Rie akhirnya menikah dengan Kenji Nakamura. Pria tersebut tampak cukup tampan dan sopan pada awal perkenalan mereka. Tipe-tipe eksekutif muda. Pesta pernikahan diadakan dengan sangat meriah, karena pernikahan ini melibatkan dua keluarga besar dari geng motor terkenal, Fujiomi dan Nakamura, yang bersatu.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Rie merasa ada yang hilang. Ia tidak sepenuhnya bisa menikmati kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan. Senyum yang terpampang di wajahnya hanyalah topeng yang menutupi kekecewaan di hatinya. Kegelisahan mulai merayapi pikirannya, menciptakan sebuah jurang di antara dirinya dan keceriaan yang seharusnya ia rasakan.
"Kau mencari siapa?" tanya Kenji saat melihat Rie selalu memandang ke arah pintu. Mata Kenji tajam, mengamati gerak-gerik istrinya yang tampak gelisah.
Rie terkejut, tapi segera mencoba mengendalikan dirinya. "Oh, tidak apa-apa, aku hanya ingin melihat siapa saja yang datang. Banyak sekali tamu yang hadir, tapi aku tidak mengenal mereka," elaknya. Dalam hatinya, Rie sebenarnya sedang menunggu kehadiran Ryu. Tapi ia tak sepenuhnya berbohong, karena hampir semua tamu undangan memang tidak ia kenal.
Kenji tersenyum tipis, seolah memahami kebingungan Rie. "Para tamu adalah rekan bisnis ayahmu dan beberapa rekan bisnis keluargaku," jelas Kenji, dengan nada yang terdengar seperti seorang suami yang bangga akan keluarganya.
"Ya, aku tahu," sahut Rie singkat, mencoba menunjukkan ketertarikan, meski hatinya masih dirundung kegelisahan. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa hampa, seolah tak mampu menjangkau perasaan yang sebenarnya.
Kenji, menyadari ketidaknyamanan istrinya, mencoba menunjukkan perhatian. Dia menggenggam tangan Rie dengan lembut. "Tenang saja, aku akan menjagamu."
Rie merasa canggung dan segera menarik tangannya. "Terima kasih," ucapnya pelan, merasa aneh disentuh oleh orang yang baru dikenalnya. Walaupun sekarang Kenji adalah suaminya, hubungan mereka masih terasa asing dan jauh. Ada sebuah dinding tak terlihat yang memisahkan mereka, membuat setiap sentuhan terasa dingin dan tidak nyaman.
Kenji tampak sedikit bingung dengan reaksi Rie, tapi ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya. "Aku akan ke sana," katanya sambil menunjuk ke arah segerombolan rekan kerjanya yang sedang tertawa-tawa. "Kau baik-baik saja jika aku tinggal, bukan?"
Rie mengangguk cepat. "Kau pergi saja, aku tidak apa-apa," jawabnya. Ia merasa lebih nyaman jika ditinggal sendiri daripada harus berdua dengan Kenji dalam situasi yang canggung seperti ini.
"Baiklah, jika kau bosan, kau boleh beristirahat terlebih dahulu," saran Kenji dengan nada lembut, meski sorot matanya sedikit khawatir.
"Tenang saja, pergilah!" ucap Rie, sedikit mendesak. Kenji akhirnya meninggalkan Rie, membiarkannya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Gadis itu kembali memperhatikan sekelilingnya, berharap bahwa Ryu akan segera datang dan mengobrol dengan anak buah ayahnya yang lain. Tapi, sosok yang dinantikannya belum juga muncul. Setiap detik yang berlalu terasa semakin menyiksa, seolah-olah waktu mempermainkannya dengan kejam.
Pandangan Rie kemudian tertuju pada Jiro, pria paruh baya yang sudah seperti paman baginya. Ia memutuskan untuk menghampiri pria itu.
"Paman, apa Paman melihat Ryu?" Rie bertanya dengan nada cemas. Sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Kenji, Ryu seolah menghilang tanpa jejak, membuat hatinya semakin gelisah. Rie tahu Ryu tidak setuju dengan pernikahannya ini tapi Ryu tidak boleh bersikap keterlaluan juga sehingga tidak datang pada hari bahagia Rie. Kehadiran Ryu sangat penting baginya, bukan hanya sebagai teman lama, tetapi juga sebagai penopang emosional yang selalu bisa ia andalkan.
"Paman juga tidak melihatnya," jawab Jiro sambil tertawa kecil, mencoba meredakan ketegangan. "Mungkin dia sibuk berkencan," gurau Jiro. "Kau tenang saja, jangan mengkhawatirkannya, dia pasti baik-baik saja. Anak muda selalu begitu, bersenang-senang selagi masih lajang."
Rie hanya bisa mengangguk pelan. Kata-kata Jiro sedikit menenangkan, tapi tidak mampu menghilangkan kegelisahan di hatinya. Ryu adalah sosok yang sangat berarti baginya, dan ketidakhadiran pria itu di hari penting ini semakin membuatnya merasa bersalah. Apakah keputusan yang diambilnya ini benar? Apakah ini jalan yang seharusnya ia tempuh?
***
Sementara itu, di sudut kota yang jauh dari keramaian pesta, Ryu duduk di sebuah bar, tenggelam dalam kesedihan yang tak terbendung. Gelas-gelas minuman terus berdatangan, seolah menjadi satu-satunya pelarian dari rasa sakit yang menggerogoti hatinya.
Ryu tidak sanggup menyaksikan gadis yang dicintainya sejak ia berusia 18 tahun menikah dengan pria lain. Terlebih lagi, pria tersebut--Kenji Nakamura yang diketahui oleh Ryu bukanlah pria baik-baik. Kenji adalah pria yang memiliki banyak hubungan gelap, dan meskipun semua orang menganggapnya sebagai pengusaha sukses, Ryu tahu lebih dalam dari itu. Ia tahu rahasia-rahasia kelam yang disembunyikan Kenji, sesuatu yang tidak akan pernah disangka oleh Rie atau siapa pun.
Ryu dan Rie telah tumbuh bersama. Sejak Ryu berusia 12 tahun dan Rie baru 6 tahun, mereka sudah saling mengenal. Ryu yang masih kecil kala itu diselamatkan oleh Ryoto Fujiomi, ayah Rie, dari jalanan yang kejam. Ryoto membawa Ryu pulang dan merawatnya seperti anak kandungnya sendiri. Ketika dewasa, Ryu direkrut menjadi anggota geng motor, mengikuti jejak ayah angkatnya.
Awalnya, Ryu menganggap Rie seperti adiknya sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai berubah. Ketika Rie beranjak remaja dan mulai menunjukkan kecantikannya, Ryu menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis itu. Tetapi ia sadar betul bahwa cintanya tidak boleh terwujud. Rie adalah putri kesayangan ketua geng, sedangkan dirinya hanyalah anak angkat yang diambil dari jalanan. Setiap perasaan cinta yang tumbuh di hatinya hanya menambah beban berat yang harus ia pikul sendirian.
"Kenapa dia harus menikahi pria b******n yang suka main wanita itu," maki Ryu dalam keadaan mabuk. Tangannya yang gemetar mencengkeram gelas minuman, seolah ingin menghancurkannya. Emosinya meluap, terperangkap dalam pusaran rasa marah, kecewa, dan patah hati yang bercampur aduk menjadi satu.
Bartender di depannya hanya tersenyum simpul, sudah biasa baginya melihat pelanggan yang mabuk dan meracau tentang hidup mereka.
"Tambah lagi," kata Ryu, menyodorkan gelas kosongnya. Ia ingin terus minum hingga rasa sakit itu hilang, atau setidaknya tertutupi oleh rasa pahit alkohol. Ia ingin melarikan diri, meski hanya untuk beberapa saat, dari kenyataan pahit yang harus ia hadapi.
Bartender meracik minuman dan mengisi gelas Ryu. Pria itu meneguk minuman tersebut dalam sekali teguk, merasakan panasnya yang membakar tenggorokannya.
"Apa dia tidak tahu bahwa hanya aku pria yang pantas untuknya? Gadis itu sungguh bodoh, mau saja dinikahkan dengan pria b******n. Tapi aku tahu, karena kebaikan hatinya, makanya dia menikahi pria itu," racau Ryu, semakin larut dalam minumannya. Setiap tegukan alkohol seolah menjadi sebuah pengkhianatan terhadap perasaannya sendiri, namun ia tidak mampu berhenti. Rasa pahit di mulutnya seolah mencerminkan betapa pahitnya nasib yang harus ia terima.
"Apa Anda sedang patah hati, Tuan?" tanya bartender sambil melap gelas.
"Entah itu patah hati, karena dia tidak tahu perasaanku dan sekarang dia telah menikah," jawab Ryu dengan suara yang serak, penuh kegetiran. Ryu meneguk minuman itu dengan sekali teguk, berharap bahwa dengan begitu, rasa sakit di hatinya akan menghilang, walau hanya sejenak.
"Cinta sepihak rupanya," balas bartender dengan senyum menyindir. Meski demikian, ia juga merasa kasihan melihat kondisi pria di depannya ini. Bartender itu telah melihat banyak orang datang dan pergi, membawa serta cerita-cerita mereka yang terkadang lebih pahit daripada minuman yang mereka pesan.
"Sebaiknya aku pulang dan menenangkan diri," gumam Ryu
Dengan langkah gontai, Ryu keluar dari bar. Malam yang dingin dan sepi menyambutnya, seolah mencerminkan kekosongan dalam hatinya. Ryu merasa seperti orang asing di dunia ini, terlunta-lunta tanpa tujuan. Perasaan cintanya yang tidak terbalas membuatnya merasa hancur, seolah hidupnya tidak berarti lagi. Namun, ia tahu bahwa ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ryoto telah memberinya kehidupan baru, dan ia harus membalas budi itu, meskipun dengan menahan perasaan yang kini membuatnya menderita.
-TBC-