Aku langsung memutar tubuhku untuk melihat siapa itu, ternyata Anzor yang berdiri dibelakangku menggunakan celana training abu-abunya dan sebuah kaos hitam yang mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna. Dia menaruh botol minum dan handuk birunya –yang sama sekali tidak terpikirkan olehku untuk kubawa kesini- di sebuah kursi panjang. Anzor berjalan mendekat kearahku. “Apa salah benda ini sampai kau menendangnya?” tanyanya, tangannya mengangkat samsak itu dan langsung menggantungkannya di pengait dengan mudah. Saat Anzor mengangkat samsak berat itu, terlihat sangat jelas otot-otot di lengannya berkontraksi. Aku terkekeh. “Benda ini membuatku jengkel.” Kataku sambil mendorong samsak yang sudah tergantung didepanku. Samsak itu tidak bereaksi sama sekali dengan doronganku yang lemah, hanya ter

