Hari Senin di SMA Senandika

703 Words
Suasana di kelas pagi itu terasa biasa saja. Mata pelajaran pertama adalah Fisika. Bagiku, itu tidak masalah. Yang jadi masalah justru siswa yang duduk tepat di belakangku. Dia tertidur. Bukan tidur biasa. Tidurnya serius, lengkap dengan kepala miring dan tangan terlipat di meja. Aku sampai berpikir dia sedang hibernasi. Manusia hibernasi. Julukan yang bagus, kuberi untuknya. “Ryan Oliver.” Suara Bu Rani terdengar tegas dari depan kelas. “Ryan Oliver! Kenapa kamu tidur di jam pelajaran saya? Coba jawab pertanyaan saya.” Ryan mengangkat kepalanya perlahan, rambutnya masih berantakan, matanya setengah terpejam. “Saya begadang main Mobile Legends, Bu,” jawabnya santai. Beberapa siswa langsung menahan tawa. Nah, ini dia sang troublemaker SMA Senandika. Apakah Bu Rani percaya dengan alasan itu? Sepertinya tidak. “Baik,” kata Bu Rani sambil menyilangkan tangan. “Sekarang jawab pertanyaan ibu. Mengapa sebuah benda bisa terapung, melayang, atau tenggelam di dalam fluida?” Aku langsung menegakkan punggung. Soal fluida statis. Lebih spesifik, Hukum Archimedes. Biasanya Ryan selalu bisa menjawab, bahkan sambil setengah tidur. Aku yakin dia bisa. “Maaf, Bu. Saya nggak tahu jawabannya.” Hah? Aku menoleh cepat ke belakang. Dia serius? Kelas langsung hening. “Kalau begitu,” kata Bu Rani, “kamu keliling lapangan lima kali putaran. Sekarang.” Aku melongo. Ini tidak biasanya. Biasanya manusia hibernasi itu selalu selamat dari hukuman, bahkan sering dipuji karena jawabannya benar. Apa keberuntungannya akhirnya habis? Apa ini kesempatan emas buat menggeser peringkatnya? Aku hampir tersenyum. “Valerie,” panggil Bu Rani. “Kamu bisa jawab pertanyaan ibu tadi?” Aku mengangguk. “Bisa, Bu.” “Silakan.” Aku berdiri. “Jadi, benda bisa terapung, melayang, atau tenggelam karena adanya gaya apung. Menurut Hukum Archimedes, gaya apung itu besarnya sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Kalau gaya apung lebih besar dari berat benda, benda akan terapung. Kalau sama, benda melayang. Kalau lebih kecil, benda akan tenggelam. Itu juga dipengaruhi oleh perbedaan massa jenis benda dan fluida.” Bu Rani mengangguk puas. “Jawaban bagus. Silakan buka buku halaman 210, kerjakan latihan nomor 1 sampai 10 di buku tugas. Dikumpulkan waktu istirahat. Ibu ada urusan mendadak.” “Baik, Bu,” jawab satu kelas serempak. Aku duduk kembali. Dari belakang, aku mendengar kursi Ryan bergeser. Dia benar-benar keluar kelas. Entah kenapa, hari ini terasa aneh. *** Bel istirahat berbunyi. Aku langsung bergegas kelas dan membeli bakso yang kujanjikan. Tujuanku jelas: lapangan. Grizelle sedang menjalani hukuman—membersihkan lapangan. Dan tentu saja, Ryan juga ada di sana, masih berlari dengan wajah lelah. “Apa udah selesai?” teriakku dari kejauhan. “Gue bawa bakso Bang Asep!” Grizelle langsung menoleh. Tanpa pikir panjang, dia menjatuhkan sapu dan berlari ke arahku. “Gila, Val. Lo malaikat banget. Energi gue habis buat bersihin lapangan seluas ini,” katanya sambil langsung meraih mangkuk bakso. Aku menghela napas pelan. Lagi-lagi ketua OSIS itu memberi hukuman sadis ke Grizelle. Dan yang lebih membingungkan, Grizelle tidak pernah jera. Aku melirik wajahnya yang terlihat terlalu senang untuk seseorang yang baru saja dihukum. “Grizelle,” kataku pelan, “lo nggak jera sama hukuman ketos itu? Jangan-jangan… lo suka?” Dia berhenti mengunyah. Lalu tersenyum. “Gila… tebakan lo bener, Val. Nggak nyangka bestie gue ternyata peka juga.” Aku hampir tersedak. Astaga. Jatuh cinta sama orang paling menyeramkan di sekolah. Pantas saja dia akhir-akhir ini rajin belajar dan tampil makin menor. Ternyata semua cuma strategi. “Gue cuma mau bilang,” kataku serius, “jangan terlalu dalam. Soalnya dia udah punya pacar. Lo nggak mau jadi orang ketiga, kan?” Grizelle menatapku kaget. “Darimana lo tahu?” Aku menunjuk ke arah kantin. Di sana, Rendra terlihat duduk berhadapan dengan seorang siswi. “Val,” kata Grizelle pelan, “lo gatau kalo Rendra punya adik?” Aku memperhatikan lebih lama. Wajah mereka memang mirip. Oh. “Ya ampun… sorry,” kataku cepat. “Kalau gitu kejar aja cinta lo. Intinya satu: jangan terlalu dalam. Nanti malah jadi goblok.” Aku berbalik masuk kelas. “Sial,” teriak Grizelle dari belakang. “Nanti kalo lo jatuh cinta, gue bully lo habis-habisan ya!” Aku tersenyum kecil. Tenang saja, Grizelle. Kalau suatu hari aku jatuh cinta… mungkin aku bahkan tidak sadar sejak kapan itu dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD