Pulang

1160 Words
“Jadi apa wanita itu tak memiliki hubungan dengan Dominic?” tanya wartawan itu lagi. Benjamin menoleh kearah wartawan itu, sorot matanya tajam. “Penyampaian ku kurang jelas?" Wartawan itu perlahan mundur, dia takut. Hendra mendekati Benjamin, tampak ramah. “Ah! Kau sudah menikah, mengapa tak mengunjungi kami?!” “Pintu rumah terbuka lebar untuk mu.” ucap Hendra tampak menyambut Benjamin. Benjamin tak habis pikir. Hendra sendiri yang mengatakan Rhea bukanlah bagian dari Dominic lagi dan sekarang dia menjilat ludahnya sendiri. Benjamin menggertakkan gigi. “Kau bermain-main denganku sekarang!!Aku membiarkanmu sejauh ini karena memikirkan istriku. Mungkin dia masih menyayangi keluarganya.” “Tapi kelihatannya tidak!” Benjamin menyeringai, artinya dia tak akan segan untuk menghancurkan keluarga Dominic. Hendra tampak panik, jika dia tau Ayah dari anak yang dikandung Rhea adalah Benjamin Carillo Fuentes maka dia tak akan pernah memperlakukan Rhea dengan buruk sedari awal. Bersinggungan dengan Mafia akan merugikan dirinya. Benjamin terkenal diberbagai kalangan dengan memiliki banyak bawahan yang tersebar diberbagai pelosok negeri. Bergandengan dengan nya jauh lebih baik dibandingkan bermusuhan. Dan lagi karena kalimat Lili dia percaya bahwa Benjamin membuang Rhea. Sekarang dia menyesalinya. Nyatanya, Benjamin tampak sangat mencintai Rhea. Itu terlihat jelas dari tatapannya yang berbinar hangat, kala menatap putrinya. “Aku tahu putriku itu memang cantik, dia manis dan pandai.” gumam Hendra puas. “Itu kemarahan sesaat. Ayah mana yang tak murka saat tahu putri kesayangannya tak sesuai ekspetasi. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Itu dua hal berbeda.” ucap Hendra enteng, tanpa rasa bersalah, tangannya bahkan dengan berani menyentuh tangan Rhea. Hendra berharap Rhea tak akan ambil hati dari kejadian sebelumnya. Rhea menarik tangannya cepat, lalu menatap Ayahnya sekejap. “Rasa sakit tak mudah disembuhkan hanya dengan kata. Tak semudah kau menjilat lidahmu sendiri.” lirihnya. Lantas Rhea menyembunyikan wajahnya di d**a Benjamin, dia tak ingin Ayahnya melihat air matanya yang menetes, dan dia ingin menunjukkan bahwa dia tak memiliki niat memaafkan Ayahnya. Rasanya begitu pedih, jantung Rhea berdebar-debar dengan kecemasan yang menyelimuti. Hendra tampak marah, Rhea tak mau bekerjasama dengannya. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, karena Rhea menempel pada Benjamin. “Ku akui kau tak tau malu!!” Benjamin menatap Hendra tajam. Rasanya Benjamin ingin membunuh pria tua didepannya sekarang. Emosinya sungguh diujung tanduk. Benjamin kemudian menenangkan diri, kala melihat Rhea yang berusaha menahan tangisnya dengan terisak di dadanya tanpa bersuara. Itu adalah tangisan yang menyakitkan. Benjamin menyentuh wajah Rhea, lantas jemarinya mengusap air mata yang menetes dari sela-sela mata istrinya. “Tidak apa-apa, mereka tak akan mampu menyakitimu.” Rhea tak pernah berpikir bahwa pria yang dia benci, yang dia anggap menghancurkan hidupnya, dan membuatnya berada dititik penuh liku ini adalah pria yang mengeluarkan kalimat penenang untuknya. Dan itu bukan sekali atau dua kali. “Bagaimana aku bisa terus membencinya?” benak Rhea. Rhea mendongak menatap Benjamin. “Bisakah kita pulang?!” ajaknya lirih, berusaha menyembunyikan suaranya yang serak. Ya! Rhea terlalu lelah diserang dengan kata-kata tajam dan dia ingin mengakhiri perseteruan ini. Benjamin terdiam sejenak, memastikan lagi apakah dia salah mendengar. “Kau berkata pulang tadi?” Rhea mengangguk. Benjamin tanpa aba mengangkat Rhea tinggi, terlebih Benjamin tersenyum girang. Rhea terkejut bukan main, namun melihat wajah Benjamin yang berseri dia memilih diam. Meski dia harus menahan malu, di diperlakukan seperti anak kecil oleh Benjamin. Rhea tak membenci perlakuan ini, sebaliknya dia merasa dicintai. Untuk saat ini dia tak akan protes atau menunjukkan keras kepala pada pria yang berstatus suaminya ini. Setelah selesai mengangkat Rhea, dia meletakkannya kembali dengan pelan sembari memeluknya. “Ya, mari kita pulang ke rumah.” ucapnya lembut. Lantas Benjamin merangkul pundak Rhea sembari membawanya pergi dari tempat itu, mengabaikan orang-orang di sana. Orang-orang yang melihat tercengang. Rasanya dunia hanya milik mereka berdua. “Mm, aku curiga dia bukan Tuan Benjamin.” ucap Ray meragukan. “Menunjukan rasa cinta yang besar pada wanitanya adalah hal luar biasa yang tak bisa dilakukan kebanyakan pria. Dan Tuan melakukannya. Memperlihatkannya tanpa ragu, tanpa takut namanya tercoreng. Bagi kebanyakan orang itu terlihat aneh dan terkesan berlebihan. Tapi, itu lah cinta.” ucap Marie, dia tampak terpesona bagaimana Tuan yang kejam terlihat hangat hanya pada wanitanya. Dan bagi Marie itu hal mengagumkan yang pernah dia lihat. Sontak Ray tak lagi meragukan Tuannya, mungkin karena dia sendiri belum pernah jatuh cinta. Dia tak mengerti bagaimana orang-orang mengapresiasikan perasaan. Benjamin tak bisa menutupi wajahnya yang merona. Dia spontan memperlakukan Rhea seperti anak-anak. Ya! Benjamin menyukai dimana Rhea membutuhkannya, dimana Rhea menjadikannya tempat bersandar, tanpa takut terlihat lemah. Dengan begitu dia merasa lebih berguna dan merasa dibutuhkan oleh wanitanya. Rupanya kondisi keluarganya membuat Rhea dengan sendiri datang kearahnya. Benjamin bahkan tak percaya Rhea yang membencinya dan selalu merasa sesak dikediamannya menyebut tempatnya sebagai rumah. Lalu Benjamin tampak muak. Dia dan Rhea masih saja diikuti oleh beberapa wartawan yang tak menyerah. Benjamin tak suka momennya diganggu oleh orang-orang sialan yang datang hanya untuk kepentingan mereka, dan mengusik ketenangan nya. Benjamin menggerakkan kedua jarinya, kemudian tiga gangster datang membantu Ray menghalau wartawan yang terus memburu informasi tentang mereka. Kemudian Benjamin membawa Rhea kian menjauh dari tempat itu. Tanpa satupun wartawan yang bisa mengejar lagi. Dan mereka meninggalkan orang-orang yang masih terpaku setengah tak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. “Gila! gila! Kau lihat bagaimana Tuan memperlakukan nyonya. Itu manis sekali.” Pelayan Ina mengguncang tubuh pelayan Caca. “Kau lihat di kondisi ini Tuan datang dan melindungi sang pujaan. Seperti apapun atau sekejam apapun Tuan, namun didepan penakluk hatinya dia bersikap sebaliknya.” ucap Ina membanggakan Tuannya yang bersikap manis dan gentle. Kapan lagi dia melihat Tuan yang bengis tengah berbunga-bunga. “Kali ini aku setuju denganmu. Mereka sangat manis. Bahkan Tuan tak terlihat seperti pria kejam untuk hari ini.” jawab Caca tak meragukan cinta Tuannya lagi pada Nyonya nya. “Aku tarik lagi kalimat meragukan ku hari kemarin.” ucap Caca serius. _ Wajah Rhea merona malu, jantungnya berdegup kencang. Saat ini situasi menjadi hening antar keduanya. Lalu Benjamin memecah keheningan, dia berkata. “Beritahu aku apa saja yang sudah kau beli?” tanya Benjamin penasaran, sebab dia tak melihat Rhea menenteng satupun barang. Rhea tersentak, lantas mengeluarkan Black Card memberikannya kembali pada pemiliknya. “Aku tak bisa menggunakan uangmu. Kau dari awal sampai sekarang sudah membantuku. Ucapan terimakasih saja tak cukup. Rasanya aku seperti orang yang tak tahu malu, terus menggunakan milikmu.” Benjamin menatap kartu yang diberikan kearahnya. Lalu dia menggenggamnya bersamaan dengan tangan Rhea. “Aku memberikannya padamu. Jika bukan kau lantas siapa yang akan menghabiskan uangku?!” Benjamin menyentuh dagu Rhea, menatap lekat matanya. “Semua yang aku punya adalah milikmu.” “Jangan pernah berpikir aku terbebani olehmu. Tak bisa dipungkiri semua hal terjadi dan kau berada sampai dititik ini karena aku. Karena itulah aku tak menerima ucapan terimakasih mu. Kau tak perlu merasa engan, apa lagi berpikir tak tahu malu.” Benjamin tersenyum manis. Dan itu berhasil menggetarkan hati Rhea. “Uang ku tak akan habis hanya karena kau membeli beberapa barang.” ucap Benjamin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD