"Lalu bagaimana rencananya?" Tanyaku.
Ginny melihatku dengan tatapannya yang ganjil, dan aku tahu apapun yang ada dipikirannya saat ini adalah ide yang buruk.
"Apa?"
"Lewat Anzor." Jawab Ginny.
"Itu ide buruk." Kata Renee.
"Oh ayolah, kita semua tahu kalau Anzor memang tertarik pada Liz. Bayangkan ekspresi wajah Sam saat tahu Anzor berpacaran dengan Liz!" Ginny mendadak bersemangat.
"Itu ide cemerlang." Megan ikut bersemangat, matanya berapi-api.
"Bagaimana menurutmu Syira?" Tanya Ginny.
Asyira diam dengan mata terpejam, kedua lengannya dilipat di depan dadanya. Kami menunggu, lalu dia membuka mulutnya. "Aku tidak setuju."
Renee kelihatan lega.
"Pikirkan konsekuensinya pada Liz. Ini seperti mengorbankan anak itik di kandang buaya." Kata Asyira.
"Anak itik yang cantik, sehingga si buaya bisa jatuh cinta." Kata Megan, tertawa dengan leluconnya sendiri.
"Kalau begitu semua keputusan ada di tangan Liz." Kata Ginny, dan semua mata.bergulir kearahku.
Mata Ginny dan Megan menatapku dengan tatapan memohon, sedangkan Asyira dan Renee dengan tatapan 'Pikirkan masak-masak!'
Aku benar-benar berpikir keras kali ini. Mengingat perkataannya padaku tempo hari di ruang makan, membuat kepalaku mendidih. Dan tentang perkataan Aldo, kami harus melawan.
"Aku akan terima semua resikonya, ayo kita buat Sam kesal." Jawabku.
Ginny dan Megan melakukan high five, aku jadi ikut bersemangat tentang ini. Kami memikirkan rencananya dengan penuh semangat, awalnya hanya aku, Ginny dan Megan, tapi Asyira dan Renee akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi masukan. Akhirnya kami semua masuk dalam rencana yang diberi nama oleh Ginny. 'Menendang b****g Ratu Drama.'
Sampai tiba waktunya untuk sarapan kami selesai membicarakan rencana kami. Rencana yang pertama adalah, membuatku tampil lebih cantik dari Sam.
"Ini tidak akan berhasil." Kataku, sudah menyerah. Aku membayang wajah Sam yang tanpa jerawat. Aku mendekatkan wajahku pada cermin, melihat sebuah titik kemerahan di keningku. Jerawat.
"Omong kosong." Kata Renee. Tangannya terampil, memoles setiap inci wajahku. Asyira dan Ginny merapikan rambutku, mengunting beberapa bagian yang kata mereka menganggu.
Dan hasilnya cukup mecenangkan, rambut ikalku tampak tertata indah dan poni sampingku jadi lebih pendek. Jerawat di keningku juga sudah tertutupi oleh riasan, dan mataku tampak lebih tajam.
"Kau memang jauh lebih cantik dari Sam, Liz." Kata Renee.
"Thanks." Kataku malu-malu.
"Selaman ini dia selalu menganggap dirinya dewi," Ginny mengatakan itu sambil menjulurkan lidahnya tanda jijik. "Sekarang dia punya lawan yang seimbang."
Megan datang membawa seragamku dan ketika aku memakainya, aku tahu ini bukan seragamku. Ukurannya jauh lebih kecil, dan roknya juga jauh lebih minim.
"Apa yang kau lakukan dengan seragamku?" Teriakku.
"Seragammu harus diganti dengan yang lebih minim, jadi aku meminjam punya Lily." Kata Megan, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Dia memutari tubuhku, menilaiku. "Sekarang kau sexy." Katanya.
Ginny melompat kegirangan. "Sam akan kalah."
"Harus kuakui Liz, kau menggoda." Kata Asyira.
"Kuyakin semua cowok akan menginginkanmu." Kata Renee.
"Apa ini tidak berlebihan?" Tanyaku, risih.
Ginny memukul tanganku yang dari tadi mencoba menurunkan rokku. "Hentikan. Dan ini sama sekali tidak berlebihan. Target kita hanya Anzor, tapi kalau kau berniat menarik perhatian beberapa cowok lain, aku tidak keberatan. Mungkin beberapa senior."
Aku memutar mataku. "Cukup Anzor saja."
Ginny, Megan dan Asyira memberikanku pelatihan singkat tentang menarik pria, dari pengalaman-pengalaman mereka. Sedangkan Renee mencoba mengingatnya dari buku yang dia baca.
Ginny memukul bokongku, "Sekarang ayo kita keluar."
Dengan jantung berdebar dan penampilan yang baru, aku dan sahabat-sahabatku berjalan menuju ruang makan. Aku bisa merasakan setiap mata cowok yang melewatiku menatapku seakan ingin menerkamku, dan itu membuat Ginny terlihat makin senang.
Padahal menurutku, Ginny lebih pantas berdandan seperti ini, atau Megan, atau Asyira dan Renee. Mereka semua jauh lebih cantik daripadaku. Tapi sepertinya mereka tidak perlu berdandan habis-habisan sepertiku untuk tampil cantik.
Saat sampai di ruang makan, kami duduk di kursi kami yang biasa. Noah terlihat sudah makan lebih dulu, bersama Paul dan Colin. Paul menjatuhkan sendoknya saat melihatku duduk, matanya tidak lepas dariku. Aku menunduk malu dan berusaha melihat kearah yang lain.
Noah yang menyadari kehadiranku, langsung menghentikan makannya. Ketika dia melihatku, dia kelihatan terkejut. Dia memandangiku, tapi pandangannya berbeda. Dia seakan takjub.
"Jangan melihatku seperti itu." Kataku, mendorong wajahnya.
"Kau berdandan Liz?" Tanya Noah.
"Kenapa? Tidak boleh?" Sinisku.
"Terlihat cocok padamu, tingkat kecantikanmu naik satu persen." Ledek Noah.
Aku menyikutnya, "Terimakasih pujiannya."
"Berhenti bertingkah seperti gadis desa Liz." Bisik Ginny.
"Aku tidak-" aku hendak mengomel pada Ginny tapi Megan mendadak tidak bisa duduk diam.
"Target datang." Bisik Ginny. "Lakukan semua yang sudah kami ajarkan." Katanya.
Aku menarik napas panjang, menenangkan detak jantungku. Aku hebat. Aku mata-mata yang hebat. Aku siap dan aku bisa.
Aku melirik Anzor dari balik bulu mataku, memandanginya terus. Dan benar seperti perkataan Asyira, dia pasti akan melirik kearahku. Dan ketika itu terjadi, aku menaikan sebelah alisku dan tersenyum simpul. Kami terus bertatap-tatapan, sampai Sam yang duduk disampingnya menyadari apa yang terjadi. Anzor mengalihkan matanya dariku, mulai mengobrol dengan Sam. Walaupun sesekali dia sempat mencuri pandang kearahku, aku mengedipkan mataku dengan nakal.
Aku bergidik geli setelah menyadari apa yang kulakukan. "Rasanya aneh."
"Dia tertarik." Bisik Ginny.
Asyira menggertakan giginya saat Sam memandang kearah kami. "Bersikap biasa." Katanya.
Aku menunduk memandangi piringku, yang entah kapan sudah kosong. "Sam marah?" Tanyaku.
Megan menggeleng dengan santainya. "Tidak."
Aku menghela napas lega. Aku tidak mau kejadian minggu lalu terulang, itu cukup memalukan. Terlebih lagi aku murid junior, tapi namaku sudah sering diucapkan oleh.para senior. Bukan dalam arti yang bagus.
"Misi apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Noah.
Megan melotot kearahku dan menggeleng halus. "Tidak ada." Jawabku, memberikan senyuman termanisku. Noah memandangku dengan penuh kecurigaan. "Sungguh, tidak ada apa-apa." Kataku, menarik bibirku lebih lebar lagi. "Benarkan?" Aku melirik sahabat-sahabatku yang lain, meminta pertolongan. Mereka mengangguk dengan sungguh-sungguh. Noah melepaskanku.
Saat sarapan selesai, kami mulai menuju ke kelas Budaya. Renee memekik pelan. "Anzor datang."
Ginny menarik lengan Renee yang sedang mengandeng lenganku. "Habisi dia Liz." Katanya, dan mereka meninggalkanku.
Anzor tiba-tiba berjalan disampingku, menggantikan Renee. "Apa kabarmu Liz?" Anzor memulai pembicaraan.
"Luar biasa." Jawabku singkat.
Anzor terkekeh canggung. "Kau masih marah ya?"
Aku menggeleng. "Sekarang sudah tidak." Aku tersenyum. Aku mengeluarkan segala upayaky agar bisa bertingkah cantik didepannya, cowok yang tidak kuinginkan.
"Bagus." Anzor berdeham. "Kau cantik hari ini Liz."
"Jadi hanya hari ini saja?" Tanyaku, menyelipkan nada kesal yang dibuat-buat.
Secara sadar atau tidak, tapi Anzor membelai rambutku. "Tidak, setiap hari kau memang cantik."
Aku terkikik. "Thanks." Aku melihat sekeliling. "Apa pacarmu tidak marah kalau kita jalan berdua seperti ini?"
"Maksudmu Sam?"
Siapa lagi yang kumaksudkan, bodoh! "Terakhir kali dia bilang kalau aku p*****r dan perebut kekasih orang." Kataku, memasukan nada sedih kali ini. Dalam hati aku menggerang jika mengingat itu.
"Aku tahu kau bukan cewek seperti itu Liz." Kata Anzor, dia tampak menyesal.
"Sebenarnya aku sangat ingin bisa dekat denganmu Anzor," aku mengambil tangannya, menggenggamnya didepan dadaku. "Tapi aku tidak ingin mendapat masalah dengan Sam."
Anzor tampak terkejut dengan perkataankh barusan, lalu dia tersenyum. "Aku juga sangat ingin bisa dekat denganmu Liz, sejak pertama kali aku melihatmu kau sudah menarik hatiku." Katanya.
Oh astaga, aku ingin muntah.
"Kalau dengan Sam, biar aku yang urus." Katanya.
"Sungguh?" Aku melompat dan memeluknya. "Aku senang sekali."
Saat aku melihat wajah Anzor, ternyata dia terlihat lebih senang dariku. Aku tidak percaya dia termakan dengan semua perkataanku. Aku bisa mendapatkan piala Oscar dengan akting hebatku.
Kami berjalan bergandengan tangan saat masuk kekelas, Anzor selalu berkata yang manis-manis sehingga membuatku tersenyum malu. Dan ketika aku melihat ekspresi diwajah Sam yang memerah, aku tahu kami hampir menang.
Anzor duduk bersebelahan denganku, kami terus mengobrol hal-hal yang ringan sampai Profesor Young datang. Dan saat pelajaran selesai, Anzor mengantarkanku ke kelas berikutnya.
Anzor membelai pipiku. "Aku akan menjemputmu lagi nanti." Katanya.
Aku tersenyum. "Aku akan menunggumu." Kataku, dan masuk ke kelas bahasa sementara Anzor pergi ke kelasnya yang lain.
Megan sudah menyediakan tempat duduk disebelahnya untukkua, dia memandangiku dengan ekspresi puas. Saat aku duduk, Megan langsung membuka mulutnya. "Astaga, kau hebat Liz. Aku tidak menyangka misi ini bisa berhasil dalam waktu secepat ini."
"Aku juga tidak." Kataku.
"Apa saja yang sudah kalian bicarakan?" Tanyanya penasaran.
Aku menceritakan semuanya pada Megan, bagaimana aku merayunya dan apa yang Anzor katakan tentang akan mengurus Sam. Megan mendengarnya dengan mata terbelalak tidak percaya, dia lalu mengangguk-mengangguk. "Dia akan memutuskan Sam."
"Kau yakin?" Tanyaku.
Megan mengedikan bahunya. "Mungkin saja." Dan pembicaraan kami berhenti saat Ms. Hayes datang.
Pelajaran bahasa berlalu dengan cepat, dan saat aku keluar dari kelas kupikir akan melihat wajah Anzor tapi nyatanya tidak. Megan sudah menarikku. "Aku menunggu Anzor." Kataku.
Megan menaikan sebelah alisnya. "Kalian sudah pacaran?"
Aku tertawa besar-besar. "Tidak. Tadi dia bilang akan menjemputku, dan aku mengatakan akan menunggunya."
"Liz, ingat ini hanya pura-pura." Kata Megan.
"Tidak perlu diingatkan lagi." Aku mendorong Megan menjauh. "Cari yang lain dan bilang tidak usah menungguku."
Megan tersenyum menggoda lalu pergi.
Aku melihat murid-murid lain keluar dari kelasnya, tapi tidak kunjung melihat tubuh kekar Anzor. Dan kulihat Noah menghampiriku, blazernya di bawa di tangannya.
"Bukankah tadi kau bersama Megan." Kata Noah.
"Aku menyuruhnya pergi duluan."
"Kenapa?" Noah menaruh lengannya di pundakku.
Aku tidak ingin memberitahu Noah kalau aku sedang menunggu Anzor, takut dia melakukan terapi diamnya lagi padaku. "Apapun alasanmu, yang penting kau harus makan siang." Ajaknya, dan entah mengapa aku tidak bisa menolak ajakannya.
Aku dan Noah pergi bersama keruang makan. Renee yang melihatku masuk bersama Noah, langsung menepuk-nepuk lengan Megan. Megan melihatku, kelihatan bingung.
"Meg bilang kau bersama Anzor." Bisik Asyira yang duduk bersebelahan denganku.
"Seharusnya memang begitu. Tapi dia tidak muncul." Aku melirik Noah yang sedang sibuk mengobrol dengan seorang senior bernama Rifat, lalu berkata pada Megan dan Ginny yang memandangiku dengan penasaran. "Sepertinya rencana kita gagal. Mungkin dia menyadari, dekat denganku hanya membuang waktu. Lagipula dia punya Sam."
Ginny membanting sendoknya dengan kesal, mayonais di saladnya muncrat kebuku yang sedang Renee baca. "Hei!" Pekik Renee, "Ini salah satu buku favoritku." Katanya sambil membersihkan bukunya dengan dasinya.
"Demi tuhan Liz, bisa tidak kau berhenti baca saat makan siang." Asyira tampak heran.
Sementara Renee mengomel, Ginny sibuk mengumpat, Asyira meledek Renee dan Megan tampak asik dengan pikirannya. Aku melihat Anzor melangkah memasuki ruang makan, menghampiriku.
Noah meletakan kembali garpunya saat melihat Anzor mendekat. Dia mengumpat pelan, "Mau apa lagi dia kesini." Noah sudah hampir berdiri, tapi aku menahannya.
Aku tersenyum pada Anzor yang kini berdiri disampingku, diantara aku dan Noah. "Maaf aku tidak menjemputmu tadi." Kata Anzor.
"Menjemputmu?" Tanya Noah, alisnya berpaut.
Aku menghiraukannya. "Tidak apa, mungkin kau sibuk. Tadi aku bersama Noah."
Anzor melihat kearah Noah dan terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya. "Aku telah bicara pada Sam."
Aku terkejut. "Benarkah?"
Anzor mengangguk, menyunggingkan senyumnya. Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Aku sudah memutuskan hubungan dengannya."
Aku tercekat. Mataku langsung mencari-cari sosok Sam, tapi tidak menemukannya dimanapun diruangan ini. "Lalu dimana dia sekarang?" Tanyaku, Anzor hanya mengedikan bahunya tidak perduli. Dan mataku langsung menangkap sosok yang sedang kucari mati-matian, berjalan masuk keruang makan. Sam berjalan dengan kepala menunduk, berbeda dari sebelum-sebelumnya yang nampak sombong. Aku memperhatikan lebih detail lagi, menyadari kalau mascaranya berantakan dan matanya kemerahan. Sam habis menangis.
Aku melihat sahabat-sahabatku, mereka juga sedang memperhatikan Sam. Dan ketika melihat apa yang kulihat, mereka tampak tersenyum puas. Dan Ginny yang kelihatan paling puas. Kami menang. Kurasa.