"Kakak, tolong aku," mohon Rani yang sudah lelah memberontak.
Via hanya diam, kini ia benar-benar merasa bingung. Haruskah ia membiarkan Rani pergi bersama pria itu? atau dirinya saja yang harus ikut bersama pria yang sama sekali tidak ia kenali?
"Via ibu mohon, ikutlah dengannya. Apa kau tidak kasihan melihat adikmu?" Via kembali menatap Rani yang masih saja terus menangis.
"Kakak..."
"Jika kau tidak ingin menggantikan posisi Rani, aku bersumpah akan membakarmu hidup-hidup," bisik Ratih kepada Via.
Via diam, gadis itu melirik Ratih yang tengah menatapnya dengan tajam. Mau tidak mau Via harus mau menuruti kemauan ibunya.
Gadis itu menghela nafasnya, setelah lama berfikir ia pun kembali menatap Vino. "Tolong lepaskan adikku, aku yang akan ikut denganmu."
Vino melirik dua pengawal yang menahan lengan Rani, pria itu mengangguk sekali untuk memberi kode. Setelah melepas Rani, kini dua pengawal itu berganti menahan lengan Via. Sedangkan Rani, gadis itu langsung berlari untuk memeluk Ratih. Pelukan yang sama sekali belum pernah Via rasakan.
"Aku akan membawa putrimu pergi. Jika kau ingin dia kembali, suruh Riki untuk menemuiku," ucap Vino
"Baik tuan," balas Ratih.
"Bawa dia ke mobil"
"Baik tuan." Mereka pun membawa Via untuk masuk ke dalam mobil bersama Vino. Sebelum mobil itu pergi, Via menyempatkan diri untuk menatap Ibu dan juga adiknya. Tidak ada raut sedih di wajah mereka, bahkan mereka sudah masuk ke dalam rumah sebelum mobil pergi dari pekarangan rumahnya. Via semakin yakin jika mereka tidak akan pernah mau untuk menjemputnya pulang.
huhft... gadis itu menghela nafasnya.
Di sepanjang perjalan Via hanya banyak diam, gadis itu tengah memikirkan hidupnya. Bagaimana kedepannya ia menjalani hidup bersama pria di sampingnya. Sedangkan Bara, pria itu hanya diam bagaikan patung, bahkan Via di buat bosan melihatnya.
"Hey tuan, apakah kau seorang rentenir?" tanya Via kepada Vino. Ada kesamaan nama ternyata ya Via dan Vino haha. Sama sama dari V
Tidak ada jawaban dari mulut Vino. pria itu tetap diam tanpa mau menjawab pertanyaan Via yang baginya sangat tidak penting.
"Hey tuan, apakah bos mu itu sedang di kutuk menjadi batu?" tanya Via yang mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menatap Galan yang duduk di depan, samping pengemudi.
"T-tidak nona," jawab Galan yang terkejut.
"Lalu, kenapa dia hanya diam saja?"
"Aku tidak tahu nona," ucap Galan sambil melirik Vino lewat kaca spion dalam mobil.
"Ya sudah, kalau begitu kau saja yang menjawabnya."
"Apa nona?" tanya Galan
"Apa bos mu seorang rentenir?" tanya Via, mengulang pertanyaan tadi.
"T-tidak nona," jawab Galan sambil menahan tawanya.
"Tapi-"
"Berhenti berbicara atau aku akan menembak mu!"
"Yak! siapa itu yang berbicara? apakah itu suara bos mu?" Galan mengangguk dua kali.
Via menoleh ke belakang, menatap Vino yang tengah memegang pistol di tangannya.
"Kau berbicara kepadaku? ah, ku fikir kau akan menjadi patung selamanya tuan," gurau Via
"Bisakah kau diam?"
"Tuan, siapa nama mu?" tanya Via kepada Galan.
"Galandito nona, kau bisa memanggilku Galan," jawab Galan sambil melirik Via dari kaca spion mobil dalam.
"Galan, apakah bos mu sedang PMS? kenapa dia sensi sekali"
"Sekali lagi kau berbicara, akan ku perkosa kau di sini," ancam Vino yang membuat tubuh Via tersentak.
Gadis itu pun kembali menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil dengan bibir yang terus berceloteh tanpa suara.
"Galan..."
"Iya nona?"
"Apakah kita masih lama lagi?"
"Sebentar lagi kita akan sampai nona"
"Galan..."
"Apa kau tidak mendengar ucapanku? kenapa kau ini sangat berisik sekali," ucap Vino yang merasa kesal kepada gadis itu.
"Ya sudah, potong saja telingamu."
"Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku? apa kau ingin mati sekarang?"
"Aku lapar," ucap Via dengan lesu.
"Tuan Galan, apakah kau menyimpan makanan ringan di mobil ini?" tanya Via.
"Sebentar nona." Galan pun mulai mencari makanan di bagian dashboard mobil, dan ia menemukan biskuit yang minggu lalu ia beli.
"Ada biskuit nona, hanya saja biskuit ini aku beli seminggu yang lalu," ucap Galan.
"Tidak apa-apa. Apa aku boleh memintanya sedikit?"
"Tentu saja nona." Galan pun memberikan biskuit itu kepada Via , yang setelahnya gadis itu mulai memakanya.
"Apa kau mau juga Galan?"
"Tidak nona, kau saja yang memakannya," tolak Galan.
Vino yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua hanya mendenggus kesal. Bisa-bisanya mereka melupakan dirinya.
"Apa kau tidak bisa lebih pelan-pelan untuk memakan biskuit itu?" tanya Vino yang tengah menatap Via. "Seperti tidak pernah makan saja," lanjutnya.
"Aku memang belum makan dari kemarin sore," balas Via
Vino hanya diam, pria itu tampak berfikir sebentar sebelum akhirnya menyenderkan kembali tubuhnya ke kursi mobil.
"Apa kau mau?" tanya Via yang menawarkan biskuit itu kepada Vino.
"Aku tidak sudi memakan makanan basi seperti itu," jawab Vino.
Gadis itu menautkan alisnya. "Apakah biskuit ini sudah basi? ku rasa tidak, rasanya pun masih enak"
"Tuan, ku rasa kau harus mencobanya, biskuit basi ini sangat enak sekali."
"Dasar gadis aneh!"