Efan menaikkan salah satu alis begitu mendengar ucapan kepala pelayan. "Bukan gosip? Lalu apa?"
"Nona Yumi mendapat perundungan di sekolah."
Efan tidak bisa berkata-kata. "Jangan bohong."
"Saya serius, penjaga sekolah selalu melapor pada saya."
"Kakekku tahu?"
"Ya, itu sebabnya beliau ingin nona naik mobil keluarga, tapi menurut saya, hal itu akan membuat nona mengalami kesulitan."
"Kau melakukan itu sepihak?"
"Maafkan saya."
"Kenapa tidak tanya Yumi dulu?"
Kepala pelayan terlihat gelisah.
"Ada apa?"
"Saya... mungkin terlihat tidak sopan, jika saya bicarakan ini."
"Katakan saja, kau juga bagian dari keluarga ini. Yumi buat masalah yang tidak kami ketahui?"
"Tuan muda, bukan seperti itu." Geleng kepala pelayan dengan raut wajah muram. "Nona seperti anak kecil yang tidak bisa membuat keputusan sendiri."
"Aku tidak tahu tentang itu."
"Saya hanya melaporkan pada tuan besar."
Efan memijat kening. "Apa ini juga ada hubungannya dengan kakek yang mencuri sushi?"
Kepala pelayan menghela napas panjang. "Ya, beliau hanya tidak ingin ada yang bicara buruk mengenai nona di sekolah, selain itu Nona suka makan sushi, pertama kalinya makan saat dibawa tuan kecil."
"Semiskin apa dia sampai tidak bisa makan sushi? Bukannya dia selalu aku berikan uang bulanan? Masih belum cukup?"
"Ini mengingatkan saya." Kepala pelayan merogoh saku dalam jas, lalu menyerahkannya ke Efan.
"Kartu..." Efan bingung setelah menerima kartu atm milik Yumi, dia mengenalinya karena ada nama mantan tunangannya. "Bagaimana bisa ada di kau?"
"Nona menyerahkan kartu yang Anda berikan ke saya, beliau juga tidak tahu jumlah kiriman Anda, yang ada di benaknya membayar biaya kesehatan ibu yang sakit."
"Ibunya sakit dan dia di rumah ini? Aku benar-benar tidak paham." Efan semakin bingung dengan kelakuan Yumi dan kakek.
Kepala pelayan jadi kasihan dengan Efan. "Tuan besar benci ibu kandung nona, tidak diizinkan tinggal di sini, sebagai gantinya... beliau mengirim orang untuk menjaga dan merawat ibu nona, karena nona mengetahui hal itu dan tidak ingin merepotkan tuan besar, semua kebutuhan di luar biaya tuan besar, memakai uang yang Anda berikan."
"Sekarang aku mulai paham, alasan Yumi bersikap hati-hati di rumah ini, dan menolak keras memakai mobil di rumah ini." Efan mulai paham alurnya. "Yang membuatku kesal, kenapa kau tidak beritahu padaku?"
"Apa yang bisa saya beritahu kepada Anda?"
"Apa?"
"Tidak ada yang bisa saya beritahu kepada Anda," ucap kepala pelayan yang menatap sedih Efan. "Penghuni rumah ini sibuk dengan kegiatan masing-masing, nona hanya orang luar dan tidak punya tempat untuk bicara, lalu saya? Saya hanya kepala pelayan, tidak bisa ikut campur masalah majikan."
Efan membenarkan ucapan kepala pelayan di dalam hati. "Kau boleh pergi."
Kepala pelayan membungkuk hormat, lalu pergi meninggalkan kamar Efan.
Efan termenung, memikirkan semua ucapan kepala pelayan. Dia mengambil bungkus rokok murah dan korek dari saku celana, tertawa sinis. Rokok yang disita dari anak buah, malam itu. "Sepertinya para pelayan belum bersihkan celanaku, menjijikan."
------
"Keluarga kepala yayasan punya kepala pelayan?" tanya Nadine yang terkejut ketika mendengar cerita dari kakeknya. "Kenapa kakek tidak cerita?"
Kakek Nadine, Asep, mengerutkan kening dengan tatapan bingung. "Memangnya mau apa kau kalau tahu?"
Nadine salah tingkah. "Kakek tahu kan... aku mengagumi keluarga kepala yayasan, sayang sekali kita hanya bertemu di sekolah."
Asep menatap curiga cucunya. "Kau tidak ikut kelakuan jelek para guru di sekolah 'kan?"
"Tidak, mereka semua baik. Kalau ada yang bertengkar, aku tidak memihak siapa pun," ucap Nadine.
"Aku lihat kau pergi bersama guru lain dan meninggalkan bu Yumi sendiri, kau tidak terlibat urusan mereka kan?"
Nadine tahu yang dimaksud kakek, sudah menjadi rahasia umum kalau para guru dan karyawan sekolah sangat benci pada Yumi. "Tidak, aku tidak pernah melakukan itu... para senior mungkin benci Yumi karena selalu mengadu."
"Mengadu?"
"Iya, sempat ada masalah di sekolah dan sebenarnya bisa diselesaikan secara internal, tapi dia malah mengadu dan ketua yayasan langsung bertindak."
Asep takut cucunya mendapat masalah. "Pokoknya kerja saja, tidak perlu terlibat yang aneh-aneh, sudah syukur kau bisa menjadi guru berkat ketua yayasan."
Nadine cemberut mendengar nasehat Asep. "Kakek, cucu ketua sangat tampan, tidak bisakah aku dekat dengannya?"
Asep dan istri terbelalak begitu mendengar ucapan Nadine.
Nadine yang menyadari kesalahan bicara, salah tingkah. "Aku tidak bermaksud... maksudku... aduh..."
Asep menggeleng. "Jangan punya pikiran lancang, sudah syukur ketua yayasan bantu keluarga kita selama ini."
Nadine mengangguk cepat, berusaha mengalihkan perhatian kakek. "Iya, aku paham. Ah, aku ke dapur dulu."
Istri Asep, Ijah, berdiri mengikuti Nadine. "Nenek bantu."
Setelah di dapur, Ijah bicara pada Nadine yang sedang buat sirup. "Kau ingin mendekati cucu ketua yayasan?"
Nadine terkejut. "Nenek."
"Kau ingin menikah dengan ketua yayasan atau.. cucunya?"
"Nenek bicara apa? Tidak mungkin aku bersama kakek tua." Nadine merinding. "Aku muda dan cantik, aku hanya ingin bersama yang setara denganku."
Nadine sangat percaya diri pada wajah serta pendidikan, di kampung tidak ada yang setara dengannya. Kebanyakan pria disekitarnya tidak kuliah dan lebih mementingkan ego.
Nadine tidak suka menjadi istri yang hanya melayani pria, dia ingin bekerja.
Cucu ketua yayasan merupakan pewaris, dan memiliki banyak bisnis. Di masa depan, Nadine pasti akan membantunya dan... tidak akan ada lagi yang meremehkan keluarganya.
"Tentu saja, kau punya pendidikan tinggi dan juga paling cantik di keluarga kita... kenapa tidak dimanfaatkan mendekati cucu ketua yayasan... atau ketua yayasan?"
Nadine memutar mata dengan kesal. "Aku tidak mau menikah dengan ketua yayasan."
"Ya, ya... kalau begitu kau harus dekati cucunya."
"Bagaimana caranya?" tanya Nadine dengan bingung. "Cucu ketua yayasan tidak pernah muncul."
"Bukankah ada cucu lainnya?"
Nadine merenung lalu terbelalak ngeri. "Nenek, tidak mungkin aku mendekati anak SMA!"
"Kau ini memang banyak maunya." Ijah mendecak kesal. "Dekati yang mana saja, nenek restui, masalah kakek... nenek yang akan mengurusnya."
"Oke, aku memang dapat restu... terus bagaimana caranya mendekat?"
"Itu urusan kau, yang penting nenek sudah merestui kau."
Nadine tidak bisa berkata-kata, memangnya hanya dengan restu, bisa menikah dengan cucu ketua yayasan?
"Kau anak pintar, beda dengan kakek dan nenek yang tidak pernah mengenyam pendidikan, sudah syukur kami bisa baca dan tulis. Harapan keluarga ada padamu, apa salahnya menikah dengan orang kaya? Kakek kau ini memang tidak punya otak."
Nadine menghela napas panjang. "Oke, aku akan memikirkannya. Terima kasih, Nenek."
"Memang sudah jadi tugas nenek." Ijah menepuk punggung tangan cucunya dengan bangga. "Tangan kau sangat halus, pasti cucu ketua menyukainya."
Sekali lagi, Nadine tidak bisa berkata-kata.