Dibawah teriknya matahari dan pekatnya polusi udara di Jakarta, aku berjalan dengan langkah ringan menuju sekolahku. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini pergi kesekolah, tidak pernah selama tiga tahun terakhir. Alasanku satu-satunya untuk bahagia karena aku pergi kesekolah hanya untuk mengambil berkas-berkas kelulusanku. Aku baru saja lulus dari SMP, dan akan segera masuk SMA.
Aku sudah sering menonton film murahan tentang betapa menyenangkannya menjadi anak SMA, dan aku sudah tidak sabar lagi. Aku mempunyai cita-cita yang cukup tinggi, aku ingin jadi seorang dokter. Jadi aku harus bersungguh-sungguh di SMA nanti.
Aku mulai memasuki gedung sekolahku, dan aku yang pertama datang. Ini jarang terjadi, karena biasanya aku selalu terlambat. Hanya butuh beberapa menit untuk mengurus semua berkasnya, dan aku bisa pulang. Aku melihat ijazahku yang bertuliskan namaku: Elise Khairunnisa Irsham.
Rumahku cukup jauh dari sekolah, aku harus naik dua kali angkutan umum dan berjalan sekitar 200 meter memasuki perumahan untuk sampai dirumah. Ayahku orang yang cukup sibuk, dia bekerja disalah satu perusahaan kapal pesiar Jerman dan dia jadi tidak punya waktu hanya untuk mengantarku ke sekolah. Ibuku juga bekerja disalah satu perusahaan kosmetik milik Swedia, dan dia hanya pulang setiap jam 9 malam setiap harinya. Aku juga memiliki seorang kakak laki-laki, Bayu. Dia baru saja berhasil masuk kesalah satu perguruan tinggi jurusan kedokteran, otaknya memang jauh lebih encer dariku tapi aku akan segera menyusulnya nanti.
Angkutan umum pertamaku sudah tiba, dan aku harus masuk berdesak-desakan dengan para penumpang yang lainnya. Di Jakarta kita tidak bisa mengalah begitu saja pada orang lain, bahkan saat kau ingin masuk kedalam angkutan umum. Bus yang aku tumpangi berjalan dengan cepat, dan para penumpang didalamnya bergerak-gerak setiap kali busnya berbelok atau mengerem mendadak. Kali ini aku tidak kedapatan tempat duduk jadi aku harus berdiri. Karena tubuhku tidak terlalu tinggi, aku jadi kesulitan menggapai pegangan yang tergantung diatas bus, aku harus berjinjit. Dan berjinjit selama satu jam sangat melelahkan. Setelah menempuh itu semua, aku masih harus menaiki satu bus lagi, hanya sepuluh menit dan aku sampai didepan komplek perumahanku. Aku berjalan menyusuri jalanan sepi dan besar, disamping kanan dan kiriku hanya terlihat barisan-barisan rumah besar dan mewah. Tetangga-tetanggaku bukanlah semacam tetangga yang baik dan ramah, mereka sombong dan tidak acuh dengan sekelilingnya. Bahkan aku yakin kalau salah satu tetangga rumahnya ada yang kebakaran, mereka akan terus melanjutkan tidur mereka.
Setelah beberapa menit berjalan kaki dengan santai, aku sampai didepan gerbang putih rumahku yang tinggi dan lebar. Rumahku juga tidak terlalu besar dari rumah tetanggaku yang lainnya, dengan model eropa yang disukai ibuku dan taman yang kelewat besar mengelilinginya. Ada tiga minivan terparkir tidak jauh dari pagar rumahku, apa mereka tamu? Tapi kenapa mereka tidak memasukan mobilnya ke garasi rumahku? Terserahlah, aku juga tidak perduli.
Aku menekan bel disamping pagar beberapa kali, tapi tidak ada yang datang untuk membukakan gerbangnya. Sangat menyusahkan. Aku membuka gerbang yang berat itu dengan kedua tanganku sendiri, mendorongnya sedikit hanya agar tubuhku bisa masuk.
Lalu aku segera menyadari ada yang salah disini, satpam penjaga rumahku tidak pernah meninggalkan posnya selama ini, tapi sekarang posnya kosong. Aku melihat jam tanganku, masih jam 10 pagi. Biasanya jam segini tukang kebunku masih merapikan taman, tapi kali ini dia tidak ada. Kemana perginya mereka semua?
Aku berjalan menuju pintu rumahku, pintunya terbuka dengan sedikit celah. Mungkin para pembantuku lupa mengunci pintu, tapi aku tidak melihat satupun dari mereka berkeliaran disekitar rumah. Ada sesuatu yang tidak beres disini, dan suara dikepalaku terus saja melarangku untuk masuk dan menyuruhku pergi saja, tapi aku tahu apa yang terjadi. Jadi aku melangkahkan kakiku masuk, dengan perasaan tegang aku berjalan keruang tengah tempat aku terbiasa berkaroke sendirian atau dengan Bayu kalau dia tidak sedang sibuk belajar. Dan pemandangan yang disuguhkan didepan mataku sungguh sangat mengerikan, para pekerja dirumahku tergeletak dilantai dengan darah menggenang disekeliling mereka. Aku mual, aku ingin muntah, tapi yang kulakukan malah menjerit. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, otakku berhenti bekerja dan kakiku lemas. Tapi terdengar suara gaduh dari lantai dua, dan suara langkah-langkah kaki yang berlarian. Dan sekarang aku sadar, penjahatnya masih ada disini.
Saat wajah-wajah yang tidak kukenali mulai bermunculan dari setiap penjuru rumah, aku tahu aku setidaknya harus lari kalau belum mau mati. Jadi aku berbalik badan dan berlari secepat yang aku bisa. Aku menerobos pintu kayu rumahku, membuat pundakku terbentur pintuku sendiri. Aku sudah tidak memperdulikan sakitnya, aku hanya ingin selamat. Aku berlari menyebrangi pekarangan rumahku, dan mengutuk betapa besarnya pekaranganku ini. Aku bisa mendengar langkah-langkah kaki yang berat berlari tepat dibelakangku, hanya dalam beberapa detik aku yakin mereka bisa menangkapku.
Jadi aku memacu kakiku untuk berlari lebih cepat dengan langkah yang lebih lebar. Lalu muncul seorang laki-laki mudah didepan pintu gerbangku, dan aku mengenali wajahnya. "Lari!" teriakku padanya dari kejauhan, tapi dia bergeming. "Aldo lari!" teriakku lagi padanya. Ketika jarakku dengan Aldo sudah tinggal lima meter lagi, dia mengeluarkan sebuah benda hitam dari belakangnya. Lalu suara tembakan terdengar, suaranya datang dari benda yang dipegang Aldo. Dalam sedetik, kupikir dia menembakku. Tapi tidak, tidak ada darah yang keluar dari tubuhku, tidak ada rasa sakit. Aku menoleh kebelakang, dan salah satu orang yang menembakku tadi sudah jatuh tersungkur. Aku lagi-lagi menjerit.
Ketika aku sampai pada Aldo, dia langsung menarik pergelangan tanganku dengan kasar dan terburu-buru. "Masuk!" suruhnya. Aku menurut dan masuk kedalam mobil sedan hitam yang terparkir didepan gerbang rumahku. Aku duduk dikursi penumpangnya dan memasang sabuk pengaman saat mobil sudah melaju. Dan
"Kenapa kau menembaknya tadi?" jeritku padanya. Aku duduk dengan tangan gemetar dan keringat dingin yang terus mengucur di tengkukku.
"Kau mau mereka yang menembakmu?" katanya dengan suara beratnya.
"Kau masih dibawah umur untuk menggunakan senjata, bahkan kau seharusnya tidak boleh menyetir." kataku, suaraku bergetar dan terdengar lebih tinggi karena panik. Aldo menyetir dengan ugal-ugalan, aku mencengkram dengan erat sabuk pengamanku. "Dan kau menyetir terlalu cepat, ini tidak -awas!" aku menjerit saat Aldo hampir menabrak sebuah angkutan umum yang berhenti mendadak didepan kami. Aku mengumpat, dan jantungku hampir meloncat keluar dari rongganya saat Aldo hampir menyerempet seorang pengendara motor lagi.
"Mereka mencoba menangkapmu tapi kau malah mempersalahkan izin mengemudiku?" tanyanya heran, pandangannya tidak teralihkan dari jalanan.
Aku mencoba tidak melihat kearah jalan dan mengatur napasku sebelum bicara lagi. "Mereka membunuh semua pekerja dirumahku, apa keluargaku yang lain baik-baik saja, siapa sebenarnya mereka, apa yang mereka inginkan?" aku menyerang Aldo dengan pertanyaan yang terlintas dibenakku.
Tanpa keberatan Aldo menjawab semua pertanyaanku dengan sesingkat mungkin. "Keluargamu sudah kami amankan, mereka baik-baik saja. Aku tidak berhak menjelaskannya padamu tentang siapa mereka, yang jelas mereka mau kau dan keluargamu tidak bisa bernapas lagi."
"Mereka ingin kami mati? Kenapa?" tanyaku.
"Yang lainnya akan segera menjelaskannya padamu." jawabnya.
"Apa kau terlibat dalam hal ini?"
Untuk pertama kalinya, akhirnya dia menoleh padaku ketika menjawab pertanyaanku. "Ya." jawabnya singkat.
Dan setelah itu hening, tidak ada percakapan sama sekali diantara kami. Aku melirik Aldo diam-diam lagi untuk yang kesekian kalinya, masih tidak percaya dia terlibat. Aku masih ingat saat kami kecil dulu, kami sering bermain bersama walaupun umur kami terpaut empat tahun. Tapi semenjak Aldo semakin dewasa, dia bertingkah layaknya orang dewasa. Dia mulai membosankan dan jadi menyebalkan, dan hubungan kami mulai renggang. Ayah Aldo adalah sahabat baik ayahku, mereka sangat dekat seperti kakak dan adik. Ayah Aldo adalah orang asli Australia, dan ibunya orang Bandung, tidak heran mereka menghasilkan anak laki-laki yang sempurna dalam segi fisik. Tapi kedua orangtua Aldo sudah meninggal dalam kecelakaan satu tahun yang lalu, aku turut hadir dalam pemakaman mereka. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Aldo menangis walau hanya satu atau dua tetes air mata yang jatuh. Bahkan sejak kecil Aldo adalah anak yang kuat, dia tidak pernah menangis, merengekpun hampir tidak pernah. Semenjak meninggalnya kedua orangtuanya, aku sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi. Sampai tadi ketika dia menembak seseorang dengan pistolnya untuk menyelamatkanku, dan sekarang kami duduk bersamaan didalam mobil.
Aku terlalu dalam masuk kedalam pikiranku sampai tidak sadar kami berada di dalam parkir basement sebuah gedung perkantoran. "Turun." suruhnya.
"Dimana kita?" tanyaku.
"Tempat kerjaku." jawabnya, seperti biasanya. Singkat. Dia mulai bertingkah menyebalkan lagi.
"Kau bekerja? Aku heran mereka mau menerimamu." kataku sinis.
Aldo tidak membalasku dan mulai menarik-narik pergelangan tanganku dengan kasar lagi. Ada tiga lift didepan, kami masuk kedalam lift paling kanan. Ada empat orang yang ikut bersama kami, satu perempuan dan tiga laki-laki. Yang perempuan sangat cantik dengan rambut coklatnya yang disanggul modern, dengan pakaian resmi hitamnya. Yang ketiga laki-lakinya aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas karena mereka berdiri dibelakangku, dan kudengar mereka berbisik-bisik.
Penunjuk lantai menunjukan angka 12, dan pintu terbuka. Aku, Aldo dan perempuan itu turun dilantai ini. Ini tidak tampak seperti kantor, tidak ada meja-meja ataupun komputer yang terlihat, hanya ada banyak pintu. Aldo kembali menyeretku, dan orang-orang yang sedang berjalan mendadak memperhatikan kami. Tentu saja mereka heran, ada anak kecil dengan seragam sekolah ditarik-tarik didalam kantor mereka.
Kami masuk kedalam sebuah ruangan yang besar, didalan itu ada ruangan lainnya yang dipisahkan dengan pintu kaca. Tapi aku tidak perduli dengan apa yang ada didalam ruangan yang satunya lagi, karena diruangan tempat aku berdiri ada keluargaku yang sedang duduk disofa panjang warna putih.
Mereka berdiri ketika melihatku dan aku langsung berlari menghampiri dan memeluk mereka. "Kau baik-baik saja Liz?" tanya ibuku ketika pelukan kami terlepas.
Aku mengangguk. "Tapi ada banyak mayat dirumah."
"Semua pekerja dibunuh?" tanya ibuku.
"Dan kau ada disitu saat itu?" tanya Bayu dengan raut wajah ketakutan.
"Tidak, begitu aku datang mereka semua sudah mati." kataku. "Mereka melihatku lalu mengejarku, tapi Aldo-" aku berhenti. Aku berpikir untuk tidak menceritakan tentang Aldo yang membunuh salah satu dari penjahat itu dengan menembaknya. "dia dengan cepat menyelamatkanku dan membawaku pergi."
"Tuan Irsham," panggil seseorang yang keluar dari dalam ruangan yang dibatasi pintu kaca itu. Pria itu terlihat berada di umuran 40 tahunan, namun perawakannya masih terlihat kuat. "bisa kita bicara?" tanyanya.
Ayahku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk kedalam ruangan itu. Aldo yang daritadi hanya diam juga ikut masuk kedalam ruangan itu.
"Apa Ibu tahu apa yang terjadi?" tanyaku.
Ibuku hanya menggeleng. "Mereka belum menjelaskan apapun daritadi."
"Apa kakak tahu?" tanyaku, beralih pada Bayu.
"Kalau Ibu saja tidak tahu apa lagi aku." katanya.
Aku mencoba menguping pembicaraan mereka, tapi sepertinya ruangan itu kedap suara. Mereka terlihat sangat serius, dan ayahku telihat sudah sangay emosi. Aldo juga ikut berbicara, tapi dia lebih tenang daripada dua pria lainnya. Jadi kami menunggu sampai pembicaraan mereka selesai dan ayahku keluar dari ruangan itu.
"Apa yang terjadi?" tanyaku langsung pada ayahku.
Ayahku menatap ibuku yang diam dengan raut wajah khawatirnya. Keningnya berkerut-kerut, membuat wajah tuanya terlihat walau sudah ditutupi dengan makeup mahalnya. "Kita harus pindah rumah." kata ayahku.
"Kenapa? Apa masalahnya?" tanyaku lagi.
"Mereka sudah mengurusnya, kita akan aman." jawab ayahku, jawabannya sangat tidak tepat.
Aku sangat benci situasi ini, saat kau terlibat didalamnya tapi tidak mengetahui apapun. Orang-orang itu hampir membunuhku, dan aku harus menganggapnya sebagai angin lalu. Tidak bisa semudah ini. "Jadi Ayah tidak akan memberitahuku apa yang terjadi?" tanyaku, lebih mendesaknya. Ayahku diam.
Aku menerobos masuk kedalam ruangan yang dibatasi pintu kaca itu, menghadap langsung pada pria yang tadi berbicara dengan ayahku dan Aldo. "Ceritakan apa yang terjadi pada keluargaku! Aku melihat mayat untuk pertama kalinya dengan kedua mataku langsung, dan orang-orang itu mengejarku dirumahku sendiri, dan aku melihat seseorang ditembak sampai mati. Iti semua kualami dalam sehari. Aku terlibat dalam hal ini, dan aku pantas mengetahui yang sebenarnya terjadi. Jadi tolong ceritakan padaku."
"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya pria didepanku ini.
"Kenapa mereka menginginkan keluargaku mati?" tanyaku.
"Karena ayahmu adalah saksi dari kejahatan besar." jawabnya.
"Kejahatan apa?"
"Teroris." jawabnya.
"Teroris? Bagaimana bisa ayahku terlibat dengan teroris? Dan bagaimana kalian bisa melindungi kelurgaku, memangnya kalian siapa, tentara?" tanyaku. Nada suaraku terdengar sangat meremehkah, aku sendiri terkejut.
Terdengar suara Aldo dari belakangku. "Bukan, kami lebih hebat dari itu. Kami mata-mata."