Delapan tahun yang lalu....
Suasana di sebuah kafe tampak begitu tegang saat Revina duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan akan berbicara empat mata dengannya. Revina bahkan kaget saat dirinya tiba-tiba dihubungi lalu diminta untuk datang ke kafe ini. Jujur, ia sangat gugup.
“Tante....”
“Saya bukan tante kamu!”
Revina mengembuskan napas pelan, berusaha tetap terlihat tenang dan tidak terintimidasi sama sekali.
“Kalau begitu, maaf Ibu....”
“Saya juga bukan ibu kamu. Jadi, panggil saya nyonya. Nyonya Weny.”
Kali ini Revina tersenyum. “Baik, Nyonya Weny. Sebelumnya maaf, aku beneran nggak pernah menduga akan bertemu orangtua Tristan dengan cara begini. Cuma yang pasti ... aku nggak paham dengan maksud Nyonya barusan.”
“Jauhi anak saya. Sebagai gantinya ... akan saya berikan uang tunai seratus juta untuk kamu. Saya rasa itu cukup.”
Revina pikir adegan seperti ini hanya ada di sinetron, tapi ternyata dirinya mengalami sendiri.
“Maaf, Nyonya—”
“Tidak ada negosiasi. Jangan minta lebih, segini saya sudah bermurah hati. Seratus juta seharusnya lebih dari cukup untuk membayar tubuhmu yang pernah Tristan sentuh selagi kalian menjalin hubungan.”
Ucapan Weny sangat menusuk hati Revina. Matanya terasa panas dan ingin menangis, tapi berusaha Revina tahan.
Weny kembali berbicara, “Tristan sudah dijodohkan dan pernikahannya akan dilangsungkan bulan depan. Jadi, menjauhlah. Jangan merusak takdir indah anak saya.”
Deg.
Revina terkejut.
Kenapa Tristan tidak pernah bilang kalau dijodohkan? Bahkan, menikah bulan depan?
“Hari ini mungkin Tristan akan datang menemuimu. Pada saat itu ... kamu harus memutuskan hubungan kalian. Biarkan Tristan menikahi wanita bermartabat yang lebih pantas untuk bersanding dengannya. Wanita yang setara dan sepadan dengannya, bukan wanita rendahan seperti kamu.”
***
Malam harinya....
Tristan benar-benar datang menemui Revina. Pria itu mengemudikan mobil untuk menjemput sang kekasihnya lalu membawanya berkeliling kota menikmati suasana malam yang indah. Mereka sempat makan malam lalu Tristan mengajak Revina mampir ke apartemennya.
Ini bukan hal baru karena setiap mereka bertemu, Revina memang selalu diajak jalan-jalan oleh pacarnya itu. Bedanya ... Revina pikir ini adalah terakhir kalinya mereka bersama. Jadi, Revina akan menikmati kebersamaannya dengan Tristan sebelum mereka benar-benar berpisah.
“Kenapa nggak bilang kalau kamu dijodohkan? Kenapa nggak jujur kalau bulan depan kamu menikah dengan perempuan pilihan orangtuamu?” Revina bertanya dengan suara yang bergetar.
“Rencananya, aku mau ngajak kamu kawin lari.”
“Apa? Kawin lari?”
Tristan mengangguk-angguk. “Kamu mau, kan, kawin lari sama aku? Pernikahan yang orangtuaku atur rencananya berlangsung bulan depan, jadi kita masih punya waktu.”
“Tristan, aku baru aja diterima kerja. Dan kawin lari nggak semudah itu bagiku. Lagian kamu tahu sendiri aku ini satu-satunya harapan keluargaku. Aku tulang punggung dan entah se-kecewa apa orangtuaku kalau aku mengambil jalan gila itu.”
Selain itu, orangtua Tristan sempat mengancam Revina bahwa mereka tidak akan segan mencelakakan Revina dan orangtuanya andai ia tidak menurut.
“Aku akan menghidupi orangtua kamu, Rev. Aku nggak akan sungkan mengirimkan uang setiap bulan untuk mereka.”
“Jangan gila.”
“Aku akan lebih gila kalau harus menikahi perempuan lain, Rev. Kamu tahu sendiri.”
Tanpa dijelaskan pun Revina tahu betul se-bucin apa Tristan terhadapnya. Namun, masalahnya adalah mereka berada di posisi yang sulit untuk bersatu. Tembok yang menghalangi cinta mereka terlalu tinggi. Seharusnya Revina sadar ini sejak awal sehingga tidak pernah menerima Tristan menjadi kekasihnya. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Sekarang waktunya Revina bangun dari mimpi indahnya.
“Tristan—”
“Bisakah kita bahas itu lain kali aja? Aku kangen banget sama kamu, Sayang.”
Setelah itu, Revina hanya memejamkan mata tepat saat Tristan mencium bibirnya. Ciuman yang penuh perasaan, sangat detail tapi pelan dan hati-hati. Ciuman yang semakin hot, membangkitkan hasrat yang membuat mereka sama-sama terbuai.
Sungguh, niat awalnya Revina dan Tristan hanya ingin berciuman, seperti yang selama ini hampir selalu mereka lakukan saat bertemu. Namun, entah siapa yang memulai ... yang pasti keduanya menggiring satu sama lain ke arah ranjang di kamar Tristan.
Ciuman masih berlanjut saat posisi mereka berbaring—Tristan menindih tubuh Revina. Ciuman hot yang semakin menggila karena saat ini tangan Tristan refleks mulai membuka satu per satu kancing kemeja Revina.
Revina sempat menahan tangan pacarnya, tapi dorongan hasrat yang menggebu membuat wanita itu pada akhirnya membiarkan kemejanya dilemparkan begitu saja ke lantai. Tak hanya kemeja, Tristan melucuti segala yang melekat pada tubuh Revina juga dirinya.
“Ahhh...,” desah Revina yang lolos secara spontan.
Sentuhan demi sentuhan yang Tristan lakukan, berhasil membuat Revina dimabuk kepayang. Sentuhan yang sebenarnya bukan pertama kalinya. Ya, mereka bukan pasangan suci yang tak pernah melakukan kontak fisik atau mesra-mesraan. Mereka sering tapi selalu ada batasan yang wajar. Jadi bisa dibilang ini pertama kalinya mereka melakukan yang lebih jauh. Sangat jauh. Terlalu jauh.
“Tristan....”
“Tenanglah, aku akan melakukannya dengan hati-hati. Kamu nggak keberatan, kan?”
Revina dilema. Di satu sisi ia sadar kalau mereka tak seharusnya melakukan yang melampaui batas begini, tapi di sisi lain ... wanita itu sudah telanjur terbakar gairahnya. Rasanya, Revina tak bisa menahan diri lagi.
Detik berikutnya, Revina memberikan anggukan sebagai tanda persetujuan untuk sang pacar menyentuhnya lebih jauh. Kini, terlambat bagi Revina jika ingin berubah pikiran karena Tristan sudah berupaya melakukan penyatuan yang membuat wanita itu sedikit meringis menahan sakit.
Tristan yang sempat susah payah menerobos sesuatu yang menjadi penghalang di antara mereka, sampai pada akhirnya di usia Revina yang masih terlampau muda yakni baru menginjak 21 tahun, ia resmi menyerahkan diri sepenuhnya pada Tristan yang sangat ia cintai. Tristan yang mau tidak mau terpaksa Revina tinggalkan karena mereka harus berpisah.
Perpisahan macam apa ini?
Seharusnya Revina mengakhiri hubungan mereka dengan cara baik-baik lalu pergi dari hidup pria itu serta tak boleh muncul lagi sesuai kesepakatannya dengan Weny. Tapi kenapa Revina malah memilih perpisahan dengan cara seperti ini? Ia bahkan merelakan keperawanannya direnggut.
Namun, tahukah apa yang lebih konyol? Revina tidak menyesal sama sekali. Ia masih menahan rasa perih di bagian bawah tubuhnya saat kabur meninggalkan Tristan yang terlelap. Setelah itu, Revina mengganti nomornya dan pindah kosan. Ia melakukan berbagai cara untuk melepaskan diri dari Tristan sekalipun cinta mereka sangat dalam.
___________
Revina tersadar dari lamunannya. Bisa-bisanya ia teringat kejadian delapan tahun yang lalu. Jujur, Revina sangat gemetar saat berjabat tangan dengan Tristan. Ya, tadi mereka seolah-olah baru berkenalan. Rasanya terlalu canggung jika mengaku pada Hans kalau ia dan Tristan pernah saling mengenal bahkan menjalin hubungan.
Setelah perkenalan yang canggung, keluarga Hans memutuskan mengajak Revina duduk di samping rumah yang sejuk pada menjelang sore begini. Hans sedang keluar sebentar untuk membeli makanan dan minuman untuk mereka nikmati bersama.
Revina kecil ikut dengan Hans, sedangkan Revina tidak ikut karena orangtua Hans mengajaknya panen mangga bersama. Ah, lebih tepatnya Revina dan Karmila hanya menjadi penonton karena Tristan dan Wijaya-lah yang bertugas memetik mangga matang langsung dari pohonnya.
Karmila sempat meminta ART mengambilkan tikar tambahan di gudang, tapi Revina tanpa ragu menawarkan diri agar ia saja yang mengambil tikarnya. Meskipun Karmila sempat tidak setuju, tapi pada akhirnya ia mengizinkan calon menantunya itu yang mengambil tikarnya.
Itu sebabnya di sinilah Revina sekarang. Ia memang sengaja menawarkan diri untuk mengambil tikarnya karena merasa butuh waktu dan tempat untuk menyendiri agar bisa menenangkan pikirannya.
Sejak tadi jantungnya pun berdetak sangat cepat, terutama saat beberapa kali ia menyadari kalau Tristan mencuri pandang ke arahnya selagi memetik mangga. Hal yang membuat Revina semakin yakin untuk menghindar dulu.
“Revina....”
Suara familier itu membuat detak jantung Revina semakin kencang.
Revina yakin itu suara Tristan. Masalahnya adalah ... kenapa pria itu nekat sekali mengikutinya sampai ke sini? Padahal Revina sengaja mencari tempat untuk menyendiri dan menenangkan diri, boro-boro mendapatkan rasa tenang, Revina malah semakin ketar-ketir.
Sampai detik ini, sungguh Revina tidak pernah menduga akan bertemu lagi dengan Tristan, terlebih dalam situasi seperti ini.
Revina tidak menjawab, tapi tangannya gemetar saat langkah Tristan terasa semakin mendekat. Revina sama sekali tidak kepikiran untuk memutar tubuhnya atau berhadapan dengan pria itu. Dan tanpa diduga ... tiba-tiba Revina malah merasakan sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Pelukan yang sangat erat, membuat tubuh Revina menegang.
“Setelah delapan tahun, akhirnya kita bertemu lagi di tempat nggak terduga seperti ini,” ucap Tristan setengah berbisik, masih sambil memeluk Revina.
Apa Tristan gila? Revina memang mantan pacarnya, tapi sekarang wanita itu adalah pacar keponakannya!
Oh tidak, apa-apaan ini?