Prolog

1096 Words

"Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha Dilara Raihana binti Muhammad Haris alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq."

Dalam satu tarikan nafas Izzaz berhasil melafalkan serangkaian kalimat sakral itu dengan penuh ketegasan dan keseriusan, entah ke mana rasa gugup yang sejak tadi menggerogoti dadanya.

Di saat-saat seperti ini, bahkan perut mulas ingin milipir ke kamar mandi pun pasti terlupakan.

"Bagaimana para saksi?"

"Sah!"

Teriakan penuh semangat itu diakhiri dengan kata hamdalah sebagai ucapan syukur atas lancarnya acara inti yang telah lama dinanti-nanti dan disiapkan.

Penghulu yang menjadi saksi pernikahan pun memimpin doa harapan untuk kelancaran pernikahan pengantin yang baru saja halal itu, kemudian diamini oleh para tamu yang ada.

Tak lama kemudian, seorang perempuan dengan pakaian serba putih dan kepala yang ditutupi hijab panjang berwarna senada keluar dari sebuah kamar, didampingi oleh wanita lainnya yang lebih tua dan beberapa perempuan sebaya di belakangnya.

Dia Dilara Raihana.

Sang pemeran utama perempuannya hari ini.

Dilara dibawa duduk di sebelah Izzaz yang kini telah sah menjadi suaminya di mata hukum maupun agama. Kepala keduanya sama-sama menunduk, tak berani saling menatap walaupun telah sah dan halal.

"Ayo diambil dan dicium tangan suami kamu, Nak," pinta ayah Dilara.

Dengan malu-malu Dilara membalikkan tubuhnya menghadap Izzaz, mengambil tangan kanan pria itu dan menciumi punggung tangannya yang besar sedikit lama.

Untuk ke depannya hingga ia mati, punggung tangan inilah yang akan ia cium setiap hari selain milik kedua orang tuanya. Punggung tangan yang akan ia cium setelah melaksanakan shalat.

"Nak Izzaz bisa cium kening Dilara," pinta ayah Dilara lagi.

Dengan tangan gemetar halus Izzaz menangkupkan tangannya di wajah Dilara, mengangkat wajah itu sehingga ia bebas menatap indahnya wajah sang istri yang berbalut riasan tipis.

Izzaz mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menempel di kening Dilara. Kedua mata mereka saling terpejam, menikmati getaran di dalam hati.

Setelah satu menit, Izzaz kembali menjauhkan kepalanya dari Dilara dan duduk menatap pada kedua orang tua mereka seperti awal tadi.

"Cium tangan kedua orang tua dan kedua mertua kalian, Nak. Minta doa restu mereka untuk pernikahan kalian," pinta Pak Penghulu.

Keduanya saling menatap sejenak, kemudian berjalan dengan lutut ke hadapan kedua orang tua Dilara. Saling bergantian menciumi tangan kedua orang tua Dilara dengan seksama.

"Papa titipkan putri kecil Papa ke kamu, ya. Putri kesayangan yang sudah Papa besarkan, sudah Papa rawat, sudah Papa sayangi. Tolong jaga dia, sayangi dia, dan bimbing dia di antara banyaknya ketidaksempurnaan dia. Papa mohon, jangan sekali-kali sakiti hati putri kecil Papa ini, jangan pernah menyakiti fisiknya apalagi sampai memukulnya, Naudzubillah."

Izzaz mengangguk beberapa kali, mengiyakan permintaan Haris yang ia anggap lumrah. Sebagai seorang ayah, beliau pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Apalagi Dilara adalah putri bungsu dan putri satu-satunya.

"Insyaallah, Pa. Izzaz akan berusaha menjadi suami yang baik bagi Dilara, membimbing dan menyayangi dia hingga kami berdua bisa sampai ke surga-Nya. Izzaz juga akan memuliakan Dilara sebagaimana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah kepada istri-istrinya."

Setelah setelah menciumi punggung tangan kedua orang tua Dilara, barulah mereka beralih menciumi tangan kedua orang tua Izzaz yang sudah menatap mereka sembari tersenyum.

Ibu Izzaz tampak sangat menyayangi menantu barunya sekaligus menantu satu-satunya karena status Izzaz yang merupakan anak tunggal. Ia langsung membawa Dilara ke dalam pelukan begitu Dilara hendak menciumi punggung tangannya.

"Terima kasih sudah mau menjadi bagian keluarga kami, Nak. Terima kasih sudah mau menerima anak Umi dengan segala kekurangannya, tolong untuk ke depannya juga kamu terima segala kekurangan anak Umi. Kami selaku orang tua hanya bisa mendoakan kalian dan menegur kalian jika salah jalan, nggak ada orang tua yang akan berdoa j***k untuk anaknya."

"Insyaallah, Umi. Insyaallah Ara akan selalu menemani Mas Izz di setiap langkahnya," sahut Dilara dengan suara yang sangat lembut.

Bahkan Izzaz yang duduk di sebelahnya juga dibuat terpesona sejenak dengan suara lembut sang istri. Sejak keduanya dijodohkan dan setuju untuk menikah, Dilara terhitung sangat jarang berbicara.

***

Sepasang suami istri yang baru saja halal beberapa jam lalu itu kini sudah berada di dalam satu kamar yang sama. Hanya berdua, karena orang tua mereka sibuk menemani keluarga besar yang ada di luar.

Mereka sendiri sengaja disuruh berisitirahat sejenak sambil menunggu untuk mengganti pakaian dan ke tempat acara resepsi nantinya.

"Emm ... Mas Izz lapar? Mau Ara ambilkan makanan di luar?" tawar Dilara dengan kepala menunduk malu-malu.

Suasana canggung sangat terasa di dalam kamar itu, pasalnya ini pertama kali bagi mereka berdua berada dalam satu ruangan bersama lawan jenis kecuali keluarga dekat. Keduanya pun bukan termasuk orang yang pernah berpacaran.

Izzaz mendongakkan kepalanya, ia menatap Dilara yang duduk di sudut ranjang.

"Gak usah, Ra. Kamu mending istirahat aja, atau kamu yang makan mau? Biar Mas ambilkan. Malam nanti pasti bakal lebih capek," ucap Izzaz.

Sayangnya maksud baik Izzaz diterjemahkan berbeda oleh otak Dilara yang kini sudah kembali menunduk dengan pipi memerah. Izzaz sendiri yang melihat reaksi istrinya menjadi sadar akan ucapan ambigunya.

"Eh, nggak. Maksudnya pasti pas resepsi nanti malam bakal lebih capek, apalagi banyak tamu dari orang tua dan kerabat jauh juga," ucap Izzaz meralat ucapannya.

Sungguh, Dilara saat ini merasa sangat malu karena Izzaz mengetahui pikiran kotornya. Ia terlihat sangat konyol sekarang.

"Em, iya Mas," ucap Dilara.

Ia cepat-cepat naik ke atas ranjang dan duduk menyandarkan punggung di kepala ranjang sementara Izzaz yang melihatnya pun ikut bergabung duduk di sebelah istrinya dengan pakaian yang masih rapi. Hanya jas hitam yang ditanggalkan oleh Izzaz dan disimpan di atas sofa kecil.

Sejenak Izzaz menatap istrinya, ia masih tak berhenti mengagumi wajah cantik Dilara, masih tak percaya jika wajah itu yang akan dilihatnya setiap bangun tidur nanti.

"Ra, walaupun kita menikah karena dijodohkan dan gak sempat untuk menjalani masa-masa pendekatan yang lama seperti pasangan lainnya, Mas harap kamu jangan canggung, ya? Kita mulai pelan-pelan aja, ibarat anak muda kita mulai dari PDKT, lalu pacaran. Tapi, bedanya kalau sekarang kita pacaran halal, pacaran yang diridhoi oleh Allah."

Dilara mengangguk pelan mendengar ucapan Izzaz, mengartikan ia paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya.

"Kalau kamu mau apa-apa, butuh sesuatu atau ada keluhan, jangan ragu untuk kasih tahu Mas. Sekarang kamu tanggung jawab Mas, akan memalukan sekali kalau Mas malah jadi orang kesekian yang tahu keluhan kamu, yang tahu permintaan kamu," ucap Izzaz.

"Malu kepada siapa, Mas?" pancing Dilara.

"Malu kepada Allah paling utama, Ra. Mas malu kalau menjadi orang kesekian yang tahu keluhan istri Mas, padahal tadi Mas sudah berjanji dan bersaksi dengan nama Allah dan Al-Qur'an untuk menjadi suami kamu. Dengan mas mengucapkan kalimat ijab kabul, sama artinya dengan Mas siap mengambil alih tanggung jawab atas kamu dari Papa."

Izzaz memposisikan dirinya menghadap Dilara, menggenggam tangan istrinya. "Juga Mas akan malu pada orang tua kamu. Mas sudah berjanji akan menjaga anak mereka ini dengan baik."

***

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd