Hari ini adalah hari keberangkatan Rebecca ke China. Persiapan dari berkas-berkas hingga kebutuhan pribadi Rebecca sudah siap. Dia hanya membawa 2 koper besar, karena koper lainnya akan dibawa Valeria dan juga Erick bulan depan saat mereka mengunjungi Rebecca.
"Kamu yakin tidak naik jett pribadi keluarga kita?" tanya Nayna menawarkan.
Semua keluarga besar mereka berkumpul di rumah Valeria, termasuk keluarga Carollino.
"Iya Ree, kamu naik jett pribadi saja. Grandma tidak tenang. Inikan pertama kalinya kamu keluar negeri sendirian, ke China lagi," Sisil meyakinkan Rebecca lagi.
"Valeria dan Erick juga sudah menawarkan jett pribadi Mom, tapi Rebecca bersikukuh ingin naik pesawat sendiri," jelas Erick.
"Aduhh yang berangkat Rebecca kok kalian semua yang ribet sih, bilang aja kalian mau ikut ke China kan?" tanya Rebecca dengan polosnya.
Pletak. Meechella menjitak kepala Rebecca.
"Wah tidak tahu diri nih orang, udah diperhatiin malah ngatain orang. Kita tuh khawatir dodol sama elu, elu kan cerobohnya keterlaluan, emang lu kira didalem pesawat itu cuma elu doang isinya. Mana betah mereka sama elu didalem pesawat lama-lama!" cibir Meechella panjang x lebar.
Keluarga mereka tidak pernah melupakan kejadian saat mereka semua berlibur ke California menemui orang tua Sisil. Rebecca dengan polosnya berteriak tikus saat pesawat sudah lepas landas, dan itu membuat seluruh penumpang kelas bisnis berteriak.
Dengan polosnya dia berkata, "Apa? Tikusnya di game Tom and Jerry milikku," ucap Rebecca tak berdosa setelah membuat kekacauan.
"Cukup!" Valeria melerai Meechella dan Rebecca yang akan mulai adu argumen. Mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling balas-balasan.
Merasa semua barang lengkap, Rebecca akan diantar Erick dan Valeria ke bandara Internasional Bandung. Keluarga besar mereka ingin ikut mengantarkan, tapi Valeria dan Erick menolak dengan tegas. Bisa-bisa terjadi keributan lagi jika mereka semua ikut mengantar.
"Ati-ati Dek, jangan lupa ngabarin kita ya." Meechella memeluk Rebecca dengan erat.
"Iya, jaga diri ya Kak. Siap-siap Kakak yang akan tersiksa setelah aku keluar dari rumah ini." Rebecca masih bisa bercanda disaat semua orang sedih akan berpisah dengannya.
'Gue enggak sedih elu pergi bocah, gue sedih karena gue pasti yang akan jadi obyek utama pengamatan para orangtua. Hasilnya gue gak akan bisa hidup bebas lagi, hiksss nasib,' batin Meechella menangis membayangkan semua aturan akan berlaku padanya.
Jika Rebecca masih di sini, tentu saja mereka akan memperhatikan Rebecca yang masih muda. Mengatur semua yang harus dilakukan hingga apa yang boleh dan tidaknya untuk Rebecca. Kini Meechella harus merasakan hidup disangkar emas menggantikan Rebecca. Cucu perempuan satu-satunya keluarga Corlyn yang tersisa bersama mereka.
"Inget pesan Grandma, jangan gampang dekat dengan orang lain, lihat dulu latar belakangnya, mengerti?" Viona memberikan pesan pada Rebecca, dan mencium kening cucunya.
"Yes, Grandma."
Setelah selesai berpamitan, Rebecca langsung masuk mobil di ikuti Valeria dan Erick. Butuh waktu 30 menit menuju bandara.
Rebecca mengamati sekeliling kota Bandung, tempat tinggal ternyaman.
"Aku pasti merindukan seblaknya Wak Irwan, saladnya Aunty Zola, Nasi goreng idolanya Grandma Sisil, hmm semuanya," keluh Rebecca.
Valeria tersenyum, dia menoleh ke belakang.
"Apa mau Mama bawakan semuanya ke China nanti?" goda Valeria.
"Keduluan basi dong Ma," jawab Rebecca mencebikkan bibirnya kesal.
Rebecca mengunggah foto perjalanan mereka menuju bandara, banyak sekali dm masuk di Instagramnya untuk sekedar mendoakan keberangkatan Rebecca.
"Kamu ingat semua pesan Papa Mama kan?" tanya Valeria saat mereka sudah sampai di kursi tunggu penumpang.
Rebecca mengangguk dan memeluk Valeria.
"Aku pasti sangat merindukan omelan Mama dan Papa."
"Jaga diri baik-baik, jaga pergaulanmu di sana. Dengar, hubungi kami sesering mungkin ya" ucap Erick memperingati Rebecca.
Erick memeluk Valeria dan Rebecca.
"Salam untuk Kak Ello. Janji kalian harus sering mengunjungi Rebecca sebulan sekali." Rebecca menginginkan keluarganya sering mengunjungi dirinya ketika nanti Rebecca tidak bisa intens pulang ke Indonesia.
Ello memang tidak bisa mengantarkan keberangkatan Rebecca, dia ada lomba basket antar universitas yang tidak bisa dia tinggalkan. Tapi semalaman, Ello, Rebecca, dan Ella tidur bersama. Mereka saling menasihati dan memberi pesan kepada Rebecca.
Valeria memeluk Erick, mereka melambaikan tangannya saat Rebecca akan memasuki pesawat. Rebecca menoleh ke kanan dan ke kiri, mengunci pemandangan langit terang Kota Bandung sebelum meninggalkannya.
"Dia sudah besar, tidak terasa aku membesarkannya sudah delapan belas tahun," isak haru Valeria.
Kini dia menyesal, melewatkan proses perkembangan Rebecca dan hanya mengamati dari jauh. Jika dia tau waktu secepat ini berlalu dia tidak akan menyia-nyiakan Rebecca.
"Dia putriku, Erick."
Ucapan Valeria mampu membuat Erick menitikkan air matanya. Akhirnya, kesabaran dan penantiannya selama ini membuahkan hasil. Valeria mampu menerima Rebecca sebagai putrinya sendiri. Ketika anak-anak telah beranjak besar, orang tualah yang paling merasa kehilangan.
Tiba-tiba saja, pesawat dari Bandung mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta jakarta. Empat berawakan besar memasuki pesawat yang hendak berangkat. Mereka menunjukkan sesuatu kepada petugas keamanan pesawat.
Mereka langsung menuju kursi kosong di depan tempat duduk Rebecca. Mereka mengamati Rebecca sekilas. Rebecca yang merasa diamati langsung memasang sikap waspada selama perjalanan mereka menuju China.
Pramugari memberikan para penumpang makanan dan minuman, Rebecca tidak lupa berterimakasih kepada Pramugari itu. Namun siapa sangka, dalam minuman itu terdapat obat bius. Rebecca langsung tergeletak tidak sadar karena obat bius itu.
"Kita urus dia." Empat orang berperawakan besar saling membantu membenarkan posisi duduk Rebecca agar tidak dicurigai penumpang lain.
"Awas, jangan sampai terluka atau kita habis."
Sesampainya mereka di Bandara Internasional China 'Běijīng Shǒudū Guójì Jīchǎng'. Empat orang tersebut menempatkan Rebecca di atas kursi roda dengan alasan Rebecca mabuk perjalanan. Mereka bergerak bebas dengan id card yang mereka punya.
Mereka langsung membawa Rebecca ke pesawat lain menuju Negara France. Tempat di mana mereka akan dibayar setelah mendapatkan Rebecca.