BAB 3

907 Words
Bella tidak akan pernah sudi memperlihatkan air mata frustrasi di depan Damian. Dengan sisa harga diri yang dia miliki, dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Namun, begitu pintu jati tebal itu tertutup di belakangnya, Bella harus bersandar pada dinding koridor untuk menstabilkan napasnya yang memburu. Dibekukan. Damian benar-benar berusaha menghancurkannya. Tanpa anggaran divisi pemasaran dan inovasi yang dia pimpin, semua proyek eksklusif hotel yang sedang berjalan akan mandek dalam waktu dua minggu. "Laura," panggil Bella, suaranya bergetar menahan amarah saat dia kembali ke kubikel sekretarisnya. "Panggil tim hukum kita. Sekarang." Laura mendongak, wajahnya pucat. "Maksud Anda, tim hukum Grand Vellara?" "Bukan. Panggil pengacara pribadi keluarga kita. Om Faisal. Aku mau dia memeriksa keabsahan surat kuasa yang dipegang Damian." Bella mencengkeram tepi meja Laura. "Ayahku tidak mungkin sebodoh itu memberikan hak veto mutlak pada orang asing." "Baik, Bella." Dua jam kemudian, Bella duduk di ruang rapat kecil divisinya, menatap lembar salinan dokumen yang baru saja dikirimkan oleh pengacara keluarganya via faks. Alih-alih mendapatkan angin segar, wajah Bella justru semakin mengeras. Dokumen itu legal. Ayah dan Damian telah menandatangani klausul efisiensi korporat, jika dalam waktu tiga bulan CEO baru menilai sebuah divisi menghambat restrukturisasi, CEO berhak menangguhkan dana operasional secara sepihak untuk dievaluasi. Ayahnya benar-benar telah membarikade Damian dengan benteng hukum yang tak tertembus. Tenang, Bella. Berpikir. Bella memejamkan mata, memaksa otaknya yang terbiasa meledak-ledak untuk bekerja secara kalkulatif. Damian tipe pria yang bergerak berdasarkan data dan pengamatan. Dia tenang karena dia merasa memegang semua kartu as. Kalau aku menyerang secara frontal dengan amarah, aku hanya memberinya konfirmasi bahwa aku tidak kompeten. Jika Damian ingin memotong anggarannya, maka Bella harus membuktikan bahwa tanpa divisinya, strategi rebranding Damian akan cacat sejak dalam kandungan. Keesokan paginya, pukul delapan tepat, Bella berdiri di depan pintu ruang kerja Damian. Dia tidak menggedor. Dia mengetuk dua kali dengan ketukan yang ritmis dan tenang, lalu membuka pintu bahkan sebelum diizinkan. Damian sedang meninjau dokumen di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Dia tidak terkejut melihat kehadiran Bella. Pria itu hanya melirik arlojinya, lalu menatap Bella dengan pandangan menilai yang seperti biasa—dingin dan superior. "Kau punya waktu lima menit sebelum rapat koordinasi dimulai, Bella. Jika kau ke sini hanya untuk berteriak atau mengancam akan melaporkanku pada ayahmu, simpan energimu," ucap Damian, meletakkan cangkir kopinya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Bella tidak terpancing. Dia berjalan dengan langkah konfiden, menarik kursi di depan Damian, dan duduk dengan punggung tegak tanpa diminta. Dia meletakkan sebuah map perak tebal di atas meja Damian. "Aku tidak ke sini untuk berteriak, CEO," ujar Bella, menekankan kata jabatannya dengan nada profesional yang datar. "Aku ke sini untuk menunjukkan cacat fatal dalam rencana rebranding yang kau dewakan itu." Damian menaikkan sebelah alisnya, sedikit tertarik dengan perubahan sikap Bella yang mendadak terkontrol. "Cacat?" "Kau ingin merangkul segmen bisnis keluarga dan pasar massal dengan mengubah logo serta menurunkan standar harga korporat sebesar tiga puluh persen untuk menarik volume," Bella membuka mapnya, membalik halaman yang berisi analisis pasar tandingan. "Tapi kau lupa satu hal, Damian. Tujuh puluh persen pendapatan Grand Vellara selama lima tahun terakhir disokong oleh loyalitas member dari kalangan jetset yang menyewa villa dan penthouse kita untuk privasi. Begitu mereka melihat logo kita berubah menjadi ramah keluarga dan area lobi dipenuhi oleh anak-anak yang berlarian, mereka akan hengkang dalam semalam." Bella menatap Damian lurus-lurus, senyum kemenangan tipis terbit di wajahnya. "Volume pasar baru yang kau incar butuh waktu delapan belas bulan untuk menghasilkan keuntungan yang sama dengan yang dibawa oleh para elite itu dalam satu musim. Jika kau membekukan divisiku dan memaksa konsep ini berjalan bulan depan, Grand Vellara akan mengalami defisit arus kas pada bulan kedua kepemimpinanmu. Dan itu akan tercatat di resume cemerlangmu sebagai kegagalan pertama." Ruangan itu hening. Untuk pertama kalinya, Bella melihat kilat perhitungan yang intens di mata cokelat gelap Damian. Pria itu tidak langsung menjawab. Dia mengambil map dari tangan Bella, membalik halamannya dengan perlahan, membaca angka-angka riil yang dikumpulkan Bella semalaman suntuk. Satu menit berlalu dalam ketegangan yang pekat. Damian menutup map itu, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertautan. Mata pengamatnya mengunci Bella. "Analisis yang bagus," puji Damian, namun suaranya sama sekali tidak terdengar tulus. Datar dan dingin seperti lantai di bawah mereka. Pria itu sama sekali tidak terkesan. "Kau akhirnya belajar menggunakan otakmu daripada urat lehermu." "Jadi, batalkan pembekuan anggaranku," tuntut Bella, mencoba mempertahankan nada tenangnya. Damian tersenyum sinis, ekspresi yang membuat darah Bella kembali mendidih. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, mengikis jarak di antara mereka hingga atmosfer ruangan kembali terasa mencekam. "Kau benar tentang risiko kehilangan pasar elite, Bells. Tapi kau salah jika mengira aku tidak mengantisipasinya. Aku tidak pernah maju ke medan perang tanpa rencana cadangan. Rencana rebranding yang kuterima dari ayahmu melibatkan akuisisi jaringan hotel baru di bawah nama Grand Vellara untuk segmen keluarga, sementara gedung utama ini tetap eksklusif dengan logo baru yang lebih modern." Bella tersentak. "Akuisisi? Uang dari mana—" "Uang dari investor baru yang kubawa dari London," potong Damian cepat, suaranya sedingin es dan penuh otoritas mutlak. Dia berdiri, menatap Bella dari posisinya yang tinggi. "Dan investor itu hanya mau menandatangani kontrak jika mereka melihat ada restrukturisasi total di manajemen atas. Termasuk penghapusan posisi Kepala Divisi Pemasaran yang tidak kooperatif." Damian mengambil map perak Bella, lalu menjatuhkannya ke dalam keranjang sampah di samping mejanya dengan gerakan santai. "Waktumu habis, Bella. Surat pemecatanmu sudah ada di laci mejaku, tinggal menunggu tanda tanganku jika kau menolak tunduk dan bersikap kooperatif."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD