Bab. 1 [Bag. 2 Siapa yang Pantas Tuk Disalahkan?]

2227 Words
Ada satu malam yang membuat aku terjaga-jaga sangking aku tidak bisa aku tertidur. "Papa ...," panggilku dengan suara memelan. Aku bangun dan duduk saja. Iya, duduk dengan kepala menunduk. Kamar aku ini terang. Aku paling takut jika harus tidur dengan lampu yang dimatikan. "Papaaaa," panggil ku sekali lagi. Berharap sekali papa akan datang. Jika aku tidak bisa tidur, tinggal aku panggil papa dan papa pasti bakal langsung datang untuk menemani aku tidur. Sekarang, papa gak ada. Tapi, aku masih gak percaya. Ini semua seperti ilusi saja yang sengaja di buat untuk membuat aku merasa sedih. Papa masih ada di bumi. Masih ada di dunia, masih di bawah langit yang sama tapi tak sekalipun itu, kenapa, sih, papa tidak yang nama nya menghubungi aku. Mendatangi aku atau untuk melihat aku hanya sebentar saja. Aku merindukan papa. Sangat merindukannya. Aku kehilangan sosok papa di dalam hidup aku. Aku kehilangan kasih sayang dari papa. Figur papa itu penting buat aku karena selama ini, aku sangat dekat sama papa. Dan di saat papa sudah tidak ada bersama dengan aku, aku sangat merasa kehilangan. Papa memang melakukan kesalahan yang sangat besar. Papa pergi meninggalkan aku. Aku tidak tahu betul alasan papa pergi meninggalkan aku itu seperti apa sebab aku masih kecil. Aku masih belum terlalu memahami masalah orang dewasa, tapi aku tidak bisa membenci sosok papa di hidup aku. Papa itu udah melekat banget di dalam hati aku. Aku tidak bisa membenci diri nya. Aku baru menyadari jika hujan deras mengguyur bumi di luar sana. Suara petir menyambar keras dan suara nya ada di mana-mana. Aku semakin khawatir keadaan papa di luar sana bagaimana. Apakah aman-aman saja? Apakah papa baik-baik saja? Aku takut jika terjadi apa-apa dengan papa. Baru saja aku membayangkan yang tidak-tidak. Suara petir menyambar begitu kencang sampai membuat aku terperanjat kaget dan belum lagi lampu mati tiba-tiba. Aku spontan berteriak kencang memanggil papa berulang-ulang kali. Terdengar suara adik-adik aku menangis di luar kamar aku. Aku pun juga ikut menangis karena rasa takut ini. Abang datang dengan membawakan lilin yang menyala. "Abang!" seru ku dengan suara terisak-isak karena menangis. Abang menaruh lilin tersebut di atas nakas aku. "Abang!!" Ku peluk Abang di saat Abang mendekat dan memberikan perlindungan kepada aku. "Di mana mama?" tanya aku. "Mama lagi nyusuin adek," jawab Abang sambil menepuk-nepuk punggung aku. Ketika dulu aku sedang merasa takut, papa juga sering memeluk aku. Rasanya beda sekali. Abang memang memberikan perlindungan yang sama juga kepada aku seperti papa tapi tetap rasa nya itu berbeda. Abang memang berusaha menjadi sosok papa untuk aku dan adik-adik aku tapi Abang gak akan bisa menggantikan posisi papa di hari aku. "Abang," panggil ku dengan suara pelan. Abang cuma berdeham saja sebagai jawabannya. Aku sedikit mendengakkan kepala ku. Rupanya Abang tertidur sambil memeluk ku. Matanya meram dan Abang seperti nya masih mengantuk tapi karena mungkin Abang tahu aku takut gelap, Abang datang ke kamar aku. Cuman, ya, sudahlah. Aku tetap mau bicara sama abang. Aku mau tahu keadaan papa, siapa tahu abang tahu gimana kondisi papa sekarang ini. "Abanggggg!!!" rengek ku dengan seraya membangunkan ia. "Hm, iyaaaa, kenapa Laraaaaa???" Abang menekan nada suara nya. Kaget mungkin pasti. Tapi aku tidak peduli. "Aku gak suka di tepuk-tepuk punggung nya," kata ku dengan ekspresi marah. Abang menatap aku bingung. "Nah, kenapa?" tanya Abang. "Soal nya, papa biasa ngusap-ngusap kepala aku, baru aku bisa tertidur," jawab aku setengah jengkel. Abang menghela napas kasar dan berat. "Ya, udah sini," suruh Abang tapi aku menggelengkan kepala aku. Aku melepaskan diri dari pelukan dia. "Nah, kenapa lagi? Katanya mau di usap-usap kepala nya, sekarang malah ngejauh kamu ini. Ays," omel Abang dengan kebingungan juga. "Jangan bikin Abang serba salah Lara," cetus Abang galak. "Abang, aku maunya sama papa aja. Di mana papa? Kenapa papa gak hubungin kita? Kenapa papa gak pulang buat nemuin aku sama adek-adek. Aku kangen papa---" "Stop kamu sebut papa! Papa! Papa! Gak ada guna nya juga kamu omongin dia! Gak bakal ada ngaruh, gak bakal pulang dia itu. Udah pergi dia dan gak bakalan nemuin kita lagi," seru Abang marah. Kata-kata nya tajam dan terdengar sangat menyakiti hati aku. Aku gak terima dengan ucapan Abang yang seperti itu. "Masih aja kamu ngarep-ngarepin dia," sambung Abang marah. Aku juga jadi ikutan marah karena omongan Abang. Abang gak pantes bilang tentang papa seperti itu. "Abang!" panggil ku dengan nada tinggi. Abang lantas berdiri dari tempat nya. "Mau seribu kali kamu panggil-panggil dia, gak bakalan dia pulang. Udah punya keluarga baru dia itu kalo kamu mau tau. Bermimpi lah kamu kalo gak gila ntar, masih aja kamu berharap-harap papa bakal seperti dulu lagi," cecar abang dengan sarkas. Aku lagi-lagi menangis tapi tak di pedulikan sama Abang. Abang kemudian pergi meninggalkan aku dengan hanya lilin sebagai penerangan di kamar ini. Aku tidak menginginkan semua ini terjadi pada hidup aku. Aku tidak mau hidup dengan cara seperti ini. Aku mau keluarga aku yang dulu. Aku mau kehidupan aku yang dulu. Aku mau suasana rumah seperti dulu. Aku mau hidup senang. Aku gak mau hidup serba susah. Aku gak mau hidup tanpa kasih sayang dari papa. Hidup tanpa cinta dan tanpa kehadiran sosok papa. Kenapa, sih, Tuhan memberikan cobaan pada anak seusia aku yang masih sangat muda dan masih sangat membutuhkan sosok papa untuk ada bersama aku. Menemani aku sampai masa-masa pendewasaan aku nanti nya. * Semalaman aku belum tidur-tidur juga sangking aku tidak tahan dengan kegelapan dan hujan masih deras di luar sana. Ini sudah pukul satu malam. Aku seperti mendengar suara mesin jahit yang masih di pakai. Aku hapus air mata aku ini yang sekarang udah mulai mengering di wajah aku. Karena semua yang Abang katakan itu menyakiti hati aku. Akhirnya aku tidak bisa berhenti menangis. Tidak tahan untuk tidak menangis juga. Aku keluar kamar untuk melihat keadaan luar walaupun aku juga sangat takut. Suara mesin jahit sudah tak lagi terdengar. Sungguh, aku membayangkan jika ada hantu di rumah ini karena mama pasti sudah tidur juga dan gak mungkin masih bekerja. Aku berharap nya begitu tapi ternyata tidak demikian. Mama ada di tempat biasa, duduk di depan mesin jahit tapi badan nya membungkuk. Mama tertidur di atas lipatan kedua tangan nya. Pakaian yang mesti di jahit masih ada banyak. Ternyata mama sedang bekerja keras padahal dulu mama tidak pernah yang nama nya bekerja keras. Hidup kami enak tapi sekarang sudah jauh berbanding terbalik. Tidak seperti dulu lagi. Pergi lah aku ke kamar mama buat mengambil selimut untuk menutupi tubuh mama. Cuaca malam ini sangat dingin. Aku tidak mau mama nanti harus jatuh sakit. Ku pakaikan selimut mama di tubuh mama dan aku selipkan rambut mama ke belakang telinga agar wajah mama tidak tertutupi rambut. "Aku sayang sama Mama, jangan capek-capek ya, Mah," pesan aku kepada mama. Seandainya saja aku bisa menjahit, aku pasti akan membantu mama tapi mama tidak memperbolehkan aku untuk bekerja membantu mama. Padahal aku ingin sekali membantu mama walaupun aku tidak suka dengan kehidupan kami yang saat ini. Serba susah. Keesokan hari nya itu, aku memerhatikan mama yang kebingungan karena s**u untuk adik-adik aku sudah habis. Sedangkan hari ini, aku makan cuma pakai telor dadar saja. Mama lupa apa ya kalau aku ini gak suka makan telor dadar? Mama sibuk mengurusi adik-adik aku sedangkan Abang nampak sibuk dengan makanan yang ia makan. Abang memang bisa makan apa adanya tapi aku gak bisa makan yang cuma begini doang. "Mama!" teriak aku. Mama muncul sambil menggendong satu adik aku, Rafa. "Iya, sayang? Ada apa? Kenapa kamu belum makan juga?" tanya mama sambil berusaha mendiamkan Rafa yang sedang menangis kejar. "Mama! Mama lupa apa kalo aku gak suka makan telor dadar! Aku mau makanan yang lain!" protes aku kesal. "Heh! Makan yang ada kamu ini, jangan cari yang gak ada," tukas Abang galak. Aku ngerasa Abang ini nyebelin banget, deh. Kesel aku jadi nya. Dari semalam Abang selalu mengatakan hal-hal yang menyakiti hati aku. Tadi semalem ngomongin papa yang begini dan begitu. Sekarang lagi, Abang ngomong yang buat aku sakit hati lagi. "Aku gak mau! Aku mau makan, makanan yang kayak dulu lagi! Kalo aku gak di kasih makan makanan yang enak, aku gak mau makan seharian ini!!!!" ancam aku dan kemudian aku segera pergi untuk ke sekolah. "Sayang! Kamu makan dulu!!! Kamu mau ujian gak makan gimana bisa mikir!" omel mama tapi aku tidak memedulikan nya karena aku sudah langsung memilih untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Abang ternyata menyusuli aku dengan motor gede dia. "Ayo, kamu naek sekarang juga!" perintah Abang. Aku tidak peduli dengan yang abang suruh pada ku. Aku tetap jalan dengan kepala menunduk dan memegang erat tas yang cangklek di kedua bahu ku. "Lara!!!!" bentak Abang. Aku melotot pada Abang. "Jangan bentak-bentak Laraaaaa!!!!!!" teriak aku kesal. Aku gak suka sekali di bentak-bentak. "Keras kepala banget, sih, kamu jadi anak kecil!" bentak Abang lagi di sebelah aku dengan motor dia. Aku mengembungkan pipi aku dengan mata aku menatap tajam lurus ke depan. Aku berjalan dengan cepat sampai-sampai rambut aku yang dikepang dua bergoyang ke sana ke mari. Biasa nya, yang mengantarkan aku berangkat ke sekolah itu adalah papa. Pakai mobil. Bukan Abang dengan motor dia. Aku gak suka naik motor, karena Abang selalu ngebut kalau mengendarai motor. Bikin aku takut. Papa selalu melarang aku naik motor dengan Abang karena takut aku kenapa-napa. Sering kali, malahan Abang yang sering kena marah sama papa kalau papa bawa aku itu naik motor. Jadi, aku tidak mau naik motor sama Abang. Aku gak lagi merasakan abang ada di sebelah aku dan kalaupun dia tidak mengikuti aku lagi, aku ya tak peduli dan itu lebih bagus daripada aku harus marah-marah seperti tadi lagi. Aku tidak mau menoleh ke kanan atau ke kiri untuk mencari Abang. Aku rasa Abang memang sudah menyerah dan dia pergi untuk berangkat ke kampus. Pikir aku tadi seperti itu. Namun, kenyataan nya adalah Abang tiba-tiba saja menggendong aku dari belakang. Aku cukup kaget. "Abanggggg!!! Turuninnn Laraaaaa!!!" teriak aku sambil memukul-mukul punggung Abang. Aku di taruh di bahu dia dengan seenak nya saja. Lalu, Abang menurunkan aku dan mendudukkan aku di atas jok motor belakang dia. Kemudian Abang naik ke motor dia dan menyalakan motor ini. Aku berpegang erat pada pinggang Abang karena takut jatuh. Tas Abang di taruh nya di bagian depan tubuh dia. "Papa bilang Lara gak boleh naik motor Abanggggg!!!" teriak aku kencang. "Papa kamu udah gak ada sama kita. Gak usah kamu pikirin omongan dia lagi!" balas Abang. Jahat. Dasar jahat! Walau gimanapun papa tidak bersama aku, tetap aku akan terus mengingat apa yang pernah papa katakan pada aku. Apa yang pernah papa larang pada aku. Dan aku bakal melakoni itu semua. Tidak tahu berapa menit perkiraan aku telah sampai di sekolah aku. Aku langsung di bantu Abang turun dari motor dia yang sangat tinggi ini. Aku heran, kenapa orang dewasa sangat menyukai motor yang menyebalkan seperti ini. Apalagi kalau aku pernah melihat pacar Abang datang ke rumah bersama Abang. Dia naik motor ini dan merasa nyaman-nyaman saja. Tapi buat aku, motor seperti ini, sangatlah menakutkan buat aku. Tanpa menyalimi tangan Abang, aku bergegas menuju ke dalam kelas untuk segera mengerjakan ujian. Jam ujian sudah selesai tapi aku rasa, aku tidak mengerjakan ujian nasional aku dengan baik. Tapi ya sudahlah. Aku gak peduli. Aku cuma mau makan saja sekarang. Namun, pikiran aku itu tertuju pada teman-teman aku. Apa, ya, yang teman-teman aku pikirkan ketika tahu orang tua aku itu bercerai. Dulu, mereka sangat mengirikan nasib aku sebagai orang kaya dan kedua orang tua aku terlihat sangat menyayangi aku karena aku selalu cerita pada mereka, setiap apapun yang aku mau pasti di turutin tapi sedangkan mereka tidak bisa mendapatkan hal yang seperti aku dapatkan. Kini, kedua orang tua aku sudah berpisah. Sudah tidak bersama lagi seperti sebelum nya. Aku sempat mendengar sebelum ujian sekolah di mulai, ada yang membicarakan tentang keluarga aku tapi saat ada aku, dengan sengaja aku muncul di hadapan mereka, semua nya lantas pada terdiam. Aku tidak mau banyak bicara dulu. Aku cuekin teman-teman yang memerhatikan aku dan aku fokus pada aktivitas aku saja. Aku tidak tahu dari mana teman-teman aku tahu jika kedua orang tua aku itu bercerai. Sewaktu aku lagi sedang makan siang di jam istirahat dan lebih memilih makan sendirian. Teman-teman sekelas aku itu yang cewek-cewek pada datang ke meja aku. Menyerbu tempat aku dengan membawa bekal-bekal mereka juga sedangkan aku cuma makan roti yang aku beli di kantin saja dan s**u botol coklat. "Ceritain dong Ra, kenapa kok orang tua kamu pisah?" "Terus kamu tinggal sama siapa Ra? Kata Yuris kamu tinggal sama mama kamu, ya?" "Terus papa kamu tinggal di mana?" Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang aku dapatkan dari teman-teman aku. Ini sangat membuat aku kesal. "Kalian tau dari mana mama dan papa aku berpisah?" tanya aku lantang dengan suara yang keras dan penuh dengan amarah. "Kan, kamu tetanggaan sama Yuris," sahut salah satu teman aku. Aku memanyunkan bibir aku dan memandang Yuris dengan pandangan tidak suka. Aku benci dia! Kenapa juga dia harus cerita-cerita kalau kedua orang tua aku sudah berpisah dan tidak lagi tinggal satu rumah? Tetangga-tetangga banyak yang membicarakan tentang keluarga aku karena mama dan papa bercerai dan banyak yang membicarakan tentang hal buruk pada papa aku dan sekarang di sekolah aku mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang kepo banget. Yang seperti mereka haus dengan jawaban aku. Ingin tahu sekali dengan apa yang terjadi dengan diri aku. Mereka tidak bersimpati pada aku tapi hanya mau tahu dengan masalah yang ada di dalam keluarga aku saja. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD