Permainan Gila Pembawa Sial

871 Words
Neuro tahu persis apa arti dari kata-kata itu. Ia tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Dengan gerakan yang penuh naluri, ia menyingkap rok wanita itu, membiarkan kain itu melayang ke udara sebelum mendarat entah di mana. Namun, ketika ia hendak menanggalkan pakaian itu sepenuhnya, tangannya dihentikan oleh jemari lentik wanita itu. “Lakukan seperti ini saja. Aku… sudah tidak tahan,” ucapnya, dengan nada lembut yang penuh getaran, seperti alunan biola yang menyayat hati. Neuro mendesah, setengah kecewa, setengah terpesona. Ia menginginkan lebih, tetapi ia tidak ingin merusak suasana panas yang kini seperti bara api yang membakar di antara mereka. Ia menurut, membiarkan dirinya menjelajah, membiarkan tubuhnya mencari tempat di mana ia bisa menambatkan seluruh hasrat yang telah lama ia tahan. Ketika akhirnya ia menemukan tempat berlabuh, Neuro menggeram rendah, suara yang dalam dan penuh gairah. Gadis di bawahnya memekik pelan, suaranya seperti simfoni malam yang hanya bisa dinikmati sekali dalam seumur hidup. “Luar biasa…” pikir Neuro. Tubuh wanita ini, meskipun ia tahu ia bukan yang pertama, terasa begitu sempit, begitu pas, seperti diciptakan hanya untuknya. Sensasinya menggigit dan memeluk, membuat setiap saraf di tubuhnya seolah tersengat listrik. Ia mulai bergerak, perlahan pada awalnya, menciptakan ritme yang menenangkan namun menggoda, sebelum akhirnya mempercepat langkahnya. Desahan dan erangan mereka berpadu, memenuhi kamar dengan melodi panas yang tidak bisa diabaikan. Keringat mulai mengalir di sepanjang tubuh Neuro, mengilap dalam cahaya remang-remang, sementara pikirannya sepenuhnya dikuasai oleh kenikmatan yang membara. Ini bukan pertama kalinya ia bercinta, tapi malam ini terasa berbeda. Ada sesuatu yang magis, sesuatu yang membuat tubuhnya terasa lebih hidup daripada sebelumnya. Ia merasa tenggelam dalam lautan hasrat, terhipnotis oleh tubuh wanita ini yang seolah memiliki kendali penuh atas dirinya. Ketika akhirnya mereka mencapai puncak, Neuro menggeram dalam-dalam, suaranya berat dan penuh kepuasan. Gadis di bawahnya menjerit, jeritan yang lebih nyaring daripada sebelumnya, penuh intensitas dan pelepasan yang sempurna. Namun, ketika Neuro mengira semuanya telah selesai, ketika ia memindahkan tubuhnya ke samping dan merasa dirinya melayang di atas awan kenikmatan, wanita itu melakukan sesuatu yang mengejutkan. Wanita itu bangkit, tubuhnya yang indah dan mempesona kini berada di atas Neuro, seperti ratu yang siap menuntut takhta. Mata Neuro terbelalak, terkejut oleh keberaniannya. Bibir wanita itu mendekat ke telinganya, napasnya hangat, hampir seperti belaian. “Mau ronde kedua?” bisiknya, suaranya seperti madu yang menetes, menggoda dan memikat. ** Alisha mengerang pelan, rasa sakit merayapi tubuhnya seperti bekas luka yang belum sembuh sepenuhnya. Setiap otot terasa tegang, setiap sendi seolah berteriak. Ia mengerjapkan mata yang masih berat, lalu mendapati dirinya menatap langit-langit kamar yang asing. Desain atap itu—berpola ukiran klasik dengan warna keemasan yang mewah—jauh berbeda dari kamarnya yang sederhana. Keningnya berkerut saat ia mencoba memahami situasinya. Napasnya tertahan ketika ia menoleh ke sekeliling kamar. Tirai satin merah menjuntai anggun di dekat jendela, sementara cahaya matahari siang menembus sela-sela, memantulkan kehangatan yang terasa begitu kontras dengan dinginnya rasa bersalah yang perlahan menyelimutinya. Ia bangkit dari tempat tidur, selimut satin bergeser, mengungkapkan tubuhnya yang... polos. Tubuhnya tanpa sehelai benang pun, seperti kanvas kosong yang penuh tanda kemerahan—jejak-jejak yang mencolok di sepanjang kulitnya. Alisha tercekat. Matanya membelalak, lalu ia menutupi dadanya dengan kedua tangan, seolah itu bisa menyembunyikan kenyataan yang terpampang jelas. “Astaga... Apa-apaan ini?” gumamnya dengan suara nyaris tak terdengar, seakan takut kenyataan akan semakin nyata jika ia berbicara lebih keras. Apa yang telah ia lakukan? Tangannya meremas rambut kusutnya, mencoba meredam rasa panik yang perlahan mendominasi. Napasnya terengah-engah ketika ia memandangi kamar yang kacau—seprai yang terpelintir, pakaian yang berserakan di lantai seperti serpihan ingatan yang berusaha ia rangkai. Kepalanya berdenyut keras, tapi tidak ada jawaban yang muncul, hanya pertanyaan yang semakin menyesakkan. “Apakah aku telah berselingkuh?” Kengerian melintas di pikirannya, seperti badai yang tak berkesudahan. Samar-samar, ia mendengar suara air mengalir dari arah kamar mandi. Shower itu berderai seperti hujan yang tidak diundang, menghantui kesadarannya. Pria itu… Dia pasti di sana. Alisha memejamkan mata erat-erat, tubuhnya gemetar. Bagaimana bisa ia melakukan hal semacam ini? Dengan siapa ia tidur semalam? Bayangan buruk melintas di benaknya—bagaimana jika pria itu seseorang yang lebih tua, seorang maniak, atau bahkan lebih buruk… p****************g yang entah membawa bahaya apa? “Oh Tuhan…” desahnya, suaranya parau. Berapa banyak alkohol yang telah ia tenggak hingga ia kehilangan kendali seperti ini? Hingga ingatannya kosong, dan kini ia terjebak dalam situasi yang tak ia pahami? Pikirannya kacau, tetapi ia tahu satu hal: ia harus pergi dari sini. Ia tidak punya waktu untuk mengorek lebih dalam. Saat ini, yang penting adalah melarikan diri sebelum pria di kamar mandi itu keluar. Matanya terpaku pada jam tangan di atas nakas. Pukul 1 siang. Alisha menelan ludah, dadanya berdebar keras. Semalam ia tidak pulang, tidak ada kabar. Rean pasti mencarinya. Pikirannya terasa penuh dengan jerat, tetapi ia memaksa dirinya untuk bergerak. Ia meraih dress yang tergeletak di lantai, tetapi duka baru menamparnya begitu ia mencoba mengenakannya. Dress itu robek tidak karuan, seperti korban dari hasrat liar yang ia tak ingat telah terjadi. Alisha membeku, kedua tangannya mencengkeram kain itu dengan gemetar. Ini gila. Semua ini terlalu gila. Ketika suara shower berhenti tiba-tiba, jantung Alisha seolah berhenti. Ia harus pergi—sekarang, atau ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD