BUNGA

1013 Words
"Kau kembali ke rumah mantan tunangan?" Yumi merasa bosan setelah sarapan terlambat dan sedikit bantu tukang kebun, tapi dia tidak melakukan banyak kegiatan, hanya bantu memindahkan bunga yang dipetik ke meja tama. Setelah selesai, tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali melihat kepala pelayan dan tukang kebun berdebat mengenai bunga yang akan diletakkan ke ruang kerja. Akhirnya Yumi hanya menonton dan menghubungi Vio. "Terpaksa." "Bagaimana bisa jadi terpaksa? Seharusnya kau tolak mereka dan..." "Masalahnya aku tidak punya uang banyak, yang aku hadapi juga orang kaya." Yumi tidak berani cerita alasan sebenarnya supaya Vio tidak terseret. "Setidaknya kau tahu keberadaaanku sekarang, di masa depan jika terjadi sesuatu padaku.. kau tahu keberadaanku." "Kau.. punya utang dengan mereka?" "Bisa dibilang begitu." "Bukankah mantan tunangan kau berjanji..." Yumi memutar bola mata dengan kesal. "Tidak, pria kaya tidak bisa dipercaya." "Oh, ini mengingatkan aku tentang Jake." "Jake?" "Pria yang melukai kau di bar." "Bagaimana bisa kau tahu..." "Vera cerita, si Jake ini pelanggan tetap bar itu dan suka berteman dengan banyak tamu VIP, hanya saja dia tidak bisa mendekati VIP khusus yang kau dan Vera masuki." Yumi memijat kening dengan perasaan kesal. "Efan juga ada di sana." "Oh, berarti mereka berteman." "Orang itu masih ke klub?" "Masih, tapi tidak sesering sebelumnya, karena berita penangkapan dia. Banyak teman yang kabur." "Vera detail sekali ceritanya." Yumi tertawa sedih. "Mereka pasti cari aku." "Yah, mereka memang cari kau. Makanya jangan keluar sembarangan." Yumi tersenyum ketika kepala pelayan dan tukang kebun sepakat merangkai bunga bersama. "Bukankah lebih baik berikan bunga favorit kakek?" "Tidak, Tuan besar tidak terlalu paham bunga," kata kepala pelayan yang tangannya sibuk merangkai bunga di vas mewah. "Kau tidak sendiri?" "Aku di taman, lihat kepala pelayan dan tukang kebun merangkai bunga." "Wow... jadi, kau tidak bisa bantu aku?" "Untuk sementara aku di rumah." "Jual saja rumah kau dan beli yang baru, atau kau bisa tinggal bersamaku." "Tidak, terima kasih." Yumi menolak tegas. "Aku tidak ingin merepotkan kau." "Mau sampai kapan kau di sana?" Yumi tidak tahu sampai kapan tinggal di rumah ini, harga dirinya sangat terluka begitu melihat Efan. Tapi, dia tidak bisa menghadapi Jake sendirian. "Aku tidak tahu, rasanya sulit sekali mau hidup." "Aih, kau jangan punya pikiran seperti itu, ingat... kau masih punya aku dan Vera." "Iya, iya... aku beruntung punya kalian berdua. Nanti aku hubungi lagi, sepertinya kepala pelayan dan tukang kebun mau debat lagi." Yumi cepat-cepat menutup sambungan telepon dan bertanya. "Ada apa?" Kepala pelayan menatap sedih Yumi sementara tukang kebun menatap kepala pelayan dengan tatapan menantang. "Apakah aku melewarkan sesuatu?" tanya Yumi. "Saya ingin tuan besar semangat kerja, jadi memasukan bunga berwarna cerah, tapi... kepala pelayan ingin mengganti warna." Tukang kebun mulai menjelaskan dengan nada muak. "Kenapa malah taruh bunga berwarna gelap seperti itu?" Yumi bisa melihat bunga matahari, mawar merah, kuning dan biru campur jadi satu di dalam vas mewah berwarna biru. "Oh." Kepala pelayan menjelaskan dengan nada sedih. "Saya hanya ingin ruang kerja menjadi elegan, dipadu dengan warna elegan." "Elegan apany? Kau justru mengotori vas." Tukang kebun semakin kesal. "Warna cerah bisa berikan semangat bekerja." "Saya lebih suka melihat hal yang elegan." "Hah, kau tahu apa tentang elegan?" "Tuan, jangan pernah meremehkan mata kepala pelayan ini." "Oh, jadi kau ingin menekan aku dengan jabatan terkutuk itu?" Yumi menghela napas panjang, tidak ada cara lain. "Bantu aku merangkai bunga." Kepala pelayan dan tukang kebun menoleh bersamaan, menatap tidak percaya Yumi. "Aku ingin mengucapkan terima kasih pada kakek, mungkin dengan merangkai bunga." Yumi tersenyum tipis. Kepala pelayan dan tukang kebun saling bertukar tatapan dalam diam lalu setuju. Yumi menghela napas lega dan mulai merangkai dengan arahan kepala pelayan dan tukang kebun. *** Jam delapan malam, selesai makan malam. Efan masuk ke ruang kerja Estefan dan mulai melapor semua kegiatannya. Estefan mengangguk paham. "John sangat sayang pada Jake, dia akan melakukan apa pun untuk melindungi adiknya. Aku rasa dia merasa bersalah karena orang tua mereka meninggal bersamaan," kata Efan. "Kakek, mereka sudah tahu identitas Yumi, kakek yang biarkan bocor?" Estefan mengangguk kecil, tanpa merasa bersalah. "Jika dia tidak bisa mendapatkan informasi, dia pasti cari informan lain dan tidak percaya pada informan ini." "Sekarang mereka menahan diri, tapi aku rasa Jake tidak akan menuruti ucapan sang kakak." "Tinggal tunggu saja, dia akan melakukan apa... kau bisa berjaga-jaga." Efan mengangguk setuju, sudut matanya menangkap vas mewah berisikan bunga mawar kuning dan biru. "Baru pertama kali aku melihat rangkain bunga sekacau ini." Kepala pelayan yang sedar tadi berdiri di samping Estefan, berdehem. "Ini hasil karya nona, merangkai pertama kali dan paham arti bunga." Efan menaikkan salah satu alis. "Kenapa tiba-tiba dia merangkai bunga? Kau bertengkar lagi dengan tukang kebun?" Kepala pelayan menjawab tenang. "Perdebatan kecil sudah menjadi hal biasa, nona merangkai bunga dengan harapan dan doa." Estefan tersenyum bangga. "Ah, andaikan saja setiap hari dia merangkai bunga untukku." Efan memutar bola mata. "Kakek, aku mau istirahat." "Ya, ya. Pergilah, kau harus istirahat cukup." Estefan mengusir Efan, lalu berbincang pada kepala pelayan, seolah pembicaran tadi mengenai Jake, seperti tidak berguna. Begitu keluar dari ruangan dan berjalan menuju paviliun, tanpa sengaja dia bertemu dengan Yumi yang sedang memeluk buku. "Kau tidak tidur?" tanya Efan. "Malam-malam baca buku?" Yumi mengeratkan pelukannya. "Aku tidak bisa tidur, jadi ke perpustakaan sebentar, mengambil buku ini." Kedua mata Efan menyipit. "Novel?" Yumi mengangguk. "Apa yang kau harapkan? Bacaan berat? Otakku tidak akan pernah sampai." "Yumi, entah kenapa setiap kau bicara padaku... sepertinya sinis dan agak kasar? Berbeda dengan masa lalu..." "Efan, aku sudah mengikuti semua permintaan kau... bahkan aku sudah melupakan dendam yang kalian perbuat." "Aku tidak pernah menyakiti kau." "Jika kau tidak bisa bicara padaku, setidaknya tegur teman-teman kau." Yumi menatap benci Efan. "Aku tidak pernah ganggu kau lagi, karena itu jangan ganggu aku." Efan tidak paham. "Aku hanya bilang novel dan kau..." Yumi terlalu lelah menghadapi Efan, dia berjalan melewati pria menjijikan itu. Efan menarik tangan Yumi dan membungkuk, wajah mereka sangat dekat. "Aku melakukan itu demi kenyamanan bersama, mereka orang-orang yang tidak bisa kau ganggu begitu saja." "Terus, mereka boleh ganggu aku?" tanya Yumi yang tidak takut. "Aku setuju dengan perjanjian yang kau buat, lalu kau sendiri yang melanggarnya? Hebat sekali."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD