Efan tidak paham, mengapa kakek dan Refan bersikap seperti memusuhinya? Semakin dipikirkan, semakin sakit kepalanya. "Kenapa... jadi seperti ini situasinya? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
Dokter selesai periksa Refan dan mulai menjelaskan. "Hanya serangan ringan, tidak perlu khawatir."
Estefan bertanya dengan nada khawatir. "Tidak diberikan obat?"
"Tidak," jawab dokter dengan tegas lalu menatap sedih Refan yang berbaring di tempat tidurnya. "Jangan terlalu berpikir banyak, kau masih muda. Pikirkan saja hobi yang menyenangkan."
Refan yang berbaring di tempat tidurnya, mengangguk paham lalu melirik sinis Efan.
Efan yang mendapat tatapan itu menjadi bingung. "Aku juga mengkhawatirkan kau."
Refan memalingkan wajah, tidak menyembunyikan kekesalannya.
Efan benar-benar bingung dengan sikap adiknya yang berubah. "Ada apa? Aku melakukan kesalahan apa sampai kau seperti itu?"
Estefan memijat kening, tidak mau terlibat pertengkaran saudara. "Aku ingin istirahat, kalian bicaralah sendiri."
Kepala pelayan bantu Estefan jalan menuju kamarnya. "Tuan, saya bantu."
Efan dan Refan perhatikan kakek dan kepala pelayan keluar dari kamar. Setelah pintu ditutup, Efan bertanya dengan yakin.
"Kau tahu kakek mengambil sushiku?"
Refan memutar bola mata dengan kesal. "Masih dibahas?"
"Aku hanya penasaran, kenapa kakek melakukan hal kekanakan itu?"
Refan menghela napas. "Kak, kakak tahu kan kalau kakek sangat sayang pada kak Yumi."
"Yumi?" Efan duduk di samping tempat tidur. "Kenapa tiba-tiba nama itu muncul?"
"Ya karena Kakek kirim sushinya ke Yumi."
Efan terbelalak. "A... apa? Bagaimana bisa Kakek... kenapa bisa diberikan ke Yumi? Yumi yang minta?"
"Kak, kakek hanya ingin mengirim bekal makan ke kak Yumi. Kakek tahu kalau kak Yumi tidak punya uang banyak dan juga jarang makan." Refan menjelaskan dengan wajah murung. "Kak Yumi jarang makan, biasaya hanya beli sosis tusuk atau onigiri, pokoknya makanan yang bisa dibawa, dia beli."
Efan mengerutkan kening. :"Bukannya di rumah, dia selalu sarapan dan makan malam?"
Refan menjadi jengkel begitu mendapat pertanyaan itu. "Jadi, selama ini kakak memang tidak pernah perhatikan rumah?"
"Aku selalu melihat Yumi di ruang makan juga," balas Efan yang tidak mau disalahkan. "Aku terlalu sibuk di luar, tidak mungkin perhatikan detail kecil, tapi aku juga melihat dia berkeliaran di rumah."
"Bagaimana bisa kakak bilang dia berkeliaran? Ini juga rumahnya." Refan mengerutkan kening tidak suka. "Meskipun kalian berdua dijodohkan secara sepihak, tapi tetap saja harus menghargai dia yang mau pindah ke rumah ini dan mengurus semuanya."
"Ada pelayan, bagaimana bisa dia melakukan pekerjaan pelayan sementara dia tinggal di sini?"
"Kak, dia hanya mengurus kakak sebagai calon suami, aku sebagai adik ipar dan
Efan menatap tidak percaya Refan. "Kau membela dia sampai segitunya, dia sudah melakukan apa pada kalian? Tunggu, dia menyantet kalian?"
Refan mendengus. "Bagaimana bisa kakak menuduh kak Yumi melakukan hal tidak bermoral? Dia lembut, baik dan juga tidak pernah mengeluh."
Efan hendak cerita mengenai calon karya Yumi, tapi sepertinya Refan akan semakin tidak dengar dan marah.
Refan menghela napas panjang. "Memang itu pilihan kakak, tidak ada yang bisa menyalahkannya. Biar bagaimanapun, kakak yang menjalaninya, aku tidak berani ikut campur."
"Sepertinya kau sudah sayang pada wanita itu?" Efan tidak percaya, adiknya yang pendiam dan selalu menjauh dari banyak orang, begitu dekat dengan Yumi yang tidak bisa diandalkan itu.
"Dia selalu berusaha, meskipun pada akhirnya gagal tapi dia tetap tertawa konyol seolah ingin menghiburku." Refan menjelaskan dengan senyum lebar dan sorot mata jauh. "Aku pernah minta bubur, dia masak dan gagal, lalu dia beli bubur di dekat rumahnya dan berikan padaku."
Efan tidak pernah tahu cerita itu. "Sepertinya dia sudah berusaha keras menarik perhatian kalian."
Refan mengerutkan kening. "Kak, tidak bisakah berpikir positif tentang orang lain?"
"Refan..."
"Kak Yumi memang tidak seperti para wanita yang mengerumuni kakak. Dia tidak bisa masak, tidak pandai bersih-bersih, dia bahkan juga agak ceroboh, tapi dia selau berusaha keras tidak mengecewakan orang lain. Dia hanya ingin terlihat berguna di rumah ini."
Efan tidak mengatakan apa pun lagi, dia mengacak rambut Refan dan berdiri. "Tidurlah, jangan memikirkan hal lain."
Refan menepis tangan kakaknya lalu tidur memunggungi kakaknya. "Tutup pintunya."
Efan menuruti permintaan adiknya, dia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Tidak disangka ada dua pelayan memasak di dapur, langkahnya terhenti begitu mendengar nama Yumi disebut.
"Rumah ini jadi sepi ya."
"Nona Yumi memang pendiam dan selalu mengurung diri di kamar, tapi aku paham kenapa dia melakukan itu."
"Kenapa?"
"Dia bekerja dan belajar, dia berusaha keras untuk rumah ini. Dulu, aku pernah tidak bisa tidur karena suamiku selingkuh, dia langsung buatkan aku teh dan menyemangatiku, dia juga berikan saran yang berguna. Anakku sekarang juga kerja dan tinggal di sini."
"Aku tidak tahu tentang itu."
"Itu karena dia tidak pernah cerita apa pun, aku juga dilarang bicara. Dia bilang semua berkat tuan muda Efan."
"Bagaimana bisa..."
"Yah, kalau dia tidak bertunangan dengan tuan muda... tidak mungkin nasibku berubah."
"Benar juga."
Efan jalan menjauh dari dapur dan mengambil kunci mobil, rumah sudah terkontaminasi dengan keberadaan Yumi.
Sementara itu, kepala pelayan mulai melapor pada Estefan. "Tuan besar, Tuan muda Efan pergi keluar."
Estefan yang berbaring di tempat tidur dan menutup mata sambil mendengarkan musik classic, bertanya. "Dia sudah tahu?"
"Ya, tuan kecil yang cerita."
"Hah!" Estefan mendecak kesal. "Diantara semua cucuku, hanya dua yang aku akui... mereka berdua, sisanya tidak pantas menjadi cucuku. Tapi kenapa Refan jauh lebih dewasa dari Stefan."
"Bagaimana kalau... dibalik, nona bertunangan dengan tuan kecil?"
Estefan menggelengkan kepala. "Usia mereka beda jauh, tidak mungkin. Lagipula, meski Refan terlihat dewasa, belum tentu dia berpikir matang secara psikologis."
"Anda benar."
"Keluarga Rylee memang bukan keluarga terkaya, tapi terhormat. Tidak masalah menjadikan Yumi sebagai menantu untuk Efan, aku jadi merasa bersalah pada temanku."
"Tuan, bagaimana jika menjodohkan dengan kenalan Anda? Jadinya, Anda tidak melanggar janji." Kepala pelayan coba bantu berpikir. "Kita carikan yang setara dan bisa melindungi nona dengan baik."
Mata Estefan terbuka, menatap langit kamarnya. "Menyerahkan Yumi ke anak kenalan? Bukankah sama saja aku membuang anak iru?"
Kepala pelayan menatap tidak berdaya majikannya. "Tuan besar, Anda bisa sakit jika terus memikirkan hal ini."
"Kalau aku mati, kau bisa ke dukun dan bayar untuk menghantui cucu gilaku itu!"
"Saya akan mencatatnya."
Estefan melambaikan tangan. "Aku mau istirahat sekarang, terima kasih sudah bantu."
"Sudah menjadi tugas saya." Kepala pelayan membungkuk lalu keluar dari kamar.