali jika rumor yang tersebar ini di buat sengaja oleh orang-orang yang tidak menyukai aku dan menyebarkan gosip yang tidak benar tentang diri aku dan cuma pak Hilman yang bisa meluruskan masalah ini tapi aku harus bagaimana untuk bertemu dengan pak Hilman sedangkan aku pasti tidak mungkin bisa kabur. Jangan kan kabur, untuk keluar dari masalah ini saja pasti tidak mungkin. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD