7. Korbankan Yemi Demi Pertemanan

997 Words
Di Toilet wanita, masih ada dua murid yang sengaja mengulur waktu pulang lebih lama karena harus menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa ditunda. Tzuyu meremas rambut Bian yang sedang mencumbu lehernya. Sebagian kancing seragam Sekolah gadis itu sudah terbuka. Aroma khas yang dimiliki gadis itu membuat Bian buta. Dia ingin menuntaskannya hari ini. Kelakuan mereka sudah melebihi batas tanpa status. Tapi sepertinya mereka sama-sama suka. Hanya belum yakin untuk mengatakannya. Mereka lebih mengutamakan nafsu. Karena perasaan itu hanya numpang lewat. Apalagi Bian, dia tidak yakin bisa mencintai satu gadis saja dalam hidupnya. Permainan Tzuyu tidak bisa dianggap remeh. Gadis itu cukup agresif fikir Bian. Hingga Bian menyukainya. Tzuyu membuka kancing seragam milik Bian, tapi pria itu mencegahnya. "Sabar dulu, sayang." Tzuyu menampakkan reaksi kecewa, sudah tidak sabar. "Kenapa?" Sebelum menjawab Bian melumat bibirnya lagi. "Aku harus menerima ini dulu," ucapnya sambil merogoh ponsel yang sejak tadi bergetar di saku celana. Alex menelepon. Dianggap tidak begitu penting jadi Bian mengabaikan panggilan tersebut. Saat dia sedang bermain di sekitar belahan d**a Tzuyu, ponselnya lagi-lagi bergetar. Bian jadi tidak bisa fokus jika ada yang mengusik. Itu sebebnya dia merutuki Alex. "Ada apa?" Nada bicara Bian terdengar kesal. "Ke Galaxy Cafe sekarang ya. Aku punya kejutan buat kamu." "Apa harus sekarang?" "Iya, sekarang. Ini penting." Obrolan berakhir. "Kamu mau pergi lagi, ya?" tanya Tzuyu dengan reaksi tidak bersemangat. Bian menggaruk hidungnya dengan telunjuk. "Iya." Dia cukup berat mengatakannya. Terdengar helaan nafas menyebalkan dari Tzuyu. Selalu saja ada pengganggu. Gadis itu memperbaiki penampilannya dengan perasaan jengkel. "Hei hei hei." Bian menahan kedua bahu gadis itu yang sekarang lagi cemberut. Tangannya berpindah menangkup wajah cantiknya. "Aku akan ke rumahmu setelah urusanku selesai." "Janji?" "Iya. Janji." Mereka berciuman lagi sebelum akhirnya berpisah. Di lain tempat. Sekarang ini Alex sedang mendapat kesulitan dalam menenangkan Yemi yang tidak berhenti menangis sampai sesenggukan. Alex mengincar Yemi karena dia masih penasaran dengan gadis itu. Dan ketika dia melihat Yemi sendirian di lorong koridor Sekolah, Alex pikir itu adalah kesempatan emas. Gadis itu sudah berusaha melawan ingin kabur hingga kelelahan berhadapan dengan Alex yang lebih kuat, dan sekarang berakhir menangis saja. Walau dia belum tahu apa yang akan terjadi, tapi dia yakin pria ini akan melakukan hal buruk padanya. Karena siapa pun yang berteman dengan Bian, dia sudah pasti bad boy. "Tolong biarkan aku pergi... Aku mau pulang..." Suara Yemi hampir terdengar tidak jelas karena isak tangisnya. Dia takut pada Alex karena belum terlalu mengenalnya. Apalagi wajahnya terlihat menakutkan. "Kamu jangan munafik, Yemi. Semua orang tahu kelakuanmu dengan Bian di ruang UKS." "Itu hanya kecelakaan! Aku berani bersumpah." "Oke. Jadi anggap saja ini juga kecelakaan. Nanti kamu juga akan terbiasa denganku seperti Bian. Iya, kan?" Tangisan Yemi malah semakin menjadi-jadi. "Berengsek! Masa iya aku harus pukul dia." "Jangan kasar-kasar, Alex. Kasihan anak orang." Itu suara Vino yang juga ada di ruangan. Dia sedang fokus pada kameranya yang siap merekam aksi keji mereka sebagai keloksi pribadi. "Kita tunggu Bian saja. Kan cuma dia yang bisa menghentikan tangisannya." "Kenapa Bian lama banget, sih?" Saat itu juga Bian muncul. Dia sempat mengeluh karena Alex yang telah merusak kesenangannya. "Kejutan apa, sih?" Yemi berhenti menangis saat mendengar suara Bian. Entah dia sangat menaruh harapan pria itu adalah penyelamatnya walau tidak mungkin. Karena ketuanya di sini adalah dia. Bian menunjuk Yemi, lalu menatap Alex dan Vino bergantian. Terkejut. Tatapannya berhenti pada Alex. Dia menginginkan penjelasan. "Kenapa dia di sini?" "Apalagi? Kita lanjutkan kesepakatan kita yang gagal kemarin. Vino sudah siap dengan kameranya. Ini akan menjadi rekaman terbaik." Bian terlihat protes. "Bukannya kemarin sudah ada penggantinya?" "Lalu? Apa masalahnya jika kita melakukannya lagi dengan Yemi?" Baekhyun tidak tahu kenapa ada perasaan tidak rela. Sementara di sana Yemi bertanya-tanya. Kesepakatan apa yang sedang mereka bicarakan? "Ayolah, Bian. Threesome kali ini akan lebih seru dari yang sudah-sudah. Mumpung kita semua di sini." Yemi langsung gemetaran saat mendengar kata Threesome. "Ap-apa? Apa maksud kalian? Apa kalian sudah tidak waras?! Kalian semua sakit jiwa, ya?! Aku bukan hewan, berengsek!" Tidak ada yang menggubris gadis itu kecuali Bian walau hanya melalui tatapan. "Aku tidak setuju, Alex" "Hei, kenapa begitu, Bian?" "Aku sudah tidak menginginkan dia lagi." "Bagus kalau begitu. Biar aku dan Vino saja yang bermain. Kamu yang merekam. Bagaimana?" "Tidak bisa." "Tidak bisa apanya?" "Alex, kenapa kamu begitu menginginkan Yemi dalam hal ini?" "Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu? Kamu mabuk, ya?" "Aku serius, Alex." "Aku juga serius ingin tahu, ada apa denganmu? Kenapa bersikap seolah-olah ingin melindunginya? Apa kamu punya perasaan khusus padanya?" "Bukan begitu." Bian mengelak. Berusaha bersikap santai tapi malah sebaliknya. Dia kelihatan gugup hingga merasakan sentuhan di pundaknya. "Dia hanya seorang Haruna Yemi. Seseorang yang tidak penting. Artinya siapa saja bisa melalukan hal bebas padanya. Aku tanya sekali lagi, kamu ikut atau tidak? Kalau tidak. Biar aku saja yang melakukannya dengan Vino. Kalau kamu tidak mau, cukup pergi dari sini, itupun kalau kamu menganggap kita masih satu tim." Di sana Yemi menggeleng memohon pada Bian agar tidak meninggalkannya. Tiba-tiba saja Bian merasa tidak mengenal jati dirinya yang asli. Kenapa dia harus peduli? Gadis itu bukan siapa-siapa baginya. Dia tidak lebih dari pelampiasan nafsu. "Teraseran. Lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Pokoknya aku tidak mau berada di sini." "Baiklah. Kamu sudah menentukan. Pergilah." Alex merekahkan senyuman betapa dia senang Bian memihaknya. "Aku pergi dulu." "Bian jangan pergi!" Bian berhenti saat mendengar gadis itu berteriak dengan suara seraknya. Dia berbalik sekedar ingin tahu situasi, dan mendapati Yemi sedang ditahan oleh Alex. Gadis itu meraung-raung minta dilepas. Mungkin jika Bian bersamanya, setidaknya dia tidak merasa ketakutan begini. Alex atupun Vino sangat asing baginya. Dia takut dengan mereka. "Aku tidak mau! Kalian tidak bisa melakukan ini padaku! Bian, kumohon tolong hentikan mereka!" Siapa kamu? Kenapa aku harus melakukannya? Bian sedang melawan sisi lain dari dalam dirinya yang tidak dia kenal. Sesuatu yang ingin mencuci otaknya. Sesuatu yang ingin mengembalikan jati dirinya pada sebelumnya. Tentu saja dia akan memilih kawan-kawannya. Siapa Haruna Yemi baginya? Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya pelampiasan. Bian yang tidak peduli. Kini membiarkan Yemi 'dihabisi' kawanannya sendiri.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD