Rie menyadari bahaya besar yang mengancamnya, dan ia segera mengerti bahwa Kenji ingin membunuhnya. Tanpa membuang waktu, Rie keluar dari ruangan Kenji dengan hati yang penuh ketakutan. Kakinya bergerak cepat, berlari menuju tempat di mana Ryu menunggunya di luar.
"Ryu, cepat! Kita harus ke rumah dan memberitahu yang lain!" perintah Rie dengan suara tegang. Tanpa ragu, dia segera menaiki motor yang dikendarai oleh Ryu.
Ryu, yang menyadari situasi genting, langsung melajukan motor dengan kecepatan penuh, seperti badai yang tak bisa dihentikan. Namun, bahaya semakin nyata ketika anak buah Kenji mulai mengejar mereka. Kebut-kebutan di jalan pun tak terelakkan, dengan pasukan geng motor Kenji sesekali melemparkan tembakan ke arah mereka. Beruntung, Ryu adalah pembalap yang sangat handal, dia mampu melesat dengan gesit, menghindari setiap peluru yang ditembakkan.
Rie semakin mempererat pelukannya di pinggang Ryu, merasakan adrenalin yang melonjak seiring dengan semakin cepatnya motor melaju. Jalan raya yang biasanya ramai kini menjadi medan pertempuran, di mana mereka harus terus menghindari serangan demi serangan dari anak buah Kenji yang tak kenal lelah. Ryu dengan lincah menguasai jalan, menyelamatkan mereka dari bahaya yang terus mengintai.
Di tengah pengejaran sengit itu, satu per satu anak buah Kenji berguguran. Ryu dengan kecakapannya membuat mereka menabrak mobil-mobil yang melintas atau bahkan jatuh ke sungai yang mengalir di sisi jalan. Ketegangan memenuhi udara, tetapi Ryu tetap fokus, bertekad untuk membawa Rie keluar dari situasi ini.
Akhirnya, mereka sampai di kediaman almarhum ayah Rie, yang juga berfungsi sebagai markas geng motor Fujiomi. Ryu dengan cepat menghentikan motornya di depan rumah dan segera membawa Rie masuk, sebelum anak buah Kenji sempat mengejar mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya Jiro, dengan nada khawatir saat melihat ekspresi panik Rie dan Ryu.
"Anak buah Kenji mencoba membunuh Rie," terang Ryu dengan suara berat.
"Apa?!" Jiro tak percaya dengan apa yang didengarnya. Wajahnya memucat saat menyadari betapa seriusnya situasi ini. Namun, tak lama kemudian, markas mereka diserang. Anak buah Kenji datang dalam jumlah besar, mengepung kediaman Fujiomi dari segala arah. Anggota geng motor Fujiomi yang tersisa mencoba melindungi markas mereka dan putri pemimpin yang sangat mereka hormati. Pertarungan sengit pun terjadi, di mana mereka bertarung mati-matian, mempertaruhkan nyawa untuk melindungi yang mereka cintai. Salah satu anak buah Kenji berhasil mendekati Rie dan mencoba menusuknya dengan belati. Namun, Ryu yang selalu waspada, segera melihat niat jahat itu dan bergerak cepat untuk menyelamatkan Rie. Dia melawan beberapa orang sekaligus, mengandalkan kemampuan bela dirinya yang luar biasa. Ryu adalah seorang ahli taekwondo dengan sabuk hitam, dan setiap gerakannya begitu terlatih, mengatasi serangan-serangan yang datang bertubi-tubi.
Ryu terus berjuang untuk melindungi Rie, menghadapi anggota geng motor Nakamura yang kini menargetkan Rie sesuai perintah Kenji. Di balik semua ini, Kenji menyadari bahwa sejak Rie mengetahui kejahatannya, keberadaan Rie hanya akan menjadi masalah di kemudian hari. Kenji telah memutuskan bahwa Rie harus dihapuskan dari hidupnya, apapun caranya.
Pertempuran semakin intens ketika lebih banyak anak buah Kenji tiba di lokasi, membuat situasi semakin sulit bagi geng motor Fujiomi. Banyak anggota Fujiomi yang sudah terluka parah, bahkan ada yang gugur. Meskipun begitu, Ryu tetap bertarung dengan keberanian yang luar biasa, tak pernah melepaskan Rie dari pandangannya.
Kenji, yang sejak tadi menonton dari kejauhan, akhirnya keluar dari mobilnya. Dia ingin menyaksikan sendiri kehancuran geng motor Fujiomi yang pernah menjadi saingan beratnya. Sambil menyalakan rokok, dia menikmati setiap detik kekalahan yang dialami lawan-lawannya. Ketika rokoknya habis, dia mematikannya dengan menginjaknya ke tanah, lalu berjalan mendekati Rie yang mati-matian dilindungi oleh Ryu.
"Menyerah saja, kalian tidak punya kesempatan. Aku akan mengambil alih geng motor Fujiomi. Bagi kalian yang ingin hidup, bergabunglah dengan kami," ujar Kenji dengan suara dingin, penuh keyakinan. Kata-katanya membuahkan hasil. Beberapa anggota geng motor Fujiomi yang terluka parah dan putus asa mulai berpikir ulang tentang kesetiaan mereka. Satu per satu, mereka mulai mendekat ke arah Kenji.
"Saya ikut Anda, Tuan," ujar seorang pria yang kemudian berdiri di belakang Kenji, menandakan bahwa dia telah membelot. Tidak lama kemudian, beberapa anggota lainnya mengikuti jejaknya. Kini, hanya tersisa beberapa orang setia yang masih bertahan di sisi Ryu dan Rie.
Ryu dan Rie tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Anggota geng motor Fujiomi, yang dulu setia, kini berkhianat, memilih keselamatan mereka sendiri daripada melindungi markas yang telah menjadi bagian dari hidup mereka.
"Bunuh mereka!" teriak Kenji, perintahnya tegas dan tanpa ampun. Anak buahnya segera menyerang Ryu dan anggota geng yang masih setia, memaksa mereka untuk bertahan dalam situasi yang semakin sulit.
"Pergilah, Rie! Selamatkan dirimu!" usir Ryu di tengah perkelahiannya, suaranya penuh dengan kepedulian meskipun dia sedang bertarung dengan sekuat tenaga. Rie menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin aku meninggalkanmu dan yang lain berjuang sendirian!" teriaknya, hatinya penuh dengan rasa bersalah dan ketakutan. Namun, Ryu tahu bahwa Rie harus pergi untuk menyelamatkan diri.
"Pergilah!" hardik Ryu sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih keras.
Akhirnya, dengan berat hati, Rie mulai melarikan diri. Tapi, Kenji yang melihat Rie berlari, langsung memerintahkan anak buahnya untuk membunuhnya."Tembak wanita itu!" perintah Kenji tanpa ragu.
Salah satu anak buah Kenji yang berada tidak jauh dari Rie segera menarik pelatuknya. Namun, di saat yang sama, Ryu yang mendengar perintah itu dengan sigap bergerak untuk melindungi Rie. Dalam hitungan detik, peluru yang seharusnya mengenai Rie justru menembus tubuh Ryu. Mendengar suara tembakan, Rie yang sedang berlari berhenti dan berbalik. Matanya membesar melihat pemandangan yang ada di depannya. Ryu terkapar di tanah, bersimbah darah, dengan peluru yang tepat mengenai jantungnya. Rie berlari kembali, memeluk tubuh Ryu yang lemah, dan meletakkan kepala Ryu di pahanya.
"Jangan pergi, tetaplah di sini," isak Rie, suaranya bergetar saat dia mengusap pipi Ryu, mencoba membuat pria itu tetap sadar.
"Maafkan aku... aku tidak bisa melindungimu lagi," lirih Ryu, darah tak berhenti mengalir dari lukanya. Dengan panik, Rie menyobek gaun selututnya untuk menahan agar darah Ryu tidak terus keluar.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu mati. Hanya kau keluarga yang kumiliki!" isak Rie, air matanya jatuh tanpa henti.
"Ada yang ingin aku sampaikan..." suara Ryu semakin lemah, setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti perjuangan.
"Jangan mengatakan apapun, kau harus selamat. Aku tidak bisa hidup jika kau juga pergi," bujuk Rie, sambil terus menekan kain di luka Ryu, berharap bisa menghentikan aliran darah.
Ketakutan menyelimuti hatinya, takut kehilangan satu-satunya orang yang tersisa dihidupnya.
"Aku mencintaimu... sejak dulu hingga sekarang," ucap Ryu dengan suara terputus-putus, seolah-olah setiap kata adalah beban.
"Apa?" Rie tak percaya dengan apa yang didengarnya. Apakah selama ini Ryu menganggapnya lebih dari sekadar saudara?
Rie teringat kenangan-kenangan mereka bersama. Betapa sering ia menjahili Ryu, bersikap sombong karena dia menganggap Ryu berbeda, mengira pria itu menyukai sesama jenis karena Ryu tidak pernah menunjukkan minat pada wanita lain. Tapi semua itu hanya kesalahpahaman. Ryu ternyata menyimpan perasaan yang dalam kepadanya selama ini.
"Aku telah mencintaimu sejak kau berumur 12 tahun," lanjut Ryu, matanya penuh penyesalan karena harus mengungkapkan perasaannya di saat-saat terakhir.
"
Maaf, karena tidak tahu tentang perasaanmu ini." Air mata terus mengalir di pipi Rie.
Ryu memegang wajah Rie, menatap gadis itu dengan perasaan sedih karena ia tidak bisa lagi melindungi wanita yang dicintainya. Rie merekatkan tangan Ryu ke wajahnya dan menutup mata menikmati moment ini.
"Maaf, hiduplah dengan bahagia. Aku mencintaimu." Pegangan tangan Ryu di pipi Rie terlepas dan matanya tertutup.
Rie membuka mata dan melihat bahwa Ryu telah mati.
"Tidak!" pekik Rie histeris. Dia mengoncang-goncang tubuh Ryu berharap Ryu akan kembali lagi padanya.
Gadis itu memeluk tubuh Ryu yang dingin. Dia melihat ke sekeliling ternyata semua anggota geng motor ayahnya telah mati bersimbah darah. Dalam sekejap organisasi yang didirikan ayahnya lenyap. Sore tadi Rie masih merasakan kebahagian karena menikahi Kenji. Sekarang perasaan itu musnah tergantikan kebencian.
Rie menyesal karena baru mengetahui perasaan Ryu kepadanya. Kecewa, sakit hati dan terluka menjadi satu.
Kenji mendekat ke arah Rie dan menodongkan pistol ke kepala Rie. Rie menatap pria yang sempat membuatnya jatuh cinta itu.
"Apakah kau pernah mencintaiku?" tanya Rie penasaran. Perlakuan Kenji selama ini padanya, membuat Rie percaya bahwa Kenji tulus mencintainya.
"Dalam posisiku, wanita adalah nomor sekian, jadi matilah," ucap Kenji dengan dingin.
"Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu, kau akan mendapatkan karmamu!" pekik Rie, air mata terus mengalir tanpa henti.
"Aku tidak peduli." Kenji melepaskan tembakan tepat di kening Rie. Seketika Rie terjatuh ke belakang, dia menatap langit. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Tempat itu tergenang dengan campuran darah dan air.
Rie tidak ingin mati seperti ini, dia berdo'a untuk bisa merubah takdirnya dan membalas dendam. Perlahan Rie kehilangan kesadaran.
Kenji menatap wajah cantik wanita yang pernah bersamanya, dia merasakan hatinya kosong. Jantung Kenji berdebar kencang. Setelah sadar bahwa dia juga mencintai Rie. Pria itu langsung memeluk Rie dengan erat. Kemudian ia juga meratapi kepergian Rie, menyesali semua yang terjadi suara isak tangisnya pun sangat memilukan. Para anak buah melihat ke arah Kenji yang memeluk istrinya dengan erat. Hujan terus membasahi bumi. Genangan darah bersimbah di sekeliling Kenji. Tangis pria itu teredam dengan suara hujan yang membasahi bumi.
-TBC-