Yumi masuk ke dalam ruangan yang terang, berbeda dengan ruangan si playboy kabupa... tidak, jangan bilang seperti itu... kabupaten terlalu bagus untuk pria murahan macam Efan. Dia melihat seorang pria gemuk dan memiliki wajah baby face, mengangguk sambil memberikan tatapan menilai pada dirinya.
"Hmm, bagus..."
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Berapa?"
"Ya?"
"Kau butuh uang berapa?"
Yumi terkejut. Apakah pria yang terlihat kaya urakan itu adalah setannya? Bukankah pesugihannya gagal?
"Jadi, kau butuh berapa?"
Yumi mulai menghitung utang, kebutuhan dirinya dan Hasan seumur hidup. "Satu milyar?"
Berapa satu milyar itu? Apakah banyak?
Pria itu tertawa. "Memangnya kau bisa apa dengan uang satu milyar?"
"Memenuhi kebutuhan hidup, tentu saja," jawab Yumi tanpa ragu.
"Kasihan sekali, wanita muda seperti kau butuh uang dengan cara rendah."
Yumi melipat kedua tangan di d**a dan mengangguk setuju. "Benar, itu adalah cara rendah... tapi saya tidak berbuat apa pun mengingat saya butuh uang banyak."
"Oh, menarik sekali. Kalau gitu, kau bisa coba ini. Nama kau siapa? Aku Jake." Jake menjentikkan jari.
"Yumi," sahut Yumi sambil melihat sebuah piring kecil di tangan pria besar tadi. "Bubuk?"
"Cicipi, sangat mengenyangkan dan bisa buat kau ke surga."
Yumi terkejut. "Mati?"
Jake tertawa. "Benar, kau bisa mati."
Yumi menggelengkan kepala. "Saya masih ingin hidup, saya punya anak di rumah."
"Kau apa?"
"Anak, saya punya anak."
Jake jadi marah. "Kenapa bisa kau punya anak? Bukankah wanita yang datang masih fresh?"
Yumi semakin tidak mengerti, tatapannya beralih ke arah sudut ruangan dan terkejut. Kucing yang dicari ada di sana, sembunyi.
"Keluarkan dia!"
Yumi tidak tahu situasi yang dia hadapi, tapi satu yang dia tahu. Tidak bisa keluar sendirian. "Tunggu!"
Jake mengangkat tangannya untuk menghentikan tindakan dua pria bertubuh besar. "Apa? Kau ingin apa?"
Yumi memutar otak. "Saya memang punya anak, tapi pengalaman saya tidak kalah dengan anak fresh yang Anda maksud."
Jake menaikkan salah satu.
Yumi sesekali melirik tempat kucing itu sembunyi. "Saya bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan kecuali membunuh, saya punya hati lembut seperti kaca yang rapuh."
Jake menatap tajam Yumi. "Kau bisa melakukan apa pun?"
Yumi mau tidak mau mengangguk. "Ya, selama tidak berbahaya."
"Duduk."
Yumi celingukan, sofa sudah ditempati teman-teman Jake ini. "Duduk di mana?"
"Lantai."
Yumi lega mendengarnya, dia langsung duduk di lantai dingin.
"Kemari, merangkaklah."
Yumi jadi takut, entah kenapa instingnya muncul bahaya. "Tuan."
"Tidak bisa?"
Yumi menggigit bibir bawah lalu memejamkan kedua mata.
"Tidak bisa kan?"
Yumi buka mata dan menatap lurus Jake. "Tidak bisa," jawabnya dengan tegas. "Saya bisa duduk di lantai atau merendahkan diri demi mereka yang saya cintai dan hormati, tapi jika itu menyinggung harga diri, saya menolaknya."
"Seolah kau punya harga diri, sudah masuk ke sini pasti sudah tidak ada harga dirinya." Jake buat kode ke salah satu bawahannya.
Seorang pria bertubuh besar yang Yumi baru sadari kalau mereka bodyguard menarik kerah kemeja sebelah kanan hingga robek.
Jake bersama teman-teman dan para wanitanya, tertawa.
"Lihat, dia ternyata pakai kemeja murahan."
"Kemeja mudah robek begitu mau dipakai bekerja di sini?"
"Sepertinya dia tidak akan lolos magang di sini."
Tawa Jake berhenti. "Kau ingin lolos magang kan? Kerja di tempat ini memang bisa menghasilkan uang banyak, kalau kau kerja di luar... mana bisa."
Yumi melihat bahunya yang terlihat jelas. "Tuan, apa ini sifat Anda?"
Teman-teman Jake berhenti tertawa, suasana menjadi hening.
Yumi pernah di situasi seperti ini, ketika banyak orang menertawakan setelah tanpa sengaja mengotori gaun yang dibelikan kakek. "Menginjak orang miskin seperti saya, apakah ini sifat Anda? Kalau begitu, kasihan sekali dengan perusahaan yang Anda miliki, bukankah suatu perusahaan membutuhkan karyawan?"
Jake tersulut emosi dan melempar gelas ke arah Yumi. "KURANG AJAR!"
Gelas itu mengenai kening kanan Yumi. "Saya memang tidak punya uang, tapi saya punya harga diri."
"Kalau begitu, keluar dari tempat ini!" teriak Jake.
Yumi tidak gentar, dia jauh lebih mengkhawatirkan nasib si kucing daripada teriakan Jake.
"KELUAR!"
"Anda belum berikan saya kompensasi." Yumi masih tidak bergerak. "Kalian sudah melukai saya, lalu kompensasi apa yang saya dapat?"
"KURANG AJAR!"
TOK TOK TOK
"Siapa?" geram Jake.
Bodyguard Jake segera buka pintu.
"Oh, aku tidak mengira ada kekacauan di sini."
"Siapa?"
Yumi menunduk dan memejamkan mata, dia tahu siapa yang datang.
Efan menunjukkan surat penangkapan. "Jake Blair, kau ditangkap karena kepemilikan narkoba dan menjualnya di kalangan artis."
"Kau tidak bisa menangkapku, tidak ada bukti." Jake tertawa cemooh.
Efan yang berdiri di belakang Yumi, menatap punggung dan juga pakaian wanita itu. "Dia menyakiti kau?"
"Tidak ada yang bisa menyakiti aku, bukankah aku sudah bilang? Tidak ada dendam lagi," jawab Yumi sambil bangkit dari lantai meski agak terhuyung.
Efan hendak menangkapnya, namun Yumi sudah menjauh. "Mau ke mana? Jangan pergi jauh, mereka bisa menyakiti kau."
Yumi tidak peduli, dia tetap jalan melewati sofa Jake dan teman-temannya,
Salah satu teman Jake yang bergerak, ditembak Efan.
"ARGH!"
Suara tembakan sekaligus teriakan, memekak di telinga orang-orang di dalam ruangan. Para wanita yang memakai pakaian minim, menjerit ketakutan.
Yumi mengambil kucing yang ketakutan di bawah meja. "Sini sayang, nggak ada yang nyakitin kau lagi. Aku di sini."
Kucing itu segera meringkuk di dalam pelukan, menyembunyikan kepala di leher Yumi, seolah tidak ada yang bisa melihat sosoknya.
Yumi meringis perih, merasakan kucing itu menancapkan kukunya di punggung. "Tenang, aku di sini."
Efan yang melihat itu, menggelengkan kepala. "Bawa mereka semua ke penjara," perintahnya lalu menatap lurus Yumi yang berusha menenangkan si kucing. "Termasuk dia."
Salah satu anak buah Efan terkejut. "Tapi..."
"Dia ada di dalam ruangan, siapa tahu juga terlibat." Efan tidak biarkan anak buahnya mengatakan apa pun.
Kedua anak buah Efan mendekati Yumi.
"Maaf, ini perintah atasan."
Yumi menatap kesal Efan sambil melindungi kucing itu. "Aku bisa jalan sendiri, minggir."
Kedua anak buah Efan mengikuti Yumi.
Yumi jalan melewati Efan tanpa mengatakan apa pun. Sebelum keluar ruangan, dia bisa mendengar perintah Efan.
"Tes urin semua, sebelum masuk penjara."
Yumi menutup mata sekilas, berusaha menahan amarah yang meledak. "Playboy PIIIIIIP." Dia sengaja menekan kata piiiip dengan suara keras, supaya bisa didengar pria jahat itu. "Menyebalkan."
Kedua anak buah Efan yang mengikuti Yumi, hanya bisa bertukar tatapan, tidak berani berkomentar apa pun. Pertengkaran sepasang kekasih bukan urusan mereka.