Part 7

1219 Words
"Bagaimana keadaanya dokter?" tanya Anggun saat dokter selesai memeriksa, saat Rania pingsan Anggun menyuruh Adipati untuk segera membawa ke klinik terdekat. "Tidak apa-apa ibu dan bayinya sehat, hanya kecapaian saja dan si ibu yang mulai mengalami morning sickness, jangan terlalu kelelahan dan banyak pikiran" ujar sang dokter yang diangguki Anggun sambil mengucap syukur "Dia hamil dokter?" tanya Adipati membuat Anggun menoleh "Iya pak maaf sebelumnya bapak suaminya?" tanya dokter Sarah "Iya" jawab Adipati singkat "Saya perkirakan mungkin usia kehamilannya jalan 4 minggu pak, saya sarankan segera diperiksa ke dokter kandungan, memeriksa lebih lanjut kondisi ibu dan janin." Dokter pamit keluar ruangan setelah Adipati mengucap terima kasih, Adipati tak tahu harus bagaimana, istrinya hamil? tak mungkin rasanya namun siapa lagi yang menghamilinya kalau bukan ia sendiri Anggun menghampiri brangkar Rania memegang tangan Rania, ia ikut senang dengan kehamilan Rania "Rania" panggil Anggun pelan saat Rania mengerjapkan matanya, Rania menatap Anggun lalu memaksakan tersenyum "Minum dulu Ran" ujar Anggun membantu memberikan Rania gelas berisi air putih "Makasih" Rania terdiam kepalanya masih sedikit sakit, Rania mengingat kembali kejadian tadi saat ingin kembali ke meja makan pusing menderanya tiba-tiba dan yang masih Rania ingat dengan jelas adalah perkataan suaminya "Kenapa kamu begitu perhatian pada Rania Nggun? dia yang membuat kita tak bisa bersatu, gara-gara dia kita tak bisa menikah, dia orangnya Anggun" "Cukup mas, dia yang kamu sebut adalah sahabat saya, dan dia istri kamu, jangan bicara yang an.... Dan setelah mendengar itu Rania tak ingat apa-apa dan kini ia terbangun dengan cairan infus ditangannya "Rania kamu gapapa kan? Atau masih pusing? Aku panggilkan dokter ya" ujar Anggun yang ingin keluar ruangan namun ditahan Rania "Aku gapapa Nggun" ucap Rania tersenyum kecil "Oke kalau gitu kamu istirahat dulu ya, aku pamit pulang dulu Rania, jaga baik-baik diri kamu" pamit Anggun "Makasih Anggun, kamu hati-hati ya." Selepas Anggun keluar, ruangan menjadi hening Adipati menghampiri istrinya yang masih terbaring lemah "Kamu istirahatlah, saya keluar dulu" ujar Adipati baru saja Adipati melangkahkan kakinya, Rania memegang tangan suaminya "Mau kemana mas?" "Saya mau ke kantor Rania" "Bukan untuk mengejar Anggun kan mas?" tanya Rania membuat Adipati sedikit menegang lalu menatap lekat istrinya yang terlihat pucat "Maksud kamu apa? Saya mau berangkat ke kantor ada meeting" ujar Adipati dengan nada suara yang agak meninggi (istilahnya ngegas wkwk) "Mas ga bohong kan, sebenarnya ada hubungan apa mas sama Anggun? Tadi pagi aku mendengar pembicaraan kalian, mas bukan hanya kenal sama Anggun kan?" tanya Rania penuh selidik, ia tak tuli ia dengar dengan jelas pembicaraan suaminya dan sekarang ia ingin mendengar langsung dari suaminya jika memang itu benar Rania benar-benar merasa menjadi perusak hubungan orang "Kamu mau tahu yang sebenarnya Rania?" Rania mengangguk namun perasaannya resah takut hatinya menolak kebenarannya "Baiklah saya akan jujur, Anggun itu mantan calon istri saya, sehari sebelum menikah dengan kamu saya melamar Anggun dan karena kamu saya gagal menikah dengan Anggun" ucap Adipati oelan namun begitu menusuk ke hati Rania "Jaddii jadii kamu sudah punya calon mas sebelum nikah sama aku? Kenapa kamu tidak bilang mas?" "Bagaimana caranya saya bilang Rania? Saya pulang disambut dengan hal yang tak pernah saya duga, dan itu semua karena kamu, kamu yang memasuki hati mama saya untuk langsung menikahkan kamu" Tes air mata Rania turun begitu saja, ia tak menyangka pernikahan yang disiapkan mama mertuanya waktu lalu tidak diketahui suaminya "Sudahlah jangan menangis, jaga diri kamu" ujar Adipati hendak pergi namun ia kembali menengok saat mendengar ucapan Rania "Terus apakah mas akan menceraikan aku?" "Menceraikan bagaimana? Sekarang kamu hamil Rania, dan resepsi pernikahan tinggal menghitung hari, sudahlah jangan memikirkan yang tidak-tidak" "Akkku hamill? Aku hamil mas?" "Iya" Rania mengelus perutnya mengucap syukur karena akhirnya ia hamil "Tapi mas akan tetap menceraikan aku kan? Mas akan tinggalin Rania dengan anak kita kan, Rania dengar semua omongan mas saat dihotel, mas..." "Diam Rania! sebaiknya kamu istirahat jangan memikirkan hal yang tak perlu kamu pikirkan" ucap Adipati membuat Rania terdiam lalu kembali menatap suaminya yang masih berdiri didekat brangkarnya "Lebih baik ceraikan aku sekarang mas, daripada nanti toh sama saja bukan" ucap Rania penuh penegasan "Kamu jangan gila Rania, saya pergi, jagalah diri dan anakmu baik-baik" ujar Adipati lalu keluar kamar meninggalkan Rania yang terdiam di brangkarnya "Ya Allah Rania harus apa? Dede kuat ya diperut mama, mama akan berusaha sekuat tenaga untuk mencairkan hati papamu tapi bagaimana dengan hati tante Anggun? Kenapa aku baru tahu semua ini?" tanya Rania pada dirinya sendiri ***** Rania sudah kembali kerumah, ibu mertua lah yang menjemputnya, Hartati tak henti-hentinya mengucap syukur karena akhirnya Rania hamil, saat perjalanan pulang Rania terlihat murung membuat Hartati penasaran apa yang dipikirkan sang menantu "Kamu lagi pikirin apa sayang? Dari tadi mama lihat melamun terus" "Eh gapapa mah, maaf ya Rania melamun Rania hanya kepikiran sesuatu hehe" ucap Rania sambil tertawa kecil "Yasudah tidak apa kalau kamu belum mau cerita, tapi ingat ya kata dokter kamu jangan banyak pikiran kasian bayi kamu" Rania mengangguk Malam ini Hartati menginap dirumah anaknya menemani sang menantu karena Adipati izin pulang malam menyelesaikan pekerjaan karena besok sudah mulai cuti bekerja "Kamu harus makan yang banyak Rania, minum s**u dan vitamin agar hari sabtu besok kamu kuat saat resepsi" ucap Hartati, saat ini mereka sedang menikmati makan malam berdua "Iya mah, makasih ya mah sudah menemani Rania" "Gausah berterima kasih Rania, mama senang, malah mama masih berharap kalian tinggal dirumah mama lho" "Hehe iya mah" **** Rania membolak balikan badannya tidak bisa tidur, jam menunjukkan pukul 1 malam namun seperti ada sesuatu yang membuat Rania gelisah, suaminya ya jam segini suaminya belum pulang membuat Rania kepikiran, apakah suaminya marah dan tidak pulang? Seumur pernikahannya semarah-marahnya Adipati tidak pernah tidak pulang Ceklek pintu terbuka, seseorang masuk ke kamar lalu menyalakan lampu "Kenapa belum tidur?" tanya Adipati saat matanya mendapatkan istrinya terduduk diranjang menatapnya "Mas kenapa pulang malam? Mas dari mana? Mas marah sama Rania? Mas.." "Aduh bawel banget si kamu Rania, saya pulang dari kantor memang dari mana lagi" ucap Adipati sambil membuka kemejanya, lelah hari ini lelah tubuh dan pikiran "Mas jangan tinggalin Rania" ucap Rania dengan nada kesedihan, Adipati tak memerdulikan ucapan Rania, Ia melangkah ke arah kamar mandi "Mas Rania sayang sama mas Adipati, Rania cinta sama mas, jangan tinggalin Rania mas" ucap Rania memeluk suaminya dari belakang membuat Adipati tak bisa berkutik sedikit pun, ini pertama kalinya istrinya berani berbicara hati dan memeluknya erat seperti ini "Istirahatlah Rania sepertinya kamu terlalu lelah" ucap Adipati mencoba melepaskan pelukan Rania namun tak bisa karena Rania memeluknya sangat erat, Adipati membiarkannya tanpa sengaja mengelus tangan sang istri lembut hingga beberapa menit kemudian suara tangis yang ia dengar hilang begitu saja, ya Rania menangis bahkan Adipati merasakan air mata Rania yang menempel dipunggungnya. Adipati menengok, Rania tertidur dengan segera ia membalikan tubuh pelan-pelan lalu menggendong sang istri dan menidurkan diranjang secara perlahan. Adipati menatap wajah Rania yang penuh dengan air mata, Adipati mengelap air mata Rania dengan jempol tangannya pelan lalu menyelimuti sang istri, memastikan sang istri sudah tertidur pulas, ia tahu sang istri jika sudah kecapean pasti akan terlelap pulas dengan cepat. "Maafkan saya Rania, maafkan saya kamu pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari saya Rania" Adipati berjongkok menatap perut datar Rania "Maafkan papa de, maafkan papamu yang mengecewakan hati mamamu, papa harap kalian bisa hidup lebih bahagia nantinya" ucap Adipati mengecup perut sang istri pelan, Adipati keluar kamar meninggalakan Rania yang tertidur pulas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD