Bab 4: Kejadian Tak Terduga di Lobi Kantor

1891 Words
Sesaat setelah kepergian Elif dari ruangannya, Ammar melirik dengan perasaan senang ke arah pintu yang mulai kembali terbuka. Namun, hatinya kembali menciut saat seseorang yang berbeda dengan yang terlintas di pikirannya muncul di baliknya. "Hai, Sayang, kamu kok kayak nggak semangat gitu lihat aku datang?" "Heum." Tadinya, Ammar mengira Elif yang kembali untuk mengambil cincin pernikahan. Namun, kepercayaan diri Ammar seketika runtuh ketika wanita seksi bernama Rani yang menghampiri. Ternyata, dugaan laki-laki itu tentang Elif yang sangat cepat mengambil keputusan untuk pulang bersamanya, salah besar. "Apa karena perempuan itu, kamu mengabaikanku sekarang?" tanya Rani setelah mendaratkan tubuh ke atas meja kerja Ammar. "Perempuan yang mana?" Ammar pura-pura tidak tahu ke mana arah pembicaraan kekasihnya. "Elif" "Tidak. Turunlah, ini membuat pekerjaanku terganggu!" "Kamu aneh hari ini. Biasanya malah selalu menyuruhku duduk di depanmu seperti ini." Rani melongos, dan berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju sofa. Sedangkan, Ammar tidak peduli dan memilih kembali fokus pada layar laptopnya. Entahlah, sejak Elif tak lagi berada di balik ruangan berdinding kaca di seberang sana, laki-laki itu merasa ada yang hilang. Padahal, belum genap sehari wanita yang sering Ammar sebut miskin itu tak terjangkau penglihatannya. Rani yang sedang kesal karena perubahan kekasihnya, memilih berselancar di media sosial. Dalam hati, ia berani mengutuk Elif Sabrina. Menantu kesayangan pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Ada yang aneh hari ini. Maksudnya, tentang Ammar yang mengusir Rani dari mejanya. Padahal, kemarin-kemarin laki-laki itu yang antusias menyuruh Rani duduk di atas meja dengan posisi menantang untuk diperlihatkan pada istrinya yang berada di balik dinding kaca di seberang sana. "Kamu tidak bekerja?" tanya Ammar tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Seperti sedang sibuk sekali, padahal pikirannya sedang tertuju pada satu wanita. Rani menoleh, bingung, "Maksud kamu?" "Maksudnya, apa para staf tidak punya pekerjaan hari ini?" Seketika wanita itu tampak kikuk, tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa. Baginya, Ammar benar-benar sangat menyebalkan sekarang. "Eum. A—da, kok." "Terus, kenapa kamu masih di sini?" "Maksud kamu apa, sih? Kamu mengusirku? Bukannya, kamu yang selalu menyuruhku untuk datang ke ruangan ini setiap hari?!" sergah Rani dengan kesal. Ammar benar-benar menyebalkan, menurutnya. "Hari ini aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu." "Aku hanya duduk dalam keadaan terabaikan. Apakah itu juga mengganggumu?!" "Kau siapa berani membentakku?" Ammar menoleh ke arah wanita yang sedang menatap nyalang ke arahnya dengan tatapan tidak suka. Rani yang salah tingkah, langsung mengubah tatapannya menjadi sendu. Meski hati dan perasaannya teriris mendengar ucapan Ammar barusan. Rani tetap tersenyum dan berjalan menghampiri laki-laki itu. Menurutnya, Ammar lebih penting ketimbang harga diri. Kehilangan laki-laki seperti Ammar merupakan ketakukan paling besar bagi Rani. Seorang staf biasa menjadi kekasih CEO, Rani bahkan tidak berani bermimpi sebelumnya. Dan wanita itu bertekad untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Meski seluruh perusahaan mencemoohnya dengan tuduhan merebut suami orang. Rani tidak ambil pusing. Yang terpenting baginya, bagaimana cara menaklukkan sang raja untuk membuang sang ratu dari singgasana dan kemudian digantikan olehnya. 'Aku harus bisa menahan emosi. Jangan sampai semuanya sia-sia. Hanya aku yang pantas menjadi Nyonya Arrasyid.' Rani sudah berdiri di samping laki-laki pemilik tubuh kekar itu. Jemari lentiknya bergerak pasti mengusap d**a bidang suami Elif Sabrina. "Maaf, sudah mengecewakanmu! Aku akan kembali bekerja sekarang. Tapi, maukah kau berjanji satu hal?" Ah, laki-laki mana yang sanggup menolak sentuhan lembut diiringi suara serak yang terdengar menggoda. "Apa?" "Dua jam lagi waktunya istirahat. Aku ingin makan siang bareng kamu nanti." "Baiklah. Sekarang keluarlah! Aku sedang banyak kerjaan." Ammar menyingkirkan tangan Rani dari tubuhnya. Entah sudah berapa kali harga diri wanita itu dipermainkan kekasihnya sendiri hari ini. "See you, honey." "Heum." Melihat respon Ammar, wanita itu langsung menuju pintu keluar dengan emosi tertahan. Hatinya menyalahkan Elif atas perubahan Ammar. Mengutuk Elif yang berstatus sebagai istri sah. Padahal, Rani sudah melihat sendiri betapa mengenaskan keadaan Elif yang keluar dari ruangan Ammar saat berpapasan dengannya di pintu lift. "Aku tidak boleh takut. Selama ini Ammar sangat membenci Elif, tidak mungkin wanita itu bisa menggantikan posisiku," guman Rani setelah keluar dari sana. . Setelah melirik jam di tangannya, Elif gegas mematikan layar komputer kemudian keluar ruangan dan berjalan menuju lobi. Wanita itu ada janji temu dengan beberapa sahabat lama ketika kuliah dulu di restoran dekat kantor. Wanita itu tampak antusias, sekilas bahkan melupakan masalah pelik yang tengah menimpanya. Namun, itu tidak bertahan lama. Di lobi, ada pemandangan yang kurang menyenangkan hati. Meski, senyum sempat terukir pada beberapa karyawan yang menunduk tanda menghormati. Elif pura-pura tidak melihat ketika berpapasan dengan laki-laki yang lengannya diapit manja oleh seorang wanita. Tetap berjalan seperti biasa tanpa terganggu, meski setiap yang melihat merasa prihatin dalam hati. Hei, mereka hanya karyawan, siapa yang berani menentang kelakukan rendah seorang atasan. Namun, saat hanya tinggal beberapa meter lagi posisi Elif akan benar-benar di depan suami yang sedang bersama selingkuhan. Sebuah suara membuatnya terhenti dan menoleh ke belakang. "Elif!" panggil seseorang berlari kecil ke arahnya. "Mau makan siang di luar ya?" tanya laki-laki berusia 27 tahun—yang biasa di panggil 'Pak Alzam' saat sudah berdiri di samping istri Ammar. "Iya, aku ada janji ...." "Ya sudah, ayo barengan." Alzam mengangdeng tangan Elif dan hendak mengajaknya pergi. Tak hanya Elif, siapapun yang berdiri di sana terkejut dengan tingkah berani laki-laki itu. Menggandeng istri bos di depan matanya, lumayan kurang ajar bukan? "Tapi, ... ." "Kenapa? Di jemarimu tidak ada lagi cincin pernikahan? Berarti sekarang ... aku bisa mengajakmu kemanapun, 'kan?" tanya Alzam dengan suara lantang sembari melirik pada jemari Elif kemudian beralih dengan tatapan sinis pada laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka. Hati Ammar serasa diremas, netranya menatap nyalang ke arah dua manusia yang tengah berdiri di depannya. Hati Ammar juga menyalahkan Elif yang sembarangan melepas cincin pernikahan. Entahlah, ditubuhnya ada wanita lain yang sedang menempel dengan manja. Tapi, jiwanya terperangkap untuk wanita yang sedang bingung menerima ajakan makan siang dari sepupunya sendiri. Ya, Alzam Elfata adalah sepupu Ammar dari pihak mamanya. Laki-laki dengan tubuh atletis berwajah rupawan yang sebelas dua belas dengan Ammar itu adalah satu-satunya orang yang berani melawan Ammar di perusahaan. Selain keluarganya sebagai salah satu investor penting bagi d'Arr Group, Alzam memang di tempatkan Ny. Risma untuk memantau kelakukan Ammar pada menantu kesayangannya. Bisa dikatakan, Alzam bekerja langsung di bawah perintah tantenya, Ny. Risma. Meski Ammar seorang CEO, Alzam tidak mau menerima perintah darinya, kecuali atas persetujuan Ny. Risma. Posisinya lumayan penting, general manager. Lebih tepatnya, general manager yang memiliki tugas sampingan sebagai perlindung manager keuangan. Elif Sabrina. Memang konyol, tapi itu perintah langsung dari Ny. Risma. Sebenarnya, Alzam dan Ammar memiliki sejarah yang sehat dalam hubungan persaudaraan dan pertemanan. Karena usia yang hanya terpaut satu tahun, membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama sejak kecil, hingga menjadi akrab. Sekolah, bahkan kuliah di tempat yang sama. Namun, pernikahan tragis yang Ammar persembahkan untuk Elif mengubah semuanya. "Gue nggak nyangka, lo sepengecut itu. Tega banget sama wanita!" maki Alzam pada suatu malam di meja billiards dalam sebuah ruangan bergaya vintage dengan dekorasi serba kayu. "Itu urusan pribadi gue. Siapapun nggak berhak ikut campur. Termasuk lo," hardik Ammar dengan membuang tongkat billiard di tangannya ke lantai dengan kasar, sebelum pergi. "Dasar b******n!" Alzam sempat tidak habis pikir dengan jalan pikiran sepupunya. Ammar sangat sulit dinasehati. Kelakukannya di luar batas wajar, untuk seorang laki-laki yang sudah memiliki tanggung jawab sebagai suami. Mulai saat itu, Alzam, lebih memihak pada tantenya, Ny. Risma. Awalnya, karena rasa kasihan terhadap Elif. Namun, entah sejak kapan setiap melihat wanita itu menangis diam-diam, serasa ada yang tersayat di dalam sana. Dalam rongga dadanya. Alzam memiliki banyak pengalaman dengan wanita, tapi jika berbicara tentang hati yang terusik, baru kali ini laki-laki itu merasakannya. Hingga saat ini, Alzam tidak mengerti, semacam apa rasa itu bentuknya. Sekedar sayangkah, atau sudah masuk dalam kadar terlarang. Yang jelas tak mampu diinterupsi. Entah, dulu sempat menepis. Tapi, kini laki-laki yang kerap dijuluki playboy oleh wanita-wanita yang singgah dalam hidupnya mulai menikmati petunjuk-petunjuk kecil dari hatinya. Meski masih samar. Biarlah sementara seperti air mengalir, hingga aku tahu ke mana debar-debar ini akan bermuara. Bisik Alzam pada suatu malam, saat tak mampu terpejam, setelah memergoki mata Elif sembab untuk ke sekian kali. 'Benar-benar b*****h!' Alzam mengerang murka, setiap kali mengingat kelakukan gila sepupunya untuk membuat Elif tersiksa dengan sengaja. Untuk membalas sakit hati Elif pada Ammar dengan licik, Alzam sudah lama menunggu waktu yang tepat. Dan sekarang adalah saat-saat di mana angan menjadi nyata. 'Lihatlah matanya, seperti ingin keluar dari kelopak,' ejek laki-laki itu dalam hati. Sedang, Elif sibuk membebaskan tangannya dari genggaman Alzam. Namun, tak berhasil. Bukan perkara tidak enak dengan Ammar, hanya saja ini menjadi pemandangan tidak pantas bagi setiap karyawan yang lalu lalang. Di mana keluarga petinggi perusahaan, menciptakan drama memalukan di tempat formal seperti ini. Rani yang juga ikut menjadi tontonan sempat beberapa kali menarik tangan Ammar untuk pergi. Namun, laki-laki itu masih betah mematung pads tempatnya berdiri. 'Untuk apa masih peduli dengan wanita itu yang jelas-jelas berlaku murahan di depan suaminya sendiri,' batin Rani kesal karena terabaikan. Beberapa karyawan bahkan berani melihatnya dengan tatapan cemooh, padahal, wanita itu sedang berdiri di samping pimpinan mereka. Sungguh, belum pernah ada insiden konyol seperti itu di d'Arr Group sebelumnya. Mungkin, setelah ini akan ada topik panas terbaru yang menyebar untuk menggantikan beberapa topik lama seperti, boss memilih mengkhianati istrinya dengan staf biasa, kasian Bu Elif, cantik dan cerdas tapi disia-siakan, mungkin Bu Elif sih terlalu sibuk hingga Pak Ammar mencari kepuasan di luar, Beruntung banget si Rani, modal tubuh doang mampu menyingkirkan posisi Bu Elif, dan Kurang ajar banget itu perempuan, udah dikasih kerjaan, malah jadi pelakor yang tega ngerusak rumah tangga orang. Fix, Alzam akan menjadi tokoh baru bahan ghibah ribuan karyawan yang bekerja di sana. Budaya yang sudah mendarah daging sulit sekali untuk diubah. Meski, lebih banyak mudharat ketimbang manfaatnya. Setelah menatap puas pada Ammar yang tengah kebakaran jenggot, tapi, tak mampu untuk protes. Alzam sedikit membungkuk pada Elif dan berbisik. "Segera beri jawaban seperti yang kuinginkan, kalau kamu mau terbebas dari situasi ini." Bisikan Alzam barusan membuat mata Elif melotot kesal ke arahnya. Namun, yang membuat masalah, seperti tidak merasa berdosa sama sekali. Elif sadar, melawan kehendak Alzam, sangat mustahil. Mengingat bagaimana watak laki-laki itu. Barbar. Mereka lumayan akrab, banyak bertukar cerita saat bertemu layaknya orang yang memiliki hubungan kekerabatan. Meski tak ayal, Elif sering kali dibuat kesal. Terlebih ketika Alzam berani ikut campur dalam urusan rumah tanggannya. Memberi peringatan? Orang dengan kepala batu akan mengganggap itu sebagai angin lalu. Elif sudah kewalahan menegur Alzam, dari hari-hari yang telah lalu. Sepertinya wanita itu tidak tahu, Alzam bersekongkol dengan mama mertuanya selama ini. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, dan perasaan Ammar sebagai pengecualian. Wanita yang terkenal lembut wajah dan hatinya mengutarakan sebuah jawaban menggemparkan. "Ya, sekarang aku sudah bebas. Kau bisa mengajakku ke mana saja," ujar Elif dengan senyum. Dan itu, sukses membuat Ammar menggeram tertahan dengan tangan terkepal. 'Bukan dia saja yang bisa mempelakukanku semena-mena. Aku juga bisa melakukannya,' keluh batin Elif. "Kalau begitu, ayo kita pergi. Makan siang adalah ajakan permulaan untukmu hari ini." Alzam dan Elif melewati Ammar yang masih berdiri mematung dalam keadaan kesal. 'Kurang ajar!' Hati laki-laki itu menjerit dalam keramaian yang mendadak terasa sunyi. 'Kupastikan mereka akan menyesal. Lihat saja, besok Elif akan kubuat memohon-mohon untuk ikut pulang bersamaku.' "Sayang, ayo cepat! Aku sudah sangat lapar." Ammar menoleh ke samping, baginya Rani benar-benar menyebalkan hari ini. Kenapa? Apa yang mulai salah dengan laki-laki angkuh itu. Hatinya sangat terganggu melihat Elif dibawa laki-laki lain di depan matanya sendiri. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD