Dua Puluh Sembilan

1792 Words

Setelah latihan main piano, Diva merengek ingin coba sepeda barunya. Mama yang membelikan Diva sepeda kemarin. Mama bilang, ingin membayar hal - hal yang tidak bisa Mama lakukan saat aku kecil melalui Diva dan tetap melimpahkan kasih sayang yang banyak untuk aku. Uuhh, Agnesmo jadi terharu. "Sayang Mama." Aku memeluk Mama dari belakang dan mencium pipinya. Mama menepuk lenganku sambil tertawa, "mau belajar masak lagi enggak?" Aku cengengesan. "Hehehe, udah janjian sama Bowo dan Desti, Ma. Mau hangout. Biasa anak muda." Mama mencibir, "udah izin suamimu belum?" Tadi pagi kami sudah video call-an. Demi menghemat expenses, Elang, Arya dan Mirza hanya memesan satu kamar. Aku menertawakan mereka yang pagi - pagi tidur menumpuk seperti pepes. Dasar Elang dan itung - itungannya. Ya ampun,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD